ABYAZ

ABYAZ
Bab. 35. Kecemasan Keluarga Beby



Keesokan harinya, Beby yang masih terbaring di ranjang pasien. Arjuna yang duduk di sebelahnya dan tangannya masih terus memegang erat tangan istrinya.


"Arjuna."


"Iya, aku disini."


"Aku ingin pulang."


"Pulang?"


"Aku nggak suka disini."


"Iya, nanti kita akan pulang."


"Aaa... Aku maunya sekarang."


"Beby, kamu masih dalam perawatan, mana bisa aku bawa kamu kabur."


"Bisa. Dulu kamu pernah bawa aku kabur dari rumah sakit."


Arjuna tersenyum dan ia mencium tangan istrinya dengan gemas.


Setelah siuman, Beby yang menangis tiada henti meminta sang dokter agar segera melepas jarum, yang tampak menempel di punggung tangannya.


Meski nyalinya gedhe dalam hal lainnya, tapi kalau soal jarum suntik dan jarum infus. Tuan putri selalu histeris dan menangis.


Semalam, setelah Bunda Gaby datang. Tidak lama para teman kerja Beby telah pulang dan diantar oleh sopirnya Bunda Gaby. Satu jam kemudian, keluarga yang lain baru datang satu persatu. Jadinya, mereka bertiga tidak bertemu keluarga Beby.


Bunda Gaby mengenalkan diri dengan sebutan Bunda. Mereka bertiga mengira, Nyonya yang sering datang ke butik itu ibunya Beby.


Bunda Gaby yang penampilan manis dengan dress warna merah muda. Para keluarga yang lain juga tidak kalah, ada yang memakai gaun pesta dan ada pula yang pakaian formal.


Flashback On


Bunda Gaby telah menemani Beby dan ia menatap wajah Beby yang masih terlelap dalam mimpi.


"Sayang, maafin Arjuna. Dia memang suami yang tidak bisa diandalkan."


Bunda Gaby yang merasa kalau Arjuna sudah bersalah. Dalam hal ini, Arjuna memang harus bertanggung jawab. Apalagi status Arjuna sebagai suami. Yang seharusnya bisa menjaga istrinya.


"Ayah."


"Bunda sendirian?"


"Iya. Tadi ada teman kerja Beby. Tapi mereka baru saja pulang."


"Gimana keadaan Beby?"


"Ya begini. Ayah bisa lihat sendiri."


Ayah Alvaro tampak menggeleng "Arjuna ini gimana, istrinya masih dibiarkan kerja di Butik."


"Makanya itu, Bunda langsung meluncur kesini. Bunda cemas, kalau para orang tua Beby menyalahkan putra kita."


"Bunda yang tenang. Semua pasti baik-baik saja."


"Semoga saja, Beby nggak kenapa-napa ya Yah."


Setelah lima menit kemudian.


"Beby."


"Beby, harusnya tadi aku jemput kamu saja. Aku ajak kamu janjian. Malah kamu terbaring disini."


Sang Bulan purnama yang sudah ada di samping ranjang itu, dan kedua orang tua Arjuna sudah tampak duduk di sofa.


"Bulan."


"Eh, ada Om sama Tante."


Bulan purnama memang begitu adanya, dia yang tidak basa-basi. Sore tadi, Bulan yang mengajak ketemuan di sebuah cafe. Tidak lama mendapat kabar kalau adiknya ini telah mengalami penjambretan.


"Beby, kenapa kamu bisa dijambret?"


"Sayang sekali, aku nggak lihat langsung. Kalau aku sampai lihat, wah. aku pasti akan menghajarnya."


Set!


"Sayang."


Arjuna yang datang tanpa permisi dan langsung duduk di sebelah istrinya. Sang Bulan purnama juga ada di sebelahnya.


"Arjuna, kamu nggak usah akting."


"Kak Bulan, ini aku nangis beneran."


"Percuma kamu nangis. Beby tetap tidur nggak bisa lihat air mata kamu."


"Kak Bulan kok gitu ngomongnya."


"Emang bener."


Setelahnya, sang Mama dan Papa datang.


"Sayang, kamu kenapa bisa begini?" Mama Abyaz yang sudah menangis.


"Mama, yang tenang. Dokter bilang, Beby nggak apa-apa."


"Gimana bisa tenang, kalau lihat putri kita terbaring disini. Ini semua gara-gara Papa."


"Papa lagi yang disalahin."


"Papa yang kasih ijin putri kita kerja di Butik."


"Mama yang tenang. Beby itu cuma tidur."


"Papa pasti bohongin Mama lagi."


Sang Mama yang masih menangis dan hanya berdiri di dekat putrinya saja. Mengelus rambut putrinya.


"Ini sampai diperban, Papa bilang nggak apa-apa."


"Iya Mama. Tapi Mama yang tenang, nggak enak sama besan kita."


Papa tampan ini bisa saja, nggak mau disalahin dan memanfaatkan keadaan.


"Kakak yang tenang, Arjuna yang salah. Bukan Mas Damar. Aku akan nasehati putraku." Bunda Gaby yang siap beraksi dan Arjuna yang menatap dengan wajah imutnya.


Mama Abyaz melihat Arjuna yang sudah menangis, lalu berkata "Menantuku tidak tahu apa-apa, jangan salahin dia. Ini semua karena Papanya Beby, yang tidak mau melarang putrinya kerja di butik."


"Mama, Papa juga berat hati. Tapi, Arjuna yang meminta Papa buat kasih kesempatan sama putri kita."


Sang Bulan purnama berkata "Mama, bener kata Papa. Yang salah itu, Arjuna."


