
Minggu pagi dengan rasa manis. Abyaz yang berbaring dalam pangkuan Damar.
Damar yang duduk dan sambil melihat ke arah tabletnya. Masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.
"DamDam, katanya mau potong rambut."
Abyaz sambil memainkan kancing kemeja yang dikenakan suaminya.
Damar suka memakai kaos tipis dan menutupnya dengan kemeja polos. Terkadang juga hoodie, atau jaket.
"Iya, bentar lagi."
"Kamu terlalu sibuk. Pipi kamu sampai tirus." Tangan kanan Abyaz menyentuh pipinya.
"Iya sayang, aku beberapa hari nggak nafsu makan. Soalnya kepikiran kamu terus. Makanya, kamu harus nurut sama aku."
"Emh,... Iya."
Damar menunduk, dengan gemas mengecup bibir Abyaz.
"Sepertinya memang aku harus selalu sama kamu. Kalau nggak ada kamu, aku malah nggak bisa fokus kerja."
Abyaz merasa senang, dan tampak senyuman manja.
"Emh, tapi nanti kalau aku hamil gimana?"
"Aku nggak akan pergi kemana-mana. Kalau kunjungan kerja biar digantiin Kak Stella."
Abyaz semakin gemas dan beranjak duduk, mencium pipi Damar dengan manjanya.
"Mau hamil?" Damar yang menoleh dengan cepat dan menatap lebih dekat.
"Apaan sih?!"
Damar meletakan tabletnya di atas tempat tidur dan kedua tangannya meraih wajah Abyaz.
Senyuman manis, tapi begitu menggoda. Desiran dalam dadanya, semakin memacu dengan cepatnya.
"Kenapa?? Apa aku suami yang kejam?"
"Bukan begitu."
"Lalu apa masalahnya?"
"Emh..."
Damar dengan cepat meraih remot tirai dan saat menekan tombol remot, bibirnya sudah menjelajah ke bibir merah Abyaz.
Memutar dengan lembutnya, tangan kanan yang menopang kepala istrinya, dan tangan kiri mulai menyentuh leher yang sudah menggoda dirinya.
Gairah pria itu muncul tiba-tiba, Abyaz juga semakin jatuh dalam belaiannya.
Pagi yang menjadi saksi, mereka kembali memadu kasih.
Sentuhan manja dan sedikit menggigit ke lehernya. Kecupan perlahan sampai ke area dada, semakin terbuai dibuatnya.
Kedua tangan Abyaz meremas kemeja Damar.
Situasi panas ini, membuat Damar semakin menjelajah jauh ke bagian lainnya.
Abyaz yang mengenakan dress cukup terbuka bagian atasnya. Pria ini sangat pandai, tidak dipungkiri kalau Abyaz juga sangat menikmatinya.
Damar menuntunnya dan sebuah do'a dalam hati keduanya.
Menjadi rasa tanggung jawab akan kewajiban yang penuh makna.
"Emhh,..."
"Sayang, buka matamu. Tataplah aku."
Suara yang menggetarkan perasaan, perlahan membuka matanya.
"Cintai aku."
Abyaz hanya mengangguk dan Damar kembali melakukannya, dengan rasa dan gairah yang ada.
Keduanya menyatukan jari-jari mereka, dan Damar yang sangat perkasa.
Tak henti membuat istrinya semakin terbuai dalam dekapannya.
"Aaah..." Erangan manis manja keduanya.
Hubungan suami istri di kamar hotel yang mewah. Suasana pagi yang uwu, dan saling bercumbu. Memikat rasa untuk bersatu, mulai menggapai titik atasnya.
"Aaaah..." Desahnya dengan suara manja.
"Aaagghh!"
Pria manis ini, memang keterlaluan. Lebih nakal dari jaman sang Papa.
Selesai sudah percintaan panas di atas ranjang seperti singgasana raja. Entah berapa kali, hanya Damar dan Abyaz yang tahu.
Jam 1 siang, di sebuah babber shop yang tidak jauh dari hotel tempat mereka memadu kasih.
"DamDam aku mau model rambut kamu, seperti ini. Biar sedikit damage gitu."
"Sayang, aku itu kerjanya di kantor. Terus, aku banyak pertemuan sama klien dan orang-orang penting. Kalau ingin gaya rambut begini, nanti aja kalau kerjaan aku udah santai."
"Emh, tapi aku mau yang ini." Balasnya dengan cemberut.
Damar mengusap rambut Abyaz dengan gemas. Mereka berdiri di depan pekerja yang bertugas seperti resepsionis.
Damar yang merangkul Abyaz dan membuka catalog gaya rambut pria. Abyaz yang berada ditengahnya dan Damar sangat gemas. Tidak henti mengecup rambut Abyaz.
Bayangkan saja, betapa manisnya Damar yang mengalungkan tangannya dan memegang catalog itu.
Tapi masih bisa memanjakan Abyaz dengan kecupan manis.
Sungguh membuat para jomblo iri dibuatnya. Pasti, batin mas-mas yang bertugas itu, juga baper melihat cara Damar yang begitu manis terhadap istrinya.
