
...Happy reading...
*****
Ika merebahkan tubuhnya sehabis melakukan video call dengan ayah dan bundanya juga Ica yang sedang hamil membuat Ika bahagia sekaligus merasa sedih, seharusnya di perutnya sekarang masih ada janinnya, anaknya dengan Rama tetapi takdir begitu kejam membuat anaknya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Ica, Kak Laura sedang hamil anak mereka. Bahagia banget hidup mereka ya! Sedangkan aku kehilangan anakku dan kekasihku sendiri," gumam Ika dengan lirih.
Tok..
Tok..
"Assalamualaikum Kak Ika," teriak anak kecil yang Ika pastikan itu adalah suara Cut. Anak yang menggemaskan yang membuat hari-hari Ika sedikit berwarna.
"Wa'alaikumussalam."
Dengan langkah cepat Ika keluar dari kamarnya dan membukakan pintu untuk Cut Meisya. "Cut, aaa gemesnya," teriak Ika dengan heboh saat melihat Cut yang sangat lucu.
Sultan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua perempuan di depannya. "Maaf Dek mengganggu kamu malam-malam, Cut dari tadi merengek minta ke rumah kamu," ucap Sultan merasa bersalah.
"Enggak apa-apa, Bang. Aku suka Cut ada di sini," ucap Ika dengan tersenyum.
"Suka ada Papa juga gak, Kak?" tanya Cut dengan polos.
"Uhuk...uhuk..." Sultan tersedak air liurnya sedangkan Ika menjadi salah tingkah sendiri.
"Nih bocil pinter banget buat gue salah tingkah," gumam Ika di dalam hatinya.
"Suka gak Kak?" tanya Cut dengan penasaran.
"Ah, itu ya. S-suka," ucap Ika menggaruk lehernya yang sama sekali tidak gatal.
"Tuh kan Pa. Kak Ika aja suka sama Papa masa Cut mau ke rumah Kak Ika aja gak boleh. Papa pelit," ucap Cut mengerucutkan bibirnya.
"Bukan gak boleh, Cut. Kak Ika kan capek habis kerja. Ini juga sudah malam gak baik ke rumah Kak Ika malam-malam," ucap Sultan memberikan pengertian.
"Gak apa-apa, Bang. Ini masih jam 8 aku juga belum tidur kok," ucap Ika tersenyum.
"Maaf ya, Dek," ucap Sultan tak enak hati.
Ika mengangguk dengan tersenyum. "Emang Cut mau ketemu Kak Ika ngapain?" tanya Ika mensejajarkan tingginya dengan Cut.
"Kangen Kak Ika," jawab Cut dengan polos.
"Duh gemesnya. Gimana kalau kita goreng sosis sama nugget terus makan di sini," usul Ika yang langsung diangguki oleh Cut dengan semangat.
"Ayo, Kak. Aku suka sosis sama nugget," teriak Cut dengan semangat.
"Hmmm Bang gak masuk aja?" tanya Ika kepada Sultan yang sedari tadi memperhatikan dirinya. Entah dirinya yang percaya diri atau memang Sultan yang sejak tadi memperhatikan dirinya.
"Eh, Abang tunggu aja di teras. Gak baik masuk ke dalam takut fitnah, kamu saja sama Cut," ucap Sultan dengan tegas.
"Ya Allah Abang Sultan paling beda. Kenapa aku merasa sangat dihargai ya?"
"Kami masuk dulu, Bang," ucap Ika.
"Iya silahkan, Dek," ucap Sultan dengan tersenyum membuat Ika semakin meleleh. Sekejap ia melupakan semua kesakitan karena Rama.
20 menit kemudian...
Ika dan Cut sudah membawa dua piring sosis dan nugget dalam porsi yang banyak. "Banyak sekali," ucap Sultan.
"Kata Kak Ika biar Cut tambah gemoy," ucap Cut membuat Sultan terkekeh.
"Gemoy? Lama-lama kamu kayak ikan buntal, Nak. Makan banyak terus," ucap Sultan dengan terkekeh membuat Ika tertawa dengan ejekan Sultan pada anaknya.
"Anak sendiri dibilang ikan buntal," ucap Ika dengan terkekeh.
"Hahaha.. Ya adek lihat aja pipi sama perutnya bulat," ucap Sultan tertawa.
"Duh meleleh deh gue di sini lihat ketawanya bang Sultan!"
"Papa selalu mengejek Cut! Papa nakal malam ini Cut gak mau tidur sama Papa! Cut mau tidur sama Kak Ika!" ucap Cut dengan kesal.
"Eh, jangan marah dong Cut. Kalau Cut tidur sama kak Ika, Papa gimana? Masa Papa tidur sendiri," ucap Sultan dengan memelas.
"Papa nikah aja sama kak Ika!"
Deg...
Mata keduanya saling memandang satu sama lain dengan kecanggungan yang luar biasa karena ucapan Cut. "Hmmm.. A-ayo kita makan sosis dan nuggetnya nanti keburu dingin," ucap Ika dengan canggung.
"Cut bisa-bisanya kamu ngomong nikah. Papa malu sama Kak Ika!" gumam Sultan di dalam hatinya.
****
"Sampai kapanpun kita tidak akan pernah tidur seranjang. Dan jangan pernah urusi hal pribadi saya," ucap Rama dengan sengit saat Kirana hendak memegang tangannya.
"Tapi Akang. Kita ini suami istri," ucap Kirana dengan lirih.
"Hanya di atas kertas tidak untuk kehidupan kita!" ucap Rama dengan sarkas.
"Orang tua kamu termasuk kamu juga telah menciptakan neraka kalian sendiri. Jangan pernah menuntut hal lebih dari saya karena sejak kapapun itu tidak pernah terjadi," ucap Rama dengan dingin. Ia menepis tangan Kirana dengan keras. Perasaannya sudah mati apalagi semenjak Ika pergi membawa seluruh hati dan jiwanya. Tangisan Kirana juga tidak membuat Rama goyah ia semakin menatap dingin dan muak pada Kirana.
"Pernikahan apa ini? Seperti sebuah neraka," gumam Rama dengan dingin.
****
Double up nih.
meleleh deh sama senyuman bang sultan, Ika udah gak kuat🤣🤣🤣
Ramein part ini ya.
Like, vote, dan coment yang banyak ya.