
"Sayang, kamu ngapain?" Tanya sang Mama kepada Alvaro.
"Mama sudah bangun. Ini, Al lagi ambil kompres." Jawab Alvaro.
Mama Britney baru saja terbangun dan hendak sholat subuh. Melihat Alvaro yang berada di ruang tengah, dan berdiri di depan kotak obat, tampak sedang mencari obat.
"Kenapa kamu ambil obat?" Tanya sang Mama dengan lembut.
"Gaby demam." Jawab Al. Lalu dia ke dapur mengambil air hangat dari dispenser.
"Gaby sakit?" Tanya Britney.
"Iya Ma. Kemarin pulang sekolah kehujanan." Jawab Alvaro. Lantas ia menyiapkan air minum di gelas bening.
Berjalan membawa nampan menuju ke lantai dua. Perasaan Britney tidak enak. Melihat punggung Alvaro dan mengingat hal semalam.
Britney kembali ke kamar dan sholat subuh di kamar. Biasanya ke masjid dekat rumahnya. Sang suami telah berangkat lebih dulu, dan tidak membangunkan istrinya, karena tadi masih terlihat pulas. Papa Pras yang melihat, semalam istrinya gelisah dan susah tidur. Disaat istrinya sudah bisa tidur dengan nyenyak, jadi tidak tega untuk membangunkannya.
Alvaro yang berada di dalam kamar. Duduk di samping Gaby, dengan perasaan gelisah dan berharap semua akan baik-baik saja.
"Ayo minum obatnya." Ucap Alvaro dan memberikan obat demam, serta tangan satunya memegang gelas bening.
Gaby meminum obatnya, setelah itu menatap ke wajah Al, "Mas Al, terima kasih."
Setelah subuh, Gaby yang menggigil. Alvaro mendekatinya dan memegang tangannya, ternyata istrinya demam tinggi.
"Nanti, kalau demamnya tidak turun. Kita ke dokter."
Gaby menggeleng "Gaby cuma mau tidur. Nanti juga akan turun demamnya."
Gaby kembali berbaring, dan Alvaro dengan telaten mengompres kening Gaby.
Gaby memejamkan kedua matanya, dalam hatinya dia telah bersyukur. Mendapatkan suami yang baik dan perhatian padanya.
Al memandangi wajah itu, "Gaby, apa kamu tidak bahagia?"
"Apa kamu menyesal, setelah menikah denganku?"
Gaby yang tertidur, terlihat manis dengan wajah polos tanpa polesan. Alvaro yang masih mengompres Gaby. Hanya duduk dan memandangi wajah istrinya.
"Aku sudah memaafkan kamu. Cepatlah sembuh, aku akan membuat kamu ceria lagi." Ucap Alvaro, sambil memegang tangan istrinya.
Entah, Gaby mendengar perkataannya barusan atau tidak. Yang jelas, Alvaro terlihat tulus saat mengucapkannya.
Yang berada di lantai bawah, berjalan keluar rumah. Sesampainya di depan pintu, bertemu Papa Pras yang baru pulang dari Masjid.
"Mama mau kemana?" Tanya Papa Pras.
Melihat istrinya telah berpakaian rapi. Gamis cokelat dengan kerudungnya, dan tampak membawa dompet kulit warna cokelat.
"Mama mau beli bubur ayam buat anak-anak."
"Jalan kaki?"
"Iya Papa."
"Ya sudah, biar Papa saja."
"Baiklah, kalau begitu. Mama mau siapin minumnya."
Papa Pras hanya meletakan sajadahnya, lalu mengambil sepeda yang ada di carport. Bersepeda di kala pagi, sudah menjadi kebiasaan sang Papa. Sekalian olah raga, dan menjaga kesehatan jasmani.
15 menit kemudian
Sang mentari perlahan menyapa di ufuk timur. Alvaro yang duduk di sebelah sang istri. Terdengar suara ketukan pintu, ia dengan segera membuka pintu kamarnya.
"Mama."
"Mama boleh masuk?"
"Iya Ma."
Sang Mama yang telah membawa nampan, semangkok bubur ayam dan teh hangat. Meletakan di atas meja, yang tidak jauh dari tempat tidur.
Sang Mama mendekat mengelus punggung Al, dan berkata "Al, kamu sana mandi, dan bersiap ke sekolah. Biar Mama yang menjaga Gaby."
Alvaro menoleh ke wajah Gaby "Baiklah, tapi nanti Al akan pulang cepat."
