ABYAZ

ABYAZ
Kejujuran Membawa Rasa



"Abyaz."


"Iya, ini aku."


Lantas duduk di sebelahnya dan masih menatap pria ini.


"Ngapain kamu disini?"


Tapi, pria ini belum sampai mabuk. Dia masih bisa melihat jelas, sosok wanita pujaan hatinya.


"Aku hanya ingin bersenang-senang." Jawabnya dan tampak senyuman di wajah cantiknya.


"Apa suami kamu sudah gila? Tumben, dia berikan ijinnya." Pria itu kembali meneguk minuman keras, yang ada di tangan kanannya.


Tampak mencebikan bibirnya, ia berkata "Mana mungkin Damar memberimu kebebasan untuk bersenang-senang. Kemanapun kamu pergi, selalu ada asisten kamu."


"Emh, kamu memang benar."


"Suamimu, terlalu angkuh."


Abyaz yang tidak suka mendengar hal itu, ia bertanya "Angkuh? Apa maksud kamu?"


"Maksud aku. Bukan apa-apa."


"Binar. Jelaskan sama aku?"


"Dulu, aku mengalah untuk Damar sang Eyang yang aku hormati. Sekarang, aku harus berkorban perasaan untuk Damar yang ke dua."


"Binar, kamu sudah mabuk." Tatapan Abyaz tidak senang kepadanya.


"Abyaz. Damar yang ke dua. Suamimu, dia hanya pelarian bagimu."


Abyaz yang perlahan turun dari kursinya dan ia menjauh pergi. Secepatnya, Binar telah meraihnya dan memegang pinggangnya dengan erat.


"Sayang, temani aku. Aku tidak akan seperti Damar, yang suka mengurung kebebasan kamu."


"Binar!! Kamu sudah tidak waras."


Abyaz berusaha untuk melepaskan tangan Binar yang begitu kuat.


Damar yang mendekat dan menarik Binar dengan sekuat-kuatnya, sampai Binar tersungkur ke lantai dan gelas itu telah pecah. Binar menatap ke pecahan kaca itu.


"Hancur." Lirih Binar.


Semua orang memperhatikan mereka. Jane, jadi melihat Abyaz di tempat itu.


Musik disco dari seorang DJ telah berhenti dan perlahan berubah hening.


Abyaz memeluk punggung suaminya, lantas berkata "Mas Damar."


Beberapa pengawal langsung mendekat dan mangangkat Binar layaknya seekor binatang. Membawanya ke sebuah meja.


"Mas Damar. Lepaskan Binar. Binar sedang mabuk."


Damar berkata "Lepaskan dia."


Para pengawal itu telah melepaskannya. Lantas, Damar menarik Abyaz dan ia kembali memegang pinggang istrinya.


"Ayo, kita menari."


"Mas, kita pulang saja."


"Bukannya, kamu ingin kesini. Aku sudah membayar mahal tempat ini."


Abyaz yang perlahan tersenyum, karena tatapan suaminya terlihat begitu tenang.


Binar yang tertunduk di atas meja besar, memperhatikan Abyaz dari kejauhan.


"Rachel, mainkan musiknya." Pinta Guru Mao kepada sang DJ malam ini.


DJ cantik dan sangat sexy, dengan senyuman manisnya. Ia kembali memainkan musiknya. Dan, dia ini adalah anak angkat Guru Mao.


"Ayo kita bersenang-senang." Ucap Damar dan Abyaz kembali senang.


Damar yang begitu santai menari dan Abyaz masih saja menatapnya. Tangan nakal Damar yang memegang kedua sisi pinggang sang istri dengan sentuhan lembut. Abyaz juga bisa merasakannya. Perlahan kedua tangannya memegang wajah suaminya.


"Terima kasih."


"Untuk?"


"Cintamu."


Abyaz mengecup manis bibir suaminya, di tengah keramaian tamu lainnya. Tidak ada yang mempedulikan ciuman mereka berdua, kecuali Binar.


Binar yang masih saja menatap mereka berdua, lantas bangkit dari tempat duduknya.


"Damar Setya Ardana, aku siap bertarung dengan kamu."


Kegagalan proyek pertamanya, dan itu dihadapan Presdir Limar. Sampai Binar harus menenangkan pikirannya. Malah akhirnya, harus menerima kenyataan pahit ini, dengan kedua matanya.


Beberapa saat kemudian, di toilet pria.


"Sial!"


Binar yang berada di toilet dan menatap wastafel. Ada darah yang mengalir di sela jari-jari tangan kanannya.


Damar yang entah sengaja atau tidak, dia juga berada di dalam toilet itu. Tampak menarik lengan jaketnya dan mencuci kedua tangannya.


Menatap ke arah cermin dan ia berkata "Tidak ada yang pertama maupun yang kedua."


"Belahan jiwa, tetaplah belahan jiwa."


Lalu merapikan jaketnya dan senyuman itu sangatlah manis.


Binar yang menatapnya dari kaca, lalu berkata "Kamu hanya bayangan. Tidak akan mungkin Abyaz melupakan cinta pertamanya."


"Siapa? Kamu?"


Binar lantas mengepalkan tangan kirinya. Tangan kanannya masih berada di atas wastafel. Darah segar itu masih mengalir lembut. Damar juga bisa melihatnya.


"Kita bukan lagi anak kecil. Yang bisa memperebutkan sesuatu. Kalau kamu memang kalah. Harusnya, kamu cari tahu kekurangan kamu. Bukan mencari kesalahan lawan."


"Aku pikir, kamu tidak pandai bicara. Ternyata bibirmu begitu manis. Pantas saja, perempuan seperti Abyaz, bisa tertipu rayuan manismu."


