
Setelah siang itu, Abyaz selalu memikirkan perkataan Stella.
Tiba saatnya mengambil buku nikah di KUA, saat datfar mereka berdua juga mendadak. Apalagi waktu daftar hari jum'at, jadi hanya memasukan berkas saja. Pada saat mereka menikah, pihak KUA hanya meminta tanda tangan mereka berdua di buku nikahnya.
Hari selasa pagi Abyaz dan Damar baru bisa mengambil buku nikah mereka di KUA setempat.
Abyaz dengan senyuman manis tapi hatinya bercampur aduk, dan dia hanya menunggu di mobil saja. Damar sendiri yang mengambil buku nikah mereka berdua.
"Jreng jreng.... Kita sudah resmi." Ucap Damar dengan senyuman manis dan Abyaz tampak meremas tas yang dia bawa.
"Ems, memang kita udah resmi." Ucap Abyaz dan Damar tersenyum manis.
Damar hanya menatap sang istri, dan Abyaz berkata "Iya, bukunya nanti buat daftar di hotel."
"Kamu mau ke kita hotel??" Tanya Damar dengan perasaan senang. Lalu Damar berkata "Chek in, nggak butuh ini. Bulan madu??"
"Apa kamu lupa kita akan ke Jakarta??!" Cebik Abyaz.
Damar yang tadinya merasa senang, akhirnya berubah menjadi rasa pahit.
"Emh,."
Perlahan memasang seatbelt. Abyaz ingin mencairkan suasana tegang ini. Padahal tidak bermaksud mengungkit itu.
Abyaz mengambil buku nikah mereka.
"Aku yang mana? Merah atau Hijau?" Padahal Abyaz sendiri juga bisa baca.
Damar hanya diam tanpa kata, mulai melajukan mobilnya.
"Damar, aku tanya sama kamu."
Damar tetap diam, dan Abyaz merasa menyakiti Damar. Padahal kemarin, mereka berdua sempat diem-dieman, dan baru saja berbaikan.
Abyaz yang tahu dari Stella, dan hanya bertanya. Tapi Damar tidak suka hal itu. Entah kenapa, Abyaz merasa ada hal yang menyakitkan dan Damar tidak ingin menceritakannya.
"Ya sudah, kamu saja yang simpan bukunya."
Abyaz lalu memasukan kembali di dalam tas selempang Damar.
Abyaz yang menoleh dan bertanya "Dam, apa kamu masih marah sama aku?"
"Aku nggak marah sama kamu."
"Iya, aku tahu. Kalau gitu, kita nggak perlu kesana. Aku juga masih takut kesana."
Damar mengelus rambut Abyaz, dan berkata "Kita teman, tapi tidak semua hal harus kita ceritakan. Yang penting, aku akan selalu ada buat kamu."
"Emh, aku tahu." Abyaz dengan raut wajah gelisah dan melihat ke arah Damar. Tampak senyuman tipis di wajah Abyaz, saat memandangi teman hidupnya.
Abyaz juga bingung, bila dia ke Jakarta nanti. Akankah dia mengingat sang kekasih lagi. Baru saja dia bangkit, rasa itu masih seperti kemarin. Mungkin raga dia terlihat kuat, tapi tidak tahu hatinya.
"Abyaz, aku tidak mau kamu sakit lagi."
Damar meraih tangan kanan Abyaz dan mencium tangan itu.
"Abyaz, aku sayang kamu."
Abyaz hanya mengangguk dengan rasa biasa. Seorang teman hidup, yang saat ini telah memberikan rasa sayang untuknya.
"Dam, apa Kak Stella sudah pergi?"
Damar tampak menghembuskan nafasnya dan mengangguk saja.
"Ternyata Kak Stella benar-benar pergi."
Abyaz ingin mengalihkan pembicaraan, dia bingung mau memulai darimana. Abyaz juga masih takut kalau nanti salah bicara lagi.
"Teman, waktu itu aku lihat ada desain rumah. Apa itu, kamu yang buat?"
Damar tersenyum dan berkata "Bukan aku, tapi Ayah."
"Ems, aku pikir kamu."
Abyaz mulai mengerti, sang suami selalu tidur diatas sofa itu. Laptopnya menyala dan ada desain gambar rumah. Mungkin Damar merindukan Ayahnya.
Damar yang mengendarai mobil, dan mereka menuju rumah sang Papa.
Tidak lama, mereka sudah sampai rumah.
"Abyaz, nanti kamu tidak usah cerita soal_"
Belum selesai Damar berkata, Abyaz lebih dulu menutup bibir Damar dengan jari telunjuknya.
Abyaz yang tersenyum, dan berkata "Aku tahu Dam. Kita teman hidup. Aku bisa menjaga masalah ini."
"Temanku ternyata juga bisa dewasa."
"Dam, nanti jangan lupa jemput aku."
Damar lalu memeluknya dengan erat, dan berkata "Pasti aku jemput, mana mungkin aku bisa tidur tanpa teman hidupku."
"Apaan, setiap malam kamu tidur di sofa."
"Emmh, kamu mau bobok berdua."
