
Malam penuh pesona dengan perasaan rindu mendalam. Keduanya yang saling menatap dengan gejolak dahaga. Rasa itu sangat dinantikan oleh keduanya.
Bibir tipis nan manis telah disentuh jari jemari pria menawan nan rupawan itu.
"Beby, aku mecintaimu."
Rona wajah itu dan hanya terdiam.
Saat keduanya menarik selimut tebal dan suara ombak berdeburan telah menemani mereka yang saling mengobati kerinduan.
"Arjuna."
Beby yang meneteskan air matanya dan perlahan kedua tangannya melingkari leher Arjuna.
"Aku sangat mencintai kamu."
Arjuna mengecup kedua mata itu dengan lembut, lalu berkata "Aku tidak ingin melihatmu menangis. Aku ingin kita bahagia."
"Arjuna."
Kecupan manis dari ubun-ubun perlahan turun di kening istrinya. Kecupan manis dengan penuh rasa yang ada dan itu ia lakukan dengan sangat lama.
Beralih ke hidung dan sampai ke bibir tipis nan menggoda. Kedunya saling berciumannya mesra dan membawa mereka pada gairah manja.
Sentuhan demi sentuhan dan kecupan manis, telah membawa keduanya untuk segera memulai peraduan malam.
Bercumbu dan merayu dengan suara lembut mendesah. Arjuna yang siap menuntun dalam dekapan dan tidak akan melepaskan istrinya.
Sensor
Setelah malam itu, selama beberapa hari di Pulau Sebinar. Semakin hari kian intens dan menjadi ketagihan, tanpa ada kenal waktu siang, pagi, dan malam. Bahkan, saat senja sore, mereka juga bermesran dengan ciuman ala mereka berdua. Bahkan, Arjuna membiarkan istrinya berpakaian sexy.
Mereka berdua, benar-benar menikmati hutang bulan madunya. Menunggu 2 tahun dan akhirnya, bulan madu ala mereka sudah membawa asmara penuh mesra.
"Sayang."
"Iya."
"Kamu bahagia?"
"Iya, aku bahagia."
Arjuna yang memeluknya mesra dan tidak henti menciumi wajah cantik istrinya.
Menatap senja sore dan hanya berdua. Serasa dunia milik mereka berdua. Tidak ada orang yang mengintai, tidak ada orang yang datang mendekat. Berciuman di alam terbuka dan melepas rasa cinta yang ada.
Keduanya saling menatap lembut dan mengungkap perasaan mereka.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu."
"Jangan tinggalin aku lagi."
"Kamu mau ikut bersamaku?"
"Kemana?"
"Ke Jerman."
"Aku tidak mau."
"Tadi bilangnya begitu."
"Cepatlah pulang."
Seperti itulah singkat cerita, sewaktu mereka tanam benih di Pulau Sebinar. Romansa dewasa, dengan manis dan mesra. Meski akhirnya, terpisah di Bandara.
Mereka berdua, mencoba untuk saling memahami satu sama lain. Tidak ada lagi penyesalan, dan tidak ada lagi rasa yang tertinggal. Beby yang akan setia menunggu dan Arjuna siap menanti panggilan untuk segera pulang.
Kembali pada saat ini. Arjuna yang sudah kembali dan Beby menerima dekapan Arjuna dengan perasaan rindu yang lama menunggu.
"Kamu masih ingat pulang."
"Aku sebenarnya sudah lama ingin pulang. Tapi aku masih takut sama Bunda."
"Gimana kuliah kamu?"
"Sudah selesai."
"Bohong."
"Aku serius. Waktu di Sebinar, aku sudah bilang sama kamu. Aku baru selesai tesis."
Beby menariknya untuk duduk di sofa dan mengajak menonton film bersama.
"Apa aku harus menonton filmku?"
"Anak kamu menyukai kamu yang ada disitu. Kamu, Papanya. Harus bisa memenuhi keinginannya."
"Terus, kamu suka aku yang gimana?"
"Aku tetap suka kamu yang begini adanya. Kalau di film itu hanya peran."