"Kamu tidak perlu cemas."
"Iya Ma."
"Mama juga sudah siapin sarapan kamu."
"Iya."
Alvaro lantas mengambil pakaian kerja dari lemarinya, dan langsung keluar dari kamarnya menuju ke kamar mandi, yang ada di sebelah kamarnya.
Mama Britney, perlahan duduk di sebelah Gaby. Meski rasanya, kata maaf itu sulit disampaikan. Namun, dalam hati dan perasaannya. Mama Britney begitu menyayangi Gaby.
Gaby yang mengigau "Daddy." Lirih suara itu dan Mama Britney mendengar rintihan Gaby. Bahkan, Mama Britney tidak henti menatap ke wajah Gaby.
Mata yang terpejam, namun ada air bening keluar dari sudut kelompak mata Gaby.
Mama Britney mengambil tisue dan mengusapnya dengan pelan air mata itu.
Perlahan mata Gaby terbuka, meski begitu redup dan wajah Gaby makin terlihat pucat dengan mata sembab.
"Mama." Lirihnya.
"Iya." Balas Britney dengan suara pelan.
Gaby hendak terbangun dan ingin segera meraih tangan Mama mertuanya.
Namun, Mama Britney lebih dulu memeluknya.
"Mama, Gaby minta maaf." Ucapnya dengan suara serak.
Dari kemarin Gaby sudah terlalu banyak menangis dan suaranya semakin serak.
"Iya." Balas Britney dan mengelus rambut Gaby.
"Mama berhak marahin Gaby."
"Mama tidak akan marah."
Mereka berdua melepas pelukan itu. Kedua wajah yang saling menatap. Rasa kasih dan sayang telah tercipta, meski sebuah kebohongan telah menimbulkan rasa kecewa. Namun, Britney tidak bisa memarahi Gaby, atau mengabaikannya.
Britney mengusap air mata Gaby, dan memegang kedua pipi Gaby. Mama Britney berkata "Semua sudah berlalu. Kamu tidak perlu memikirkannya."
Gaby mengangguk dan kembali memeluk Mama Britney.
"Mama, terima kasih."
"Iya."
Meski rasa kecewa itu ada, bukan berarti Britney tidak lagi menyayangi Gaby.
Setelah itu, Gaby yang duduk bersandar dan Mama Britney telah siap menyuapi Gaby.
Gaby mengangguk dengan tatap sendu, tapi dalam perasaan terdalam, dia sangat bahagia. Mendapat keluarga baru yang menyayangi dengan segenap cinta dan kasih sayang.
Alvaro setelah mandi, kembali ke kamar. Melihat Mamanya menyuapi Gaby. Dia merasa tenang dan bahagia.
"Ma Al."
Alvaro yang sudah berpakaian rapi, ia berjalan mendekati istrinya. Mengelus rambut Gaby dengan rasa sayang.
Memegang dahi istrinya, ia berkata "Demamnya sudah mulai turun."
Gaby tersenyum tipis, meski raut wajah itu masih terlihat pujat. Alvaro duduk di atas ranjang sebelah kanan.
"Kamu makan yang banyak. Biar cepat sembuh."
Mama Britney tersenyum melihat putra tampannya, telah berubah menjadi sosok yang peka dan perhatian.
"Aku tidak salah mengambil keputusan." Batin sang Mama yang merasa lega, melihat putra tampannya, yang sudah menikah.
"Aku mau berangkat ke sekolah."
"Mas Al, tolong ambilkan tasku."
Alvaro mengambilkan tas ranselnya, yang ada di atas koper. Gaby semalam membawa satu koper pakaian dan seragam sekolah hari ini.
Gaby yang menerima tas itu, dan mengambil buku tugasnya. "Mas Al, tolong berikan ini sama Bu Betty."
"Iya."
"Nanti ijinku bagaimana?" Tanya Gaby.
"Kamu tenang saja."
Al mengecup keningnya dan pergi. Mama Britney melihat kerukunan anaknya, semakin yakin pada perasaannya.
"Gaby, habisin buburnya." Ucap Mama Britney.
Gaby mengangguk dengan senyuman.
Alvaro yang telah berada di ruang makan, dia bercerita tentang sang Mama dan istrinya. Sang Papa yang mendengar hal itu rasanya begitu tenang. Mengingat Britney semalam gelisah membuat dirinya juga tidak tenang.
Papa yang satu ini, selalu memikirkan istrinya ketimbang anak-anaknya. "Semoga, Britney bisa menerima kenyataan ini dengan hati yang sabar."
