
Sudah jam 4 sore, hujan telah mereda. Gaby dan Viral yang kembali ke rumah, sayangnya Alvaro telah tertidur pulas.
"Dia? Suami kamu!" Tampak gerakan bibir.
Gaby hanya menangguk dengan santai, setelah melihat suaminya tertidur pulas. Dia tidak tega membangunkannya.
"Ayo keluar." Bisiknya kepada Viral.
Viral melihat wajah yang sangat familiar dan semakin mendekat. Lalu, menatap Gaby dengan penuh tanda tanya.
Mata Viral yang melotot dengan pikiran heran. Melihat kembali ke wajah Alvaro.
"Alvaro??" Gerakan bibir.
Gaby mengangguk dan langsung menarik tangan Kakak tertua ini.
Dengan perlahan menutup pintu dan Viral semakin penasaran. Viral hendak kembali ke kamar untuk membangunkan Alvaro. Namun, Gaby menarik tangannya dengan kuat.
Setelah berada di ruang tengah, Viral yang mondar-mandir dan menatap ke lantai dua. Kembali memegang tangga dan hendak melangkah. Tapi, Gaby tetap menghadangnya.
"Jelasin sama aku. Gimana bisa itu anaknya Om Pras nikahin kamu?"
Gaby masih bingung juga, untuk bercerita panjang lebar. Apalagi, ini tentang dua keluarga.
"Kak Viral."
"Iya! Buruan jelasin!"
Viral yang kembali mendongak ke lantai atas, dengan tatapan tidak senang.
"Gaby mohon, tolong jangan dipermasalahin."
"Gaby, ini pernikahan pasti problem. Dia adiknya Abyaz. Anaknya Om Pras. Kamu ini, kenapa bisa??!" Viral dengan pikiran yang tegang.
Gaby memegang lengannya "Ayo, duduk dulu. Gaby ceritain semuanya."
Viral yang sudah duduk di sofa dan Gaby berada di sebelahnya. Gaby menatapnya dengan santai.
Viral bertanya "Kapan kalian menikah??"
"Emh, semalam."
"Semalam??"
"Pantas saja kemarin pikiranku tentang Gaby, rada nggak enak."
"Iya gitu. Gaby bingung jelasinnya."
"Tapi ini Alvaro, Gaby. Anaknya Om Pras."
"Memangnya kenapa kalau anaknya Papa?"
"Kamu panggil Papa??"
"Iya kan Papa mertua. Kak Viral gimana sih?! Padahal udah nikah, tapi nggak mudeng."
"Gaby, dulu kamu masih kecil. Jadi nggak tahu gimana dan masalah apa menimpa dua keluarga. Eyang Damar."
"Emh, siapa itu Eyang Damar?"
"Ya ada. Emangnya Daddy kamu nggak cerita soal Eyang Damar yang anak angkat."
"Nggak, mana Gaby pernah diceritain. Daddy nggak pernah cerita apa-apa."
"Dulu itu, keluarga Mahatma udah mau besanan sama keluarga Om Pras. Nah, terus Eyang Damar meninggal, keluarga kita nggak jadi besanan sama Om Pras. Memangnya, Alvaro nggak cerita sama kamu??"
Gaby menggeleng, memang belum banyak tahu tentang keluarga Alvaro. Bahkan, dengan kedua Kakaknya saja dirinya belum pernah bertemu. Kecuali, Bintang dan Bulan, yang waktu itu datang ke rumah Mbah Pras.
"Kak Viral, bantuin Gaby buat ngejelasin ke Mas Al. Mas Al juga tidak tahu siapa Gaby sebenarnya."
"Haaah??"
Pikiran Viral semakin kacau, masalah dulu saja sampai bikin Abyaz depresi dan dirinya juga terlibat masalah itu. Baru selesai dan menikmati hari-hari indahnya membina rumah tangga dengan Liu. Eh, kembali ada masalah dengan Abyaz. Bahkan, di sidang perceraian, Abyaz telah menjadi saksi dari pihak Liu.
"Gaby, gimana Kak Viral bantuin kamu. Mereka semua nggak percaya sama Kak Viral."
"Terus, Gaby harus gimana?"
Gaby menunduk dan merasa serba salah. Apalagi, dirinya semakin takut dan khawatir, telah melukai perasaan Alvaro beserta keluarganya.
Viral kembali berdiri dan melihat ke atas. Hendak berjalan ke arah tangga.
Deegh!!
Viral jadi mematung.
"Kak Viral." Batin Alvaro.
Perasaaan kedua orang ini semakin gelisah.
Gaby yang menunduk, mendekap bantal sofa, mengingat akan cinta dan kasih sayang kedua orang tua Alvaro. Gaby tidak ingin melukai hati mereka. Apalagi, kecewa atas kebohongan Gaby.
Perlahan air mata bening itu menetes, dan ia tidak sadar kalau telah menangis.
"Kak Viral, tolongin Gaby." Semakin terisak suara tangisnya.
Viral yang masih terdiam dan Alvaro semakin mendekat. Jantung Alvaro juga berdetak lebih cepat dan rasanya semakin bertanya-tanya. Siapakah Gaby sebenarnya? Ada hubungan apa antara Gaby dan Viral?
Gaby yang telah menangis dan Viral mendekat, berkata "Gaby, itu suami kamu."
"Iya, dia suamiku." Namun Gaby belum melihat, akan sosok Alvaro yang sudah berada di dekatnya.
