ABYAZ

ABYAZ
Bab. 19. Putus Nyambung



"Kalian serius?!"


Beby yang mengangguk dengan bibir gemas dan begitu imut. Arjuna juga hanya mengangguk.


"Ah, bokis kalian berdua."


"Benar, kita putus. Aku mau memulai dari awal sebagai Beby. Aku masih butuh waktu. Aku ingin sementara waktu berpisah dari Arjuna."


"Jadi, kalian berdua beneran pisah?"


Arjuna menjawab "Iya."


Jimmy langsung berdiri berkata "Yes!"


Beby dan Arjuna menatap dia. Merasa Jimmy sepertinya sudah bangkit dari jiwanya yang melayang.


"Iya, pastinya kamu senang. Kalau nggak bertemu aku."


Jimmy berkata "Bukan begitu. Aku senang karena Arjuna. Selama dating show. Ia harus bener-bener single. Nggak bisa kalian berdua-duan, terus cium-ciuman."


"Aaa.. Emangnya nanti ada adegan kiss?" Beby yang menyentuh bibirnya Arjuna, dengan jari telunjuknya.


Jimmy berkata "Aaa, soal itu. Pasti ada. Namanya juga pacaran."


"Hemm, Arjuna sayangku, sayangku, sayangku. Bener begitu??"


Arjuna mengangguk.


Beby bersandar kursinya dan bersedekap cantik.


Mata indahnya menatap ke Jimmy, "Jimm, gimana kalau datingnya sama aku aja."


"Owooo, nggak bisa Beby sayang cantik jelita tiada tara. Sudah ada pemerannya."


"Aaaa.. Arjuna, aku harus gimana?"


"Kita setuju untuk putus."


"Benar juga. Putus."


Jimmy berkata "Terus kalian niat balikannya kapan?"


Beby berkata "Ya mana tahu. Hati orang nggak ada yang tahu."


Arjuna memegang tangan Beby, ia berkata "Secepatnya."


"Bisa jadi. Setelah kamu selesai Dating."


Jimmy berkata "Sebenarnya, kalian ini putus apa tidak? Heran aku. Itu tangan masih aja pegang-pegang. Manja-manja begitu, bilangnya putus."


Arjuna mendekat ke wajah cantik itu, Jimmy melihat adegan itu. Jimmy berusaha mengambil ponselnya dan merekamnya.


Adegan manis dan sangat mendalam. Jimmy berkata "Action!"


Arjuna lantas menjauh "Mama Jimmy."


"Aku juga ingin sedikit melihatnya."


"Jimmy, kita putus. Kamu berharap kita ciuman di depan kamu, begitu?"


Jimmy mengangguk, dipikirannya hanya peran Arjuna yang sangat mendalami.


Arjuna berkata "Jim, atur jadwal aku. Malam ini aku harus menemaninya, sebelum berpisah." Arjuna meraih tangan Beby, lantas pergi.


Jimmy berkata "Putus dari Hongkong, masih nemplok begitu. Nempel melulu."


Jimmy masih menatap mereka yang berjalan pergi. "Terus, aku ngapain masih disini?"


"Hei... Tungguin aku."


Betapa hebohnya dan mereka tampak tersenyum mendengar suara Jimmy yang aduhai. Sampai orang di sekitarnya juga melihat ke arah Jimmy.


Setelah tiba di hotel, Arjuna menemani Beby. Arjuna yang tidur di sampingnya, dan mengelus-elus rambut gadis itu.


"Kamu cemburu??"


"Tidak."


"Aku sayang kamu."


Yang tadinya, Baby tidur membelakangi Arjuna, ia tampak menghadap ke Arjuna.


Arjuna menciumi punggung tangan Beby, dengan lembut. Tatapan itu, sangat terlihat berbeda.


"Arjuna, meskipun kita begini. Aku masih takut. Aku masih belum bisa. Untuk bertemu keluarga besar kita."


"Beby, jangan membahas mereka. Saat ini, hanya ada kita berdua."


"Kamu benar. Hanya kita."


Beby yang berada dalam dekapan Arjuna, perlahan kedua mata itu terpejam.


Arjuna juga membacakan sebuah novel. Suara Arjuna, membuatnya merasa ada yang selalu menjaganya, saat ia tertidur.


Arjuna, melihat ke wajah itu. Terlihat sangat manis, damai dan tidak ada lagi kesedihan.


"Tidurlah, aku akan menjaga kamu."


Arjuna mengecup keningnya, setelah meletakan ke atas bantal. Tidak lupa menyelimuti gadis itu dan mengatur suhu ruang kamar.


Arjuna, melepaskan mantel jas yang masih melingkupi badan. Ia mematikan lampu kamar itu, dan beranjak tidur di samping Beby.


Setelah beberapa menit kemudian, Arjuna juga sudah terlelap. Tangan itu, telah mendekap erat gadis cantik, yang ada di sebelahnya.


Hal ini, sudah terbiasa bagi mereka berdua. Arjuna, sering tertidur di samping gadis itu. Apalagi, setiap berkumpul keluarga besar dan menginap di rumah Omanya. Arjuna selalu memenaminya, sampai tertidur pulas. Pada akhirnya, Arjuna juga tertidur di sebelahnya.