Mengingat akan istrinya yang sering sakit-sakitan, dan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sensitif. Apalagi kalau masalah kerabatnya.
Sang Papa yang duduk di teras memegang helm Alvaro yang basah. Lalu mengambil helm yang lainnya.
Meski tangannya sibuk mengelap. Pikirannya, mengingat akan hal yang lalu.
Flashback On
Satu tahun yang lalu, di Pondok Indah. Britney yang terbiasa mengunjungi kediaman rumah mendiang Kakeknya.
Kala itu, nampak ada acara. Namun, Britney tidak tahu menahu kalau keluarga Binar mengadakan sebuah acara.
"Selamat siang." Ucap Britney, karena ada penjagaan di depan pintu pagar.
Gerbang utama juga terjaga ketat. Britney dan Pras juga bisa melihat beberapa mobil keren memenuhi halaman depan rumah mewah itu.
"Iya selamat siang." Balas penjaga berbadan tegap.
"Di rumah ada acara apa ya Pak?" Tanya Britney.
"Sedang ada arisan Bu."
"Pak, tolong buka pintunya. Saya mau masuk."
"Maaf Bu. Tidak bisa."
Britney lantas menghubungi Binar, tidak lama sang petugas membuka pintu untuk mobilnya. Britney dan Pras juga diantar sopirnya Abyaz. Setiap ke rumah Abyaz, Britney selalu menyempatkan diri untuk ke rumah Alishba dan melihat rumah masa kecilnya.
Britney yang masuk ke rumah dan melihat beberapa perempuan cantik nan sexy, sedang berkumpul dengan canda dan tawa mereka.
"Itu siapa?" Tanya salah satu perempuan kepada istrinya Binar.
"Aku tidak kenal." Jawabnya dan Britney bisa mendengarnya, meski dirinya sulit untuk menerima perkataan itu.
Pras yang menggandengnya, dan Britney menuju ke kamarnya dulu. Semua sudah berubah, padahal Vava berjanji akan menjaga kenangannya dulu. Meski, rumah ini ditempati Binar bersama keluarga kecilnya.
"Mama, sebaiknya kita pulang."
"Iya Papa. Mama cuma mau mengambil foto ini." Ucapnya.
Istrinya Binar berjalan ke lantai dua, untuk melihat Britney yang mengambil sesuatu.
"Budhe, silakan ambil semua barangnya. Karena kamar ini, mau ditempati Abel."
Abel anaknya Imel dan Binar. Imel seperti nyonya di rumah ini.
"Imel, apa kamu tidak punya sopan santun?" Britney sudah tampak gemetar.
Imel yang memegang flute glass, tampak mencebikan bibir ke kanan, berkata "Budhe, harusnya tahu. Rumah ini, sudah menjadi milik suamiku."
"Binar?"
"Budhe, silakan tanya sama Mama Vava. Pasti Budhe akan mengerti."
Britney merasa sakit hati, atas apa yang dulu ia berikan kepada Vava. Sudah sering kali mewanti-wanti Vava, lebih baik memberikan kepada Ayu daripada kepada Binar. Semenjak Binar punya istri, tampak lebih menjauh dari Britney.
"Iya, Budhe akan mengambil kenangan Kakek."
Pras melihat itu dengan perasaan tidak senang, ia mendekati Imel "Imel, kamu masih muda, kamu harusnya lebih sopan ketika bertemu orang tua."
"Pakde siapa? Beraninya menasehati aku."
Pras tidak ambil pusing selama istrinya baik-baik saja. Tapi melihat tingkah Imel barusan, dia tidak bisa diam.
"Imel, kamu juga bukan siapa-siapa. Binar, bukan anak kandungnya Vava. Jadi, kamu yang harus menjaga sikapmu."
"Papa." Britney menarik tangan suaminya dan mengajaknya pergi.
Setelah mendengar perkataan Pras, Imel mengadu kepada Vava. Kalau Britney bersama Pras datang, lantas mempermalukan dirinya dihadapan tamunya.
Setelah itu, hubungan mereka semakin renggang.
Binar sebenarnya tahu, tapi dia memilih diam.
Flashback Off
"Papa, Al berangkat dulu." Al berpamitan dengan Papanya.
"Hati-hati di jalan"
"Papa, hubungi Al kalau Gaby semakin demam."
"Kamu tidak perlu cemas. Kita akan menjaga Gaby selama kamu bekerja."