
Suasana malam yang syahdu, berteman suara manja dengan ******* lembut dari istrinya. Membuat perasaan Arjuna semakin bergairah mesra.
Sentuhan lembut dari jari-jari lentik sang istri, membuat dirinya menaikan hasrat yang lebih dan lebih lagi.
Mantra apa yang hadir di malamnya ini, Arjuna sudah tergoda dan mengingat akan janji suci yang diucapnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Beby Ayazma binti Binar Jati Lingga dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Bergumul dalam ikatan suci dan halal bagi keduanya. Setelah akad nikah, malam ini mereka menebus malam pertama. Do'a sudah mereka panjatkan dalam hati dan sesuai niat dari mereka berdua.
Pasangan halal dan mereka sudah dewasa. Memantabkan niat atas perkawinannya, untuk menuju ke bahtera cinta, dalam menyempurnakan ibadahnya.
Langit malam dengan senyuman sang rembulan. Berhiaskan bintang-bintang. Udara dingin merasuk ke dalam tulang, menemani mereka berdua yang sedang memenuhi tugas malam pertama.
Di atas ranjang terbalut sprei abu-abu. Lampu remang dengan sinar kemerahan. Suasana batin masih terjaga dan rasa menggunjang paras indahnya.
Sensor
"Mas."
"Mas?"
Keduanya saling menatap, Beby berkata "Mas Arjuna."
"Hem?"
"Mas Arjuna."
"Jangan panggil aku mas. Aku tidak suka."
Beby dalam dekapan manja. Mereka masih terbungkus selimut tebalnya.
"Kamu tidak suka?"
"Aku bukan Mirza."
"Memangnya kenapa, kalau aku panggil Mas Arjuna? Semua juga panggil begitu sama suaminya. Mama ke Papa juga gitu."
Arjuna yang tersenyum getir, mengecup kening istrinya. "Sayang, aku mohon dengan sangat. Jangan panggil aku mas! Aku nggak suka dipanggil Mas. Aku bukan Mas, Mas. Panggil biasa aja, Arjuna sayangku, sayangku, sayangku."
"Ya udah."
"Kamu panggil Mirza udah mas. Masa iya. Aku disamain sama saudara kamu."
"Kamu cemburu?"
"Bukan begitu. Aku nggak suka aja kalau dipanggil Mas Arjuna."
"Iya sayangku, Arjuna sayangku. Aku mau mandi."
"Tadi udah mandi."
"Mandi besar."
"Emh, nanti saja."
"Nanti?"
Arjuna yang masih merasa belum menyempurnakannya dengan maksimal. Dirinya tadi merasa bingung, karena ini pertama kali bagi keduanya. Beby juga hanya mengikuti alur main Arjuna. Tapi, Beby juga kesakitan dan merasa ada yang perih tapi malu untuk mengungkapkannya.
"Arjuna, aku mau mandi." Kilahnya dan ingin mengobati keperihan yang masih terasa.
"Kenapa?"
Beby dengan wajah malu, tapi bibir itu tampak manis. Arjuna semakin tidak kuat melihat godaan manja.
"Sakit."
"Sakit?"
Beby yang mengangguk dan Arjuna merasa gemas dibuatnya.
"Iya, aku minta maaf. Aku juga bingung."
"Aku ngerti. Tapi, malam ini aku akan susah tidur."
"Susah tidur? Beby."
"Bukan begitu. Aku masih merasa ini seperti mimpi. Aku hanya ingin terjaga, dan berfikir kalau aku sama kamu, tadi kita udah. Emh... Kita beneran_"
Arjuna jadi terkekeh kecil dengan gemas menggigit telinga istrinya. Beby merasa malu, tapi tetap menikmati belaian lembut dari tangan kanan Arjuna.
"Beby."
Kedua bibir itu semakin dekat "Arjuna, aku_" Beby semakin bingung, meski mereka sudah dewasa, tapi dengan Arjuna, sama sekali tidak terbayangkan olehnya dan ia kembali berkata "Aku mau."
"Kamu mau lagi??"
"Arjuna. Aku_"
Arjuna yang sudah tidak tahan, langsung membungkam dengan bibirnya.
"Aku akan memuaskan kamu." Ucap Arjuna dan Beby hanya menatapnya.
Keduanya saling menatap manis dan sangat dekat. Arjuna kembali berkata "Kali ini, tidak akan sakit lagi."
Arjuna mengecup bibir pinky lembab nan manis itu. Memanggut bibirnya semakin dalam dan begitu liar. Sensasi dengan gairah manja bagi keduanya. Beby yang tidak kalah memainkan lidahnya, sampai mereka berdua terbawa suasana.
Sentuhan dari jemari mereka berdua. Beby yang menggeliat saat tangan Arjuna meraba ke sekitar dada istrinya. Kedua tangan Beby menarik rambut Arjuna. Perlahan kecupan itu sudah sampai ke leher jenjang yang tampak menggoda.
Terbuai sudah mereka berdua, dan kembali melakukan serangan di atas ranjang panasnya.
"Sayang." Suara ******* lembut dan ia tetap memainkan dengan penuh rasa cinta yang ada di dalam benaknya.
Bukan hanya bayangan, tapi mereka memang nyata dalam dekapan manja. Bukan lagi sekedar ucapan menggoda, tapi mereka telah merasakan nikmatnya malam pertama.
"Beby."
Erangan manja dan suara itu semakin menggoda.
Dengan tatapan nakalnya, "Beby."
Sensor.
Semakin menggeliat dan tergunjang dengan hebatnya. Arjuna merasakan lebih dari serangan sebelumnya dan tampak senyuman nakal, semakin menggigit dan ******* itu akhirnya berhasil dia lakukan dengan sempurna.