Di sebuah kamar. Di rumah orang tua Arjuna. Kedua orang tua Arjuna telah membahas putra tampan mereka.


"Mas, ayo secepatnya kita lamar Cinta. Aku tetap nggak enak hati sama Kak Abyaz."


"Sayang, kamu harus sabar dulu. Putri mereka juga belum kembali. Kalau kita tiba-tiba datang melamar. Apa yang akan terjadi?"


"Kak Abyaz sudah bilang. Sebaiknya kita mengadakan pertunangannya dulu. Kalau soal menikah. Ya anak-anak itu, maunya kapan, dimana. Begitu."


"Kalau aku sebagai ayah, terserah yang mau menikah. Kita tunggu Arjuna, dia maunya gimana."


"Mas, kalau tunggu Arjuna kelamaan Apalagi Arjuna sibuk shuting."


"Tapi, kalau kita melamarkan untuk Arjuna. Kita juga belum tentu di terima begitu saja. Tunggu keduanya pulang. Kita tanya sama mereka berdua. Maunya gimana? Kalau mereka masih ingin pacaran ya sudah. Kita bisa apa."


"Mas, tapi kita dulu langsung menikah."


"Ya beda sayang. Aku kalau nggak gerak cepat. Pasti sudah didahului yang lainnya."


Keduanya, merasakan masa muda bersama. Setelah anak-anaknya sudah dewasa.


Yang bujang tampan hanya sibuk dengan pekerjaannya sebagai aktor. Sedangkan si kembar, mereka baru memulai perkuliahannya di luar negeri.


Menikah di usia belia, sibuk kuliah, mengurus anak kembar. Membuat Bunda satu ini menjadi sosok yang lebih kuat. Lika-liku rumah tangga dan asam manisnya, sudah pernah dirasakannya.


"Mas, kalau Arjuna nanti punya anak gimana ya?"


"Nikah aja belum. Gimana punya anak?!"


"Aku udah nggak sabar. Arjuna bisa membina hubungan yang serius."


Setelah malam lembur itu, kedua orang tua ini. Sudah dalam kehangatan selimut tebalnya. Terlelap dalam pikiran tenang dan berharap hari esok akan mendapat kebahagiaan.


Di tempat lain, masih ada yang terjaga. Di ruang kerja dan pikirannya itu tidak tahu melayang jauh kemana.


"Mas, kamu belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur."


"Kamu masih memikirkan tentang Gisella?"


"Bukan itu."


"Lalu?"


"Aku hanya mencemaskan Cinta. Kalau dia memang putri kandungku. Apa yang harus aku lakukan?"


"Mas, aku yakin. Cinta bisa mengerti."


Seorang istri yang mengelus punggung suaminya, lalu memeluknya dari samping.


"Aku berfikir. Aku selalu gagal. Dari kecil, aku punya ambisi. Dari akademik, dan semuanya. Daddy dulu selalu bangga saat aku sering mendapat juara. Terus, semenjak aku SMA ambisiku menjadi lemah. Daddy tahu aku jatuh cinta sama Abyaz. Lalu, Daddy menjauhkan aku. Aku saat itu hanya menurut. Aku tahu, aku hanya putra angkat mereka. Setelah kembali, aku tetap menurut. Kemana saja, Daddy menyuruh aku, aku selalu menurut. Sampai aku harus menjalani perjodohan dengan Imel. Dari situ, awal mula. Ambisiku berubah dendam. Saat ini, selain masalah Mirza. Ada Cinta. Aku takut, Mirza jadi seperti aku."


Air mata penyesalan dan larut dalam kesedihan. Sang istri memeluknya, meski usia sang istri jauh lebih tua dibanding dirinya. Istrinya, sangat menghormati suaminya.


"Mas, aku mengerti perasaan kamu. Aku sudah bicara dengan Mirza. Aku yakin, Mirza bisa bersikap dewasa."


"Aku bukan Papi yang baik. Aku, orang yang menelantarkan putri kandungnya."


"Mas, kita masih menunggu hasilnya."


Ketenangan karena rasa cinta dan ketulusan dari seorang istri.


"Sayang, terima kasih. Kamu selalu ada, saat aku dirundung masalah."


"Iya Mas. Sama-sama. Karena kamu dan Mirza. Aku juga lebih bersemangat dan merasa hidup normal. Memiliki suami, anak dan kita membina rumah tangga sampai sekarang. Kalau nantinya, hasil itu sudah keluar dan Cinta adalah putri kamu. Aku sangat bahagia, kita punya anak perempuan." Begitulah suara sendu itu. Karena, perasaan cinta telah menutup semua masalahnya.


Sosok istri yang ini, begitu kuat. Dari muda, ia selalu tegas, berfikir realistis, dan tidak pernah menggunakan perasaan. Kecuali tentang keluarganya. Setega apa orang yang berbuat jahat kepada keluarganya, ia tidak segan. Mengejar ke ujung dunia, akan dia lakukan. Bukan Stella namanya, kalau tidak bisa menemukan. Siapa dalangnya, orang telah mengirim surat itu.


"Aku tahu. Kamu yang mengirim surat untuk suamiku." Suara itu, tatapan itu. Sore tadi.