ABYAZ

ABYAZ
Bab. 15. Semua Karena Cinta



Setelah malam itu, Mama Abyaz sudah bertandang ke rumah Adiknya. Untuk membahas putrinya dengan Arjuna.


Arjuna yang hendak kembali ke rutinitas hariannya (shuting), ia menyempatkan diri ke rumah orang tuanya.


^^^10 hari sebelum dating show^^^


"Bunda, putramu ini cuma kembali ke dunianya. Bunda jangan masam begini." Arjuna yang bermain game, dan kepalanya dalam pangkuan sang Bunda.


Sang Bunda mengehela nafas panjang, lalu berkata "Batalkan semua kontrak kerja kamu."


"Bunda kenapa??"


"Bunda nggak mau ada malapetaka."


"Bunda, Arjuna cuma mau shuting. Bukan ke medan tempur."


"Bunda, bingung."


"Bunda kenapa? Bunda ada masalah sama Ayah?"


"Iya, ini semua gara-gara kamu."


Mendengar hal itu, Arjuna bangkit dari pangkuan sang Bunda. Lalu Arjuna jadi menatap serius wajah Bundanya.


"Bunda kenapa? Arjuna salah apa lagi? Gosip? Bunda, media itu yang lebay. Arjuna nggak punya masalah apapun, Bunda harus percaya sama Arjuna."


"Budhe kamu datang kemari."


"Budhe?"


"Iya. Budhemu Abyaz bilang, kamu sama Cinta pacaran."


"Hem? Kapan bilangnya?"


"Kemarin."


"Owh, itu. Malam itu, Beby cuma iseng sama Arjuna. Dia belum bisa menata perasaanya untuk Budhe Abyaz. Makanya, dia bersikap begitu di depan Budhe Abyaz."


"Kamu juga dibilangin Bunda nggak nurut. Antar Cinta ke rumahnya. Jadinya, nggak begini sayang."


"Bunda. Arjuna udah cerita sama Bunda. Pakde Damar juga mengerti. Arjuna juga udah cerita sama Pakde Damar."


"Bunda nggak enak hati sama mereka. Kalau kamu nggak pulangin Cinta ke rumah mereka. Bunda mau nikahin kamu hari ini juga."


"Yaah, Bunda nggak bisa begitu dong."


"Arjuna, kalian tinggal bersama. Budhe kamu bilang. Kalau kalian harus segera tunangan. Bunda malu Arjuna, nanti apa kata Oma sama Opa kamu. Kita ini keluarga besar. Cinta mau nikah sama Mirza batal, karena Cinta pergi. Ternyata, kamu yang bawa kabur calon pengantinnya Mirza. Gimana tanggapan Papimu Binar? Mau di taruh dimana muka kita, Arjuna?!"


"Bunda, ini salah paham. Nggak seperti yang Bunda bayangin. Arjuna juga sudah cerita sama Ayah, sama Pakde Damar juga cerita. Budhe Abyaz yang salah paham. Ya, gara-gara Beby."


"Entah, siapa Cinta apa kamu yang salah. Yang jelas. Bunda nggak mau kamu shuting lagi, sebelum semua masalah kamu beres."


Bundanya pergi, Arjuna bingung. Masih memegang ponselnya dan sang Ayah juga sepertinya baru pulang.


"Ayah."


"Kamu disini. Ayah pikir kamu udah berangkat ke Bali."


"Ayah, kenapa masalahnya jadi rumyan begini?" Bunda Gaby, yang langsung mengeluh di hadapan suaminya.


"Sudah, jangan dipikirkan. Nanti kamu cepat tua."


"Itu, anak kamu malah bikin keluarga kita renggang."


"Sayang, anak kita benar. Arjuna tidak bersalah."


Arjuna yang duduk di sofa dan cemberut manis di depan kedua orang tuanya.


"Anak laki-laki, memang begitu. Arjuna mirip sama aku. Bertindak cepat."


"Tapi, Arjuna bilang sama Bunda cuma salah paham. Kalau memang serius, ya kita nikahkan saja. Biar nggak bikin malu."