"Emh,..."
"Bulan depan ya sayang."
"Tapi kalau aku nanti ngidam. Semua harus diturutin."
"Okay Nyonya Damar."
Gara-gara pilihan gaya rambut aja, jadi perdebatan panjang. Tapi kenapa jadi manis begitu. Sungguh keterlaluan, othornya nggak terima.
Kembali ke Damar dan Abyaz.
Damar yang duduk di depan cermin, tidak banyak yang dipotong, hanya sedikit di rapikan oleh hair stylish pria.
Abyaz yang duduk di ruang tunggu, hanya membaca majalah yang ada di sebuah meja.
Ada seorang gadis cantik, juga tampak menunggu seseorang. Entah pacar atau suami, othor tidak tahu. Lalu ada seorang pria brewok juga menunggu antrian.
Ada yang potong rambut, mewarnai, dan merubah gaya rambut. Barber shop itu memang ramai.
"Emh, lama juga." Gumam Abyaz dan masih membuka majalah.
Tidak lama, teman hidupnya sudah keluar dari ruangan potong rambut itu.
"Emh, biasa aja."
"Kenapa?"
"Tetap manis."
"Hems, memang aku begini. Mau diapain juga nggak bisa garang."
Abyaz berdiri dan mulai mengalungkan kedua tangannya, lalu mengecup pipi kiri suaminya.
Kedua orang ini, memang sedang dimabuk asmara. Tidak tahu tempat dan aturan. Tapi, ada juga yang baper dibuatnya.
Mereka sudah berada dalam mobil dan Abyaz tampak senang. Terdengar suara Abyaz yang sedang mendendangkan lagu. Damar tadi memutar lagu barat, dan Abyaz juga menyukai lagu itu.
"Sayang, mau kemana?"
"Emh, kemana saja. Yang penting jalan sama kamu."
"Sudah nggak sakit?" Damar dengan senyuman dan Abyaz mencubitnya.
"Mulai lagi deh. Udah jangan dibahas."
"Ya, aku tanya. Kalau masih sakit kita balik ke hotel aja."
"Hems, itu memang rencana kamu."
"Rencana apa lagi?"
"Tahulah,..." Abyaz memalingkan wajahnya dan Damar tersenyum.
Tiba di sebuah Mall dan banyak toko brand luar.
Damar yang menggandeng tangan kiri Abyaz.
"Sayang, kamu mau apa?"
"Emh, aku tidak butuh apapun."
"Memang, kemarin kamu beli apa?"
"Owh, iya lupa. Aku beli parfume."
"Parfume?"
"He'em, couple parfume."
"Wah, aku juga dapet."
"Iya, tapi kalau nggak suka ya udah. Aku juga cuma iseng."
Damar gemas, merangkulnya dan mengecup rambutnya.
Mall yang ini termasuk sepi, tidak seramai Mall kemarin, saat mereka tebar asmara juga tidak akan ada yang menghiraukannya.
"Sayang, ke tempat sepatu?" Tanya Damar dan semakin manis.
"Sepatu?"
"Emh, couple."
"Okay, tapi aku suka putih atau biru."
"Iya, terserah kamu."
Jaman sekarang apa-apa dibuat samaan. Damar yang tidak pernah pacaran dan moment ini dia buat seperti sedang berpacaran.
"Sayang, aku gemas sama kamu."
"Emmh, DamDam.... Rambutku berantakan."
"Biar sayang, lagian kamu punya aku."
"Tapi nggak enak dilihat orang. Masak cowoknya rapi, ceweknya rambutnya berantakan."
"Biarin, aku nggak peduli."
Damar yang dimabuk cinta dan sangat gemas. Berjalan ke toko sepatu.
Setibanya di toko sepatu, mereka ingat pada bulan lalu, yang berebut sepatu.
"Terus waktu itu, dimana sepatunya?"
"Ya aku kasih ke temenku semua."
Waktu itu Damar mengambil sepatu untuk kado sahabatnya yang ulang tahun, dan sekarang sahabat itulah yang menjaga kantor JS Corporation Sukoharjo.
"Emh, aku pikir kamu nggak punya teman."
"Jangan salah, temanku banyak."
Abyaz menghembuskan nafasnya dan berkata "Aku malah nggak punya teman."
Damar yang tadinya memegang sepatu warna biru, saat Abyaz berkata itu. Dia mendekat dan merangkul Abyaz.
"Aku temanmu."
"Memang, kamu temanku. Teman hidupku yang paling nakal."
"Aku nakal?"
"Iya nakal."
Abyaz yang bersandar dinding kaca dekat rak-rak sepatu. Kedua tangan Damar sudah mengunci dirinya.
Abyaz cukup berdebar dan kedua mata itu saling menatap penuh perasaan.
"Bukannya kamu suka pria nakal?!"
"Iya, aku suka." Jawabnya.
Damar semakin gemas dan mengecup keningnya, lalu berkata "Aku semakin cinta sama kamu."
Abyaz hanya tersenyum dan menutup wajah cantiknya.