
Masih di hari yang sama, namun tempat yang berbeda. Minggu malam yang cerah. Duduk menikmati video bulan madunya.
"Bebz, aku mau lihat resepsi pernikahan kita." Ucap Andre kepada Tania.
"Bentar, aku ambilkan kasetnya."
Dua insan yang dimabuk asmara, atas pernikahan mereka berdua. Namun, Andre sangat penasaran mengenai sosok sahabatnya, yang tidak lain adalah Alvaro Putra Prasetya.
Semalam, beberapa sahabatnya telah mengatakan kalau Al sudah akad nikah dengan pacarnya yang masih SMA. Mereka juga berkata, kalau itu sangat mustahil. Apalagi Gaby masih sekolah, pasti ada sesuatu hal, tapi mereka juga tidak yakin kalau Alvaro bisa berbuat hal dewasa. Mereka juga meragukan akan perkataan Alvaro di telephone, yang mengatakan bahwa ia pengantin baru dan tidak bisa datang di pertemuan rutin.
Yupss!
Saat di taman, Alvaro telah ditelephone dua sahabatnya, yang menyuruhnya agar segera datang ke ibukota. Acara yang biasa mereka gelar di setiap awal bulan. Selagi gajian masih utuh, para pria itu suka berkumpul untuk bersenang-senang. Namun, terkadang mereka mengajak pasangannya, hanya sekedar mengenalkan atau pasangannya yang ingin menempel seperti perangko.
Video telah diputar, Tania yang duduk di sebelah kiri suaminya tampak tersenyum dan memegang tangan dengan mesra.
Apartemen yang mereka tempati, tidak jauh dari kantor Mahatma. Karena, Andre harus stay bila Binar menyuruh dirinya untuk segera datang ke kantor.
"Bebz, mana remotnya?"
"Remot?" Tania mengambil remot DVD itu dan memberikan kepada suaminya.
Tania bertanya, "Bebz, ada apa?"
Andre mempercepat durasinya dan ingin segera melihat sendiri, gadis SMA yang diajak Alvaro. Para sahabatnya, yang waktu itu juga tidak mengenal jelas. Foto juga tidak ada, karena mereka merasa sungkan kalau mengajak Gaby untuk berfoto bersama mereka.
Degh!
"Gaby!" Andre yang mengenal sosok itu.
"Bebz, siapa Gaby?" Tanya Tania yang menoleh ke wajah Andre.
"Adiknya Bos."
"Adiknya Bos??"
Tania menatap ke layar LCD yang ada di hadapannya. Andre masih menatap ke layar itu. Bahkan, video itu sudah di pause. Wajah Gaby, meski sudah tampak berhias tapi Andre bisa mengenali wajah itu dengan jelas. Apalagi, malam di hotel itu. Riasan wajah Gaby di malam itu, tidak kalah dengan make-up di hari pernikahannya.
"Dia Gaby, adiknya Bos Binar."
"Adik??" Tania yang menatap Gaby dan Al ada disisi gadis belia itu.
"Pantas saja, tadi Madam Imel bilang sama Bos, kalau Gaby sudah menikah."
"Jadi, Al beneran sudah menikah??"
"Sepertinya memang benar begitu."
"Aku nggak ngerti deh Bebz." Tania merasa bingung.
"Sama, aku juga bingung. Bukannya mereka kerabat."
Tania mengamati sosok Gaby, ia berkata "Bebz, meski mereka kerabat, bisa saja begitu. Lagian Al beda keyakinan sama Bos kamu."
"Iya, benar. Makanya, aku juga nggak tahu kalau Al masih saudaraan sama Bos Binar."
"Dea pernah bilang sama aku."
"Bilang apa?"
"Aku juga nggak paham. Dea bilang, Mamanya Al itu Nyonya. Dea pernah bertemu di arisan sosialita Bosnya."
Andre jadi terdiam dan Tania menatap suaminya dengan tatapan bingung. Tania juga merasa aneh, kenapa suaminya terlalu memikirkan hal itu, lagian bukan urusan mereka.
"Bebz." Tania yang kembali meraih remotnya.
"Iya."
"Bebz, kita bikin acara makan malam aja disini. Kita undang Al sama istrinya. Gimana?"
"Nanti kita pikirkan. Aku mau menemui si Bos dulu."
Tania dengan senyuman, ia kembali fokus pada layar yang ada di hadapannya.
"Baguslah, kalau Al sudah menikah." Batin Tania dengan santai.
Apartemen dengan gaya modern. Serba silver dan lux. Meski ruangan tampak sempit, tidak selega di rumah yang ada di kampung halaman Tania. Tapi, Tania sangat menyukai apartemen ini.
Setelah 15 menit kemudian.
Di kantor Mahatma, ruangan Binar masih tampak lampu menyala. Padahal hari minggu, dia masih menyibukan diri di kantornya.
"Bos."
"Iya."
Binar masih menatap ke layar tabletnya, lalu Andre mendekati Binar yang tampak duduk santai di sofa.
