
Kedua pria tampan nan menawan. Saat ini, sedang berada di sebuah cafe. Kopi pagi telah membangkitkan perasaan.
"Aku bahagia, kalian akan segera menikah."
Mirza, yang memegang sebuah cangkir, tampak menghirup aroma kopi, dia lalu menatap sang Arjuna, "Kamu akan membawa Cinta??"
Arjuna dengan gaya tengilnya, berkata "Aku tidak sebodoh itu. Kamu saja yang melangkah terlalu cepat. Dalam situasi begini, mana bisa kamu memaksa Cinta untuk segera menikah."
"Em, ternyata kamu menganggap aku ini bodoh." Mirza dengan senyuman dan itu cukup menggoda.
Arjuna yang tidak basa-basi, ia langsung saja menikmati kopi paginya. Sambil menatap orang yang berlalu di hadapannya.
"Mirza, aku tahu niat baikmu."
Mirza hanya mengangguk, lalu dia menghirup lagi aroma kopinya.
"Aku tahu, kalau Cinta bukan tipe pilihanmu."
Mirza yang menatap jauh entah kemana, ia berkata "Selama kita punya tujuan yang pasti. Nantinya, akan ada jalannya. Aku sudah yakin dengan pilihanku."
"Mirza, kamu tadi dengar sendiri."
Mirza lantas berdiri, ia menujuk ke kepalanya, "Pakai ini. Aku tidak menganggap ini akan berhasil. Setidaknya, aku sudah punya tujuan."
"Kamu akan meminta orang tua kandungnya?"
"Aku memang berniat begitu."
"Mirza, bicarakan dulu dengan Cinta. Apakah dia setuju atau tidak?!"
Mirza berkata "Aku awalnya berfikir ini akan terasa mudah. Tapi, Cinta tidak bisa hidup begini. Aku akan membawa dia kembali."
"Kamu yakin?"
"Arjuna, Cinta punya masa depan. Hidup ini akan terus berjalan. Seiring berjalannya waktu. Pastinya, Cinta akan bisa menerima kenyataan ini."
"Kalau cara kamu gagal?"
"Aku akan menunggu."
"Kedengarannya, itu lebih baik."
Arjuna yang tampak berdiri, lalu menepuk pundak Mirza. "Aku akan mendukungmu, selama itu yang terbaik untuk Cinta."
"Iya, kamu tidak perlu cemas. Aku akan menjaganya."
"Kalau kamu sampai gagal, aku tidak akan melepaskan Cinta."
"Kalau Cinta memilih untuk pergi bersamamu, aku tidak akan menghalangi kalian."
"Oke, aku sepakat."
Mirza yang tersenyum. Mirza dan Arjuna telah menatap ke ujung jauh, entah kemana. Kedua orang pria, yang begitu menyayangi Cinta.
"Aku akan menemui Cinta. Kamu jangan menganggu kita berdua."
"Silakan, aku tidak keberatan." Senyuman Mirza penuh sejuta makna. Antara senang atau tidak, yang jelas demi Cinta, dia tidak ada masalah.
"Aku pergi dulu."
"Iya."
Arjuna dengan gaya tengilnya dan kembali ke hotel tempat ia menginap.
Rasanya, seperti bertarung dengan lawan. Arjuna menyebut seolah Mirza bodoh, padahal dirinya sendiri yang telah bodoh. Kemana saja dia selama ini, sampai-sampai Cinta harus menghadapi masalahnya seorang diri. Sebagai saudara, atau seorang sahabat. Dirinya tidak ada saat Cinta bertarung di meja hijau. Dalam kesedihannya, dan itu dihadapan kedua orang tua yang selama ini telah mengasuh, membesarkan, dan merawatnya. Orang tua dari semasa bayi sampai saat ini, yang pernah dianggapnya orang tua kandungnya. Tapi, ternyata dirinya bukan putri kandung orang tua itu.
Rasa sesak dalam dada, tangisnya tak bersuara. Tatapan penuh tanya, siapa aku sebenarnya? Menoleh ke wajah sang Mama? Melihat raut wajah sang Papa. Kedua tangannya, memilin sisi dress yang ia kenakan saat itu.
Saat itu pula, dirinya dinyatakan bukan anak kandung dari kedua orang tuanya ini. Antara percaya dan tidak percaya. Seperti mimpi di siang bolong. Bahkan, tangisnya hanya tertahan dan terganti senyuman penuh cinta.
Cinta yang tersenyum, memeluk sang Mama "Mama, terima kasih untuk semuanya. Cinta bahagia."
Begitu pula saat memeluk sang Papa. Bahkan, kedua orang tua itu, yang tak sanggup untuk berdiri, tangisan sesak tak bersuara. Hanya air mata yang terus membasahi pipi.