"Memangnya, kamu tahu. Aku akting apa tidak?"
"Ya aku tahu. Aku istri kamu. Aku jelas merasakannya. Kalau kamu akting aku juga sangat tahu."
Arjuna yang tidak lagi menahan diri, ia mencium bibir bawel istrinya. Perlahan ciuman itu terlepas dan Beby jadi diam dengan tatapan manis.
"Baik, aku akan selalu ada disini. Karena kamu suka aku yang begini."
"Tapi, aku ngidam kamu main film lagi. Nanti anak kita jadi ileran gimana?"
"Kamu ingin aku syuting lagi?"
Beby dengan bibir membulat imut dan matanya tampak berkedip cantik. Dia seolah memohon kepada sang suami agar menuruti semua keinginannya.
"Tapi, aku harus kerja."
"Kerja?"
"Iya."
"Dimana?"
"Bantu Pakde Viral. Di Mahatma."
"Uuh, padahal aku beneran kepingin lihat kamu syuting."
"Aku akan pikirkan dulu."
"Buat anak, masih pakai mikir?"
"Sayang, kenapa kalian semua begitu sama aku. Bunda, kamu dan anak kita."
"Semoga saja anak kamu perempuan."
"Kamu ingin anak perempuan?"
"Iya, biar kamu dikerubutin perempuan."
"Kamu suka aku dikerubutin perempuan?"
"Bukan begitu. Maksud aku, Bunda, aku dan anak kamu. Yang akan selalu ada dalam kehidupanmu."
"Aku pastinya akan lebih takut."
"Benar. Kamu harus takut sama anak kamu. Makanya, kamu harus kembali syuting film."
"Coba rayu aku."
"Aaa.. Arjuna."
"Aku mau istirahat."
Arjuna yang beranjak pergi ke kamar dan ia melihat ke sekitar ruangan itu. Sama seperti foto-foto yang dikirim oleh Jimmy untuknya.
Setelah berada di dalam kamar. Beby yang menatapnya dari sisi pintu kamar, melihat kalau sang suami sudah tengkurap di atas ranjang.
"Akhirnya, kamu pulang."
Beby yang mendekat berusaha untuk merayu suaminya. "Arjuna, aku lagi ngidam."
"Aku tahu."
Beby yang menuju ke atas ranjang, "Sayang, kepalaku pusing banget ini."
"Jangan berakting di depanku."
"Sayang, anak kamu ingin sesuatu."
"Kamu tidak perlu akting."
"Sayang, coba pegang perutku. Anak kamu kangen."
Tangan Arjuna meraih perut yang masih tampak datar, sayangnya Arjuna tetap tengkurap dan tidak menatap ke wajah istrinya.
"Kenapa tidak mempan?"
"Sayang, kamu beneran nggak mau syuting lagi?"
"Sayang. Aku baru tiba, masa iya aku harus langsung syuting."
"Jadi kamu mau?"
"Lihat nanti sayang. Aku juga harus ke Mahatma."
"Terus saja begitu. Padahal kamu udah ninggalin aku."
Beby yang cemberut dan memeluk guling. Tangan Arjuna meraihnya dalam dekapannya. Arjuna merasa kalau sang istri ini memang sudah berubah manja.
"Sayang. Aku tahu. Kamu tidak ngidam."
"Aku ngidam."
"Kamu hanya kasian sama aku."
"Beneran, aku ngidam."
"Bunda, Papi, semua keluarga pasti akan menuruti keinginan kamu. Tapi, kalian semua tidak mengerti persaanku."
"Arjuna. Aku bener-benar ngidam kamu malah ngomong begitu." Beby yang kesal dan suaminya memang tidak pengertian.
Beby yang menangis dan sangat terlihat wajah kekanakan. Arjuna yang masih mendekapnya dalam pelukan. Hanya bisa terdiam, kalau hanya pekerjaan kantor dirinya sudah belajar untuk menyesuaikan diri. Tapi kalau untuk peran dalam film. Butuh perasaan dan itu sangat sulit dia lakukan dalam keadaan ini.
