
Sudah tiba di rumah yang ada di kawasan Bukit Sentul.
Abyaz yang masih lemas, dan Damar mengangkat istrinya.
Pelayan yang membuka pintunya, tampak syok melihat keadaan Abyaz saat ini.
"Tuan, Nyonya kenapa?"
"Apa dokter sudah datang?"
Tadi waktu masih di perjalanan Damar sudah menghubungi dokter terdekat, agar bisa datang ke rumahnya.
"Belum Tuan."
Damar yang berjalan dan membawa istrinya ke kamarnya. Kamar Abyaz ada di lantai dua, dan kamar Damar tidak jauh dari ruang tamu.
"Sayang,..." Ucapnya.
"Kamu demam." Damar masih memegangi tangan Abyaz.
Dua pelayan wanita masuk ke kamar bersama dokter.
"Tuan, dokternya sudah datang."
Damar menoleh dan berdiri mendekati dokter "Dokter, istri saya demam, tadi dia mengalami syok."
Dokter mengangguk dan berkata "Iya, saya akan memeriksanya."
Damar juga masih di dekat Abyaz dan dua pelayan wanita juga tampak cemas.
Dua pelayan yang menunggu disitu dan Abyaz tampak menggigil.
Sekitar 40 menit setelah dokter selesai meriksa kondisi Abyaz.
Abyaz sudah tampak membuka mata, sang suami masih ada di dekatnya dan memegangi tangan kanannya. Abyaz tersenyum tipis dan Damar mengelus rambutnya.
"Kamu tadi demam."
Abyaz perlahan menyamping dan mulai memejamkan matanya lagi. Damar lebih mendekat ke arah wajahnya.
"Kamu masih mengantuk?"
Abyaz hanya diam, dan air mata mulai mengalir. Damar yang mengerti kondisi Abyaz saat ini.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Aku mau keluar. Kamu tidur saja."
Damar ingin memberikan waktu untuk Abyaz, agar dia bisa tenang dan tidak merasa terluka lagi.
Abyaz tidak melepas tangan suaminya dan membuka matanya "Jangan pergi."
"Aku tahu kamu merindukannya."
"Tidak, aku tidak apa-apa."
"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Jangan dipikirkan lagi."
"Damar, kamu sudah tahu tentang kamu?"
Damar yang sebenarnya enggan untuk membicarakan hal itu, lalu berkata "Iya, aku baru tahu tentang orang tuaku."
"Kamu sedih?"
Damar menggeleng, walaupun dalam hatinya sangat sakit, dan dia berkata "Tidak, aku lebih sedih saat melihat kamu menangis."
"Damar, peluk aku."
Damar mulai beranjak ke tempat tidur dan memeluk teman hidupnya, tampak genangan air bening dalam kelopak mata Damar, tapi dia masih bisa menahan dirinya. Dia tidak ingin membuat Abyaz lebih terluka lagi.
"Damar, aku sudah kehilangan cintaku. Aku tidak mau kehilangan cintaku lagi."
Abyaz yang menangis dan sangat pilu. Hatinya pernah terluka, dan sangat menyakitkan. Mengetahui fakta yang ada, kembali membuatnya terluka. Tapi dia tidak mau lagi, ada luka dalam hatinya.
Abyaz yang sudah berusaha untuk mengikhlaskan masa lalunya dan hanya menyimpan cinta itu bersama kenangan manisnya.
Tapi, dia tidak ingin lagi membuat orang disekitarnya merasakan kesedihannya. Apalagi, dirinya saat ini sudah menikah.
"Aku tidak akan meninggalkan kamu."
"Jangan jauh-jauh lagi, aku takut."
"Tidak akan, aku akan disamping kamu."
Kedua orang ini, memang keduanya sangat terluka. Mereka berdua, sudah saling mengobati satu sama lain, tidak ada lagi, hal yang tertutupi. Mungkin, ini bukan seberapa dibanding masa lalu mereka. Tapi, satu hal dalam perasaan mereka juga ingin kebahagiaan, dengan cinta dan kasih sayang.
"Kamu sudah tidak demam."
"Kamu yang menjaga aku, aku pasti segera pulih."
"Apa kamu merindukan Papa sama Mama?"
"Iya, aku kangen sama Papa Mama."
"Kita akan pulang."
Abyaz mulai membasuh air matanya sendiri dan bertanya "Apa kamu sudah menghubungi Kak Stella? Aku jadi khawatir."
"Ada apa?"
