
Sesaat sebelumnya, Darren mencari Gaby, setelah dia selesai bertemu dengan kedua mempelai.
Darren mengejar Gaby keluar, dan dia melihat Gaby yang bergandengan tangan dengan seorang pria.
"Gaby??" Dia hanya melihat punggung itu. Tampak seperti Gaby. Dari ujung atas sampai high heels yang dipakai Gaby saat ini. Darren masih mengingat jelas, kalau itu memang Gaby.
Darren masih mengikuti mereka berdua yang berjalan melewati koridor hotel. Gaby yang seolah telah bermanja dan terlihat menyandarkan kepalanya ke lengan pria itu.
Tidak lama, pria itu menggendong Gaby dan Darren melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
"Gaby, kamu baik-baik saja?" Pikiran Darren yang tidak nyaman.
Gaby dalam gendongan tangan kekar itu, bahkan sangat romantis.
"Apa Gaby sudah pacaran? Aah, mana mungkin!" Darren hafal betul sifat Gaby dari kecil, dan tahu banyak tentang Gaby.
Darren semakin mencemaskan Gaby. Dia masih mengikuti mereka.
Gaby sudah berada di depan lift, dan masih dalam dekapan pria itu.
Darren berdiri dari kejauhan, karena dia sangat paham. Kalau mendekat, nanti Gaby akan melihatnya dan dia akan ketinggalan jejak mereka.
Ting!
Pintu lift terbuka, Gaby tidak pikir panjang langsung menolehkan wajahnya ke hadapan Al.
Bibir imutnya bertemu dengan bibir pria tampan dan kedua bibir itu sudah saling menempel. Gaby memejamkan matanya dan tangannya semakin erat. Mencium bibir itu dengan lembut, entah perasaan apa yang dia rasakan saat itu. Yang jelas, Gaby hanya tidak ingin bertemu dengan sosok perempuan yang berada di dalam lift itu.
Perempuan itu keluar, tanpa melihat sekitarnya. Dia hanya fokus pada layar ponselnya.
"Gaby, awas kamu!" Batin Darra saat melihat sebuah foto, ketika Darren memegang lengan tangan Gaby.
Sepertinya, Imel yang memotret Darren dan Gaby. Dia langsung mengirimkan ke Darra.
Al yang tidak tahu menahu soal hal itu, dia hanya menikmati sentuhan bibir imut itu.
Setelah perempuan itu berjalan cukup jauh, Gaby melepaskan ciumannya.
"Maafin aku." Ucap Gaby.
Saliva Al yang terasa aneh, dan dia tampak memalingkan wajahnya. Al yang berubah canggung karena ciumannya.
Namun, Al masih menggendong Gaby dan mereka sudah berada di dalam lift.
Gaby yang nakal tersenyum, dan tangan jailnya memegang telinga Al.
"Pak Al, kenapa pipi dan telinganya memerah?"
"Pak Al, turunkan Gaby." Pintanya dan Al menurutinya saja.
Al jadi salah tingkah sendiri, dia berpura mengambil ponselnya. Gaby, tersenyum nakal. Meski tidak menggunakan rasa cinta dan lainnya. Gaby, juga merasa kalau tadi itu, ciuman pertamanya yang begitu nyaman. Bahkan, Gaby tidak merasa malu atau gugup.
Gaby berkata "Pak Al, maafin Gaby."
Al masih terdiam dan Gaby menarik ujung lengan jasnya "Pak Al, Gaby khilaf."
Al berpura tidak mendengarkannya. Lalu Gaby berkata "Pak Al, itu ciuman pertama Gaby."
Mendengar hal itu, Al berkata "Kamu sudah mengambil ciuman pertamaku. Kamu harus bertanggung jawab."
"Kenapa Gaby harus tanggung jawab?" Gaby seolah menjadi tersangka.
"Aku korbannya, jadi kamu harus tanggung jawab."
Gaby tidak habis pikir, berkata "Pak Al, harusnya Gaby yang bilang_"
Gaby merasa bersalah, memang dia duluan yang memancing agar Al tidak menolak ciumannya. Tangannya saja sangat erat sampai bulu kuduknya Al berdiri. Begitu tegang dan Al sebagai pria normal, mana bisa mengelak begitu saja.
"Pak, terus Gaby harus gimana? Gaby baru 18 tahun. Masa iya, Pak Al yang umur 30 tahun, baru ciuman. Awas aja kalau bohongin Gaby."
Al menatap tegas, wajah bertemu wajah dan Gaby salah tingkah. Ia menjauhkan tangannya dari lengan jasnya Al. Gaby semakin gugup, Al semakin mendekat.
Gaby yang mundur selangkah, dan Al tetap maju. Sampai Gaby terpentok dinding lift. Telapak tangan Al yang bersandar ke dinding, mata Al hanya tertuju pada bibir Gaby.
"Bapak mau apa?" Gaby merasa takut akan tatapan Al yang begitu serius.
