
Keesokan harinya. Di pagi yang indah dan mentari baru menampakan diri, lalu menyapa dengan sinarnya.
"Sayang, kamu kenapa?" Sang suami yang telah mengancingkan kerah tangan kemeja dan melihat sang istri tampak cemberut manja.
"Mas, emangnya kenapa kalau aku ajak Arjuna ke kampus?"
"Ya nggak bisa. Nanti, mahasiswa lain jadi terganggu."
"Misalkan, nanti ada baby sister dan Kak Zoe. Boleh nggak aku ajak ke kampus?"
"Ya nggak apa-apa. Tapi, nanti kamu malah nggak bisa bebas."
Al lalu mengecup kening istrinya dan pipi cubby bayinya. Gaby kembali senyum setelah mendapat sarapan paginya.
"Lagi, ini belum di encun."
"Mm.. Lupa."
Mengecup bibir imut Bunda Gaby dan Ayah tampan ini akan segera berangkat ke kantor.
"Mas, kita berangkat bareng aja."
"Sayang, aku ada meeting pagi."
"Aaa, masa iya aku naik taxi."
"Ghani suruh jemput kesini dulu."
"Dia ada jadwal kuliah siang."
"Emh, aku udah mau berangkat. Kamu belum siap."
"Mas gendong Arjuna dulu. Aku ganti baju. Super cepet."
Gaby meletakan bayinya pada kedua tangan suaminya dan ia buru-buru berganti pakaian.
"Lagian, pagi subuh aku udah mandi keramas. Ngapain harus mandi lagi."
Dia dengan cepat berganti dan memulas tipis wajah manisnya. Tidak lupa pakai lipstik warna pinky dan mengecapkan pada tisue.
"Sayang, udah. Ayo kita berangkat."
"Terus, Arjuna gimana?"
"Ini perlengkapannya udah siap."
"Kamu yakin, ajak bayi kita ke kampus."
"Tenang. Nanti, Kak Alishba yang mau momong Arjuna."
"Owh, aku kirain mau diajak ke kelas. Bisa-bisa pada heboh kalau dengar suara tangis Arjuna."
"Come on Ayah."
Gaby yang menyetir mobilnya dan sang suami malah menggendong bayinya.
"Ayah. Arjuna maunya di gendong Ayah aja. Nggak mau duduk sendirian."
"Hemms, kemarin di kantor baru bentar aja udah riweh." Ledek Gaby yang tahu akan cerita itu, dari Abyaz.
"Ya kan aku di kantor. Udah sibuk masalah kerjaan. Terus, kamu datang gitu aja. Aku juga nggak enak sama staff kantor."
"Kenapa? Mas Al malu? Apa gimana?"
"Ya bukan malu. Mereka tahunya aku dingin dan kaku. Jadinya, pada bilang aku SSTB."
"Apaan tuh, SSTB?"
"Suami-suami Takut Bini."
"Owh itu, terus Mas Al emangnya takut sama aku?"
"Yee, siapa bilang aku takut sama kamu."
"Beneran? Nggak takut sama aku?"
"Ya nggak gitu juga sayang. Aku juga punya harga diri sebagai kepala rumah tangga."
"Emh, suamiku emang bikin aku baper."
"Baper? Segitunya?"
"Ya emang baper Mas. Masa aku harus bilang. Suamiku turun harga diri setelah jadi Imamku. Ya nggaklah, aku tetap nurut sama suamiku. Meskipun."
"Nah iya, meskipun semuanya tetap. Ya mas. Boleh ya. Aku cuma sama teman. Ya Mas. Ijinin aku jalan sama mereka."
"Ya kan aku masih muda Mas Al. Tapi, aku senang. Kita menikah dan punya Arjuna."
"Terima kasih, sudah jadi istri yang mau patuh."
"Iya, aku sering nekat dan langgar aturan kamu. Aku sadar itu. Aku salah."
Mereka telah mencoba untuk saling mengerti satu sama lain. Karena, kedua orang tua ini, masih sama-sama belajar sebagai suami istri. Apalagi sekarang ini, ada anak yang harus mereka jaga dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Demi Arjuna. Ayah harus kerja keras."
"Terima kasih Ayah." Suara Gaby yang gemas dan ia mengendarai mobil sang suami dengan santai.
Setelah 30 menit berlalu, mereka berdua sampai di kampus. Gaby yang tampak mendorong stroller dan sang suami telah mengantarkannya masuk ke dalam gedung kampusnya.
"Sayang, aku harus pergi dulu. Kamu beneran bisa, bawa Arjuna sendirian?"
"Iya Mas. Kak Alishba juga udah OTW sama Mas Emran."
"Oke, aku tinggal ya."
Alvaro mengecup kening Gaby dan mencium gemas pipi cubby bayinya.
"OMG, itu Pak Al." Elsa yang langsung memotretnya dan ia tidak sabar untuk membagikan kepada dua sahabatnya.
"Daddda Ayah, hati-hati."
Lalu ada tiga cowok yang menatap ke arah Gaby.
"Cie, udah kalah gercep sama Om-om."
"Segera melupakanmu...Ooh.. pujaan hatiku." Seraya bernyanyi dengan suara fals.
"Kata siapa aku kalah saing."
Pria tampan nan manis, sudah tampak berjalan dengan tatapan menawan. Terlihat mengenakan jaket sporty dan tas selempang di dadanya.
"Maaf, nggak sengaja." Dia yang menabrak bahu Alvaro.
Alvaro hanya terdiam dan ia terus saja berjalan.
"Gila, dia nekat juga."
Dua temannya lantas menyusulnya dan berjalan dibelakangnya. Mereka juga sekilas menatap ke wajah Alvaro.