"Bunda tenang." Ayah memeluk sang Bunda.


"Arjuna, pulang aja deh."


"Pulang kemana?"


"Ke rumah Mamma Jimmy."


"Arjuna."


"Arjuna."


"Bunda, biarkan Arjuna pergi. Arjuna bisa jaga dirinya. Putra kita dari dulu memang begitu. Biarkan saja dia pergi. Anak laki-laki, memang harus berkeliaran di luar."


"Ayah kenapa malah belain Arjuna?"


"Arjuna anak kita. Mau, Arjuna seperti apa. Arjuna tetap putra kita. Ayah yakin, Arjuna bisa menjaga putrinya Mas Damar dengan baik. Ayah juga percaya sama Arjuna. Bunda yang santai, Bunda tenang. Harus sabar."


"Iya, Ayah benar. Mau gimana juga Arjuna putraku satu-satunya." Keluhnya yang manja dan memang masih muda.


"Ayah, mau mandi."


"Iya, aku siapin bajunya."


"Istriku, harus santai. Nah, senyum begitu makin awet muda."


"Iya, istri siapa dulu?"


"Istrinya, Mas Al."


Di tempat yang lain, Beby yang semakin menyesuaikan diri dengan baik. Bekerja dengan baik dan sangat mengerti akan posisinya sebagai pelayan.


Dia mulai mengerti tentang sosial, mengerti soal mengatur keuangan, mengerti akan tanggung jawab.


"Selamat sore."


"Selamat datang di butik gloria." Pelayan lain yang menyambutnya.


"Cinta."


Beby yang kala itu, meletakan dress di deretan gantungan, ia tidak melihat siapa tamu yang mendatangi Butik itu.


Tatapan itu, kedua mata itu saling bertemu. Ia sangat terkejut. Melihat kedatangan Mirza Cakra Binar.


"Mas Mirza."


"Tuan, ada yang bisa saya Bantu? Tuan ingin mencari gaun? Dress? Atau aksesoris?"


Dia menjawab "Carikan saya, gaun malam."


"Baik Tuan. Saya mengerti."


Dia yang bingung sendiri, mau gimana juga. Mereka pernah terikat hubungan. Pastinya, rasa itu masih teringat jelas dalam pikiran sang gadis dan pria ini. Beby, berusaha untuk melupakannya.


"Kamu benar. Bagaimana kamu tahu ukuran tubuh istri saya??"


Sejenak menghela nafas, ia gugup dan susah untuk menjelaskan. "Dia sengaja membuat aku runtuh."


"Tuan, saya hanya mengira-ngira saja. Tuan sangat tampan, rapi dan modis. Pastinya, istri Tuan juga begitu."


"Bagus. Aku mau yang ini."


"Baik Tuan."


Mirza yang duduk di sofa. Beby yang bingung sendiri dan susah untuk berfikir tenang. Beberapa hari lalu sang Mama yang tiba-tiba datang ke rumah. Sekarang, malah Mirza yang muncul begitu saja, membuat Beby merasa tidak nyaman.


"Tuan, silakan ke kasir."


Sekelibat Mirza berkata "Aku tunggu di La Rose."


Beby hanya mengangguk saja.


Memang sudah sore. 15 menit lagi, Butik ini juga akan segera tutup.


"Aku harus gimana? Apa aku harus hubungi Arjuna?? Aku harus bersikap bagaimana?"


Jantungnya berdesir hebat, meski begitu dia harus menemuinya dan tidak harus kabur lagi. Masalah harus diselesaikan, bukan diabaikan, hal itu juga sering terlintas dalam pikirannya.


Setelah jam pulang, Beby yang berjalan memasuki restoran La Rose, sambil melihat ke layar ponsel. Ada chat dari Arjuna.


[Beby, kamu sudah pulang?]


[Iya. Tapi aku masih ada acara sama yang lain.]


Beby kemudian berjalan pergi.



Beby yang sudah melihat Mirza dari kejauhan. Mengatur nafas dan pikirannya. Dada terasa sesak. Meskipun dia hendak menemuinya, tetap saja dirinya was-was. Dia sudah berbuat kesalahan. Jadi, harus meminta maaf atas tindakannya itu.


