
Pagi bersambut dengan senyuman manis nan manja. Gaby yang telah memakai seragam sekolahnya.
"Selamat pagi muridku."
"Pagi Pak guru kejamku." Dengan nada bercanda dan begitu gemas, akan suaminya yang menggodanya lebih dulu.
"Apa aku sekejam itu?" Tatapannya aduhai.
"Emh, entahlah." Gaby lantas duduk di kursi minibar dan Al dari tadi sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Gaby yang gemas saat menatap sandwich berbentuk panda. Seharusnya dirinya sebagai istri yang melayani sang suami. Tapi, tidak berlaku bagi dirinya yang telah dimanjakan oleh suaminya.
"Buruan makan, nanti kita bisa terlambat." Ucap Al, yang tampak duduk disebelahnya, sambil menikmati kopi paginya.
"Oke." Lantas Gaby mencium pipi kiri suaminya.
Al begitu menikmati kecupan manis itu, dan berkata "Nanti liptintnya nempel."
"Nggak ada bekas Mas Al." Gaby dengan suara gemas saat menatap pipi suaminya.
Gaby yang terbiasa memakai liptint matte warna sunbeam saat pergi ke sekolah. Sedangkan ketika di rumah atau berjalan santai, biasanya memakai liptint warna pinky atau nude.
"Ya sudah, kalau gitu sekalian yang kanan."
"Emoh, nanti liptintku nemplok di pipinya Mas Al." Gaby yang pandai bicara dan ia telah menikmati sarapan paginya.
Di rumah minimalis dan hanya berdua. Dari selepas subuh, kedua pengantin baru ini sudah menabur kemesraan ala mereka berdua. Meski jarak usia mereka terpaut lumayan jauh, namun perilaku dan tingkah laku Gaby bisa mengimbangi guru olah raganya ini.
Al yang melihat layar ponselnya, "Gaby, aku harus berangkat duluan ada rapat guru."
"Oke." Kode jari.
Al bangkit dari kursinya, mengecup kening istrinya.
"Siang nanti, aku ada urusan di luar. Kamu pulang ke rumah Mama aja ya."
Gaby dengan wajah polosnya, berkata "Nggih Mas."
"Nah gitu, manut." Al dengan senyuman manisnya dan suaranya terkesan kaku.
Alvaro hendak berangkat duluan, karena di grup chatnya ada informasi soal rapat guru. Tangan kanan menyambar jaket kulit yang ada di sofa dan langsung memakainya. Saat makan pagi, mata Gaby terus saja menatap ke wajah tampan suaminya. Begitu pula suami tampan ini, berlaku manis dan lebih perhatian.
"Mas Al, memang tampan." Batin Gaby yang gemas dan wajah itu tampak berseri-seri.
Al yang menoleh ke istrinya, Gaby yang tampak minum susu cokelat. Alvaro yang bersiap berangkat kembali mendekat.
"Nah kan, liptintnya ketutup cokelat." Al yang menyeka bibir imut itu dengan tisue dan tampak perhatian.
"Sana berangkat."
Al dengan gemas mengayak rambut Gaby yang tampak tergerai panjang, "Iya cintaku."
"Aa.. Jadi berantakan."
"Di kuncir aja." Al lantas berjalan pergi.
Gaby begitu senang atas perlakuan Al barusan, ia merapikan rambutnya dan mengeluarkan ikat rambut dari dalam tasnya.
"Emh, katanya leherku menggoda. Kenapa malah disuruh kuncir lagi? Dasar guru kejamku."
Gaby yang mengambil cermin dari dalam tas ranselnya "Biasa saja! Kenapa tadi malam Mas Al bilang begitu?"
Gaby masih menatap cermin, ia lalu menarik kembali ikat rambut dan malah berlari ke kamar untuk mengambil bando.
Ia bercermin di meja riasnya, dan memakai bando polkadot warna putih biru.