Viral yang bingung, bertanya "Gaby, kamu cinta sama dia?"
"Gaby cinta sama Mas Al."
"Terus, aku harus bantuin apa?" Viral semakin gugup dan Alvaro hanya terdiam.
"Kak Viral bantu jelasin, kalau Gaby sepupunya Kak Viral." Gaby yang menangis tersedu-sedu, perlahan mengangkat kepalanya. Air matanya sampai bercucuran.
Perlahan, dia melihat Alvaro, yang sudah berada di hadapannya.
"Kamu, sepupunya Kak Viral?"
Gaby mengangguk dengan tangisnya.
"Kamu, sepupunya Binar??"
Gaby berkata dengan tangisnya "Iya."
"Jadi, kamu keponakannya Om Lingga?"
"Mas Al." Gaby yang merasa telah menyakiti perasaan Alvaro, perlahan meraih tangan suaminya.
"Jawab aku."
"Iya. Pakde Lingga adalah wali asuhku. Dia kerabatku, yang pernah aku ceritain sama kamu."
"Mereka, keluarga Mahatma?"
Gaby yang meraih tangan suaminya dan mencium tangan itu, "Mas Al, aku bagian dari keluarga Mahatma."
"Owh, pantas saja waktu di rumah. Kamu melihat foto mereka, bertanya siapa mereka. Aku jadi mengerti."
"Mas Al, dengerin penjelasanku. Aku mohon sama kamu."
"Iya, aku memang butuh penjelasan kamu."
Gaby memintanya untuk duduk di sofa.
Viral juga semakin tegang. Dia juga bingung akan masalah dirinya, apalagi sempat ribut dengan Abyaz karena masalah perceraiannya dengan Liu.
"Mas Al, Gaby nggak niat untuk bohong."
"Aku tidak butuh pembelaan. Aku cuma ingin tahu. Siapa kamu sebenarnya?"
"Mas Al. Berhak marah sama Gaby. Mas Al boleh kecewa sama Gaby. Tapi Gaby mohon, jangan tinggalin Gaby."
Gaby yang berlutut di depannya dan terus memegang tangan Alvaro.
Viral memalingkan wajahnya, dia juga tidak tega melihat Gaby jadi seperti ini. Seandainya saja, Viral tahu apa yang sering terjadi di Golden Mansion, pasti Gaby tidak akan tinggal jauh dari keluarganya.
Gaby, akhirnya menjelaskan dari awal pertemuannya dengan Alvaro di hotel. Terus secara kebetulan, di sekolah yang sama Alvaro bekerja. Gaby sama sekali tidak tahu menahu tentang Alvaro. Meski dirinya lama tinggal di kota Jakarta. Namun, dia tetap terjaga di rumah dengan Darren. Sampai, pada akhirnya sang Papa meninggal dunia dan harus pindah ke Golden Mansion. Wali asuh yang tercantum dalam wasiat, jatuh kepada Lingga Mahatma, sampai usia 17 tahun. Selepas itu, Gaby sudah punya pilihan hidup sendiri dan bisa membuat kartu keluarga sendiri.
Selama satu jam bercerita, dari masa pertemuan dan apa alasannya sampai pindah rumah.
Viral mendengar hal itu, dia meremas bantal sofa dan ingin segera memarahi Darra. Namun, saat ini dia masih bisa menahan dirinya.
"Kenapa, nama Ayah kamu Yusuf?"
"Daddy mualaf."
"Jadi Darra?"
"Iya. Tapi, Gaby tidak ingin mengusik mereka."
Mendengar hal-hal yang diceritakan Gaby kepada Alvaro. Viral tampaknya semakin geram akan keluarga Lingga.
"Gaby, Kak Viral pulang dulu."
Gaby menahannya, berkata "Kak Viral, Gaby mohon. Jangan perpanjang masalahnya."
"Kamu tenang saja, Kak Viral tidak akan begitu."
"Gaby mohon Kak Viral. Kasian Pakde Lingga. Pakde Lingga tidak ada masalah sama Gaby."
Alvaro yang berdiri dan Viral menepuk bahunya, ia berkata "Alvaro, aku pulang dulu. Tolong jaga Gaby baik-baik. Aku titipkan Gaby sama kamu. Aku percaya sama kamu."
Viral yang berjalan cepat, Gaby hendak mengejarnya. Namun, Alvaro melerai Gaby.
"Biarkan saja dia pergi."
"Mas Al, Kak Viral itu nekatan."
"Sudah, biarkan saja."
Alvaro meraih tubuh Gaby dalam dekapannya. Gaby merasakan cinta dan kasih sayang dari suaminya.
"Mas Al tidak marah sama Gaby?"
"Aku lebih marah kalau kamu tidak mau menurut."
"Maafin Gaby Mas."
"Mulai sekarang, kamu harus selalu cerita sama aku."
"Iya Mas."
"Aku sayang kamu."
"Mas Al, terus nanti Papa sama Mama gimana?"
"Aku yang akan jelasin sama mereka."
"Gaby udah bikin kecewa semua orang."
"Aku tahu, kamu tidak berniat untuk berbohong."
"Gaby takut."
"Takut??"
"Takut, kalau Mas Al sampai ninggalin Gaby."
"Aku akan jagain kamu."
"Terima kasih."
Alvaro semakin erat memeluk istrinya. "Aku mencintaimu, Gaby."