ABYAZ

ABYAZ
Bab. 34. Dilarikan Ke Rumah Sakit



Belum sampai Beby menjawab akan pertanyaan para teman kerjanya itu. Sang Bulan purnama, telah memanggil dari panggilan telephone. Meminta adik nakalnya ini untuk segera menumuinya, dia telah menyuruh Beby datang ke tempat dia menunggu saat ini.


"Aku segera kesana."


Beby berkata "Maaf. Aku masih ada urusan penting. Aku duluan ya."


"Beby."


"Yaaah, dia pergi."


"Ya udah, kita nggak usah ngorek terus soal Arjuna. Lagian, dia bilang keluarga. Dia juga ada urusan dan punya privasi. Kita harus menghargai kehidupan dia."


"Bener juga. Aku pernah buat kesalahan, dia nggak marah sama aku."


"Kesalahan?"


"Emm, bukan apa-apa."


"Ya udah, aku juga mau pulang. Suamiku udah sampai di rumah."


"Iya, aku juga mau belanja bulanan."


"Sampai ketemu besok."


Mereka mengambil motor di parkiran samping.


Beby berjalan dengan santai, ia masih memegang ponselnya. Beby yang hendak menyebarang jalan.


Tiba-tiba.


Degh!


"Aaaa..."


Tasnya di tarik oleh dua pria yang tidak dikenal, motor gas pol sampai-sampai tidak ada orang yang mengejarnya. Beby yang terjatuh di tengah jalan.


Seorang perempuan yang mengenakan jaket jeans biru muda, sudah tampak tergeletak di tengah jalan.


Beberapa orang sudah mendekat dan melihat keadaan perempuan itu.


"Dia pingsan."


Tidak lama, teman kerjanya tiba di jalan itu.


"Eh ada apaan? Ramai banget."


"Apa ada kecelakaan?"


"Entah."


"Coba kita lihat."


"Aku takut."


"Tapi aku mau kesana. Aku penasaran."


Yang tadinya ingin seorang diri, akhirnya dua temannya juga ikut mendekat, lalu mereka mencari celah untuk melihat lebih dekat.


"Eh, kok dia mirip Beby."


"Beneran, itu Beby."


Mereka mendekat, "Beby"


"Beby"


"Kalian kenal?"


"Dia teman kerja kita."


"Dia barusan dijambret"


"Dijambret?"


"Sudah ada yang telephone ambulan. Kalian hubungi saja keluarganya."


"Iya Pak."


Selang beberapa waktu, Beby yang sudah berada di rumah sakit. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, karena cedera di bagian kepalanya.


Sepertinya, rumah sakit ini lumayan jauh dari butik dan mengharuskan lewat jalan tol. Tapi, ketiga teman kerja Beby masih setia menemani.


"Beby belum sadar."


"Kamu sudah telephone Bos belum?"


"Ponselnya nggak aktif."


"Duh, kita nggak tahu siapa keluarganya."


"Coba bilang Arjuna."


"Mana kita tahu nomor HPnya."


"Kalau DM bakalan dilihat nggak sama dia?"


"Nanti, dikira kita malah tipu-tipu."


"Bener juga."


Beby yang mendapat perawatan dari suster-suster dan dokter belum ada yang datang memeriksa.


Terbaring di ranjang pasien dan sudah terpasang jarum infus di punggung tangannya.


Dokter yang memeriksa datang, setelah dia membaca laporan tentang kondisi pasien.


"Cinta?"


"Beby,.."


"Beby."


"Kenapa lagi ini anak, ada saja yang terjadi."


"Dokter mengenalnya?"


"Iya, dia adik saya." Jawabnya kepada suster.


"Tadi teman kerjannya bilang, dia kena jambret di jalan."


"Dia kejambretan?


"Iya dokter."


"Teman kerja sekarang dimana?"


"Di ruang tunggu."


"Suster, tolong bawa pasien ini ke ruangan VIP Pesona."


"Dokter Owen. Tapi, keluarganya belum mendaftar."


"Beby, pasien VIP Pesona."


"Baik dokter, saya mengerti."


Owen sang Kakak tertua, cucu pertama Mbah Pras dan Eyang Britney.


Dr. Owen, dokter umum yang bekerja di rumah sakit swasta. Sang Kakak tertua ini juga sudah memiliki putra. Jadi, kalau dari silsilah keluarga besarnya Mbah Pras, putra Owen ini adalah buyut pertama Mbah Pras.



Dokter yang menawan dan juga tampan. Sosok yang kalem, baik hati dan setia. Padahal sudah lama menikah, putranya baru berusia 1 tahun. Istrinya yang juga seorang dokter, dan mereka pejuang garis dua. Setelah penantian lama, akhirnya bayi tampan mereka lahir ke dunia. Yang diberi nama Arzenio.


Dokter tampan ini, waktu Beby usia balita, dia baru mulai kuliah. Rentang usia mereka terpaut jauh, tapi wajah sang Kakak tertua ini, terlihat begitu muda.


"Kalian temannya Beby?"


Sang dokter tampan, telah menemui teman kerja Beby.


"Iya dokter. Kita bertiga teman kerjanya."


"Teman kerja?"


"Jadi, Beby kerja di Butik."


"Tadi, waktu Beby dijambret, apa kalian melihatnya?"


"Kita bertiga nggak lihat, cuma waktu kita pulang, kita melihat orang yang berkerumun di tengah jalan. Ternyata yang terjatuh Beby. Orang-orang sana bilang kalau Beby dijambret. Saya lihat tasnya Beby juga udah nggak ada." Jawaban dari seorang teman, yang lebih dekat dengan Beby. Dia yang sudah bersuami.