"Eemmh." Memakai liptint lagi dan ia mengingat akan ciuman Al, saat selesai mandi tadi.
"Dasar nakal!"
Wajah berseri-seri dan membayangkan hal lainnya.
"Gaby!! Pikirin ujian, bukan romansa."
Lantas ia berlari ke ruang makan dan segera membereskan piring dan cangkirnya dengan secepat kilat ia mencucinya.
Gaby meraih sweater putih dan tas ransel warna putih yang telah ia siapkan di sofa ruang tengah. Gadis belia ini, begitu ceria dan tampak menggemaskan.
Berjalan dengan tingkah lucunya, sambil menyanyikan lagu tentang cinta. Gaby membuka pintu rumahnya dan tampak senang, wajah itu terlihat sangat ceria.
Gaby yang siap berangkat ke sekolah dan ia menantikan taxi yang telah ia pesan.
"Sudah dekat." Ia langsung membuka pintu pagar dan berjalan keluar untuk menunggu taxi online itu di luar rumahnya.
Sebuah mobil Alphard hitam berhenti tepat dihadapannya dan beberapa pria berbaju hitam menyekapnya. Membawa masuk ke dalam mobil itu. Gaby yang tampak terkulai lemas tak berdaya.
"Ga-by!" Papa Pras terbengong saat melihat kejadian itu.
"Gaby!!!" Teriak Papa Pras yang berada jauh dari mobil itu. Mobil itu bergegas pergi dengan cepatnya.
Suara teriakan kakek tua itu tidak bisa menghentikan laju mobil. Motor matic yang ia kendarai berhenti seketika, saat melihat kejadian di depan mata. Pikiran sudah tidak fokus dan dada berdebar.
"Aku harus ingat." Papa Pras berusaha untuk mengingat plat nomor mobil tadi dan mencatatnya pada layar ponselnya.
Kepanikan terjadi, usia yang tak lagi muda, tangan itu juga semakin gemetar. "Al. Aku harus kasih tahu Al."
Setelah mencatat nomor plat mobil itu dan cukup lama mengingatnya. Lalu berganti untuk menghubungi nomornya putranya.
"Al."
"Al, angkat telephone Papa."
Badan itu semakin tak bertenaga dan sudah tampak lemas. Seorang satpam yang dikenalnya dekat, berjalan menghampiri saat melihat Papa Pras yang tampak gelisah. Saat ini Papa Pras berdiri di depan rumah Gaby.
"Pak Pras, ada yang bisa saya bantu?"
"Pak Pras kenapa?"
"Tadi ada." Papa Pras yang susah menjelaskan dan tidak ingin membuat heboh sekitar komplek. Nantinya, nama menantu akan jadi topik utama di area komplek ini. Pikiran tua ini selalu mawas diri.
"Din. Saya tidak enak badan." Jawabnya dengan suara lemas.
"Pak Pras saya antar saja."
"Iya Din. Tolong antar saya pulang."
Pagi ini Papa Pras hendak ke mini market di Arjuna Raya. Malah tidak sengaja melihat menantunya telah disekap oleh beberapa pria.
Kaki tua ini semakin lemas dan tak bertenaga setelah melihat kejadian penculikan Gaby, sampai satpam harus menuntunnya saat menaiki motor maticnya.
"Al. Gaby diculik." Batin Papa Pras yang terus bergetar dan saat ini diantar seorang satpam komplek.
Setibanya di rumah, Britney masih sibuk di dalam dan satpam hanya memapah sampai di teras rumahnya.
Duduk di teras dan tangan itu juga susah untuk mengetik pada layar pintarnya.
Setelah beberapa menit berlalu, pesan singkat kepada Al telah terkirim dan Papa Pras duduk bersandar. Dengan batinnya yang terus berdo'a dan berharap menantunya baik-baik saja.
Di SMA Pesona, ruang kepala sekolah. Setelah rapat guru selesai, Al dipanggil ke ruang kepala sekolah.