"Beby, kamu mau mandi?"
"Emh, nanti saja."
Beby yang menarik selimutnya dan ia berkata "Jangan tinggalin aku."
Arjuna meraih piyamanya, ia berkata "Aku cuma mau mandi."
"Ya udah. Sana."
Arjuna yang lupa, dia kembali mendekat mengecup gemas kening istrinya. Lalu ia berkata "Aku tidak akan jauh-jauh."
"Iya."
"Mau mandi bareng?"
"Nggak. Kamu duluan saja."
"Oke."
Beby menutup wajahnya dengan selimut tampak senyam-senyum sendiri. Antara malu, bingung dan ada getaran aneh yang ia rasakan.
Perlahan Beby lupa, akan rasa perih pada organ intimnya. Pada bagian tubuh lainnya, juga terasa perih. Bahkan, saat ini dia memegang leher. Ada sesuatu yang tidak nyaman.
Beby meraih ponselnya yang ada di atas meja kecil, dia mencoba melihat leher indahnya.
"Aaa.. Arjuna. Besok aku harus gimana?"
Beberapa bekas kecupan nakal Arjuna, telah tampak memerah. Bukan hanya satu atau dua, ada beberapa tanda kemerahan di sekitar lehernya. Apalagi, kulit Beby begitu putih bersih, sangat jelas terlihat tanda-tanda kepemilikan Arjuna yang ditorehkan pada malam pertama mereka.
"Mama, Papa. Arjuna nakalin putrimu." Seraya mengadu kepada kedua orang tuanya. Tapi, Beby merasa gemas dan malam ini dirinya sudah tidak lagi perawan.
"Starla, aku yang menang." Gemasnya dan ia memang pernah bertaruh dengan sahabatnya. Bahkan, menjelang acara lamaran besok. Ayahnya Starla, belum ada tanda-tanda memberikan restu kepada putri semata wayangnya.
Beby beranjak dari tempat tidur. Menekan remot lampu, dan membuatnya semakin terang
Memotret wajah sampai terlihat leher dengan bekas tanda merah itu. Beby yang masih terbalut selimut, kembali ke atas ranjang.
"Aku harus pamer sama Starla." Beby yang sudah tidak waras. Sahabatnya sedang frustasi karena Abahnya belum juga merestui. Ini malah mau kirim foto tentang dirinya, yang sudah tidak lagi perawan.
[Starla, aku sudah malam pertama. Kamu gimana?] Foto ia tampilkan semenarik mungkin.
[Gila!!] Balas sahabatnya secepat kilat.
[Yee, marah?!]
[Aku di usir dari rumah.]
[Apa??]
[Aku mengingap di rumah kamu.]
[Kamu serius?]
[Iya sayang. Abah mengantar aku kesini.]
[Maksudnya?]
[Malam ini tadi. Aku akad nikah]
[Hah??]
[Sudahlah. Kamu yang menang. Aku masih galau. Abahku, memang begitu.]
[Tidak merestui, tapi menikahkan kamu.]
[Ya begitu Abahku. Kamu juga tahu gimana kalau Abah lagi marah-marah.]
[Kak Bintang gimana?]
[Dia masih di ruang tamu. Abangku datang disini.]
[Selamat atas pernikahan kalian. Aku turut senang. Semoga, Abah Mahendra memberikan restu dengan do'a yang terbaik.]
[Aamiin.]
[Sampai bertemu, sayangku.]
[Oke. Sayang. Mmuach]
Beby merasakan kegalauan sahabatnya. Dia sangat tahu, dan cukup mengenal orang tua Starla. Memang tidak akan semudah itu, meski sang Bintang kejora sangat menjaga Starla.
Bintang berani mengajaknya ke Vila dan hal itu memang sengaja Starla rencanakan, agar Abahnya segera merestui. Tetapi, hal itu membuatnya sangat marah dan sampai menyerahkan Starla ke rumah Presdir Damar.
Yuk kita intip sebentar, sang Bintang kejora saat sudah menikahi Starla Zielovia.
Setelah akad nikah dan Abahnya Starla pulang bersama sopirnya, Bintang mengajak Starla ke kamarnya.
"Bintang, ini gimana?"
Bintang yang tampak biasa saja, dan ekspresinya memang tidak sesenang pengantin baru.
"Mau gimana? Kita sudah menikah."
"Ini gila."
"Kamu juga, berani melawan Abah kamu."
"Bintang, aku bilang begitu. Agar besok Abah menerima kamu. Bukannya malah mengusir aku dari rumahnya."
Starla yang duduk di sebuah sofa yang ada di kamar Bintang. Tampak memakai gamis warna putih dengan selendang yang masih menutupi bagian mahkota indahnya.
Bintang yang tampak duduk berlutut memegang tangan Starla. "Abah sudah menyerahkan kamu. Aku yang sekarang menjadi Imam kamu. Aku juga mulai mengemban tanggung jawab atas diri kamu. Aku akan berusaha membuat kamu selalu bahagia, seperti kamu saat tinggal di rumah Abah."
Menatap wajah Bintang yang terlihat serius dan ucapan Bintang membuat perasaan Starla semakin bergetar.
"Bintang, aku sudah salah. Membuat kamu bersalah dimata Abah."
"Tidak begitu. Abah tahu, Abang kamu juga tahu. Keluarga kamu juga tidak menyalahkan aku."
Bintang yang melihat cincin berlian, yang tadi ia sematkan di jemari manis Starla.
"Starla, aku sangat mencintai kamu."
"Aku juga sangat mencintai kamu."