
...KISAH CINTA ABYAZ AKAN DIMULAI...
Suasana dalam hati yang sangat berduka.
Tampak duduk termenung di atas atap rumahnya.
Berteman dengan sang malam dan hanya ada kegegelapan. Angin malam membuat selendang putih yang dia kenakan telah berkibar.
Tak ada suara, tiada kata yang terucap. Hanya keheningan malam berpayung awan, berhiaskan bulan dan bintang.
Tapi malam ini, masih dalam rasa duka yang mendalam. Untuk gadis yang bernama Abyaz Ali Wardana.
Seorang Mama yang datang mendekati putrinya, dengan perasaan cinta yang begitu mendalam.
Tidak mudah bagi seorang Britney, untuk membujuk putrinya. Rasanya, tidak bisa berbuat apapun untuk putrinya yang telah berduka.
"Abyaz, sayangnya Mama." Ucap Britney.
Tangan seorang Mama mengelus lembut rambut putrinya, dengan segenap rasa cinta yang ada.
"Abyaz, kamu makan ya. Mama suapin." Britney yang membawakan satu kotak makanan, dari restoran jepang kesukaan Abyaz.
Abyaz yang duduk diatas kursi kayu, kedua tangannya bertumpu pada kedua kaki. Dia hanya diam dengan tatapan sendu, dan air mata itu sepertinya sudah mengering.
"Abyaz, Papa sama Mama sudah bicara. Kalau kita, harus segera pindah dari sini"
Britney meraihnya dan memeluk putrinya dengan erat.
Sudah satu minggu, setelah kepergian sang kekasih hati. Abyaz tidak mau melalukan aktivitas apapun.
Sudah 1 tahun berpacaran, dengan lika-liku yang ada. Abyaz benar-benar sudah melabuhkan hati dan cinta mendalam untuk Damar.
Surat-surat untuk mendaftar ke KUA setempat sudah selesai. Damar juga sudah tiba dari Amerika. Pras sebagai orang tua, juga sudah memberi restu kepada putrinya tersayang.
Tapi lagi-lagi takdir berkata lain, Damar dan Viral mengalami kecelakaan hebat.
Damar meninggal dunia dan Viral juga masih ada dalam perawatan dokter.
Damar memang jarang mengendarai motor, entah kenapa malam itu ingin sekali keluar bersama Viral, ke sebuah kafe yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka.
Abyaz malam itu juga tahu kalau sang kekasih akan pergi dengan Viral. Dia juga tidak ada filing apapun.
Tepat jam 10 malam kecelakaan itu terjadi, lalu jam 1.22 WIB Damar telah meninggalkan Abyaz untuk selamanya.
Setiap di rooftop rumahnya, Abyaz hanya memandangi rumah Damar yang berada di ujung. Sangat terlihat jelas rumah itu, bahkan Abyaz dan Damar sebelum kecelakaan itu terjadi. Mereka telah mendekorasi rumah, mengganti interior sesuai keinginan Abyaz. Usia Abyaz yang kini telah 21 tahun. Tapi hatinya sangat merasa terluka dalam.
"Sayang, Mama sudah menyerahkan pekerjaan Mama sama Giel."
"Mama akan menemani kamu."
Britney memeluk erat anaknya yang masih tampak terdiam.
Britney sebagai Mama, dia juga merasa kurang memperhatikan anaknya. Dia terlalu sibuk bekerja, sampai-sampai tidak ada waktu, ketika anaknya masih sangat membutuhkan perhatiannya.
"Abyaz baik-baik saja." Suara yang terdengar begitu sendu.
"Tapi kita akan segera pindah rumah. Mama sama Papa akan menjaga kamu."
Abyaz hanya menggeleng dan mulai bersandar dalam dada sang Mama.
Britney juga tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya ingin sekali, memberikan semua yang putrinya inginkan. Tapi, bila takdir sudah berkehendak. Apa yang bisa dia lakukan untuk putrinya.
"Sayang, kita besok akan pergi dari sini."
"Abyaz mau disini."
Britney dengan rasa sabarnya dan berusaha untuk membuat anaknya tenang.
"Sayang, terkadang kita harus pergi. Agar bisa lupa."
"Bagaimana Abyaz bisa lupa Ma?" Suara Abyaz yang begitu mengiris dan tangis itu mulai pecah dalam dekapan sang Mama.
Britney yang memeluknya turut larut dalam kesedihan putrinya. Kemarin rumah itu menggelar 7 harian, Lingga yang mengurusnya. Tapi, malam ini Abyaz kembali melihat ke arah rumah itu, dengan tatapan kesedihannya.
"Sayang, kalau kamu mencintainya. Kamu harus bisa merelakannya. Kamu harus bisa mengikhlaskannya."
Suara tangis masih tersengal-sengal dan rasa sangat sulit untuk melupakan sang pujaan hati.
"Kita besok akan pergi. Mama hanya mau melihat putri Mama bisa kembali seperti biasanya."
"Abyaz lihatlah Papa. Papa sangat menyayangi kamu."
Abyaz mulai terdiam, beberapa hari dengan kesendiriannya. Dari pagi tadi, Abyaz juga tidak melihat sang Papa. Kemarin-kemarin, sang Mama masih mengurus pekerjaannya, dan sang Papa yang memperhatikannya. Tapi dari pagi, Abyaz juga tidak melihat Papanya.
"Papa."
"Papa sangat menunggu putrinya kembali lagi. Kamu tidak mau melihat Papa?"