"Bulan, Papa nggak nyalahin Arjuna."


"Papa bilang begitu, ya memang waktu itu Arjuna yang minta Papa buat kasih kebebasan, agar Beby memulai hidup barunya. Tapi, Papa nggak nyalahin Arjuna."


"Itu mah sama aja Papa." Sang Bulan purnama lalu menyingkir ke sofa, yang ada di ujung ruangan.


Mereka baru saja terdiam, Papi Mami datang.


Orang tua yang ini, tadinya menghadiri acara pesta rekan bisnis dan sudah tiba di hotel itu. Jadinya, dari hotel tempat acara pesta berlangsung, lanjut berangkat ke rumah sakit ini.


"Beby sayang. Gimana keadaan kamu?" Mami Stella yang masih mengenakan gaun pesta glamour warna magenta.


Sang Papi yang masih mengenakan stelan jas yang tidak jauh berbeda dengan Papa Damar.


Papa Damar dan Mama Abyaz, tadi juga sedang menyambut tamu penting JS, di sebuah hotel berbintang yang lumayan jauh dari rumah sakit ini.


Setelah mendapat kabar itu, selekasnya mereka pergi dan meninggalkan tamu penting mereka.


2 jam kemudian


"Emhh.." Lirih Baby.


"Beby, kamu bangun sayang."


Perlahan mata itu terbuka dan melihat suaminya yang menatapnya. Menoleh ke arah yang lain, ada Mama Papa dan Mami Papi.


"A-aku?"


"Iya sayang." Arjuna masih menatapnya.


"Sa-kit." Keluhnya dengan tatapan sendu.


"Mana yang sakit? Bagian mana yang sakit?" Arjuna bingung dan masih terus memandang wajah istrinya.


Wajah Beby yang berubah kekanakan. Bibir tipisnya sudah menukik ke bawah. Perlahan iya telah mengangkat tangan yang tampak di infus. "Ini sakit. Aaaaaa. Mama."


Semua menatapnya, dan Arjuna masih memegang tangan yang satunya.


"Sayang." Mama Abyaz lebih mendekat dan "Sayang kamu kenapa?"


Suara tangisnya membuat semua bingung "Mama, lepasin ini. Aku nggak mau disuntik."


Akhirnya, perasaan mereka berubah lega, tuan putrinya telah kembali dan baik-baik saja.


"Mama, buruan lepasin ini. Sakit Mama."


"Iya sayang, ini untuk obat. Biar kamu sembuh."


"Aaaa.. aku nggak mau. Aku nggak mau."


Beby memalingkan wajahnya dan ia masih saja mengangkat tangan yang ditusuk jarum infus itu.


Dokter utama dan dokter Owen serta dua orang suster datang.


"Waah, ramai sekali rupanya."


"Dokter Briel, bagaimana keadaan putri saya?" Tanya Papa Damar.


"Putri Presdir baik-baik saja. Hanya luka memar dan cedera dibagian kepala. Setelah saya lihat dari hasil CT Scan. Tidak ada yang bermasalah."


"Mama, lepasin ini. Aku nggak mau." Rengeknya dan terus menangis.


Dokter Owen tersenyum, "Tadi, saya memang memberikan obat tidur. Kalau tidak begitu. Beby pasti sudah menangis selama di IGD."


Flashback Off


Semalam setelah dokter memeriksa Beby, para orang tua akhirnya tenang. Tadinya, mereka saling menyalahkan pasangannya.


Mama Abyaz yang menyalahkan suaminya. Bunda Gaby yang menyalahkan putranya, tapi ditegur oleh suaminya. Sedangnya Mami dan Papi, tampak bingung saat Beby sudah menangis dan ingin segera melepas infusnya. Papi Binar hendak menyuruh suster segera melepaskan infus itu, tapi Mami Stella telah mencegahnya.


Arjuna, hanya diam dan memegang tangan istrinya. Sang Bulan purnama hanya pengamat keluarga besarnya.


Saat ini, hanya ada Arjuna dan Bulan purnama yang menemani Beby di rumah sakit.


"Aku nggak suka tidur disini."


"Iya sayang, aku ngerti. Tapi, kata dokter kamu harus istirahat dulu disini."


Bulan purnama hanya mengawasi dari sofa, dari semalam dia juga tidak bisa menghubungi Bintang kejora.


"Ini kemana lagi? Bikin pikiran aja." Gumam Bulan yang menghubungi nomor Bintang masih dinonaktifkan.


"Tapi, aku mau tidur di kamar kamu." Beby yang merengek.


"Iya, nanti kita juga akan pulang."


Bulan purnama mendekat "Arjuna, aku keluar bentar."


"Iya Kak."


Beby yang cemberut dan Arjuna masih menjaganya dengan penuh cinta.


"Kamu semalaman jagain aku, kamu nggak ngantuk?"


"Nggak."


"Aku bikin kalian cemas."


"Iya, aku sangat cemas."


"Gimana pekerjaan kamu?"


"Kamu nggak perlu mencemaskan pekerjaanku."


"Gara-gara aku, pasti ratingmu turun."


"Aku nggak masalah."


Beby berkata "Bantu aku bangun."


Beby yang sudah tampak terduduk di atas ranjang pasien dan Arjuna juga telah memeluknya.


"Aku sangat mencemaskanmu."


"Emh."


"Aku tidak akan membuatmu terluka lagi."


"Iya, kamu harus jagain aku."


Beby tersenyum dan Arjuna juga sudah menampilkan senyuman manisnya.


Arjuna yang gemas dan ia mengecup bibir tipis nan manis itu.


"Sayang." Suara nyaring telah memanggil.