
Suasana pagi yang menegangkan, Al yang telah mengetahui siapa orang yang menculik istrinya. Semburat wajah penuh emosi dan kedua tangannya tampak mengepal.
"Pak Al, apa benar Gaby diculik?" Pak Ferdi yang masih berdebar dan ia melihat raut wajah Al tampak serius.
"Pak Ferdi, pinjami saya mobil."
Pak Ferdi kebetulan mengantongi kunci mobilnya, ia menyerahkan kunci mobilnya kepada Alvaro.
"Pak Al, hati-hati." Ucapnya dan Al yang berlari pergi begitu saja.
"Gaby diculik. Pak Al pergi untuk menyelamatkannya. Semoga, semuanya baik-baik saja." Meski ini berita penting dan Pak Ferdi suka bergosip. Tapi, ia memilih untuk berdiam dan kembali mengajar muridnya.
Sekitar 3 jam kemudian, Al yang tidak bisa berfikir panjang. Ia langsung saja pergi mencari sosok penculik istrinya.
Al yang mengingat akan foto dirinya bersama Darra, ada mobil yang sama seperti mobil penculik istrinya.
"Darra!!" Desisnya yang begitu kesal.
"Sial!!" Al yang tidak bisa melacak keberadaan Gaby maupun Darra. Ia langsung menuju ke Golden Mansion untuk menemui Darra.
Suasana di sebuah kamar hotel, Darra yang menatap ke sosok gadis belia, sudah tampak membuka mata dan ia memanggilnya.
"Kak Darra."
Gaby yang terbangun dari tidurnya, karena biusan saat disekap tadi. Kini dirinya baru sadar dan terbaring di atas tempat tidur.
Wajah bingung dan badannya terasa berat. Pandangan matanya juga belum bisa melihat jelas dan kepalanya begitu pusing.
"Baguslah, kalau kamu sudah bangun. Aku pikir kamu sudah mati."
Gaby yang meremas selimut dan ia merasa kesal terhadap ucapan Darra barusan. Tapi, saat ini ia tidak berdaya.
"Kak Darra, Gaby ada dimana?"
"Di hotel." Jawabnya dan ia duduk santai di sebuah sofa sambil membuka-buka majalah bisnis.
"Kenapa Gaby bisa disini?" Tanyanya dan berusaha untuk bangkit dari ranjang itu.
Darra menutup majalahnya dan ia berdiri dengan tangan bersedekap, perlahan mendekati Gaby.
"Kamu disini. Karena ada pria yang membawa kamu."
"Pria??" Gaby yang tidak percaya akan hal itu.
Darra semakin mendekat dan memegang dagu Gaby, ia berkata "Wanita penggoda seperti kamu, pasti sudah terbiasa di hotel bersama pria manapun."
Gaby dengan ratapan hatinya, sorot mata penuh kesal, namun dia tidak berkata apapun untuk menyangkal ucapan Darra barusan.
"Gaby, aku tahu kamu sudah menikah. Pasti, suamimu juga akan segera mencari kamu. Itupun, kalau dia benar-benar suami kamu. Apa, jangan-jangan kamu mencuri dari wanita lain? Om-om? Atau kamu dimadu?"
Segala ucapan Darra yang tidak terbukti, tapi Gaby hanya diam tanpa membalas sedikitpun.
Duduk diatas ranjang dengan raut wajah meminta pertolongan, ia berharap akan ada yang menyelamatkan dirinya dari Darra. Meski hanya sekedar ucapan, namun dari hati Gaby yang terdalam, ia sangat terluka.
"Kak Viral bilang, kamu menikah tanpa memberi tahu keluarga Mahatma. Jadi, aku pikir. Kamu sudah mendapatkan mangsa baru."
"Darren yang malang, ia sakit dan menyalahkan dirinya. Tapi, kamu berbahagia dengan keluarga barumu."
Air mata itu luruh seketika, dan Gaby tetap diam tanpa membalas perkataan Darra.
"Aku melihat, kamu bernyanyi dengan senang dan pagi ini begitu indah. Sampai kamu lupa, kalau kamu sudah menyusahkan Darren dan keluarga Mahatma."
"Seandainya saja, mereka tahu kelakuan kamu sekarang ini. Pastinya, Mommy sama Daddy juga tidak menyesal telah membiarkan kamu pergi."
Perkataan itu begitu lembut, tapi sangat menusuk ke dalam hati dan pikiran Gaby. Tatapan tajam nan sinis seorang Darra. Wajah itu berhadapan dekat dengan wajah Gaby. Aroma wine yang sempat tercium dari mulut manisnya Darra, sudah berubah seperti racun.
Air mata Gaby telah menjawabnya. Gaby sudah mengalah, semua telah ia lakukan untuk Darra dan keluarganya. Tapi, rasanya telah percuma, tidak ada kata saudara maupun keluarga.
Darra mendorongnya dan membuat Gaby kembali terbaring. Ia dengan senang dan merasa harus berbuat demikian.
"Gaby! Sebaiknya kamu pergi sejauh mungkin. Sampai mereka tidak lagi menemukanmu." Ucap Darra dan ia terkikih sendiri. Senyuman penuh misteri dan rasanya begitu senang saat membuat Gaby ketakutan.
Kamar hotel yang mewah dengan nuansa klasik, terlihat dari interior dan ornamennya. Ranjang dengan sprei dan bedcover putih, ada sofa dan terdapat sebuah lukisan.