"Tadi, aku pergi mengikuti Cecil ke toilet"
"Aku mendengar dia bicara sama Glen. Bilangnya, Glen harus menembak Kak Stella. Katanya, Kak Stella sudah mempermalukan dirinya."
"Cecil??"
Abyaz mengangguk dan pintu kamar di ketuk. Damar bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya.
"Kak Stella?"
Stella langsung memeluk Damar dan berkata "Maafin Kakak."
Abyaz melihat itu, dia merasa lega. Ternyata sang kakak ipar tampak baik-baik saja.
Damar menatap sang Kakak yang sudah menangis dan berkata "Sudahlah, aku tidak apa-apa."
"Aku cemas dengan kalian berdua."
"Kita, baru saja mau menghubungi Kakak."
"Kenapa?" Stella mengusap air matanya. Dia cukup lebay kalau sedang menangis, sampai suaranya kencang dan Ho Ho Ho.
"Glen mau nembak Kakak."
Abyaz yang masih di tempat tidur hanya diam.
"Glen? Tadi Viral yang mengejar mereka. Aku juga lupa. Soalnya aku harus ke Ji-Sung bersama Guru Mao. Tadi Guru Liu juga tertangkap keamaan."
"Viral?" Abyaz yang merasa cemas dan Stella mendekati Abyaz.
"Abyaz kata pelayan, kamu sakit. Kamu baik-baik saja?" Stella yang memegangi wajah dan kening Abyaz.
"Aku hanya kaget."
"Iya, aku mengerti." Stella masih duduk di tempat tidur, berkata "Aku akan telfon Viral."
Belum sampai Stella mengeluarkan ponselnya. Ternyata Giel sudah menghubungi Damar.
Giel menanyakan keadaan Abyaz, dan Damar menatap wajah Abyaz. Tapi, Giel juga mengabarkan tentang Binar yang tertembak dan Viral di kantor polisi.
Ekpresi Damar berubah aneh, Abyaz yang melihatnya curiga dan Damar lalu keluar dari kamarnya.
"Kak Stella, apa ada masalah dengan Viral?"
Stella menggeleng dan berkata "Aku nggak tahu, aku pulang bersama Guru Liu. Tadi Guru Mao juga sudah pulang. Aku lupa, tidak menjemput Viral."
Beberapa hari lalu Viral juga tinggal bersama mereka. Abyaz yang masih pucat dan Stella masih duduk menatap ke wajah Abyaz.
"Kamu istirahat saja."
"Iya Kak Stella."
Abyaz masih duduk di atas tempat tidur dan Stella beranjak pergi dari kamar Damar.
Stella yang melihat Damar yang duduk di sofa ruang tamu. Tampak melihat ke layar ponselnya.
"Ada apa?" Tanya Stella, yang duduk di sofa sebelahnya.
Damar yang tadi masih menunduk, perlahan menatap wajah Stella.
"Viral di kantor polisi."
"Viral? Apa yang terjadi?"
"Tadi Viral menghadang Glen dan Cecil. Mereka saling beradu, Glen berusaha menembak Viral. Tapi, Binar yang terkena tembakan. Viral menghajar Glen dan dia dibawa ke kantor polisi."
"Glen membawa pistol??!"
"Tadi kita juga mencemaskan Kakak."
"Aku??"
"Iya, sebelum Abyaz di sekap orang suruhan Mama. Dia mendengar Cecil meminta Glen, agar menembak Kakak."
"Emh, aku tidak takut. Lagian semua orang juga akan mati."
Stella sudah merasa puas hari ini, matipun dia rela. Asalkan semua berjalan sesuai harapannya.
"Kakak, aku serius. Aku hanya punya Kakak." Ucap Damar yang menunduk dengan rasa malu.
Dari dulu adik tampan ini juga tidak suka dengan Stella, yang seolah mengatur dirinya. Padahal, Stella sangat sayang padanya. Dulu, Stella tahunya, adiknya Lee Eun Ho, dan dia hanya ingin melindungi adiknya. Tapi Lee Eun Ho yang kaku ini, sangat tidak suka aturan dari Sang Kakek dan Stella.
"Iya, sekarang kamu sudah mengakui aku?? Panggil Kakak lagi."
"Sudah cukup tadi. Tetap saja bagiku Mak Lampir."
"Jadi, kamu sama anak Mama, lahirnya bareng. Berarti usia kalian sama."