"Ya bukannya gitu, aku belum terbiasa. Gara-gara Nazla cerita hantu, semalam aku takut. ."
Nazla adalah anaknya Tante Erma, dan kemarin saat bertemu Abyaz. Nazla bercerita tentang hantu penunggu rumah mereka, Abyaz semalaman jadi tidak bisa tidur nyenyak. Karena kepikiran cerita itu.
"Ems, temanku memang penakut." Ucap Damar dengan gemas dan menyentuh hidung mancung Abyaz.
"Nanti aku telfon kamu."
"Oke, salam buat Papa sama Mama. Bilangin Papa, kalau aku nggak mampir, udah kesiangan."
"Siap." Abyaz tampak hormat dan Damar mengayak rambut Abyaz.
Abyaz keluar mobil itu dengan rambut acak-acakan. Damar yang membuka kaca mobilnya dan meminta Abyaz mendekat.
"Apa?"
"Ada yang lupa."
Abyaz mendekat ke arah Damar dan akhirnya Damar berhasil mengecup bibir sensual itu. Abyaz hanya tampak biasa saja.
"Sana masuk."
"Iya, kamu hati-hati."
Damar melambaikan tangannya, dan mobil itu mulai pergi dari hadapan Abyaz.
"Dasar, teman nakal." Gumamnya dan mulai menekan bel di sisi pintu pagar.
Sudah jam 10 pagi, sang Mama pasti sibuk membuat kue brownies dan Papa juga sibuk dengan peliharaannya.
"Assalamu'alaikum... Papa." Abyaz yang langsung memeluk sang Papa.
"Waalaikumsalam,,..." Pras yang tampak mematung di depan pintu pagar.
Abyaz yang gemas dan memeluk sang Papa. Pras lalu mencium kening sang putri cantiknya.
"Ayo masuk."
"Mama lagi apa?"
Abyaz dengan tersenyum langsung berlari ke dapur. Pras yang menutup pintu pagar hanya menggelang dengan senyuman.
Abyaz sudah menikah, tapi tingkahnya tidak berubah. Padahal dulu waktu bersama sang kekasih, dia terlihat manis dan menampilkan Abyaz yang lembut.
"Mama." Abyaz yang memeluk sang Mama dari belakang.
Kebiasan yang tidak berubah. Kalau Britney memasak, dia langsung memeluk Mamanya dari belakang dengan gemas.
Abyaz melepas pelukannya dan Britney mencium pipinya Abyaz.
"Mama masak apa?"
"Ini goreng tempe." Britney yang masih menggoreng tempe.
"Iya Mama, itu tempe. Maksudnya yang di kukus itu apa?"
"Itu pepes."
"Emms, Abyaz jadi lapar.".
Britney tersenyum, padahal tadi pagi Damar memang sudah telfon dan cerita kalau Abyaz semalam tidak mau makan. Hanya ingin masakan sang Mama dan Abyaz cerita kalau kepingin pepes tongkol buatan Mama.
"Mama hebat. Tahu Abyaz pulang, Mama buat pepes."
"Sayang, duduk dulu." Britney gemas.
Abyaz lalu menuju meja makan dan menggantungkan tasnya di sisi kursi. Pras yang tersenyum dan mendekati Abyaz.
"Memangnya Damar tidak kasih kamu makan?" Tanya Pras seolah tidak tahu apa-apa dan berusaha melihat apa sang anak akan membela suaminya atau tidak.
"Ya kasih makan. Tapi, Abyaz maunya masakan Mama."
Abyaz yang sudah duduk di meja makan menuang teh hangat, dan mulai makan tempe goreng yang sudah matang.
"Baru tiga hari tinggal sama Damar, kamu kurusan. Apa Damar tidak perhatian sama kamu?!"
Abyaz diam dan Pras kembali berkata "Damar sangat kerterlaluan."
Abyaz lalu menatap sang Papa dengan wajah cemberut "Papa jangan marah. Damar perhatian, tapi Abyaz yang nggak bisa jauh dari Papa sama Mama."
"Jadi alasannya Papa sama Mama?" Wajah Pras yang tampak seolah tegang.
"Ya nggak gitu juga. Abyaz masih belum terbiasa jauh dari Papa sama Mama."
Pras tersenyum tengil dan memeluk Abyaz yang masih duduk.
Rasanya takut, saat melihat ekspresi Papa yang sedang memarahi Damar, padahal yang salah Abyaz.
"Papa jangan marahin Damar."
"Siapa yang marahin Damar."
Pras tersenyum tapi putrinya menangis.
"Papa tahu sayang, suami kamu dari kemarin udah telfon. Tapi kita masih di Semarang."
"Terus Kakak kamu juga langsung balik Jakarta. Makanya Damar telfon, cerita kamu nggak mau makan dan tadinya mau nyusul ke Semarang."
"Papa jadi gemas sama kamu. Baru beberapa hari saja sudah begini, untung aja rumahnya dekat. Kalau kamu di bawa ke luar jawa, atau ke luar negeri. Pasti setiap hari kamu nangis."
Britney yang memasak juga merasa gemas dengan Abyaz. Padahal Alishba waktu pengantin baru, juga tidak seperti Abyaz.
