Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~76 (Akhirnya)



...Jangan lupa ramaikan part ini ya. ...


...Happy reading...


****


Waktu sudah berlalu begitu cepat. Sudah 4 bulan lebih Cut mengira jika Dio adalah suaminya. Walaupun banyak keanehan yang membuat Cut bertanya di dalam hati kini ia sudah terbiasa dengan semuanya. Cut tak lagi banyak bertanya kenapa Dio dan keluarganya seperti menutupi sesuatu darinya, Cut tak ingin rumah tangganya yang tentram menjadi berantakan karena kecurigaannya sendiri.


Saat ini Cut sedang memandikan Mashita. Keduanya tertawa bersama saat Cut mencipratkan air ke wajah Mashita. "Cantiknya anak bunda," ujar Cut dengan tersenyum.


"Mandinya sudah selesai sekarang ayo ganti baju, Sayang!" ujar Cut mengendong Mashita.


"Iya, Bunda!" ujar Mashita dengan tersenyum.


Dio menatap Cut dan Mashita dengan tersenyum tipis. Pemandangan yang sangat indah adalah ketika melihat keduanya tertawa bahagia bersama.


"Sayang!" panggil Dio kepada Cut.


"Iya, Bang!" sahut Cut dengan tersenyum tipis.


"Itu Ayah, Sayang!" ucap Cut kepada Mashita.


Dio mendekati keduanya. Ia memeluk Mashita dan menggelitiki Mashita dengan pelan. "Anak Ayah sudah cantik, wangi lagi!" ujar Dio mencium perut Mashita dengan gemas.


"Hahaha... Ayah ampun! Hahaha... Geli Ayah!" ujar Mashita kegelian saat Dio terus menggelitikinya.


Cut melihat kedekatan suaminya entah mengapa ia merasa cemburu. Dio tak pernah seperti itu kepadanya, bahkan setiap malam sepulang dari rumah sakit Dio selalu menghindar dari sentuhannya. Ingin protes tetapi ia urungkan karena Mashita adalah anak mereka bukan wanita lain yang membuat suaminya berpaling.


Sadar dengan ekspresi wajah Cut yang terlihat masam Dio menyudahi bercanda dengan Mashita dan menggendong gadis kecil itu yang sudah ia anggap sebagai anaknya. Dan pintarnya juga Mashita tak lagi bertanya tentang Ihsan saat di hadapan Cut.


"Shita sama nenek dulu ya! Ayah mau ngomong sama bunda," ujar Dio menurunkan Mashita dari gendongannya.


"Iya, Ayah!"


Cup...


Mashita mengecup pipi Dio dengan cepat dan berlari pelan ke luar kamarnya. Setelah Mashita keluar Dio menatap istrinya yang masih terlihat cemberut.


"Kenapa hmm?" tanya Dio kepada Cut.


"Gak apa-apa, Bang!" ucap Cut dengan singkat.


"Abang tahu arti dari 'gak apa-apa' itu pasti ada apa-apa. Bilang sama Abang kamu kenapa? Wajah kamu terlihat masam saat Abang bercanda dengan Mashita," ujar Dio dengan bingung.


Cut menghela napasnya. "Aku gak tau perasaanku ini bisa dibenarkan atau tidak, Bang! Melihat kamu bercanda dengan Mashita hatiku merasa cemburu! K-karena selama ini kamu seperti selalu menghindariku," gumam Cut dengan jujur.


Antara senang atau harus bersedih Dio mengusap lengan Cut dengan lembut. "Abang takut khilaf menyentuhmu di saat kamu sedang dalam masa pemulihan, Sayang. Sama anak sendiri cemburu hmmm? Sekarang kamu sudah sehat nanti malam siap ya?" tanya Dio mengeelingkan matanya yang membuat Cut tersipu malu.


Dio membawa Cut ke dalam pelukannya dan mencium kening Cut dengan lembut. "Hanya hitungan jam lagi kamu akan menjadi istri Abang sentuhnya, Cut! Maaf pernikahan kita harus didasari dengan kebohongan," gumam Dio di dalam hati.


"Abang kerja dulu ya. Kamu di rumah sama Shita dan mama," ujar Dio mengusap kepala Cut dengan pelan.


"Cut kapan boleh kerja?" tanya Cut yang sudah merasa bosan di rumah.


"Sabar, Sayang. Gak lama lagi kok!" ujar Dio dengan tersenyum.


Cut menghirup aroma Dio dengan dalam. Jantungnya berdetak sangat kencang apalagi saat mengingat ucapan Dio barusan jika nanti malam mereka akan kembali menyatu setelah sekian lama. Apa Cut harus mempersiapkan semuanya?


"Peluknya nanti malam lagi ya. Abang sudah hampir telat ini, Sayang!" ujar Dio dengan memelas.


"Ihh ya udah sana!" ujar Cut melepaskan pelukannya.


Dio terkekeh. "Jangan ngambek cantik. Nanti malam Abang milik kamu seutuhnya, mau kamu apakan aja terserah!" ujar Dio menggoda Cut yang semakin tersipu malu.


"Ihhhh... Sana kerja!" usir Cut yang sudah sangat merasa malu dengan Dio.


*****


Dio tampak gugup saat keluarga dari Cut datang ke rumah kedua orang tuanya. Ika sengaja tidak menghadiri pernikahan Dio dan Cut yang diadakan sangat sederhana ini agar tidak mengundang kecurigaan Cut.


Pernikahan yang seharusnya dihadiri kedua mempelai kini hanya ada mempelai pria yang duduk di hadapan Sultan dan penghulu.


Yang menjadi saksi pernikahan Cut dan Dio adalah Leon, Alan, Ryan, dan keluarga yang lainnya.


"Bisa kita mulai?" tanya penghulu kepada Dio dan dua keluarga yang saat ini sudah hadir.


Dio mengangguk dengan mantap. Tangannya mulai menjabat tangan Sultan dengan erat, dengan satu tarikan napas Dio berhasil mengucapkan ijab kabul dengan lancar hingga suara 'Sah' terdengar yang membuat Dio lega walau keringat dingin muncul di dahinya.


Setelah akad nikah selesai. Semua keluarga Sultan dan Dio memberikan wejangan kepada Dio.


"Kebohongan ini kita sudah mulai sejauh ini Dio. Saya tegaskan sekali lagi jangan buat anak saya menangis," ujar Sultan dengan tegas.


"Saya berjanji Om dan saya usahakan agar Cut terus bahagia bersama saya walau landasan pernikahan kami karena sebuah kebohongan," ujar Dio dengan tegas.


Sultan memeluk Dio dan menepuk pundak pria yang sudah menjadi menantunya itu. "Saya titip anak saya Dio!" ujar Sultan dwngan mata yang memerah.


"Iya Om!" ujar Dio dengan tersenyum.


"Panggil saya papa karena sekarang kamu sudah menjadi menantu saya!" ujar Sultan dengan tegas.


"I-iya, Pa!"


"Sayang, jika suatu saat kamu mengetahui semuanya Abang harap kamu tidak membenci Abang dan keluarga kamu. Maafkan Abang, Sayang! Saat ini kamu sudah seutuhnya menjadi istri Abang, Abang janji akan membuat kamu bahagia!" gumam Dio di dalam hati.