"Iya, pastinya. Hanya saja dia tidak tahu ulang tahunnya. Dia diadopsi keluarga Mahatma masih kecil. Kalau setau aku, waktu itu, Abyaz cerita. Usianya 28 dan bulan ini ulang tahun. Sedangkan aku, ulang tahun sudah dua bulan yang lalu."
"Em, berarti aku harus ke makam dia."
"Untuk apa?"
"Ziarah."
"Dia suka mawar putih. Kalau aku suka mawar merah."
"Dia suka minum jus, aku suka minum kopi."
"Dia suka olah raga, tapi aku suka rebahan."
"Kita memiliki Mama yang berbeda, Ayah berbeda. Tapi nama kita sama, hati kita juga sama-sama terluka."
"Tahu dari mana kamu?"
"Buku catatan Abyaz, aku sudah membacanya."
"Dia menulis semua itu?"
"Bukan hanya itu, Abyaz sangat mencintai dia. Tapi, aku tidak keberatan soal siapa yang ada di hati Abyaz. Padahal, setiap Abyaz memeluk pria, aku cemburu, tapi kalau Abyaz cium foto dia, aku tidak merasa cemburu, mungkin ini alasannya."
"Karena dia sudah tidak ada, coba masih ada. Kamu bisa kalah dari dia."
"Kakak kok ngomongnya gitu, dia udah nggak ada. Jangan bilang gitu. Entah kenapa, waktu pertama Abyaz cerita aku juga baper. Makanya aku berani melamar Abyaz."
"Iya juga, mungkin hati kalian terikat satu sama lainnya. Namanya juga saudara. Walaupun tidak pernah bertemu. Aku yakin, dia pria yang baik."
"Kakak benar. Aku juga merasakan dia, dari diri Abyaz. Cuma, tadi aku nggak bisa melawan Mama."
"Sudahlah, Mama sudah merasakan hatinya. Dia juga sayang kamu. Hanya egonya lebih tinggi. Waktu kamu pergi dari pesta. Mama juga pingsan."
"Aku tahu itu."
"Jaga istri kamu. Kalian boleh pulang, aku akan mengantar kalian."
"Iya."
"Tapi kembali kesini lagi. Ini rumah kalian."
"Iya, aku tahu."
Abyaz berjalan keluar kamar, Stella dan Damar melihatnya. Mereka cukup kaget saat Abyaz datang. Karena mereka berdua tadi membicarakan kekasihnya.
"Aku mau ke atas, aku mau tidur." Ucapnya dan dua pelayan mengantar Abyaz.
"Kenapa dia nggak respon? Apa dia marah?" Batin Abyaz saat melihat suaminya.
Kedua orang itu, memang begitu. Kadang manis-manis, kadang diem-dieman. Kadang berantem.
"Kamu diam?? Istri kamu pindah kamar, kamu nggak anter dia?"
"Biarin dia sendiri, aku kasih waktu buat dia berfikir. Lagian aku juga tidak ingin memaksa dia, untuk segera menerima aku di hatinya."
"Kemarin udah sayang-sayang." Stella dengan gemas.
"Tapi aku tahu, hatinya belum sepenuhnya buat aku."
"Cemburu?"
"Tidak, makanya aku kasih dia waktu. Biarin aja."
Stella lalu pergi dan Damar tampak kembali ke kamarnya. Memikirkan sang Mama dan Kakeknya. Bagaimanapun, dia pernah di asuh Melinda dan juga Kakeknya.
"Kita harus pulang ke Solo."
"Viral, apa dia akan dipenjara?" Batin Damar yang mulai peduli dengan Viral.
Flashback On
Viral yang diajak Stella pergi ke markas adalah rumah Damar dan Abyaz.
Kala itu Stella sangat bersemangat, ada teman baru yang mempunyai misi yang sama dengannya.
"Viral, ayo masuk."
Damar dan Abyaz masih karantina, mereka waktu itu ada ruang fitness.
"Sayang,..." Damar yang memegangi kaki Abyaz saat sit-up.
"Emh, apa?"
"Nanti mau bulan madu kemana?"
"Terserah kamu."
"Kamu sudah berkeringat."
"Damar, fokus hitungnya."
"Iya, aku tidak lupa."
"Damar, aku serius."
"Ya udah, selesai."
"Berapa kali?"
"Banyak." Jawab Damar dengan cute dan Abyaz yang tampak duduk melotot.
"Aku harus ngulang lagi gara-gara kamu."
Abyaz yang hendak kembali sit-up. Tangan Damar melepasnya dan dia mengangkat Abyaz. Menggendongnya keluar dari ruang fitness.
"Turunin."
