
"Abyaz, aku kangen banget sama kamu."
Abyaz yang telah melihat mobil para pengawalnya, dia lalu menjauhkan dirinya dari pria itu. Perlahan melepaskan Abyaz.
"Maaf, aku harus pergi." Ucap Abyaz dan mulai masuk ke dalam mobil.
"Pak, cari Damar sampai ketemu."
Abyaz dengan rasa tidak senang, tapi kenapa harus bertemu dia disini. Abyaz tidak tahu harus bagaimana. Tapi dia harus segera menemui teman hidupnya.
Damar mengendarai mobil dengan kencang dan ada beberapa mobil juga sudah mengikuti dia.
Ada 7 mobil pengawal, tadi Stella sudah menghubungi pengawal kalau Damar sudah keluar aula, agar menyiapkan mobil dan segera mengantarkan kembali ke rumah Kakeknya.
Tapi tidak tahunya, Damar secara paksa meminta sopir untuk pergi. Bahkan saat di hadang oleh satu pengawal, Damar malah menonjok mukanya.
"Damar kamu dimana?"
Abyaz sangat tidak nyaman, rasanya begitu gelisah. Apalagi tadi melihat mobilnya begitu kencang, sampai terikan dirinya tidak terdengar oleh Damar.
Sudah satu jam lebih. Tapi Abyaz belum juga sampai di tempat Damar berada.
Sosok tampan yang tadi bertemu Abyaz juga tampak mengikuti mobil yang telah membawa Abyaz.
"Nona, kita sudah menemukan Tuan Muda."
"Damar, kamu nyebelin. Awas saja nanti kalau ketemu. Aku cincang beneran kamu." Batin Abyaz yang geram, tadinya begitu cemas. Setelah tahu keberadaan Damar dia cukup lega. Setidaknya, dia tahu kalau Damar baik-baik saja.
Satu jam kemudian.
Sudah jam 10 malam, tapi Abyaz yang berjalan tanpa alas kaki mendekati Damar yang duduk di atas pasir.
Damar sudah ada di pantai, dan dia hanya dengan dirinya sendiri. Belum melihat kalau Abyaz sudah datang.
"Damar!!!" Teriak Abyaz yang ada di sebelah kanannya dan masih berjalan mendekat ke arah Damar.
Damar yang menoleh, dia sadar kalau tadi sudah meninggalkan Abyaz di pesta pernikahan Mamanya.
Damar mulai berdiri dan beranjak berjalan ke arah Abyaz.
"Kenapa kesini??" Tanya Damar.
"Kamu jahat!!!" Teriak Abyaz.
Damar tampak melihat wajah Abyaz yang begitu kesal, tapi mata Abyaz juga sudah berair. Genangan air bening di kelopak mata, mulai jatuh dengan lembut.
"Kamu kenapa nangis?" Damar yang menyeka air mata Abyaz.
"Aku cemas." Cebiknya dengan kesal.
"Kamu pikir siapa aku?? Kamu ninggalin aku, kamu pergi gitu aja. Kamu bawa mobil kenceng banget, sampai kamu nggak dengar teriakan aku."
Damar merasa bersalah dan berkata "Aku butuh waktu sendiri. Tapi kamu ditemani Kak Stella, aku pikir kamu pulang sama Kak Stella."
"Jahat!!!"
Damar mulai memeluknya dan berkata "Iya,... Maafin aku."
"Aku sampai jatuh. Lihat! Aku sampai telanjang kaki buat ngejar kamu."
Damar mulai melepas jasnya dan memakaikan pada badan Abyaz. Gaun Abyaz sangat terbuka. Udara di pantai itu sangat dingin, walaupun anginnya tidak terlalu kencang, tapi saat ini sudah malam.
"Ems, kaki kamu sakit?"
Abyaz menggeleng dan Damar memeluk Abyaz lagi.
"Aku mau pulang."
"Iya, kita akan pulang."
"Aku mau pulang ke rumah kita."
Abyaz yang masih dalam pelukan Damar dan merasa sangat tidak suka berada di kota ini.
Di ujung jauh dari mereka berdua, sosok pria tampan yang tadi memeluk Abyaz di depan Hotel, ternyata masih saja mengikuti Abyaz.
"Dia? Abyaz dengan pria?"
"Siapa pria itu? Tapi tadi di acara pesta Madam Melinda, mereka berdua ke arah pelaminan dan tampak dekat dengan Madam Melinda."
Damar mulai menggendong Abyaz.
