
Terlihat raut wajah senjanya. Kulitnya yang semakin keriput, tampak uban yang memutih, telah menggantikan rambut hitamnya.
Sang istri yang tampak duduk di sampingnya, membuka album foto kenangan mereka dan juga foto anak serta para cucunya.
Duduk di sofa, di rumah masa kecil Mama Britney. Meski sekarang tidak hanya tinggal berdua saja. Namun, perasaannya terasa begitu kesepian. Merasa hanya ada mereka berdua dan tidak lagi mendengar suara anak, serta para cucunya.
Perasaannya dalam pikiran sepi, kala tidak ada suara yang memanggilnya. "Mama dan Papa."
Tidak terdengar lagi suara tangisan dan rengekan para cucu-cucunya. Sunyi, hening, dan sangat kesepian. Meskipun, itu hanya perasaan dari kedua orang tua ini.
Meraba wajah yang ada pada album photo dengan sepenuh hati, melihat lagi gambar-gambar yang penuh cerita.
Tangan yang renta itu, "Cinta."
Masa muda mereka berdua, masa dimana telah menjalani hidup rumah tangga. Lalu, memiliki anak-anak yang sangat mereka cintai. Kemudian, ada cucu-cucu yang menggemaskan.
"Cucu-cucuku."
Ada yang memanggilnya Mbah dan Eyang Uti. Ada juga yang memanggilnya Kakek dan Nenek, lalu ada pula yang memanggilnya Oma dan Opa.
Usianya yang semakin senja dan tinggal menanti panggilan untuk kembali menghadap yang Esa.
Papa Pras dan Mama Britney, setelah beberapa tahun yang lalu. Memutuskan untuk tinggal di rumah masa kecilnya Mama Britney. Tinggal bersama keluarga kecil Binar dan seorang cucu tampan.
Para anak-anak, sudah merasa kalah. Mereka sempat berebut untuk merawat dan menjaga kedua orang tuanya. Tapi, kedua orang tua itu, memutuskan untuk tetap tinggal di rumah Pondok Indah. Binar dan istrinya juga tidak keberatan. Bahkan, anak angkat Binar, juga sangat menyayangi Kakek dan Nenek, bahkan lebih dekat dengan Kakek Pras, ketimbang Kakek Lingga.
Terkadang, sikap anak bisa berubah. Tergantung apa yang telah ditanam kedua orang tuanya.
Papa Pras sepenuh hati menyayangi Binar, seperti anak kandungnya sendiri. Pada akhirnya, Binar merasakan kasih sayang orang tua, bukan lagi tekanan yang mengharuskan dia begini dan begitu.
Binar telah membina keluarga kecilnya dengan kebahagiaan. Serta merawat kedua orang tua ini, dengan sepenuh hati.
"Oma, Opa." Ia kembali.
Flashback On
"Cinta."
Abyaz berkata "Cinta ini, sebuah rasa yang susah diungkapkan dengan kata."
Damar mengelus rambutnya, dengan tatapan yang menawan "Cinta kita, telah hadir dalam hidup kita. Penuh suka dan canda tawa. Cinta kita, telah melengkapi kehidupan kita."
Mereka berdua telah bersama dan tampak menggendong putrinya.
satu
dua
tiga
Cekreek!
Foto bertiga dalam suasana yang bahagia. Dilanjutkan foto bersama kedua anak kembarnya. Keluarga kecilnya terlihat harmonis.
Gaby dan Alvaro tidak kalah dengan pasangan itu, kebahagiaan mereka juga kian bertambah, setelah kelahiran bayi kembar mereka.
"Cantiknya Ayah." Saat menggedong Sasya.
Gaby yang tersenyum, lalu berkata "Emh, Sasya terus. Sesya juga dong Ayah."
"Sini Sesya, gantian di gendong Ayah." Ucap sang Ayah.
Akhirnya bergantian menggendong putri kembarnya.
Owweeek!!
Oweeek!!
"Emm, Sesya nggak mau lagi sama Ayah. Ya udah, Sesya sama Bunda ya nak. Sayangnya Bunda. Kita foto dulu yuk."
Mereka dengan segera berfoto, tampak gaya manisnya. Senyuman ceria dengan busana nuansa putih.
Arjuna yang datang mendekat, bersama Mbah Pras, karena dari tadi berlarian kesana kemari.