"Aku tidak merayu Abyaz. Hanya saja, aku lebih pintar darimu." Damar dengan senyuman nakalnya.


Binar semakin tidak senang akan perkataan Damar barusan. Ia ingin sekali menghajar Damar. Sayangnya, dirinya masih mengingat akan ikatan saudara. Bagaimanapun, dirinya putra dari Tantenya Abyaz. Apa kata keluarga Abyaz nantinya. Bila, Binar bisa berbuat hal kejam itu kepada suaminya Abyaz.


Damar lalu pergi, ia sangat tahu tentang Binar. Dia tidak membongkar bukti saat di hadapan klien dan Limar, itu sudah cukup menandakan Damar bermurah hati padanya.


Andai saja mereka tahu, kebusukan Binar dalam mempermainkan JS dan Mahatma.


Demi kursi keagungan Mahatma. Binar telah tergoda dan ia jadi lupa akan apa tujuan pertamanya.


"Damar, soal tahta aku memang kalah darimu. Tapi, soal Abyaz. Ada satu hal yang tidak kamu ketahui. Aku pastikan, kamu yang akan kalah." Binar semakin berapi-api.


Flashback Off


Di malam yang mempesona dan setelah usai peraduan gairah manja.


"Mas Damar, aku mencintaimu."


"Kamu mencintaiku?"


"Mas."


"Iya sayang, aku mencintamu.


"Mas, kamu percaya Binar?"


"Aku nggak percaya sama dia."


"Terus? Kenapa kamu jadi meragukan perasaanku?"


Abyaz yang mengenakan kimono handuk warna putih, tampak rambut dengan lilitan handuk. Tadinya, ia telah mendekap punggung basah suaminya. Damar yang baru melilitkan handuk putih di bawah pusernya. Sang istri, malah memeluknya begitu saja, dan mengucap kata cinta untuknya.


Damar yang membalikan badannya, lantas memegang dagu istrinya, dan ia menatapnya dengan penuh perasaan.


"Aku tidak meragukan cinta kamu. Aku semakin hari, takut kehilangan kamu."


"Mas, kamu ini ngomong apa sih?!"


"Aku baca buku harian kamu."


Degh!


Abyaz jadi berdebar dan perasaannya berubah setelah mendengar hal itu.


"Sayang, aku sudah tahu semuanya. Aku takut kalau kamu sakit lagi. Makanya, aku bilang. Kalau aku tahu tentang perasaan kamu dari Binar."


Binar yang telah mengambil buku harian Abyaz, saat mereka bertemu di Pondok Indah. Abyaz yang lupa akan buku itu, dan menganggapnya buku itu sudah hilang.


"Mas aku baik-baik saja. Semua itu sudah masa lalu. Kamu juga sudah tahu dari awal kita menikah."


"Iya sayang, aku ngerti."


Damar melepaskan handuk yang telah memilit di rambutnya. Rambut basah itu, telah tergerai memanjang.


"Aku akan mengeringkan rambutmu. Setelah itu, aku memberikan buku harianmu."


"Mas Damar."


Abyaz yang duduk di kursi dan menatap ke sebuah cermin yang ada di kamar mandi. Sang suami telah mengeringkan rambutnya dengan hairdyer.


"Mas, aku minta maaf. Sekarang, aku beneran tidak apa-apa. Aku sudah mengerti. Semua orang, pasti akan mengalami kejadian-kejadian serupa. Hati dan perasaan, memang pernah ada untuknya, tapi semua sudah tinggal kenangan. Aku sudah bisa ikhlas dengan kenyataan. Aku hanya ingin menatap masa depan baru, bersama kamu dan anak-anak kita."


"Iya."


"Mas Damar, aku tahu. Kamu ternyata sulit menerima pernyataan cinta dariku."


Bibir yang cemberut manja, dan Damar semakin gemas. Damar malah mencubit bibir manyun istrinya.


"Sayang, aku mencintaimu. Dari pertama kita bertemu, aku tidak memaksa kamu untuk mencintaiku."


"Mas Damar. Aku bener-bener cinta sama kamu. Kamu sudah jadi belahan jiwaku." Ketusnya.


Damar tersenyum, ia lantas mengingat Binar. Yang saat ini, kembali tersandung masalah dengan model ambassador kosmetik milik Lingga.


"Aku yakin, Binar tidak bersalah."


"Tumben kamu belain dia."


"Aku tahu. Binar itu seperti apa."


"Emh, kalian para lelaki pasti tidak tahan godaan perempuan."


"Sayang, kamu meragukan aku juga?"


"Bukan begitu Mas. Kalian pasti juga nggak mungkin menutup mata dan telinga kalian. Apalagi, kalau sampai ada sentuhan-sentuhan manja."


"Sayang, makanya aku selalu mengajak pengawal."


"Tuh, bener dugaanku."


"Sayang, aku nggak begitu. Mana pernah aku tergoda meski digoda."


Bibir Abyaz seolah telah meledek suaminya.


"Aku selalu telephone kamu kalau lagi di hotel."


"Nah. Ngaku juga."


"Kamu, ingin aku begitu?"


"Ciee."


"Abyaz, kamu berani menggodaku?"


Duh, malam-malam malah main petak umpet. Mana masih pakai handuk, dan berduaan di kamar mandi. Romansa dewasa kembali bersemi.


Beralih ke Bunda Gaby yang minta dipijit-pijit manja. Suaminya capek kerja, bukannya dipijitin punggungnya. Eh, bini yang satu ini minta dipijitin.


"Mas, jangan berhenti."


"Emangnya, kamu ngapain aja di kampus?"


"Ya ditugasin Mas, sama senior. Aku ngejar-ngejar senior buat minta tanda tangan."


"Pasti cowok?"


"Iya Mas."