Britney dengan segenap rasa yang ada. Mendekap putrinya dengan cinta. Rasa ini begitu sakit, tapi apa daya, dia hanya seorang Mama. Dia tidak bisa merubah keadaan. Andai waktu bisa kembali di putar Pras dan Britney akan melarang Damar, agar tidak pergi di malam itu. Tapi mereka tidak bisa berbuat itu.
"Mama, maafin Abyaz." Ucapnya dan kembali tersedu-sedu."
"Sudah malam, ayo kita ke dalam."
Abyaz mengangguk dan Britney mulai menuntun Abyaz untuk masuk ke rumah.
Abyaz saat berdiri, masih menoleh ke arah rumah Damar. Britney mengerti hal itu, dan merangkulnya dengan sayang.
Setelah Abyaz tiba di kamar.
"Papa." Lirih Abyaz.
Pras yang duduk bersandar di tempat tidur dan menatap putrinya.
Abyaz berlari ke arah sang Papa dan langsung memeluknya.
"Papa." Abyaz dalam dekapan sang Papa.
Pras juga berusaha tenang, tapi air mata luruh membasahi pipinya.
Alvaro dan Alishba yang ada di depan kamar itu, juga ikut melihat Abyaz yang masih menyayat hati.
Alvaro memeluk Mamanya yang juga menangis. "Mama, jangan nangis lagi."
Alishba juga tidak kuat menahan dirinya, langsung mendekati Abyaz.
Alishba naik ke tempat tidur dan duduk di sebelah sang Papa. Mengelus rambut adiknya.
Abyaz yang ada dalam dekapan Papanya, perlahan mulai tenang.
"Abyaz, Kakak sayang kamu." Ucap Alishba dan mengecup kening adiknya.
Pras tidak sanggup berkata apapun, Abyaz yang tadi tertidur dalam dekapan sang Papa dan merasakan tangan sang Kakak yang mengelus rambutnya. Saat ini, sudah tidur di kamar orang tuanya.
Britney memeluk putrinya dengan erat, dan Alvaro juga tidur di sebelah sang Mama.
Pras melihat itu, dia keluar bersama Alishba. Lalu berkata "Alishba, kamu juga harus istirahat. Emran pasti sudah menunggu kamu."
"Papa, Alishba tahu apa yang kalian rasakan. Alishba akan mendukung keputusan Papa dan Mama untuk pindah dari sini."
"Papa titip Al sama kamu. Sebentar lagi adik kamu ujian. Papa sama Mama tidak bisa mengawasi Al. Kamu harus bisa menjaga adik kamu sampai ujian."
Alvaro sudah kelas XII dan tinggal 3 bulan lagi, dia ada ujian sekolah. Sebentar lagi Alvaro juga akan kuliah. Pras hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia.
"Papa tidak perlu cemas. Al juga sudah dewasa. Dia juga mengerti keadaan saat ini. Alishba akan menjaga Al."
"Alishba sayang Papa."
Alishba memeluk Papanya. Dia juga tidak bisa berbuat apapun untuk Abyaz. Dia juga tidak tahu akan jadi seperti ini. Padahal, siang itu Alishba dan Emran sempat makan siang bersama Damar di restoran Papanya.
Saat mendapat kabar itu, Alishba juga sangat kaget. Emran yang menerima panggilan dari Alvaro. Langsung bergegas ke rumah sakit.
Tapi, setibanya Emran dan Alishba di rumah sakit. Damar sudah tiada. Abyaz yang pingsan di rumah sakit, Emran dan Alishba juga yang menjaganya. Bahkan di hari pemakaman itu, Abyaz masih terbaring lemah.
"Tidurlah,... Sudah malam." Ucap Pras dan melepaskan pelukan itu.
"Papa mau kemana?"
"Papa mau ke kamar Abyaz."
Alishba hanya mengangguk dan berjalan ke kamarnya.
Sudah jam 11 malam dan Pras berjalan ke arah kamar Abyaz.
Pras yang membuka pintu kamar itu, rasanya sangat tidak kuat.
Tapi sang Papa ingin melihat suasana hati putrinya.
Pras menatap sekeliling kamar itu, perlahan duduk di sebuah kursi, dan menatap sebuah buku pribadi yang masih terbuka.
Pras perlahan duduk dan mulai membaca tulisan Abyaz.
Bagian halaman awal masih tentang dirinya dan sang Papa tercinta.
Pras tersenyum saat membaca tulisan itu, ada rasa yang menyenangkan. Putrinya sangat memuji Papanya.
Tiba di halaman 29, yang sudah mulai mencintai seorang pria. Ya, itu Damar.
Sudah jam 2 dini hari, Pras dengan rasa berdebar membaca tulisan itu, satu demi satu, Pras membalikan dengan tangan yang bergetar. Rasanya amat terluka saat membacanya. Ternyata Abyaz sangat mencintai Damar.
Pras tidak menyesal saat memberikan restu untuk Abyaz dan Damar, tapi dia sangat menyesal tidak tahu kalau Abyaz begitu mencintai Damar. Kalau waktu bisa diputar, kala itu dia akan segera menikahkan putrinya dengan Damar. Dan tidak akan berfikir panjang.
"Abyaz..." Suara yang bergetar dengan segenap cinta dari seorang Papa untuk putrinya.
Pras sudah tidak sanggup lagi membaca tulisan putrinya.
"Abyaz... " Pras dengan air matanya.
Pras yang berbaring di atas tempat tidur Abyaz. Mulai mengingat masa kecilnya Abyaz, dan perlahan terpejam dengan segala perasaannya.