Sampai Mbah Pras encok pinggang saat hendak menggendongnya. Arjuna yang tumbuh menjadi anak super aktif dan tidak lelah berlari-larian.
Anak usia 4 tahun, yang mengerti akan adik kembarnya. Ia tampak menunjuk dengan jarinya.
"Sesya. Sasya." Meski suaranya masih gemesin, tapi dia tahu mana yang Sesya dan mana yang Sasya.
"Sesya, Sasya. Pinter banget jagoannya Bunda." Gaby yang gemas lalu menciumnya.
Alvaro berkata "Arjuna tahu, pasti Sesya maunya sama Bunda. Bukan Ayah."
Gaby mencubit gemas pipi suaminya, "Emmh, Ayah juga gemesin yak."
Cekreek!
Sayangnya mereka terpotret oleh sang photografer.
"Bang tunggu dulu. Kita belum siap gaya."
"Tapi bagus kok Buk."
Keluarga kecil Alvaro lantas mengambil photo bersama. Arjuna memang nggak bisa diem. Ada saja tingkah gemas yang bikin mereka semua tertawa.
Kemudian, berganti keluarga Alishba. Sang suami juga tampak menggendong bayi perempuan. Bayinya berumur 6 bulan, tampak memakai bandana cantik. Owen ternyata tidak jadi anak tunggal. Owen juga sudah menjadi sosok bujang yang sangat tampan.
"Gwen, lihat ke depan sayang." Alishba sambil memegangi tangan putrinya.
Rentang jarak usia Owen dan Gwen terpaut begitu jauh. Tapi, Owen sangat menyayangi adiknya. Setelah pulang kuliah, bukannya ada kegiatan lain. Tapi, dia lebih suka menggendong adik bayi.
"Papa, gantian dong. Abang juga mau gendong Gwen."
Sang dokter ini, juga gemas dengan putrinya, selalu menggendongnya saja ketika di rumah dan sering berebut dengan Abang Owen.
"Oke. Kamu sekarang gendong Gwen. Papa sama Mama, posenya di belakang kalian."
"Abang maunya foto berdua."
"Iya, tapi nanti. Kita harus ada foto berempat."
"Oke Papa."
Keluarga kecil Alihsba tampak begitu harmonis. Mereka tengah berfoto keluarga di depan background warna cerah, secerah senyuman mereka semua.
Setelah itu, keluarga besar Mbah Pras akan berfoto bersama. Papa Pras melihat ke sekitar ruangan itu. Tempat dimana acara berfoto dengan keluarga besarnya digelar.
"Kita tunggu Binar dulu."
"Papa, ngapain kita tunggu Binar?" Damar yang masih saja begitu kepada Binar.
Sosok tampan nan rupawan, tampak menggandeng anak laki-laki gendut, disebelahnya juga ada Stella.
"Papa, maaf. Kita datang terlambat."
"Iya, aku juga panggil Papa. Papa tinggal di rumahku. Jadi, Pakde Pras juga jadi Papaku."
"Kapan kamu mulai panggil Papa?"
"Hari ini sampai seterusnya." Jawab Binar, yang selalu memasi Damar, sampai dirinya tersenyum gemas.
"Papa, kenapa mau aja di panggil Papa sama Binar."
"Jangan ribut lagi. Kalian semua. Anak-anak Papa." Papa yang menengahi.
Damar masih tidak terima, "Papa, kenapa beda kasih sama Damar?"
"Papa nggak pilih kasih sama kamu. Makanya, ini jalan tengahnya. Papa nggak tinggal di rumah Alishba, nggak sama Abyaz dan juga Alvaro. Papa maunya tinggal sama Binar. Demi Mama dan juga kalian semua. Papa sudah memutuskan untuk menetap di Pondok Indah bersama Binar."
Mama Britney berkata. "Damar sayang, kamu mau mengerti Mama sama Papa?"
"Iya Mama. Damar mengerti. Damar bisa mengalah sama Binar, bukan berarti Damar kalah."
"Sayang, udah dong. Malu sama anak-anak."
"Iya sayang."
Stella yang tersenyum, lalu mendekat dan mencium tangan Papa Pras, ia berkata "Papa terima kasih, sudah mau terima Stella."
"Ini apa lagi?" Damar yang tidak tahu menahu akan masalah sang Kakak.
"Damar. Kemarin pagi. Papa telah menikahkan Kakak kamu sama Binar."
"Papa. Kenapa Damar sampai nggak tahu berita sepenting ini??"