Darra kembali duduk dan ia mengambil ponsel dari dalam tasnya. Tadi, ia telah mematikan ponselnya dan melirik ke wajah Gaby.
Gaby menarik selimutnya tinggi-tinggi, menangispun tanpa suara. Rasanya begitu sesak dan takut kepada Darra. Tasnya berada di sebuah meja dan jauh dari jangkauannya.
Gaby masih menangis dan ia melihat ke arah Darra.
Setelah 5 menit berlalu, Darra kembali mendekat dan ia berkata "Darren sudah siuman. Tapi, aku tidak akan melepasmu begitu saja."
Gaby yang menatapnya dengan rasa gelisah, dan Darra tampak tersenyum senang. Ia meraih tas jinjing yang ada di atas sofa, lantas ia pergi begitu saja.
Gaby masih di atas ranjang, dan dua orang berbadan kekar masuk ke ruang kamar itu untuk mengawasi Gaby.
Gaby hanya diam dan tak berkutik. Ia sekilas melihat ke arah dua pria yang berdiri di depan pintu.
"Darren sakit?"
Gaby kembali melihat ke arah pintu dengan dua pengawal yang berjaga.
Darra berjalan dengan gayanya yang selalu menawan. Pancaran mata yang jernih nan tajam, Darra memang seorang putri yang dibanggakan kedua orang tuanya. Selalu menjadi pusat perhatian selama dia berada di lingkungan Mahatma Corporation. Lincah, gesit dan ia sangat pandai menarik perhatian orang di sekitarnya, sudah banyak klien yang berpegang pada hasil kerjanya. Daya tarik yang membawa kemajuan perusahaan kosmetik milik Lingga dibawah naungan Mahatma Corporation. Sangat berbeda jauh dengan Ayu, yang cenderung introvert dan tidak pandai dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Meski, posisi mereka sama dan mendapatkan hak yang sama dari kedua orang tuanya.
"Mommy." Darra yang terkaget saat melihat Vava sudah berada dihadapannya.
Lobby hotel mewah ini, suasana tampak sepi, hanya ada beberapa tamu dan tidak banyak orang berlalu-lalang di sekitarnya.
Vava dengan tatapan tajam, ia berkata "Darra, lepaskan Gaby."
"Mommy." Darra yang kembali manis dan segera merangkul lengan tangan sang Mommy.
Vava yang masih berdiri dan Darra itu memang pandai merayu. Tidak ada kata menyerah untuk mengusik kehidupan Gaby. Sampai dirinya merasa bahagia bersama suaminya.
"Darra." Suara itu begitu pelan dan Darra tetap merangkul lengan tangan sang Mommy.
"Iya Mommy." Dengan suara manja.
"Mommy tahu, kalau kamu membawa Gaby kesini."
Kedipan mata nan cantik dan begitu manja, ia berkata "Mommy, Darra nggak nyakitin Gaby. Dia juga baik-baik saja."
Vava menatapnya dan berkata "Lepaskan Gaby sekarang juga. Atau Mommy akan bilang sama Daddy kamu."
Vava yang selalu menutupi tentang masalah Darra dan Gaby. Meskipun begitu, Lingga juga sebenarnya sudah tahu, namun hanya menutup mata dan telinganya. Cukup mengawasi kedua putrinya, karena memang Gaby juga sudah seperti putrinya sendiri. Lingga juga percaya kalau Darra tidak akan berbuat lebih jauh dan kejam kepada Gaby.
"Mommy, hanya sehari ini saja." Darra yang bermanis manja kepada Vava.
"Tidak!"
Darra melepaskan tangannya dan menatap sang Mommy dengan wajah muram. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan memerintahkan kepada pengawal untuk mengantarkan Gaby kembali ke rumahnya.
"Sudah." Gaya bicara yang manis dan Vava masih menatapnya tajam.
"Darra, jangan sampai kamu berbuat hal ini lagi. Mommy selalu memberikan semua keinginan kamu. Tapi, kalau kamu masih nekat. Mommy juga ada batas kesabaran." Ucapan itu terdengar sangat pelan dan Darra hanya mengangguk cantik.
Vava kemudian pergi meninggalkan hotel itu dengan wajah yang sendu. Semakin usia bukannya tenang, malahan ada saja masalah yang menghampirinya.
Darra dengan wajah tidak senang, tangan kiri yang ia lambaikan ke arah sang Mommy saat pergi meninggalkan lobby hotel, kini sudah tampak mengepal dan ia masih tidak rela, kalau sang Mommy malah membela Gaby.
"Gaby, kali ini aku membiarkan kamu bebas. Lain kali, kamu tidak akan bisa melepaskan diri." Batinnya.
Di ruang kamar hotel, dua orang pria bertubuh kekar itu merasa kewalahan saat Gaby mengamuk karena tidak ingin dipegang mereka.
"Jangan dekati saya!!" Teriaknya dan masih berdiri di atas tempat tidur.
"Nona, silakan turun. Kita akan mengantar anda pulang." Ucap salah satu pria itu.
Bugh!
Bantal ia lempar ke arah pria itu.
"Mari nona."
"Aku bisa pulang sendiri!!"
Gaby mengacak-acak ranjang itu, ia berlari mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah cutter.
"Aku bilang jangan mendekat!!" Tangannya tampak gemetar.
"Jangan mendekat!!!"