"Iya, saya mengerti. Beby tidak apa-apa. Hanya mengalami syok. Sebentar lagi dia akan siuman."


"Dokter, apa kita boleh masuk ke dalam?"


"Kalian bisa ke ruang inap saja. Beby sudah di antar ke ruangan VIP Pesona."


"Berarti Beby sudah dibawa ke kamar pasien."


"Dokter. Tapi kita belum menghubungi keluarganya. Kita nggak tahu siapa saudaranya yang bisa dihubungi."


"Saya Owen, Kakak sepupu Beby. Kalian tidak perlu cemas. Saya sudah menghubungi orang tua Beby."


"Maafkan saya dokter. Saya tidak tahu. Saya sudah tidak sopan."


"Tidak apa-apa. Silakan, kalau kalian mau melihat Beby, di kamar inapnya."


"Baik dokter. Terima kasih."


"Iya, sama-sama."


Ketiga teman Beby, akhirnya berjalan pergi dan menuju ke ruang rawat inap pasien.


"Eh, ternyata dokter ganteng tadi itu Kakak sepupunya Beby."


"Iya, berarti memang bener. Dia dari keluarga berada."


"Beby tadi udah cerita begitu. Apalagi kenal dekat sama Arjuna."


"Dokter tadi keren. Arjuna juga keren. Pasti keluarga Beby keren semua. Aku jadi penasaran."


"Gimana kalau kita jagain Beby, sampai keluarganya pada datang."


"Aku juga penasaran. Aku mau telephone suamiku dulu."


"Aku juga mau bilang ibukku, biar nggak dicariin."


"Kita belum sholat maghrib."


"Eh iya, yuk ke mushola. Baru kita ke ruang inap Beby."


Setelah beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di ruangan khusus.


Mereka yang hendak masuk ke kamar itu. Sudah ada dua pengawal yang berjaga di depan pintu kamar itu.


Ruangan pesona memang lebih sepi, karena ini ruangan khusus untuk keluarga pemilik rumah sakit swasta ini. Kenapa bisa sampai rumah sakit ini. Sebenarnya, dari beberapa orang yang berkerumun tadi, ada pengawal yang selalu mengikuti tuan putri ini.


Sudah dipastikan, yang menjabretnya juga akan keringat dingin dan tidak tahu nasibnya akan berubah seperti apa.


"Permisi, apa ini kamar pasien atas nama Beby?"


"Kalian siapa?"


"Kita yang membawanya kemari."


"Maksud kita, kita teman kerja Beby. Tadi kita yang menemani Beby di ambulan."


"Saya harus periksa tas kalian."


"Tidak mau."


"Kalau begitu, kalian tidak boleh masuk."


"Tapi tadi Dokter Owen menyuruh kita kemari."


"Tunggu saja di ruangan itu. Kalian bertiga dilarang masuk, sebelum mendapat ijin dari bos kita."


"Bos?"


Mereka terdiam dan akhirnya menunggu di ruang tunggu, yang tidak jauh dari kamar pasien.


Duduk di sofa dan menatap pengawal itu. Pengawal yang berpakaian rapi dan ganteng-ganteng. Dua jomblowati itu, juga tidak henti menatap ke arah pengawal itu.


"Eh, kalau nanti sampai malam gimana?"


"Kita balik ke butik juga jauh banget. Nanti kita naik apa?"


"Kita bertiga ini, naik taxi aja."


"Kamu yang bayarin?"


"Ya udah, tenang dulu. Kita tunggu keadaan Beby dulu. Lagian tadi bilang mau lihat keluarga Beby, gimana sih?!"


"Iya juga ya. Tapi rumah sakit ini jauh dari butik." Dia yang merengek sendiri.


Mereka bertiga juga heran, padahal ada rumah sakit dekat butik. Kenapa mobil ambulan itu membawa Beby, ke rumah sakit yang begitu jauh.


Sudah setengah jam mereka menunggu, lalu ada dua suster yang masuk ke ruangan itu.


"Apa Beby sudah siuman?"


"Sepertinya sih begitu."


"Syukurlah."


Setelah suster keluar, tidak lama dokter Owen datang dan mereka mendekat.


"Dokter."


"Kalian masih disini?"


"Kita ingin melihat keadaan Beby."


"Kenapa nggak masuk?"


"Kita nggak boleh masuk, sama dua orang itu."


"Ya sudah, mari ikut saya."


"Baik Dokter."


Mereka tampak berjalan pelan dan rasanya nano-nano melihat tatapan pengawal itu.


Ruangan yang mewah, bak di kamar hotel. Ketiga teman Beby sampai terheran melihatnya.



Mereka bertiga melihat Beby yang sedang terbaring di ranjang pasien.


"Dokter, kenapa Beby tidak bangun?"


"Beby, hanya tidur."


"Tidur?" Mereka bertiga malah jadi penasaran.


"Saya beri suntikan penenang. Agar dia bisa istirahat."


"Apa kita boleh menunggunya disini dokter?"


"Iya silakan. Saya juga sudah menghubungi orang tuanya."


Baru saja diucapkan, ada yang masuk dengan suara tangisnya.


"Beby sayang. Kamu kenapa bisa begini?"


Owen menatapnya dan ketiga teman Beby jadi fokus kepada Ibu muda yang mengenakan dress warna merah muda.


"Tante, Beby baik-baik saja."


"Owen. Tadi itu, Tante baru pulang arisan. Untung saja cepat baca pesan di grup. Tante buru-buru kesini."


"Sayang, bangun."


"Tante, biarkan Beby tidur."