ABYAZ

ABYAZ
Bab. 65. Ternyata Ada Kemiripan



Sudah ada modal di tangan, sekitar 1 M. Tetapi, Starla kembali merajuk, dan dia tidak jadi membeli lahan. Ada bangunan pabrik yang masih berdiri kokoh, dan tinggal merenovasi saja.


"Kamu ini."


"Beby, itu tempatnya sangat strategis."


Starla sangat yakin akan pilihannya itu. Membuat Beby jadi kebingungan sendiri dan harus mencari tambahan modal lagi.


"Terus, apa lagi yang kita butuhkan?"


"Kantor, ijin usaha, karyawan dan modal untuk produk kita. Apalagi, kita harus menjual produk kita sendiri secara online, butuh model juga sayang."


"Benar. Masih banyak uang yang harus kita butuhkan."


"Aku heran sama kamu. Kamu memang beneran nggak bisa merinci keuangan?"


Beby yang tersenyum dengan PD berkata "Emh, ya tahu kalau cuma ngitung duit. Apalagi gepokan."


"Bukan ngitung duit neng geulis. Ini buat modal. Ngitung rinciannya."


"Udah, kamu tinggal bilang aja butuh berapa. Aku coba ke rumah Nenek."


"Kamu yakin, mau kesana?"


"Yakin. 100 M aja bisa. Masak cuma 1 M nggak bisa."


"Oke. Aku percayakan sama kamu."


Beby mengalihkan pembicaraan, "Kak Bintang gimana? Udah luluh belum?"


"Dia sibuk di JS."


"Owh, bagus kalau begitu. Aku pikir, dia akan menghalangi kamu."


"Sudah, jangan bahas suamiku. Yang penting saat ini. Kita harus gercep."


"Siap."


Akhirnya, setelah pembahasan soal dana yang kurang itu. Beby memberanikan diri datang ke rumah sang Nenek kandung.


Duduk di ruang khusus, dan hanya saling menatap. Sudah 15 menit berlalu, setelah kedatangannya ke rumah itu. Beby jadi sulit untuk mengucap kata. Apalagi, meminta uang untuk modal usahanya.


"Kamu mau buka usaha?" Sang Nenek yang lebih dulu berkata, karena sudah tahu dari mata-mata yang mengawasi cucunya.


"Nenek ternyata sudah tahu."


"Aku tidak punya duit."


Beby yang terdiam sesaat dan menatap wajah sang Nenek. Merasa heran dengan sifat Nenek kandungnya, ternyata sama miripnya dengan dirinya.


"Aku tidak sedang meminta uang sama Nenek."


"Terus, kenapa datang kemari?"


Beby menjawab dengan suara pelan "Aku mau minta dibuatin bakpao."


Sang Nenek berkata "Aku tidak punya bahannya."


"Aku akan membelanjakannya."


"Aku sedang malas memasak."


Beby dengan wajah imut berkata "Kalau begitu, berikan aku resep rahasia Nenek."


Sang Nenek bangkit dari kursinya dan kucing hitam rebahan di sebelah kursi itu, tampak memainkan ekornya.


Beby menyapa kucing, "Hallo, kamu jangan mendekati aku ya. Kita harus terus jaga jarak."


Meoong


"Kamu mengerti?"


Meeooong!


"Pinter. Kamu jangan mendekat."


Semakin berucap, si meong tampan malah semakin aktif dan melompat ke arahnya. Beby yang ketakutan, dan ia berlari menjauh.


"Hust, jangan dekat-dekat."


Sang Nenek kembali masuk ke ruang gelapnya dan memanggil si hitam manis kesayangannya.


"Kamu ini, sama kucing saja takut."


"Aku memang nggak suka kucing."


"Duduklah, kucingku tidak akan melukai kamu."


"Tapi aku masih takut." Beby yang mematung di sisi sudut ruangan khusus itu. Menatap ke arah si hitam manis.


Meeeong!


"Ini. Yang kamu minta."


Beby berjalan mendekat, tapi tatapan matanya masih tertuju pada kucing hitam itu.


"Nenek, aku jadi takut kemari lagi."


"Kalau kamu kesini, sana di pavilion belakang. Hitamku, tidak akan kesana."


"Iya, aku juga baru pertama kesini. Pelayan tadi mengantar aku kemari."


Beby melihat, cek di atas meja dan tidak ada resep bakpaonya. Sang Nenek berkata "Tinggal itu uangku."


"Aku tadi bilang, tidak minta uang."


"Aku tidak bisa menulis resep. Itu aku ambil uangku dari Pamanmu Shin."


"Paman di rumah?"


"Iya. Tapi dia sibuk memasak untukmu."


"Memasak?"


"Iya, putraku hebat. Jago memasak. Tidak seperti kamu."


Beby menyeletuk, "Aku jadi penasaran, sehebat apa rasa masakan Paman."


Kedua orang ini, sama persisnya tidak ada yang mau mengalah.


Selang beberapa menit kemudian, waktunya untuk makan siang bersama.


Beby jadi merasakan masakan dari sang koki handal, yang tidak lain adalah sang Paman, keponakan dari Kakek kandungnya.


"Benar, kata Nenek. Masakan Paman juara."


Sang Nenek yang sudah selesai makan berkata "Kamu jangan cuma bisa makan. Kamu harus bisa masak. Mengenyangkan perut suami itu berpahala."


"Iya, nanti aku akan belajar sama Paman."


"Shin-ping sibuk kerja."


Beby menatap wajah sang Paman, "Paman, tolong ajari aku memasak."


"Nanti, kalau Paman ada waktu. Kamu datang kemari. Kita bisa masak bareng. Paman juga belajar dari Nenek kamu."


