
Duduk bersandar, menutupi wajah dengan jaketnya. Sudah tak ada senyuman tengil dari wajah tampannya.
"Hei,.. Arjuna." Sang manager itu, juga turut prihatin. Saat melihat Arjuna yang bersimpuh di kaki Opa dan Oma.
Tangisan itu, bukan karena dirinya sedang bermain film. Tetapi, dari hatinya yang terdalam. Ia sungguh-sungguh bersedih.
"Arjuna, kamu aku beri libur malah sedih begini. Aku jadi bingung." Jimmy sang manager juga lebih gelisah, ketika mood aktor tampan ini tidak memadai. Begitu muram dan penuh kesedihan.
Padahal beberapa jam yang lalu, sang manager bisa melihat rona bahagia dan senyuman cerah secerah mentari pagi.
Sayangnya, di kala mentari pagi telah menyapanya. Arjuna malah dalam kesedihannya. Semalaman, Arjuna tidak tidur, ia hanya meminta sopirnya untuk mengelilingi ibukota. Sang sopir yang tidak kuat lagi mengendarai mobilnya, akhirnya menghubungi manager Arjuna.
Jimmy F. O. Jimmy Fernando Oktario. Sang manager bertubuh gemoy, tapi sebenarnya ia pria tulen.
"Arjuna."
"Semalaman kamu tidak pulang. Terus sekarang, kamu ingin kemana? Aku akan mengantarmu."
"Arjuna, jawab aku."
Arjuna tak menghiraukannya, Jimmy mengerti. Itu sudah biasa terjadi dan Jimmy sangat susah mengembalikan mood Arjuna ketika sedang down begini.
Tangan kiri Arjuna, menyingkap jaket yang menutup wajahnya. Akhirnya kedua mata itu terbuka, meski bagian hidung ke bawah masih tertutup jaket.
"Aku ingin ke F. O."
"Kamu mau tidur di kantor?"
"Iya."
"Tidak bisa. Kamu sedang libur. Kamu tidak perlu ke kantorku."
"Kali ini saja."
Tatapan Arjuna yang sangat terlihat manja dan Jimmy bisa mengerti akan situasi ini.
"Baik, kali ini saja."
Ia lantas menutup kembali wajah tampannya dan sangat kekanakan.
Arjuna tiba di kantor agensi. Kantor ini berdiri setelah sang Arjuna membintangi film comedy. Sekitar, dua tahun yang lalu.
Diberi nama F. O., Ya, karena kantor ini milik Jimmy. Sang manager juga sangat bersyukur. Ketika mengontak Arjuna di agensinya, ia akhirnya bisa jadi jutawan.
"Aku mau ruangan ini."
"Kamu di sebelah. Ini ruangan aku."
"Aku mau disini. Aku mau coba jadi kamu."
"Nggak bisa. Kamu libur. Mending liburan."
Arjuna yang perlahan mengambil kursi dan duduk menghadap sang manager.
Punggung kursi itu, juga jadi sandaran kepalanya. Saat ini, ia merasa tidak senang. Tidak ada lagi yang bisa ganggu dan saling melemparkan bantal ketika tidur.
"Jim, aku mau shuting lagi." Bibir itu tampak imut dan tatapan nan manis.
cute baby.
Pandangan mata Jimmy, berbinar terang. Suasana hatinya tengah berbunga-bunga. Tanpa ia sadari, menggerakan tubuhnya dengan gemulai. Menari-nari di atas bunga-bunga yang indah, tertiup angin sepoi-sopoi. "Uuh, menyenangkan."
"Apanya yang menyenangkan?? Aku lagi sedih begini. Tapi kamu malah senang."
Mata kilau Arjuna yang sudah tampak berkaca-kaca. Jimmy bisa melihatnya.
"Oow, oow. Ini, inini Arjuna yang mencari cinta. Harusnya, waktu itu kamu akting begini. Giliran udah selesai. Malah jadi melo begini."
"Memangnya, sekarang aku terlihat gimana?" Arjuna yang telah memicingkan sedikit matanya.
"Emm, mulai deh."
Jimmy melihat ke arah layar pintarnya. Memusar-musar layar dengan gemas, jari-jari itu mencari-cari poin yang di tuju.
"Oke, ada cameo."
"Cemeo??!"
"Ini cameo penting. Kamu ingin menangis. Itu sedang dibutuhkan."
"Apa nggak ada yang lain? Film kandas, film di duain, film di selingkuhin, apa gitu."
"Hemm? Film kandas? Di selingkuhin? Maksudnya apa Arjuna?" Jimmy lagi berusaha untuk mengingat. Kemarin, Arjuna sempat berkata tentang kekasih.
"Jim."
Tatapan Arjuna saat ini, benar-benar telah menghantui sang manager.
"Kekasih? Kamu punya kekasih?"
Arjuna menggeleng, bak anak kecil yang sedang malas. Wajah itu, menandakan kalau ia sedang tidak bersemangat.