Abyaz yang menggeleng saja, ia berkata "Mas, aku udah cerita sama kamu. Kamu saja yang cuma fokus sama kerjaan kamu."
"Emang iya? Kapan bilangnya?"
"Semalam aku udah cerita, gitu aja dilupain."
"Sayang, aku cuma bercanda."
Gaby menyela, "Mas Damar kayaknya kurang piknik. Bercandanya jadi kriuk."
Alvaro menambahkan lagi, "Kak Abyaz, hati-hati sama Mas Damar. Kayaknya dia udah ngebet pengen bayi kembar lagi."
"Emh, nggak mau. Ini, putrinya aja nggak mau nemplok sama Papanya. Aku yang jadinya capek."
Damar berkata "Sayang, jangan bilang gitu dong. Kasian putri kecil kita."
"Bukan begitu maksudku Mas. Habisnya, kamu sibuk kerja terus. Sampai anak kita nggak bisa dekat sama kamu."
Yang lainnya, hanya tersenyum saja. Mereka lalu berpose.
Cekreek!!
Mereka akhirnya berfoto bersama dan anak angkat Binar juga tampak berfoto bersama. Keluarga yang damai dan tentram. Mereka tampak harmonis.
Keluarga Lingga juga sedang berlibur bersama, para cucu dari si kembar Ayu dan Darra, tampak sedang bermain istana pasir dengan orang tuannya. Kedua saudara kembar itu, hamil bersamaan, dan lahirnya juga hanya selisih hitungan hari.
Akhirnya, Mommy Vava memiliki cucu dari keturunannya. Cucunya laki-laki semua, dan baru berusia 1 tahun. Sang Kakek dan Nenek ini, akhirnya bisa bermain dengan kedua cucunya.
"Ziel, Ryan, sini sayang." Sang Nenek begitu bersemangat dan sangat senang sekali.
Sedangkan Eyang Limar, saat ini sedang menemani Noah yang berlatih kuda, di pacuan kuda miliknya. Sang Eyang ini selalu bersama cucu tunggalnya.
Presdir Viral, mulai sibuk dengan segudang pekerjaannya. Istrinya juga telah menemaninya, di setiap pertemuan penting.
Ghani dan Tata, bulan lalu menikah. Alvaro dan Gaby sampai menyiapkan hadiah khusus untuk mereka. Sampai-sampai mereka syok saat melihatnya. "Testpack."
Setelah berfoto keluarga.
Binar dan Damar tampak bersalaman. "Gimana, kalau kita bikin kesepakatan. Demi keluarga kita."
Damar yang enggan tapi tetap ingin tahu. "Apa?"
"Perjodohan, anakku dan putri kecilmu."
"Putriku masih kecil. Mikirnya jangan kejauhan."
"Aku sudah menawarkan diri."
"Lihat nanti."
Papa Pras menyela obrolan itu, "Nggak ada perjodohan. Kita keluarga tetap keluarga. Biar mereka para cucuku, mencari jodohnya sendiri."
"Setuju dengan Papa." Alvaro yang ikut nimbrung.
Dokter tampan berkata "Kita saja tidak ada yang dijodohkan."
"Binar, aku iparmu. Kita keluarga."
Flashback Off
Saat ini, waktu sudah senja. Beberapa pelayan telah mendekat. Kedua orang tua itu, tampak berpegangan tangan.
"Opa." Tangisnya, bersimpuh di kaki kakek senja ini.
Suara yang terdengar sendu, "Oma."
...TAMAT....
Untuk Sesion Gaby dan Alvaro sudah END ya teman-teman semuanya. Nanti akan dilanjut dengan cerita para cucunya Mbah Pras. 🤗
Coba kalian tebak, siapa yang menangis itu? Tulis, di kolom komentar ya.
Love love seabrek 🤗
Arjuna,,
Yuk, tebak! Visual siapa ya?
Yang jelas, othor cuma bisa menghalu dan tidak pandai menulisnya.
Mohon pengertiannya ya. Ini hanya sekedar hiburan buat othor gabut. 🤗
Selesai sudah season yang ini. Masih berlanjut hubungan rumit lainnya.
Tapi.
Hanya kisah para cucu kesayangan. Mungkin ada kaitannya dengan anaknya Papa Pras. Apalagi, masih ada yang berhubungan manis pahit.
Terima kasih. Sampai jumpa di kisah selanjutnya. See You. 😚