Beby menatap sang Nenek yang sudah memalingkan wajahnya, seolah tidak mau dibenani oleh cucu manja ini.


"Iya, aku akan sering kemari. Nenek harus mengajari aku memasak."


"Aku tidak mau."


"Nenek."


"Nenek."


Sang Nenek pergi meninggalkan ruang makan dan para pelayan masih setia menemani tamu ini. Paman Shin-ping sudah tampak selesai makan.


"Beby, Nenek kamu memang begitu. Kamu harus sering-sering datang kemari."


"Baik Paman."


"Paman masih ada urusan. Kamu lanjutkan saja makannya."


"Iya Paman."


Beby merasa tidak ada kecanggungan terhadap keluarga Neneknya ini. Hanya merasa heran, kenapa sang Nenek selalu membuatnya jadi jengkel.


Setelah beberapa saat kemudian, Beby sudah masuk ke sebuah ruangan. Para pelayan itu yang mengantarkan. Ruang gelap dan hanya berteman seekor kucing.


"Nenek tidur?"


Duduk di kursi goyang dan sang kucing setia menemani di sebuah bantal.


"Ada apa?"


"Aku mau pamit. Aku mau pulang."


"Iya."


"Nenek tidak mencegahku?"


"Kamu sendiri yang bilang mau pulang. Untuk apa aku mencegahmu."


"Nenek. Terima kasih."


Beby yang hendak berjalan pergi, sang Nenek berkata "Seringlah datang kemari. Selama aku tinggal di kota ini."


Beby membalikan badannya lalu bertanya "Memangnya nenek mau kemana?"


"Aku pulang ke rumahku."


"Bukannya ini rumah Nenek?"


"Ini rumah Shin."


Beby kembali bertanya "Rumah Nenek dimana?"


"Kamu tidak perlu tahu."


"Katanya, aku ini cucunya Nenek. Kenapa aku tidak boleh tahu."


"Sana, pulang. Aku mau tidur siang."


"Iya."



Beby pulang dalam perasaan tenang. Sang Nenek melihatnya dengan perasaan nyaman. Kian hari, sudah semakin mengenal sikap cucunya ini. Memang sama persis seperti dirinya, yang pandai melawan perkataan orang tua.


Flashback Off


Kembali pada Beby dengan semangat baru yang menghampiri dan sang suami tampan ini sangat mencintai.


"Sayang, aku pikir semua akan berjalan lancar. Ternyata memulai sebuah bisnis itu tidak mudah."


"Aku tetap bangga."


"Aku pikir akan bisa memasarkan sendiri produk fashionku. Tidak tahunya, respon dan peminat sangat minim. Akhirnya, setelah hitungan tahun, baru bisa mendapatkan hasilnya."


Arjuna yang saat ini masih mengendarai mobil, merasa gemas kepada istrinya ini.


"Aku dulu berfikir, punya bisnis sendiri dan tidak akan menyusahkan orang tua. Tidak tahunya, aku membenani para orang tua, bukan hanya Papa Mama. Tapi semua orang tua dan keluargaku, termasuk kamu."


"Aku?"


"Iya, kamu suamiku. Kamu keluargaku yang sangat aku cintai."


Arjuna meraih kembali tangan istrinya dan mengecupnya "Tapi, aku tetap bangga sama kamu. Aku pikir, Bayiku akan menangis terus, selama aku pergi jauh darinya."


"Benar."


"Aku minta maaf."


"Sudah, jangan bilang maaf terus. Kita nggak lagi lebaran."


"Iya, dua kali lebaran untuk kita berdua, aku nggak ada."


"Kamu, hampir mirip Bang Toyib."


Arjuna jadi tertawa gemas, ternyata dirinya disamakan dengan lagu yang pernah hits pada jamannya.


"Sayang, sayang."


"Aku ambil cuti 2 minggu. Kita bisa sering bersama."


"Aku siap melayani istriku tercinta."


"Idih, ngomongnya."


"Memang benar sayang. Aku juga belum ada pekerjaannya. Aku bisa menemani kamu."


Beby yang menatap ke arah jalanan, padahal masih dalam kemacetan, yang biasanya merasa jenuh dan kesal. Saat ini, dirinya malah ingin berlama-lama di dalam mobil.



Arjuna tidak henti menggoda istrinya dan Beby juga dengan rasa bahagia, menerima segala gombalan dengan kata mesra.


Setelah tiba di rumah, sudah terdengar adzan maghrib. Arjuna melihat sosok yang duduk di teras rumah.


"Itu, pengasuhmu sudah menunggu."


Arjuna tersenyum, dan segera keluar dari mobil. Bersamaan dengan Beby turun dari mobil.


"Arjuna."


"Hallo, Jimmy."


Jimmy berlari mendekat dan sudah tampak menangis. Mereka yang bertemu dan saling memeluk.


"Aku pikir kamu tidak akan kembali."


"Aku punya rumah, masak iya aku nggak pulang."


"Aku sangat merindukanmu."


"Aku juga."


Mereka saling menatap dan Jimmy masih saja menangis. Arjuna tampak tersenyum melihat Jimmy.


"Sudah nangisnya, ayo masuk." Ucap Arjuna kepada Jimmy yang tampak menyeka air mata.


Beby sudah masuk ke rumah lebih dulu dan duduk di sebuah sofa. Arjuna juga mengajak Jimmy untuk duduk di sofa itu.


"Aku dapat kabar. Langsung kemari."


"Siapa yang kasih kabar sama kamu?"


"Pakde kamu."


"Owh."


Beby menatap Jimmy yang menangis. "Jimmy, jangan nangis lagi."


"Aku nangis bahagia."