Alishba hanya sesekali telfon Mamanya, itu hanya tanya soal resep masakan. Terus datang ke rumah Mama Papanya juga seminggu sekali. Kadang lama, baru ke rumah Mama Papanya.
"Abyaz maunya dekat Mama sama Papa." Ucap Abyaz yang masih menangis.
Pras yang masih memeluknya dan Britney yang mendengar tangisan putrinya jadi semakin gemas.
Pras lalu melepas pelukannya dan Britney dengan cinta untuk putrinya. Walaupun dalam hati Britney juga merasa enggan untuk berpisah, tapi memang anaknya sudah menikah, dia juga ingin Abyaz bisa menyesuaikan dirinya.
"Sayangnya Mama sudah menikah tapi masih begini." Britney yang berusaha untuk menenangkan perasaan Abyaz.
Pras juga mengerti, Abyaz masih sulit untuk menyesuaikan dirinya. Apalagi, pernikahannya juga mendadak, dan mereka belum saling mengenal.
Berbeda dengan yang dulu, malahan Abyaz yang cenderung bersemangat, agar segera bisa tinggal bersama sang kekasih hatinya.
"Ems, Papa yang bakar pepesnya. Nanti Papa suapin kamu."
Abyaz yang dalam pelukan Britney hanya diam.
Dari kecil, memang Abyaz yang paling rentan perasaannya. Tidak seperti Alishba atau Alvaro, tapi terkadang dia juga biasa saja, kalau sang Papa dan Mama memarahi dia. Tapi kali ini, rasanya memang berbeda.
"Papa sama Mama marahin Abyaz??"
"Mama nggak marahin kamu."
Abyaz masih cemberut dan berkata "Mama, Abyaz disana nggak ada kesibukan. Hanya berdiam saja. Semua yang Mama ajarin juga percuma."
"Emh, iya. Damar juga juga cerita. Kita juga baru tahu. Tapi kamu harus bisa jadi istri yang baik."
"Iya." Jawab Abyaz dan sorot matanya masih layu.
Abyaz usianya sudah dewasa, tapi saat baper jadi seperti anak kecil.
"Kalau kamu mau masakan Mama, tiap hari bisa Mama buatin."
"Nggak Ma. Kemarin cuma lagi baper."
Abyaz memeluk erat Mamanya, dan Britney masih mengelus rambutnya.
"Damar juga baik sama Abyaz. Cuma Abyaz yang belum bisa terima keadaan. Rasanya masih sulit Ma."
"Iya, Mama tahu. Mama juga bilang sama Damar, untuk sabar menghadapi kamu."
Britney yang menatap putrinya dan Abyaz berkata "Mama, Abyaz hanya merasa tidak enak sama Damar. Abyaz kenapa sangat susah untuk bisa dekat sama dia."
"Abyaz masih bingung Ma, tapi dia suami Abyaz. Harusnya Abyaz bisa memberikan cinta. Tapi susah Ma. Abyaz harus gimana?"
"Sayang, kamu tidak perlu bingung. Kamu juga tidak harus memaksakan diri kamu, untuk segera memberikan cinta kamu. Seiring berjalannya waktu, kamu akan merasa nyaman, dan kalian bisa saling memberikan perhatian. Lalu nanti akan muncul sendiri, benih-benih cinta."
"Itu yang Abyaz takutkan Ma. Abyaz masih takut. Akan ada yang mengisi lagi hatinya Abyaz, dan Abyaz nantinya akan takut kehilangan."
Britney merasakan apa yang Abyaz rasakan saat ini. Memang tidak akan mudah bagi Abyaz untuk memulai hubungan, bahkan dengan segenap perasaannya.
"Abyaz, kamu tidak perlu takut. Kamu harus percaya. Jodoh, maut dan rezeki tidak akan tertukar. Mama tidak minta kamu untuk melupakan masa lalu, tapi suami kamu, dialah jodoh kamu."
Abyaz dengan air mata yang masih membasahi wajahnya. Dengan rasa yang tidak dimengerti. Rasanya dia tidak sanggup untuk melupakan kenangan cinta masa lalunya. Apalagi untuk menerima cinta yang baru, dia masih takut akan hatinya yang rapuh. Dia belum siap mengisi cinta yang baru, dan dia juga masih takut, bila nantinya cinta itu juga akan menghancurkan hatinya kembali.
"Iya Mama, Abyaz mengerti."
"Tidak perlu takut. Kamu ikuti saja perasaan kamu. Nantinya, akan ada rasa cinta. Kamu harus bahagia sayang." Ucap Britney dan memeluknya dengan gemas.
"He'em." Abyaz dengan wajah yang tersenyum.
Si gadis kecil itu ternyata kini sudah dewasa, bahkan sudah menikah.
Si gadis kecil yang cengeng, setiap hari ada saja yang membuat dia menangis.
Tapi terkadang dia yang paling lucu dan sangat menggemaskan. Terkadang dia juga bisa menimang Alvaro yang kala itu masih bayi. Tapi sekarang sudah besar, sudah mengerti akan cinta, dan pernah terluka.
"Aku harus bisa memberikan cinta."