"Arjuna, kamu punya kekasih?"
"Kalau aku punya kekasih. Mana mau aku disini sama kamu. Aku pasti sudah berkencan." Suara itu seolah tidak terima dan membuat penyangkalan.
Namun, Arjuna berkata benar. Dia tidak memiliki kekasih hati. Pacaran, cuma iseng saja. Itupun, sebentar putus dan lagi ada lagi, seperti itu. Waktu di masa putih abu-abu.
"Arjuna, kita jadi ke bioskop?"
"Jadi dong beb."
Sang Cinta datang tanpa diminta, dan ia langsung berkata "Arjuna, sayangku, sayangku, sayangku." kedipan centilnya dan terlihat sangat manja.
Pacar Arjuna berkata "Sialan, dia lagi."
"Levi Darling. Nanti kita sambung lagi pacarannya. Aku sudah ada panggilan cinta pertama."
"Ngeselin!" Batin Cinta. Ia masih menampilan senyuman manis nan manja kepada Arjuna.
Arjuna merangkul bahunya, berbisik "Kamu kecepeten. Harusnya, di kasih jeda dulu. Aku baru mulai, kamu main datang aja."
"Aku nggak peduli. Mana atm aku? Pasti kamu bisa ngambil dari Mama, mana?" Mengadahkan kedua tangannya bak anak kecil dan sangat manis. Begitu imut dan sangat cute di usia belianya.
Seketika wajah itu, menjadi bengong saat Arjuna memberikan kartu identitasnya.
"Itu sayang. Kamu bisa gunain. Buat belanja sepuasnya." Arjuna lantas berjalan pergi dengan lambaian tangan kirinya.
Bibir imut itu tampak cemberut, kedua tangannya hanya mendapatkan kartu identitas dirinya. Dompetnya, masih di tahan oleh sang Mama.
"Mama tega sama Cinta." Mata cantik itu berkilau, dan menatap ke arah langit. Lantas menyandingkan kartu itu dengan background langit.
"Suatu saat nanti, kartu ini akan membawaku terbang jauh."
"Terbang jauh kemana? Emangnya nama kamu bisa jadi jaminan buat naik pesawat?"
Arjuna yang memberikan minuman botol untuk Cinta.
"Iya. Aneh." Cinta yang merasa aneh dan ia juga tidak mengerti akan maksud perkataannya sendiri.
Cinta yang kesulitan membuka botol minuman itu, secepatnya Arjuna membukanya.
"Minumlah. Keburu Bel."
"Oh. Iya. Thank you."
Cinta yang merasa tidak pandai merangkai kata, ia tampak minum. Memandangi Arjuna, wajah tampan itu, tengah terpancar sinar matahari. Baru sekitar jam 10 pagi. Cinta, tersenyum dan meneropong Arjuna dengan jemarinya.
"Arjuna." Cinta yang tersenyum, saat mengingat akan dirinya yang diantara para gadis-gadis pacar Arjuna. Selalu ada Cinta yang harus datang dan mengganggu mereka berdua.
Flashback Off
"Cinta."
"Cinta??"
"Jim, ini jam berapa?"
"Baru jam 1 siang. Kenapa? Kamu mau makan? Dari semalam kamu nggak makan?"
"Antar aku ke sekolah."
"Sekolah?"
"Ke SMA."
"SMA?"
"Iya, sekolahku yang dulu."
"Owh, itu. Oke."
Ruang kantor itu, tempat Arjuna terlelap dalam lamunannya. Sampai-sampai ia bermimpi bertemu Cinta.
Dengan cepat memakai sepatu, ia menyambar jaket serta kacamata yang ada di sebuah meja.
Ruangan yang terlalu minimalis, tapi ini sudah menjadi sebuah kantor. Meski kecil, tapi ini sangat berkualitas. Dapat menghasilkan pundi-pundi gepokan, bahkan sampai milyaran.
"Yuk, capcuz." Jimmy yang menyetir mobil itu, karena sang sopir sedang tidur.
Arjuna yang telah duduk bersandar, ia melihat ke arah jalanan. Membuka mata dan berharap ia bisa bertemu Cinta.
Perjalanan yang cukup jauh dari kantor F. O. Arjuna, masih bersandar. Dirinya dalam kegelisahan. Memikirkan tentang mimpinya. Bahkan, saat dalam mimpi itu, Cinta tak lagi mengenali dirinya.
"Arjuna, aku tidak mau satu tempat kuliah sama kamu."
"Memangnya kenapa? Kalau kita kuliah di kampus yang sama."
"Nggak suka. Cukup di SMA saja kita satu sekolah."
Kata-kata itu, Arjuna masih jelas mengingatnya.
"Aku nggak mau jadi beban kamu. Sama, kamu juga. Aku nggak mau bantuin kamu lagi."
"Kita udah sepakat, saling membantu."
"Tapi, mana buktinya??"
Udah ditandai jadwal updatenya.
Tapi, bisa dirubah lagi sesuka hati.