"Ada yang mau saya bicarakan sama Bos."
Binar melepas kacamata bacanya, ia menatap Andre dengan tatapan serius.
"Ada apa?" Binar meletakan tabletnya dan Andre sudah duduk di hadapannya.
"Ini soal Gaby."
"Gaby??" Binar yang bingung.
"Saya tahu, siapa yang menikahi Gaby. Adiknya Bos."
Mendengar hal itu, Binar tersenyum dan merapikan rambutnya dengan jari-jari tangan kanannya. Itu hal yang sering dia lalukan, menjaga penampilan dirinya.
"Emh, menurut kamu siapa yang berani menikah Gaby tanpa sepengetahuan Bosmu ini?"
Andre yang tadinya sedikit menunduk, dia berfikir telah salah, mengusik urusan pribadi Bosnya. Lalu dia kembali menatap ke arah Binar dengan serius.
"Alvaro."
"Alvaro?"
"Iya Bos. Alvaro Putra Prasetya."
Binar tersenyum, lalu berkata "Sudah kuduga. Baguslah kalau begitu. Aku jadi tenang."
Binar dengan wajah yang memang berbinar, meski dirinya sudah tahu lebih dulu ketimbang yang lainnya.
"Bagus Bos? Bos tidak keberatan kalau Alvaro dengan Gaby menikah? Bukannya kalian ini kerabat?"
Binar yang sudah berdiri dan memegang bahu Andre, ia berkata "Kita memang kerabat, tapi Alvaro dengan Gaby, tidak terikat hubungan kekerabatan ini."
Andre masih duduk dan tampak berfikir. Binar lanjut berkata "Ada beberapa hal, yang orang lain lihat kita seperti keluarga dan kerabat."
"Namun, disisi lain kita ini bersaing. Aku dengan Viral, begitu juga aku dengan Gaby maupun adikku yang lain. Darra dan Ayu."
"Alvaro, dia keluarga yang berbeda. Dia tidak ada kaitannya dengan Mahatma. Tapi, dia ada kaitannya dengan JS dan RM."
"JS??" Andre yang terperanjat bingung.
"Iya, JS. Presdir Damar."
Andre menoleh ke arah Binar. Binar yang menatap ke arah kota. Melihat gedung megah nan jauh dari gedungnya saat ini.
Binar yang bersedekap dan menatap ke arah gedung JS. "Presdir Damar adalah Kakak ipar Alvaro dan RM milik Mamanya Alvaro."
Andre benar-benar tidak mengerti tentang sahabatnya. Semasa kuliah, Alvaro tidak menceritakan apapun tentang dirinya. Bahkan, saat Andre tahu kalau Alvaro di lahirkan di ibukota, tapi Andre tidak banyak bertanya tentang keluarga Alvaro yang ada di Ibukota. Setelah beberapa tahun berlalu, dan Al tinggal di sebuah kota yang tidak jauh dari ibukota. Tapi, sampai hari ini Andre tidak banyak tahu tentang siapa Alvaro sebenarnya.
"Jadi, Alvaro memang_??" Andre ingin menyebut Alvaro orang golongan atas, tapi Binar berkata lebih dulu "Alvaro bukan siapa-siapa. Dia memang Alvaro Putra Prasetya, orang yang biasa saja, seperti Papanya, Pakde Prasetya Wardana, yang bijaksana."
RM yang tadinya hendak jatuh ke tangan Binar, karena Vava. Tapi, Britney lebih dulu memenangkan sidangnya atas dukungan Evan dan Giel. Meski, nama yang tercantum benar terbukti nama Britney, tetap saja yang namanya aturan perusahaan harus ada yang bertanggung jawab. Giel akhirnya yang menduduki kursi tertingginya, bukan Binar. Kemudian, Binar kembali ke Mahatma.
Ahli waris utama di RM, masih tertera nama Britney Rhiannon dan Kakeknya sendiri yang membuat hal itu, kala itu Ferdi dan Vanessa masih ada, mungkin mereka berdua saksinya. Awal mengira Vanessa yang menjadi pewaris atas nama RM. Tidak tahunya, Kakek Restu menulis dengan tangannya dan itu hanya ada nama Britney Rhiannon.
Meskipun kala itu, Vanessa, Ferdi, Evan dan Vava juga memiliki saham yang sama. Ahli waris utama, jatuh ke tangan Britney.
Untung saja, Giel bergerak cepat. Apalagi setelah Binar menikahi Imel, Britney tidak lagi dihormati oleh kerabatnya sendiri. Britney yang awalnya tidak mau dan Giel tetap memaksanya, setidaknya sampai seumur hidupnya Britney, sedangkan Giel hanya sebagai pimpinan yang bertanggung jawab atas perusahaan RM.
Binar masih menatap gedung JS, dan Andre bangkit dari sofa, lalu mendekati Binar dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Apa Bos sudah tahu lebih dulu. Tentang Alvaro dan Gaby?"
Binar dengan senyuman menakutkan, ia berkata "Akulah, orang yang menggiring Gaby kesana."