"Papa." Cinta hanya mengucap, "Papa."
Suara itu masih menggemaskan, dan ia sangat bersyukur. Memiliki kedua orang tua yang sangat mencintainya.
Hari, demi hari berganti. Meski tinggal bersama. Tapi, tak lagi sama. Suasana rumah itu perlahan berubah. Hanya ada air mata dengan segenap cinta yang ada.
Belum sampai hati menerima akan kenyataan pahit ini, gadis itu kembali melayangkan gugatan. Untuk pergantian nama dari keduanya. Cinta yang tegas menolaknya, dia tetap dengan nama Cinta Damayaz. Tidak ingin merubah nama yang lainnya.
"Arjuna."
Wajah itu, sangat muram. Air mata itu, masih saja membasahi kedua pipinya.
Arjuna menyeka air mata itu, "Jangan menangis lagi, kamar kamu nantinya jadi sungai."
"Arjuna."
"Aku boleh masuk?"
"Iya."
Arjuna yang masuk ke kamar itu, dan melihat ke sekitar ruangan itu. Tampak kamar yang sama dengan kamar yang ia tempati selama di kota ini.
"Duduklah."
"Aku nanti juga duduk sendiri. Kenapa kamu jadi bersikap sopan sama aku?"
"Arjuna. Aku."
"Aku apa?!"
Arjuna yang perlahan duduk, setelah tadi membuka tirai melihat cahaya luar yang semakin terang.
"Aku minta maaf. Selama ini, aku."
"Sudah, nggak perlu dibahas."
Cinta yang merasa tidak enak hati, ada rasa malu dan susah diungkapkan. Apa lagi, mereka berdua tidak ada ikatan saudara.
"Aku bukan Kakak kamu."
"Cinta, ayolah. Aku kesini tidak mau membahas itu."
"Iya, aku minta maaf." Lalu merapatkan bibirnya, dan Cinta duduk kalem. Tidak seperti biasanya, dikala dulu seenaknya sendiri bila berhadapan dengan Arjuna.
"Aku kesini, karena kangen kamu. Kita udah buat janji. Aku datang kesana mau kasih surprise, eh.. Aku yang jantungan."
Perlahan, Cinta bisa tersenyum lagi.
"Aku pikir, kita nggak akan bertemu lagi. Aku nangis, waktu di kamar itu, semua berubah."
"Kamu nangis?"
Arjuna mengangguk, ia berkata "Ya aku kaget. Sampai bandara, buru-buru ke rumah kamu. Tapi, kamunya nggak ada. Terus, aku ke rumah Oma. Dari situ, aku akhirnya tahu masalah kamu."
"Tidak ada aku, kamu beneran nangis?!"
"Iya, tanya saja sama pemilik kamar yang baru. Aku nangis. Aku nggak suka sama dia. Dia pakai semua barang-barang kamu. Termasuk barang pemberian dariku."
"Emangnya, kamu kasih aku apa?"
"Dulu, aku beliin kamu kalung."
"Owh, itu. Aku lupa bawa. Itu ada di kotak aksesoris."
Arjuna dengan senyuman tengilnya, ia menatap Cinta "Tapi, aku senang. Ada Mirza yang menjaga kamu disini."
Cinta mengingat itu, lalu berkata "Arjuna, aku takut. Aku belum siap bertemu ayah kandungku."
"Mirza sudah mengerti soal itu. Dia akan menunggu kamu. Selama kamu belum siap, dia akan terus menunggu kamu."
Mendengar hal itu, Cinta tersenyum. "Arjuna, apa kamu bertemu Mama sama Papa?"
Arjuna menggeleng, Cinta berkata "Aku sudah rindu. Tapi, aku masih belum siap kembali kesana."
"Kamu mau pergi bersamaku?"
Cinta berkata "Kamu selalu sibuk, waktu tunanganku saja, kamu tidak bisa datang. Kalau aku pergi bersamamu. Apa kamu bisa menjaga aku?"
"Memang lebih baik kalau kamu bersama Mirza. Dia selalu ada waktu buat kamu."
"Arjuna, kalau aku nantinya bertemu orang tua kandungku. Lalu, mereka meminta aku untuk tinggal bersama mereka, aku harus bagaimana? Aku takut. Aku tidak terbiasa tinggal dengan orang yang belum aku kenal dekat."
"Mirza akan mengurusnya. Kamu sudah bersama orang yang tepat."
"Aku merasa tidak nyaman. Aku yakin, Mama sama Papa. Bisa bahagia tanpa aku." Meski bibir itu pandai mengucap kata, dalam hatinya masih sangat terluka.
Arjuna sudah tampak berlutut dihadapnnya, memegang kedua tangannya, berkata "Cinta, kamu juga harus bahagia, bukalah lembaran baru."