Kedua tangan Gaby meremas dompet pesta yang dari tadi di genggamnya. Gaby memejamkan mata cantiknya, karena tidak kuat melihat mata guru tampannya.
Tangan kanan Al memegang dagu imut itu dan mengangkatnya, lalu berkata "Kamu memang bandel, aku harus menghukum kamu."
Al hendak mengecupkan bibirnya, tapi pintu lift terbuka.
"Selamet" Batin Gaby.
Tapi sayangnya, Al menekan tombol lift dan Gaby terperangkaplah dalam pelukannya.
"Kamu takut?"
"Eem."
"Aku tidak akan begitu."
"Kita mau kemana?"
"Aku belum makan, mendingan kita ke restoran dulu."
"Jangan makan disini."
"Terus?"
Al kembali melihat kepolosan Gaby.
"Baiklah, kita pulang saja." Ucapnya dan menekan angka pada tombol lift.
Akhirnya lift itu menuju ke lobby hotel dan mereka berdua akan pulang ke kota tempat tinggal mereka.
Entah, apa yang terjadi dengan Darra saat melihat foto itu. Namun, dia tidak bisa menemukan Darren di aula itu.
Gaby yang sudah berada di mobil, tampak bersandar dan tidur. Al yang mengemudikan mobil, sesekali ia melihat ke arah Gaby.
Jas yang ia pakai, dipakaikan ke Gaby saat menaiki mobil. Perjalanan yang lumayan jauh. Al masih memikirkan tentang ciuman pertamanya.
Tangan kirinya memegang bibirnya sendiri, "Aku tidak bermimpi."
Lalu menoleh ke arah Gaby yang tertidur itu, "Semua ini, berkat ulah gadis nakal."
"Emmh." Gaby yang merengek saat tertidur, wajah polos dan masih belia.
"Kenapa aku bisa kasian sama kamu?" Batin Al yang berfikir.
Karena dari awal bertemu, meski Gaby terlihat keras kepada dan selalu ceria. Entah, kenapa Al merasa ada penderitaan dari sorot mata Gaby. Luka yang mungkin tidak bisa dijelaskan dan hanya bisa di rasakan oleh hati Gaby.
Al mengelus rambut Gaby "Aku akan menjagamu."
"Terima kasih sudah membantuku."
Al yang mengendarai mobil dengan jarak tempuh yang lumayan jauh. Perlahan rintik hujan menghampirinya.
"Tadi Gaby minta makan di daerah ini." Sudah jam 11 malam dan ada beberapa tempat makan yang masih buka.
Daerah yang terkenal dengan kuliner malamnya, barisan penjual makanan dan berbagai jajanan ada di tempat itu.
Street food yang pernah Gaby datangi bersama Darren, saat ia pindahan ke komplek Arjuna Raya.
"Gaby, bangun."
Al mengamati wajah itu, mengusap poni Gaby. Ia berkata "Gaby, kita sudah sampai."
Gaby perlahan membuka mata, mulut itu berkecap manis. Pandangan redup dan masih terasa kantuk.
"Aku masih ngantuk."
"Kamu bilang mau makan. Ayo, turun. Aku juga lapar."
"Ini dimana?"
"Di SF Jaya."
"Cepet amat sudah sampai sini." Membuka mata lebar-lebar dan melihat ke sekitarnya.
"Emh, hujan."
Al yang sudah keluar dari mobil, ia melebarkan payungnya. "Ayo, kita makan dulu."
Gaby melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Al yang sigap dan merangkulnya.
Gaby yang masih mengantuk, tampak lemas dan sempoyongan. "Emmh,.."
"Yang mana?" Tanya Al, karena banyak penjual pecel ayam disini. Bukan hanya satu atau dua. Tapi banyak tenda yang bertuliskan makanan yang sama.
Tangan kanan memeluk sang calon istri dan tangan kirinya memegang gagang payung. Al ternyata bisa sabar saat menjaga gadis bandelnya itu.
"Di sebelah kanan, itu yang ada gambar ayam jago."
"Oke."
Ternyata ada sosok yang membututi mereka berdua. Tidak lain tidak bukan, ialah Darren.
Darren dari kejauhan melihat Gaby. Yang telah mendapat perhatian khusus dari seorang pria.
"Dia siapa? Tapi sepertinya aku pernah melihatnya." Gumam Darren, yang masih berada di mobilnya.
Darren yang masih mengamati Gaby. Dia mendapat kabar, kalau istrinya masuk rumah sakit dan harus di rawat. Darren langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Selesai makan.
Gaby berkata "Pak Al, besok Gaby mau bolos aja."
"Besok ada try out."
"Aa, sehari saja bolosnya."
"Lihat besok."
"Kan nanti bisa nyusul. Besok cuma jadwal matematika. Ayolah, bilangin sama Pak Ferdi."
"Tidak!"
"Ayolah... Please!"
"Nggak bisa. Kamu harus sekolah."
Gaby memperlihatkan layar ponselnya, sudah hampir tengah malam. Padahal, ini baru setengah perjalanan.
"Ingat! Kali ini saja."