"Sudah, jangan menangis."
"Kakiku sakit."
"Harusnya aku yang menangis."
"Ini juga gara-gara kamu tadi nangis. Aku jadi cemas. Malah Cecilia sengaja buat aku jatuh di depan para tamu."
"Cecil??"
"Iya."
Damar menggeleng dan berkata "Kenapa kamu bisa kalah??"
"Emms, jadi kamu sudah kalah."
"Aku tetap menang, itu sama aja curang."
Damar tampak tersenyum dan Abyaz yang masih dalam gendongan Damar berkata "Tadi aku cuma fokus sama teman hidupku. Jadi aku nggak peduli sama dia."
Abyaz mulai menyandarkan kepalanya di bahu kanan Damar.
"Teman hidup??" Dia mendengar suara Abyaz dengan jelas. Mereka yang jalan telah melewati pria tampan itu. Tapi, Abyaz tidak melihat ke arah dia.
"Apa maksudnya teman hidup?? Abyaz menikah? Tidak mungkin Abyaz sudah menikah."
Dia masih menatap Abyaz dari kejauhan dan mulai mengikuti mobil yang telah dikendarai Damar.
"Jangan ngebut."
Damar yang mengendarai mobil dan Abyaz mulai duduk bersandar.
"Aku takut kamu kenapa-napa." Ucap Abyaz dan mulai menunduk. Tangannya bermain-main gaun yang di pakai. Motif renda ada seperti butiran batu manik yang sangat cantik.
Damar memegang kepala Abyaz dan berkata "Terima kasih, kamu sudah mencemaskan aku."
Abyaz menoleh ke arah Damar dan berkata "Gimana aku tidak cemas, kalau kamu tiada. Aku bisa jadi janda."
Abyaz mulai berakting dan menangis seperti anak kecil yang meraung-raung.
"Abyaz sudah nangisnya. Aku butuh hiburan, bukan butuh tangisanmu."
Abyaz tersenyum manis dan berkata "Dam, kita tempat larangan yuk."
"Apa maksud kamu?"
"Tempat disko." Abyaz seolah tangannya berjoget.
"Aku tidak suka. Kamu jangan aneh-aneh. Apalagi kamu memakai gaun itu. Aku tidak suka kalau ada yang menatapmu, bahkan kalau ada yang berani menyentuhmu. Aku tidak akan segan menghajarnya."
Abyaz mulai ingat, tadi dia dipeluk pria tampan. Abyaz yang takut akan dirinya untuk menceritakan kepada sang suami.
"Damar, tadi aku dipeluk orang. Erat banget."
"Sudahlah, jangan menggoda aku."
"Aku serius, sumpah."
Damar mengusap rambut Abyaz dan bertanya "Siapa?? Cowok??"
Abyaz tidak ingin berbohong, tapi mau gimana lagi. Kalau tidak cerita nantinya jadi salah paham.
Abyaz hanya menatap Damar dan berkata "Dia masalaluku."
Damar cukup terkejut saat mendengar itu, sampai mengerem mendadak. Bahkan Damar menginjak rem dengan rasa kesal. Bagian belakang tertabrak mobil pengawalnya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Damar melihat Abyaz yang ketakutan.
Damar memeluk Abyaz dengan erat dan para pengawal mendekati mereka. Pengawal sudah memastikan keadaan Damar dan Abyaz baik-baik saja.
Hanya saja Abyaz jadi syok, saat melihat kekesalan Damar. Sorot matanya Damar sangat marah.
"Ya sudah, kita ke mobil lainnya."
Damar akhirnya mengajak Abyaz, untuk pindah mobil dan mereka berdua duduk di kursi belakang.
"Damar, tadi kamu buat aku takut."
"Siapa masalalu kamu? Bukannya dia sudah_" Damar yang tidak bisa bertanya lagi saat melihat ekspresi wajah sang istri.
"Damar, ayo kita pulang."
"Iya, kita segera pulang."
Damar memeluk Abyaz. Kedua orang yang dalam keadaan terluka hati.
"Damar, apa kamu percaya takdir?"
"Kenapa?"
"Ems, tidak jadi."
Abyaz menoleh ke arah wajah Damar dan memegang wajahnya, "Jangan marah, aku sudah menemani kamu."
"Iya, kamu sekarang punya aku."
"Dam, kita teman. Aku tidak akan melukai hati kamu."
"Dia siapa?"
Abyaz masih tidak ingin mengatakannya, tapi Damar berhak tahu.
"Dia_"