ABYAZ

ABYAZ
Papa Tampan Sangat Menawan



Lobby gedung fakultas sastra sore jam 15.10 WIB. Semua mata tertuju pada sosok gadis cantik bernama Abyaz.


Abyaz yang menjadi pusat perhatian karena ulah dua pemuda tampan, dia menjadi gelisah.


"Mas Damar, aku harus gimana?"


Suara Abyaz menjadi semakin risau.


"Mas Damar, 2 cucumu menyusahkan aku." Ucapnya dengan suara pelan.


Abyaz dalam dilema, apakah kejadian 4 tahun lalu akan kembali terjadi. Kedua orang yang saling menoleh, lalu kembali menatap Abyaz.


"Viral sudah bilang sama aku. Dia akan mengantar kamu pulang." Suara Damar terdengar biasa saja.


"Tapi Binar?" Suara Abyaz yang semakin dilema.


"Binar?"


"Tadi dia yang bilang akan mengajak aku pergi."


Damar berkata "Tidak perlu cemas, kamu bisa memilih dengan siapa kamu akan pulang."


"Mas Damar tidak mengerti, mereka memancarkan kilat." Ucap Abyaz.


Jarak kedua orang itu, cukup jauh dari Abyaz. Saat Abyaz yang masih telfonan dengan Damar, mereka berdua tidak mendengar jelas.


Abyaz yang telah selesai menelfon berjalan mendekati mereka berdua.


"Abyaz, kamu harus pulang sama aku." Ucap Viral dengan tegas.


"Abyaz, tadi kita udah janjian. Apa kamu sudah lupa?" Suara Binar begitu alus dan menggoda. Viral mengepalkan kedua tangannya. Dia bahkan tidak sepandai Binar saat merayu Abyaz.


Abyaz masih terdiam dan hanya melihat kedua orang yang ada di hadapannya.


Abyaz menggeleng, rasanya tidak bisa memilih untuk pulang dengan siapa.


"Ya Allah, aku harus gimana?"


Walaupun Damar sudah mengatakan, kalau Viral sudah menelfon Damar dan memperbolehkan untuk menjaga Abyaz. Tapi, Abyaz malah merasa tidak nyaman.


Menatap ke Binar, sepertinya kalau dia memilih untuk pergi dengan Binar. Pasti akan ada masalah seperti 4 tahun yang lalu. Mereka ribut besar, dan akan adu jotos.


Semasa dulu, waktu SMA. Abyaz yang pulang di jemput Binar. Viral menjadi kesal. Sebenarnya Viral tidak ingin mengantarkan Abyaz pulang, tapi setiap tentang Binar yang dekat Abyaz. Viral sangat tidak suka.


Viral dengan menyipitkan matanya dan berkacak pinggang, melihat ke sebelah kirinya "Binar, pulanglah. Aku yang akan menjaga Abyaz. Bahkan, Eyang sendiri yang menugaskan aku."


"Ems, Eyang. Jadi, kamu memanfaatkan keadaan." Balas Binar dengan manis.


Binar mendekati Viral, berkata "Dasimu masih miring. Mungkin tadi kamu buru-buru."


Binar merapikan dasinya, dengan senyuman maut, hendak menghempas Viral.


Viral semakin kesal, malah menarik dasi yang dia pakai dan melemparnya, lalu membuka kancing kerah lehernya.


"Tidak perlu kamu rapikan. Aku bisa membuangnya."


"Emm, tapi aku merasa ada hal lain. Aku tidak lagi mecintai Abyaz."


"Mungkin, kamu sendiri yang jatuh cinta sama Abyaz." Bisik Binar dan berjalan mundur dengan senyuman menggoda.


Viral berusaha meredam emosinya di depan Abyaz. "Eyang, aku akan menjaga Abyaz dari Binar."


Binar dengan sorot matanya yang masih menggoda Viral, lalu berkata "Kita bisa menunggu. Abyaz, akan memilih siapa."


Tiba-tiba datanglah sang Papa.


"Abyaz akan memilih Papanya." Ucap Pras dengan tegas.


Papa tampan dengan gaya menawan melewati barisan para bodyguard.


"Papa,....." Abyaz mulai tersenyum dan menatap Papanya.


Papanya juga tidak mau kalah, memakai jas warna abu muda dan mengenakan kacamata hitam.


Usia boleh semi tua, tapi ketengilannya tidak terhalang usia. Masih dengan senyuman penuh pesona, tapi kali ini menatap kedua pemuda itu dengan tatapan tajam, setelah melepas kacamatanya yang mengkilat itu.


"Dua pemuda yang suka berulah."


"Yang satunya bergajul, yang satunya slenge'an." Pras dengan gayanya yang tengil.


"Kalian, pulanglah."


"Sayang, kita pulang."


Ajak Pras yang menyodorkan lengan kirinya.


"Papa paling keren." Balas Abyaz dan tangan kanannya memegang erat lengan kiri Papanya.


Abyaz yang melewati mereka hanya tersenyum tengil. Binar tersenyum dan melambaikan tangannya.


Sedangkan Viral tampak dengan kekesalannya.


"Bukan aku yang harus jaga jarak dengan Abyaz."


"Tapi...., kamu Viral."


"Kamu ingat, 4 tahun yang lalu. Siapa, yang membuat Abyaz kecelakaan. Itu kamu, bukan aku."


Binar dengan senyumannya, dan pergi bersama pengawalnya.


"Owh, dia pulang hanya karena aku. Masih ingin bersaing dengan aku. Baiklah, aku siap meladeni kamu Binar."


