
...Hei-hei aku kembali lagi nih. Maaf ya sedikit banget karena memang aku capek banget hari ini. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya....
...Happy reading...
****
Hari ini sangat terlihat cerah sekali seperti hati Ihsan yang sedang menatap istrinya yang masih tertidur pulas di pelukannya. Ihsan berulang kali mengecup kening Cut dengan sayang, ia juga mengusap pipi istrinya dengan lembut.
"Terima kasih Sayang. Kamu memang istri yang sangat baik walau aku tahu kamu terluka karena ucapan mama," gumam Ihsan dengan menatap wajah cantik istrinya.
Cut sedikit menggeliat saat ia merasa terganggu dengan tangan Ihsan yang gemas mencubit pipinya yang terlihat semakin cabi. Ia bergumam tidak jelas saat Ihsan mengecup bibirnya. Hal itu membuat Ihsan terkekeh karena merasa lucu dengan istrinya sekarang.
"Bangun bumil ini sudah pagi!" ucap Ihsan dengan lembut.
"Eugh..." Cut melenguh dan mulai membuka matanya dengan perlahan.
"Jam berapa Bang?" tanya Cut dengan suara yang serak.
"Jam 7 pagi, Sayang. Ayo bangun kita mandi dulu ya karena jam 9 Abang harus ke kampus," jawab Ihsan dengan lembut.
"Gendong!" ucap Cut dengan manja dan merentangkan kedua tangannya agar Ihsan menggendongnya.
"Kita resmi baikan, kan?" tanya Ihsan dengan menggendong Cut dengan perlahan.
"Hmmmm gimana ya?" ucap Cut berpura-pura berpikir.
"Sayang!" rengek Ihsan yang membuat Cut terkekeh. Ia menatap suami dengan dalam saat Ihsan membawanya ke kamar mandi dan mendudukkan dirinya di kepala bathtub.
"Iya Abang. Tapi janji setelah dari kampus belikan aku es kelapa muda," ucap Cut dengan manja.
"Kamu ngidam?" tanya Ihsan dengan senang.
"Iya, Sayang. Sekarang kita mandi dulu ya!" ucap Ihsan dengan tersenyum senang.
Cut mengangguk dengan senang, akhirnya keduanya mandi bersama dengan Ihsan yang membantu menggosokkan badan Cut dengan lembut. Ihsan meneguk ludahnya dengan kasar saat kulit mulus istrinya terasa sangat lembut di tangannya.
Glekkk...
"Ya Tuhan. Hanya merasakan kulit mulusnya saja milikku sudah tegang seperti ini," gumam Ihsan dengan meneguk ludahnya kasar.
"Abang!" panggil Cut saat Ihsan terlihat diam.
"I-iya, Sayang!" jawab Ihsan dengan gugup.
"Kok berhenti gosok punggung aku?" tanya Cut dengan menautkan alisnya bingung.
"Abang kok gugup sih? Ups..." Kedua pipi Cut bersemu merah kala tangannya tak sengaja menyentuh benda yang membuatnya keenakan sejak semalam.
"Ouh...." Ihsan memejamkan matanya saat tangan istrinya dengan sengaja memegang miliknya dan mengurutnya dengan perlahan.
"Kamu nakal Sayang!" ucap Ihsan dengan serak.
Cut tersenyum sensual kepada suaminya. Sentuhan Ihsan membuatnya ketagihan. "Aku menginginkannya, Bang!" ucap Cut yang sudah dipenuhi.
"Naik Sayang. Kamu yang pimpin sekarang," ucap Ihsan dengan merem melek menahan desahannya saat Cut dengan nakal masih mengurut miliknya dengan perlahan.
Cut naik ke atas pangkuan Ihsan mereka sama-sama mendesah saat milik Ihsan sudah tertanam dengan sempurna di dalam miliknya. Cut menggigit bibirnya saat milik Ihsan terasa sesak. Wanita hamil itu memeluk leher suaminya dengan erat, keduanya bergerak beriringan. Suara desah*n mereka tak bisa lagi terelakkan dan Ihsan benar-benar merasa beruntung ketika hormon ibu hamil membuatnya terbang ke atas awan.
"Aku sangat mencintaimu, istriku. Jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkanku! Maafkan aku yang tak jujur dari awal hingga kamu mengetahuinya dari mama."