ABYAZ

ABYAZ
Asmara Menerjang



Malam kembali dengan berganti hari. Terdiam dalam lamunan dan berteman dengan sang rembulan.


Duduk di ayunan taman dan ia mulai bergumam "Kenapa semua orang membenciku??"


Sang suami menatapnya, lalu berkata "Aku tidak membencimu."


Gaby perlahan terkekeh geli, mengingat akan kejadian akhir-akhir. "Mereka benci sama aku, hanya karena laki-laki."


Al mengayak rambut sang istri dengan gemas "Sampai kapan kamu akan terus menyalahkan aku?"


"Mana berani aku menyalahkan guru kejamku." Balasnya dengan nada bercanda.


Al yang tadinya duduk berayun, sekarang telah pindah posisi, tampak mendorong ayunan Gaby. "Aku tahu, Ghani sudah cerita sama aku."


"Emm, pasti Mas Al nyogok Ghani!"


"Dia sendiri yang mau cerita."


"Ya kesel aja. Bilangnya nggak pernah nyentuh perempuan. Buktinya sudah banyak yang disentuh." Gaby dengan centilnya.


Al menjewer gemas telinga Gaby.


"Aaa.. Mas Al nakal." Gaby yang kekanakan.


"Aku profesional kerja."


Gaby memegang bibir imutnya, lantas tersenyum ia bertanya "Terus yang tadi? Profesional kerja juga? Apa urusan pribadi?"


Al yang tersenyum, ia menjawab "Aku panik."


"Owh, coba dulu kalau Laura yang tenggelam beneran. Gimana ceritanya? Apa ngecup bibir juga?"


Al gemas dan beralih menghadap wajah Gaby. Tatapan serius dan sudah tampak berlutut. Gaby yang duduk diayunan salah tingkah karena tidak kuat menahan tatapan maut suaminya.


"Mas Al, aku mau.."


Al menarik tangannya dan membuat Gaby duduk kembali di ayunan.


"Karena kamu istriku." Ucapnya dan ia memegang tangan Gaby.


Gaby merasa salah telah berbuat itu, lalu berkata "Mas Al, aku nggak niat begitu. Tadi itu, kaki aku beneran kram."


Sedikit menggigit bibir bawahnya dan kembali berkata "Aku salah, aku minta maaf."


Cemberut manis dan Al mengusap poni tipisnya. Lalu Al berkata "Aku tahu itu."


Gaby berkata "Mas Al, marah sama aku?"


Al berkata "Iya, aku marah sama kamu yang nggak mau patuh." Lantas mencubit kedua pipi Gaby dengan gemas.


"Aku tuh bingung. Kak Darra sampai tega nyulik aku. Cantika semakin berani buat nyelakain aku. Padahal, aku nggak pernah buat salah sama mereka."


"Aku tuh niat sekolah, untuk menimba ilmu dan biar punya teman. Tahu begini, aku home schooling aja."


"Dulu Daddy udah pernah bilang, dunia luar itu indah. Tapi, kenapa tidak buat aku."


Al yang hanya diam dan mendengar keluh kesah istrinya. Gaby berkata "Aku cuma ingin berteman. Aku ingin hidup normal seperti yang lainnya. Aku juga nggak suka dikawal."


"Seandainya Daddy masih ada. Aku nggak akan begini."


Perlahan suara itu berubah sendu dan Al semakin mendekat. Mengelus rambut istrinya dengan lembut. Gaby yang telah mengingat kembali kenangan bersama Daddy, mengenal akan lingkungannya dan bertamasya dengan penuh ceria.


Sampai pada akhirnya, Gaby ingin sekolah umum, bukan lagi home schooling, dimana dia akan banyak teman dan mengenal dunia luar. Sayangnya, bayangan indah Gaby itu, jauh dari realita yang ada saat ini.


"Mas Al masih dengarin aku nggak?"


Al menjawab "Iya."


"Aku sebenarnya tidak menyesal menikah sama Mas Al. Aku cuma butuh waktu untuk membiasakan diri. Makanya, aku menjauh dari Mas Al."


Al tersenyum, ia berkata "Aku tahu."


"Mas Al tahu?"


"Emh, ya aku paham. Aku juga tidak memaksa kamu untuk jadi seorang istri yang bisa bersikap layaknya seorang istri pada umumnya."


Gaby perlahan tersenyum dan meraih tangan suaminya. "Aku mau kita pacaran."


Al berkata "Ide yang bagus."


"Beneran? Mas Al nggak keberatan?" Gaby yang menyakinkan dirinya, dan tampak melihat ke wajah suaminya.


"Aku sama sekali tidak keberatan. Selama kamu baik-baik saja. Kamu bisa ceria dan nggak menangis seperti ini." Al yang mengusap air mata istrinya dan Gaby tersenyum.


"Mas Al memang suami yang pengertian." Gaby memeluknya dan Al merasakan kegemasan istrinya.


"Tapi kamu harus nurut sama aku."


"Iya. Aku akan patuh sama suamiku." Gaby dengan suara centilnya.


Al yang tampak berdiri dan Gaby masih mendekap perut batako itu. Otot kekar itu Gaby rasakan dalam dekapannya.


"Mas Al, jangan lagi bantuin gadis lain. Aku nggak suka."


"Iya."


"Mas Al sendiri yang bilang, aku harus jadi istri pencemburu."


Al yang ingin tertawa tapi hanya bisa menahannya dalam hati.


"Pokoknya, selama kita pacaran. Aku nggak mau ada cewek yang ganggu kita. Termasuk duo serigala."