"Silakan duduk."


Beby yang masih diam dan hanya menatapnya saja. Seorang pelayan langsung mengantarkan menu yang sudah di pesan Mirza lebih dulu.


"Aku pesan menu kesukaan kamu."


Beby berkata "Iya."


"Mari kita makan dulu. Meskipun, ini masih sore. Belum waktunya makan malam."


Beby berkata "Mas Mirza."


"Iya. Kamu nggak mau makan?"


"Bukan begitu. Ada hal yang harus aku jelaskan sama Mas Mirza."


"Tidak apa-apa. Semua juga sudah berlalu."


"Mas Mirza. Aku secara pribadi. Minta maaf yang sebesar-besarnya sama Mas Mirza. Aku sudah salah. Aku yang salah."


Beby yang menatapnya saja. Wajah cantik itu, bibir itu, mata itu dan suara itu, semuanya masih sama. Mirza tidak bisa melupakannya begitu saja. Apalagi, kalau sekedar ciuman. Mereka berdua, sudah pernah melakukannya.


Beby memalingkan wajahnya, ia tampak menyeka air mata yang menetes di pipi.


"Aku tidak apa-apa. Aku juga tidak menyalahkan kamu." Mirza yang berusaha untuk bersikap getleman.


"Mas Mirza, laki-laki yang baik. Sangat serasi bersanding dengan Cinta."


Mirza memegang tangannya, tapi ia menghindar.


"Aku tidak menyalahkan kamu. Tapi, perasaanku buat kamu masih ada. Apa kita tidak bisa kembali bersama?"


"Mas Mirza, aku minta maaf. Aku nggak bisa Mas."


"Oke. Aku mengerti. Sudah saatnya Arjuna menjaga kamu."


"Arjuna??"


"Arjuna pasti bisa menjaga kamu. Aku sudah tahu. Ini pasti akan terjadi. Dia sudah memenangkan perasaan kamu."


"Apa maksud Mas Mirza?"


"Aku sempat, buat kesepakatan dengan Arjuna. Kalau kamu pergi dariku. Dia akan menjaga kamu."


"Aku tidak mengerti."


"Cinta, kamu tidak akan mengerti perasaan laki-laki, kalau sedang mempertaruhkan kekasihnya."


"Bertaruh? Kekasih?"


"Iya. Arjuna. Dia sangat mencintai kamu. Kamu pasti bisa merasakan cintanya Arjuna. Kamu pasti sudah sadar, kalau Arjuna orang yang kamu cintai. Bukan aku."


"Arjuna cinta sama aku??"


"Cinta, kamu tidak sadar?"


Hanya Menggeleng.


"Kamu, Cinta pertama Arjuna. Cinta pertama Arjuna, di usia 16 tahun. Arjuna jatuh cinta sama Cinta Damayaz."


"Itu tidak mungkin."


"Mas Mirza, aku dan Arjuna. Tidak seperti yang Mas Mirza pikirkan. Aku meninggalkan Mas Mirza, karena aku tahu. Aku bukan anak kandung Mama sama Papa. Padahal, perjodohan itu karena Papi Binar meminta putrinya Papa. Jadi, aku tidak berhak. Cinta yang sebenarnya, yang berhak atas pernikahan itu."


"Kamu benar"


"Mas Mirza, aku sangat menghormati Mas Mirza. Aku juga butuh waktu memulai kehidupan baruku. Aku mohon sama Mas Mirza, tolong mengerti keadaanku."


"Iya, aku mengerti"


Dia berdiri, mengulurkan tangannya, lalu berkata "Tuan, saya Beby. Beby Ayazma."


Mirza perlahan berdiri, menjabat tangannya "Saya Mirza. Mirza Cakra Binar."


"Senang bertemu dengan anda."


"Iya, saya juga."


Beby berkata "Tuan Mirza, mohon maaf. Saya harus pergi."


Perasaan lega, dia memang ingin bersikap seolah orang lain, Beby menunduk dengan sopan.


Selekasnya ia pergi.


"Beby?"