Menyatukan chemistry dengan lawan main, akan sulit baginya. Apalagi, hati dan perasaan itu sudah terpenuhi untuk seorang Beby Ayazma. Mengubah rasa meski hanya sebuah peran. Tapi, sudah lama sekali dirinya tidak hadir dalam dunia hiburan. Imeg lama yang terkubur dan rasanya sangat sulit untuk dikembalikan.
"Sayang. Aku juga butuh waktu. Apalagi sebuah film. Aku harus menemukan sebuah rasa, yang akan aku bawa ke dalam peran. Aku pasti akan kesulitan."
"Kamu benar."
"Kamu mau mengerti aku?"
"Iya."
"Sayang, jangan menangis lagi."
Setelah malam dalam dekapan hangat, mereka berdua sudah tampak terlelap. Dua pengawal stay di depan rumah mereka.
"Apa Tuan Muda sudah kembali?" Seorang pengawal datang dan dari dulu dia yang mengawal Arjuna. Tampak usia 50an dan sekarang menjadi pengawal utama Mahatma.
Bertugas membimbing dan melatih para pengawal muda di Mahatma Corporation.
Pak Josh adalah suami Zoe, pengawal cantik yang pernah mengawal Bunda Gaby.
"Iya Pak Josh. Tuan Muda sudah masuk ke rumah istrinya. Tapi.."
"Tapi apa?"
"Pak Josh. Sepertinya, Tuan Muda masih diasingkan keluarganya. Para orang tuanya pergi begitu saja, setelah melihat Tuan Muda."
"Tidak apa-apa. Kalian berdua, terus ikuti saja kemana Tuan Muda kalian pergi."
"Baik Pak Josh."
Pengawal utama itu lantas pergi bersama seorang sopir.
"Syukurlah. Tuan Muda tetap seperti dulu." Dia yang sangat mengingat bak ibu asuh yang mengikuti kemana saja kaki Arjuna melangkah. Dia yang tidak kenal lelah, selama anak aktif itu berlari kesana kemari. Semua pola tingkah yang sangat menggemaskan dan terkadang membuat tawa.
Pak Josh menatap ke arah rumah itu. Tidak ingin kecolongan lagi dan merasa kalau saat itu, sudah kesalahan fatal. Bagaimana bisa, dirinya berfikir kalau Arjuna hanya mendatangi sebuah pesta.
"Arjuna. Aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku."
Pak Josh merasa sangat menyesal. Kenapa saat itu, dia membiarkan Arjuna masuk ke ruangan itu. Meskipun dirinya menyuruh pengawal untuk terus mengawasinya. Bahkan pengawal itu berada di hotel yang sama. Tidak ada dalam benaknya. Acara lelang itu dilakukan dengan sangat memalukan.
Di sebuah apartemen, jam menunjukan puluk 11 malam. Mirza yang terkaget saat membuka pintu kamarnya.
Sang istri sudah tampak berbaring di atas ranjangnya. Meski lampu kamar itu telah redup, Mirza sangat mengenali paras indah istrinya.
Cinta yang terbaring menyamping dan tampak memeluk guling. Perlahan Mirza menutup pintu kamarnya dan meletakan koper di sisi pintu kamar.
Melepaskan jas yang masih melekat pada badannya dan membuka kancing kerah tangannya. Menyingsingkan ke atas lengan tangannya dan semakin melihat dekat wajah istrinya.
"Tumben, mau masuk ke kamarku?"
Tampak senyuman tipis dari wajah Mirza. Meskipun, belum pernah ada ungkapan kata cinta. Mirza juga sudah menganggap kalau Cinta Damayaz itu adalah istrinya tercinta. Tetap saja, meski membohongi para rekannya, Mirza selalu membanggakan istrinya dihadapan mereka semua. Celotehan para pria yang seakan menggoda Mirza.
Perlahan kedua mata cantik itu terbuka dan wajah Mirza sudah menatap lekat wajahnya.
"Kamu sudah pulang?"
"Iya. Pekerjaanku di luar kota sudah selesai."
Cinta tampak terdiam.