Aauuu,, Darra & Cantika maksudnya.


"Iya gadis bandelku." Tangan Al yang nakal juga memilin bibir imut Gaby dengan gemasnya.


"Aaa... Pokoknya aku mau kita berdua. Aku juga nggak mau, kalau kita jalan berdua Kak Zoe ngawal kita."


Al jadinya tertawa karena rengekan itu, dan Zoe memang tampak mengamati taman sekitar.


Mereka berdua berada di taman depan rumah Gaby. Setelah kejadian minggu lalu, bodyguard cantiknya tetap siaga dan selalu waspada, ketika berada di rumah itu.


Tampak duduk di balkon dan ia memegang ponsel. Sambil bermain game dan mengamati lingkungan sekitarnya.


Al bertanya "Malam ini aku gimana? Diusir lagi?"


"Tapi aku suami kamu!" Batinnya yang menekankan kalau tidak ingin tinggal terpisah.


Al lalu bertanya "Kalau aku kangen gimana?"


"Mas Al bisa telephone aku."


Al menghela nafasnya pelan dan ingin sekali mengatakan "Aku nggak bisa tidur tanpa kamu."


"Gaby, sampai kapan kita akan begini?"


"Emh, bisa jadi sampai aku lulus SMA."


Tuuing!!


Masih sekitar 4 bulan lagi. Mana bisa suami istri tinggal terpisah dan harus pisah ranjang. Gaby ini ada-ada saja.


"Apa Mas Al keberatan??!" Gaby berdiri dan memegangi lengan kanan Al.


Tampak wajah tidak rela, tapi Al kembali mengingat akan perkataan dokter. Agar menuruti semua permintaan Gaby. Hanya untuk sementara waktu, tidak masalah yang penting istrinya baik-baik saja.


"Mas Al. Gimana??"


"Oke. Aku tidak masalah."


"Beneran?"


"Iya."


"Mas Al harus janji dulu sama aku."


Al yang memalingkan wajahnya dan Gaby mengejar wajahnya. Menatapnya dan berjinjit untuk meraih wajah sang suami.


Gaby yang meraih wajah itu, lalu ia mengecup bibir manis suaminya.


"Mas Al jangan ngambek. Ini cuma sementara."


"Tapi aku."


Kembali mengecup bibir manis itu, dan membuat Al semakin tak berdaya.


"Aku juga kangen. Tapi, ini demi kita berdua."


Al mengangguk, lalu bertanya "Terus, kalau kita di sekolah??"


"Selama kita di sekolah, ya biasa aja. Lagian, aku terkenal tunangannya Pak Al." Ucap Gaby dengan gemas.


"Oke." Semburat wajah yang tidak rela, namun harus mengalah.


Gaby berkata "Mas Al, sudah malam."


"Iya. Kamu masuk sana. Zoe dari tadi sudah mengawasi kita."


"Mas Al cepat pulang. Jangan mampir kemana-mana. Terus, cepat tidur. Jangan begadang lagi. Oke."


"Kamu tahu dari mana aku begadang?"


"Mama tadi cerita sama aku."


"Ya sudah, sana masuk. Kamu juga cepat tidur. Jangan lupa, obati luka kamu."


"Siap!"


Gaby tidak lupa mencium tangan suaminya dan ia berpamitan untuk masuk ke rumah.


Al yang mengecup keningnya dan cukup lama. Gaby bisa merasakan kerinduan suaminya ini.


"Mas Al, maafin aku." Batin Gaby.


Gaby hanya ingin menyelesaikan sekolahnya lebih dulu. Dia telah berjanji akan menjadi istri sepenuhnya, bila sudah lulus sekolahnya.


"Gaby, aku cinta kamu."


"Aku juga."


Kedua insan yang dilanda asmara. Cinta yang telah bersemi dari keduanya. Rona wajah berseri dan akan berpisah. Meski hanya terpisah jarak 400 meter. Tapi, Al sudah mulai terbiasa saat mereka tidur di satu selimut.


Sesampainya di rumah, Gaby yang ceria dan ia mengirim pesan kepada sang suami.


[Mas Al, aku cinta kamu.]


Al yang hendak melajukan motor gagahnya, membuka pesan itu.


Melihat ke arah rumah Gaby.


"Aku akan menjaga cinta kita."


Al dengan senyuman, lantas pulang ke rumahnya.


Menjaga cinta yang telah terjalin. Bagi kedua insan ini, menjaga cinta bukan hal yang mudah. Berbagai cobaan selalu datang menerjang. Belum lagi, masa kasmaran membuat mereka semakin ingin dekat satu sama lainnya.


3 bulan kemudian.


"Aku mimpi?!" Gaby merasa syok melihat alat yang dipegangnya.


Tertera tanda + di alat itu. Gaby yang mencubit pipinya sendiri "Mas Al nakal."


Al yang masih tertidur pulas, mendengar rengekan manja dari kamar mandi.


"Mas Al!!"


"Sayang, kamu kenapa??"


Tidak mudah bagi seorang suami. Akhir-akhir ini, istrinya sering merengek tidak jelas. Begini salah dan begitu salah.


"Sabar, aku harus sabar." Al yang bergeming dan masih memeluk guling di atas tempat tidur.


"Aaa.. Mas Al nakal. Aku harus gimana?"


"Besok aku ujian." Menangis tersedu-sedu.


Ya begitulah, dikala asmara menerjang, perasaan rindu tidak bisa mengendalikan diri.