"Pak Al, tolong jelaskan ini." Kepala sekolah memperlihatkan sebuah foto.
Setelah beberapa menit kepala sekolah bertanya ini itu tentang Gaby, ia langsung pada inti pembicaran.
Sedikit mengorek soal tunangan itu, dan ada masalah kembali mengenai privasi Alvaro.
Alvaro yang memegang foto itu, lalu berkata "Pak Lukman, ini foto dari mana?"
Bapak kepala sekolah berkata "Ada yang mengirim paket ke ruangan saya ini."
"Ini hanya salah paham."
"Maka dari itu, saya tadi bertanya soal Gaby. Lalu, siapa tunangan Pak Al yang sebenarnya? Wanita itu, atau Gaby?"
Sedikit senyuman tipis, Al berkata "Pak Lukman, ini sepupu saya. Kalau Bapak tidak percaya. Saya ada foto pernikahannya."
Kepala sekolah dengan tatapan serius. Kedua orang ini, tampak serius. Al yang langsung mengeluarkan ponselnya dan ia langsung ke galery. Memperlihatkan foto pernikahan Darra dan Darren, yang tampak berfoto dengan dirinya.
"Pak Lukman, ini hanya salah paham. Saya dan Gaby memang sudah bertunangan."
Paket itu juga ada suratnya, mejelaskan kalau Pak Alvaro telah berbohong soal tunangannya yang bernama Gaby. Pak Alvaro bahkan memesan cincin mewah dan telah menikah dengan perempuan lain, bukan Gaby.
"Lalu, apa benar Pak Al sudah membeli cincin pernikahan?"
"Pak Lukman, ini privasi saya. Yang jelas, saya memang tunangannya Gaby dan wanita yang ada di foto ini, adalah sepupu saya."
Mengingat akan perkataan Gaby waktu itu dan Al barusan. Memang jelas terlihat seperti layaknya pasangan. Bahkan, beberapa waktu lalu juga mendengar kabar dari Pak Ferdi, kalau Pak Al memang menjalin hubungan serius dengan muridnya.
"Baiklah, kalau begitu. Pasti ini hanya keisengan murid."
"Murid?" Batin Al sudah tertuju akan geng kupu-kupu. Mengingat akan cerita Abyaz waktu itu.
Setelah itu, Al beranjak pergi dari ruang kepala sekolah dan ia mengatifkan kembali data ponselnya.
Ada beberapa pesan yang masuk,
Satu pesan ia baca dengan gemas sambil berjalan dan bertemu Pak Ferdi.
"Pak Al, Gaby apa masih sakit?" Tanya Pak Ferdi.
"Sakit?"
"Iya, saya sudah menunggunya. Sampai jam segini belum datang. Makanya, saya mencari tunangannya, untuk memastikan."
"Gaby sekolah. Tadi sudah pakai seragam."
"Tapi Gaby, tidak ada dikelasnya."
Al kembali ke layar ponselnya dan ia menghubungi Gaby.
"Tidak aktif."
Seketika ponselnya berbunyi dan langsung mengangkatnya.
"Al."
"Papa?"
"Al, Gaby diculik. Tadi disekap orang."
Degh!!
"Gaby diculik??!"
Tangan itu lemas ponsel itu terjatuh dan Pak Ferdi mengambil ponselnya.
"Hallo Al. Kamu dengarin Papa!!"
Al yang termangu dan Pak Ferdi mendengarnya.
"Papa lihat sendiri Al. Mereka membawa Gaby pergi."
Pak Ferdi "Pak ini saya Ferdi, Gaby sudah diculik orang??"
Al yang meraih ponsel itu, bertanya "Papa tahu mobil yang membawa Gaby?"
"Mobil Alphard warna hitam." Papa Pras lanjut menyebutkan plat nomornya.
Al tertunduk lemas.