"Kenapa?"
"Aku bisa jalan sendiri."
"Emh, tapi aku pingin gendong kamu."
Kedua orang yang berdebat itu, sudah ada sepasang mata yang menatap.
"Haaiiii."
Abyaz yang kaget sampai loncat dari tangan Damar. Sangat mengejutkan, bukan karena dalam gendongan Damar, tapi Abyaz terkejut saat melihat Viral ada di rumah itu, dan dia tampak sehat, bahkan berdiri dihadapannya.
"Haii Nenek."
"Kamu baik-baik saja?"
Abyaz yang memutari dan melihat ke arah kaki Viral, dia masih tidak percaya kalau Viral bisa berdiri di depannya. Padahal waktu di rumah sakit. Abyaz juga sempat bertanya perawat, kalau Viral akan lama sembuhnya.
"Ini kejutan buat Nenek. Nenek datang aku langsung sembuh."
Abyaz mengenal Viral sudah lama, tapi kenapa waktu itu dia bisa tertipu.
Abyaz menjewer Viral dan Damar hanya diam saja, tidak reaksi apapun. Intinya, Damar sangat tidak suka melihat hal ini.
"Ampun... Oke aku akan cerita."
Stella datang membawakan minuman kaleng. Abyaz melihat itu minuman beralkohol.
"Kak Stella, dia muslim."
"Ah... Tidak apa-apa." Viral langsung merampasnya dan meneguknya di depan Abyaz.
Abyaz yang kesal menginjak kakinya, dan berkata "Terserah kamu."
Abyaz pergi begitu saja dan Viral tersenyum.
Damar yang melewati Viral hanya tampak menggeleng saja.
"Kak Stella dia adik kamu?"
"Iya, dia Damar. Adikku. Suaminya Abyaz."
"Apa? Damar?"
"Iya, Namanya Eun Ho, cuma setelah dia muslim, jadi Damar Setya Ardana."
Ceekcekcek
"Dunia begitu luas, tapi kenapa Abyaz selalu bersama Damar."
Stella mengangkat kedua bahunya dengan bibirnya yang unyu, seolah tidak tahu. Kenapa nama mereka bisa sama.
Setelah makan malam, Stella mengajak mereka semua rapat seperti biasa, misi. Kali ini, ada tambahan, Guru Mao dan Guru Liu juga ada di ruangan itu.
Viral cukup percaya diri saat menyusun strategi dan Damar hanya menatap teman hidupnya. Tidak peduli apa yang dibahas Viral dan Stella, Damar hanya fokus pada Abyaz.
Viral telah selesai dan Stella suka dengan ide gilanya.
Viral menyernyitkan dahi dan menunjuk Damar "Aku rasa, nyawa Eyangku ada pada dirimu. Kalian sama bucinnya."
"Ems, aku? Terserah aku. Lagian Abyaz istriku. Ini rumahku. Ya, suka-suka aku."
Viral menggeleng, "Abyaz, suami kamu sepertinya rada-rada."
Abyaz menoleh kearah kanan dimana sang suami dari tadi memegang tangan dia, bahkan ada orang sekalipun. Guru Mao dan Guru Liu juga melihatnya.
Abyaz memegangi pipi Damar "Ini kucingku, caranya begini biar nurut."
Abya mengelus-elus pipinya dan tangan kirinya mengelus rambutnya.
Damar semakin mendekati Abyaz dengan mata yang tertutup.
Memang seperti kucing, sampai akhirnya, Damar tertidur dan semua keluar meninggalkannya, kecuali Viral.
Suami istri ini memang aneh.
"Kucing?? Aku akan menemani kamu."
Usia Viral memang lebih muda dari Damar, tapi dia tidak peduli saat berbicara santai dengan Damar.
"Bobok yang nyenyak!"
"Besok kamu akan lihat."
Pagi tiba dan Damar merasa ada yang memeluknya. Viral benar-benar sudah menganggap Damar yang ini, seperti Eyangnya dulu. Suka tidur bersama."
"KAMU!!!"
Duushh! Tendangan ala Damar.
"Bukannya, aku semalam bersama Abyaz. Kenapa jadi dia yang tidur di sofa."
"Eyang, ... Kenapa menendang aku??"
"Aku bukan Eyang kamu."
Damar yang kesal pergi, dan Viral yang di lantai masih merem melek, melihat sekitar ruangan.
"Ternyata aku cuma mimpiin Eyang." Gumamnya.
Flashback Off.
Haruskah, dilanjut???