"Saingannya, Bule." Bisiknya.
"Yoi, blasteran." Balasnya dan saling bercanda.
Gaby yang duduk di sebuah kursi dan ia menatap Arjuna. Tata yang datang dari belakang.
"Aa.. Tata gurita."
"Hallo Arjuna."
"Iya Tante."
"Owh, Arjuna mau ikut Bunda kuliah ya?"
"Iya Tante Tata."
Tata lalu duduk di samping Gaby, ia bertanya "Kamu serius mau ajak Arjuna ke kelas?"
"Nggak. Aku nunggu Kak Alishba."
"Owh, Kakaknya Pak Al."
Lantas cowok itu, tampak menjatuhkan barang. Ia mencoba mengambil. Gaby dan Tata melihat ke arahnya.
"Sorry, flashdisk aku jatuh."
"Iya Kak." Tata yang membalasnya.
"Widih, ada bayi disini. Bayi siapa?"
"Dia anak aku." Gaby yang langsung menjawabnya.
"Owh, anak kamu. Lucu banget."
"Iya, Makasih."
Tata berkata "Gaby, itu kayaknya Kakak kamu."
Gaby lantas berdiri dan melambaikan tangannya kepada Alishba. Tata juga sudah pernah bertemu, waktu acara resepsi pernikahan Gaby dan Alvaro.
"Gaby, maaf. Kakak terlambat."
"Nggak Kak. Kelasnya juga belum dimulai."
"Arjuna sayang, hari ini sama Budhe dulu ya. Bunda biar belajar."
"Kakak. Semua perlengkapan Arjuna ada di dalam tas. Nanti siang, aku akan jemput ke restoran."
"Emh, nggak usah. Nanti sore. Kakak aja yang antar ke rumah."
"Owh gitu. Ya udah. Nanti kabar-kabar aja."
"Oke, sekarang Arjuna Kakak bawa ya. Kamu masuk sana. Kuliah yang rajin."
"Cun Bunda dulu." Gaby yang mencium bayi tampannya.
Alishba lalu membawanya pergi, Gaby dalam hati sangat enggan berpisah dengan bayi tampannya.
"Sudah, jangan baper."
"Iih, Tata. Kemarin pagi, aku juga gitu. Keluar ruangan Kak Darra. Aku jadi nangis."
"Ayo, kita ke kelas."
"Kalian berdua, anak menejemen bisnis?"
Tata berkata "Iya Kak."
"Berarti, nanti kelasnya Mr. Nakula?"
"Iya Kak. Kok Kakak tahu?"
"Kita, pagi ini satu kelas."
"Owh, iya."
Tata selalu merespon manis dan Gaby hanya terdiam saja. Lalu mereka bertiga pergi ke ruangan itu bersama-sama.
Setelah tiba waktunya kelas, dan Mr. Nakula datang dengan pakaian milenial. Dia selalu santai bak liburan di pantai.
"Morning."
"Morning Mr."
"Semuanya, pasti sudah mengenal nama saya."
"Sudah Mr. Nakula."
Dengan suara renyah dan kompak. Ada sekitar 122 mahasiswa yang mengikuti kelasnya.
Dia selalu memakai ruang latihan teater, untuk memberikan perkuliahannya.
Managemen sumberdaya manusia dan dia pengampu mata kuliah ini. Sampai saat ini, masih gemar memainkan drama. Jadi, perkuliahannya seolah dirinya sedang berperan dalam film dan terlihat sangat luwes. Begitulah, Mr. Nakula setiap menyampaikan mata kuliah kepada mahasiswa. Tidak jadi aktor, jadi dosen juga begitu perannya.
"Saya akan mengambil absen kalian."
Kemudian, ia melihat absensinya telah terisi tanda tangan. Lalu, dibagian paling akhir ada nama Gaby.
"Gaby Aurora Putri yang mana? Coba saya ingin tahu?"
"Saya Mr. Nakula." Gaby tersenyum saat menatap kerabat dari sang suami.
"Owh, Benar. Jadi, saya tidak salah baca."
Gaby masih saja berdiri dengan senyuman manisnya.
"Titip salam rindu untuk Arjuna."
"Baik Mr. Nakula, nanti saya sampaikan."
"Hemm, Arjuna. Kecil-kecil udah punya tahta. Punya Ayah Direktur, Pakdenya semua Presdir, ada Pakde dokter juga. Mami CEO, Lah ketambah Om Dosen. Aissh, nggak main-main ini bocah. Tapi sayangnya, masih bayi dititipin kesana kemari." Batin Tata yang menggerutu sendiri.
Sang ketua genk, menatapnya lagi "Owh, jadi kenal juga sama Mr. Nakula. Ini cewek hebat juga ya."
Setelah kuliah paginya selesai, dan Ghani datang ke ruangan itu.
"Hai, kalian masih disini aja."
Ghani duduk menghadap mereka berdua. Tempat duduk yang seperti di bioskop dan jarak duduk para mahasiswa terpisah-pisah. Ada yang menggerombol. Ada pula yang tampak menyendiri.
"Ini kunci mobil kamu. Aku parkirin di selatan. Soalnya di parkir timur penuh banget."
"Ya udah, nggak apa-apa."
Ghani merenggangkan otot-ototnya, dari tangan dan kepalanya. Rasanya mulai pegel-pegel.
"Gaby, aku cuma 3 jam gendong Arjuna. Pundak aku jadi pegel begini ya? Kamu hebat nggak pernah ngeluh."
"Ye, aku jarang gendong Arjuna. Dia kalau sama aku bobok di kasur. Aku peluknya di kasur."
"Kenapa sama kita gendongan terus?"
"Entahlah."
"Tata, pijitin pundakku."
"Ogah!" Balasnya.