4 tahun yang lalu sebelum kepergian Binar. Sebuah kecelakaan motor terjadi, saat Binar memboncengkan Abyaz, dan Viral menyuruh sopirnya untuk mengejar Binar dan Abyaz.


Abyaz yang kala itu sudah memakai helm, tapi dia terjatuh. Binar sempat terseret, tapi dia tidak terluka parah, malah Abyaz yang pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.


Viral tidak sampai disitu, mereka malah adu jotos.


Akhirnya, Pras yang melerai keduanya. Bahkan ada kedua orang tua mereka. Pras mengajak Binar, dan ingin tahu kronologi ceritanya.


Binar itu sangat menyukai Abyaz, bahkan dari kecil dia tahu bukan anak kandung Vava, jadi tidak masalah bila menyukai Abyaz.


Tapi Pras menolak, dengan alasan mereka adalah saudara. Tetap saja mereka keluarga.


Lalu Binar berjanji kepada Pras. Suatu saat nanti, dia akan jadi pria yang hebat dan kembali untuk Abyaz.


Tapi tidak disangka, Binar sendiri yang seolah telah menjodohkan Abyaz dengan Damar.


Abyaz yang melihat foto sosok Damar yang sedang masak untuk Binar kala Binar mengirimkan sebuah foto.


Damar melihat Abyaz dari foto yang terpajang di layar laptopnya Binar.


Akhirnya Damar pulang ke Jakarta. Ternyata gadis kecil yang dulu dikenalnya, begitu cantik dan sangat manis. Dulu Damar hanya sebatas mengenal ketika mengunjungi Viral, tidak tahu hatinya telah membawa dia untuk menyatakan cinta kepada Abyaz.


Abyaz juga dengan cepat menjawabnya. Apalagi Damar berkata, dia akan segera kembali ke negeri Paman Sam. Jadi, dia menginginkan jawabannya dari Abyaz secepatnya.


Setelah tahu kalau Damar menyatakan perasaannya kepada Abyaz.


Binar pergi, dan kembali ke apartemen setelah Damar tiba. Rasanya Binar juga terpaksa, saat memberikan ucapan selamat.


"Pakde Pras." Panggil Binar, saat Pras hendak masuk mobilnya.


"Hem, ada apa?"


"Sudah bikin ulahnya?" Suara Pras yang seoalah menekan.


"Bukan Binar yang buat ulah. Binar tadi udah janjian sama Abyaz."


"Abyaz, kamu janjian sama Binar?" Tanya sang Papa yang menatap Abyaz.


Abyaz hanya mengangguk dengan wajah tersenyum.


"Ya udah, nanti kamu main saja ke rumah."


"Iya Pakde."


"Nggak perlu bawa pengawal."


"Pakde juga tahu. Aku juga malas, itu Mommy yang nyuruh."


"Kamu harus pandai bujuk Mommy kamu dulu."


Pras dengan tengil, langsung masuk ke mobilnya dan Abyaz menggelengkan kepala dengan bibirnya mingkem.


"Ini juga gara-gara Viral." Desisnya dan menatap mobil Papanya Abyaz, yang berjalan meninggalkan area parkir.


Setelah sering ribut dengan Viral, Binar selalu dipantau. Walaupun di ujung dunia, sang Daddy gercep banget. Dimanapun sebenarnya ada pengawal. Tapi, cukup mengamati dari layar pintar. Kecuali, Binar mengalami perkelahian atau sesuatu yang menimpa dirinya.


"Papa, keren abis." Abyaz mengacungi dua jempol untuk Papanya.


Pras cukup tersenyum dan berkata "Papa tahu dari Ayahnya Viral. Katanya, Viral bawa pengawal ke kampus."


"Terus, Papa jadi ingat. Papa tadi sempat telfonan sama Binar."


"Ya udah, Papa langsung meluncur."


"Hemms, tapi Papa sedikit terlambat."


"Tadi Abyaz juga dapat telfon dari Mas Damar. Jadi Abyaz cuekin aja mereka berdua."


"Gadisnya Papa yang ini. Selalu buat Papa kepikiran." Ucap Pras sambil mencubit pipi Abyaz dengan gemas.


"Aaau...Papa..Sakit... "


"Uuuhh, sakit beneran ini. Papa gitu." Abyaz memegang pipinya.


Pras lalu mengelus pipi anaknya, dan berkata "Anaknya Papa udah punya pacar, tetap aja manjanya nggak berkurang."


"Papa yang nyubit. Ini beneran sakit."


"Uuu,,, Tayangnya Papa. masih sakit?"


Pras yang mengelus pipi anaknya dengan perasaan sayang. Setiap hari, Papanya selalu ada hal yang membuat dia resah. Tidak seperti Alishba dan Alvaro, Abyaz membuat Papanya tidak tenang.


"Abyaz jadi tenang, saat Papa datang. Kalau tidak, Abyaz nggak tahu harus gimana."


"Minta bantuan kembar kan bisa."


"Kembar udah pergi Pa. Nakula ada casting. Sadewa tadi, bilangnya mau pergi sama temennya. Mereka nggak ada kelas, udah pulang duluan."


Pras yang menyetir mobil, dengan gemas megusap rambut Abyaz.


"Papa akan selalu ada buat Abyaz. Dulu Papa juga sudah janji sama Abyaz."


"Iya, Abyaz ingat."


"Dulu kamu cengeng, apa-apa takut."


"Hemms, tapi setelah SD udah berani sendirian."


"Papa,..."


"Udah, nggak usah nangis."


"Aaa.. Papa."