
"Mas Al harus tanggung jawab!!" Gaby dengan spontan saat menatap lekat wajah sang suami.
Al yang tampak santai dan masih ingin tidur lagi. Apalagi, ini hari minggu dan waktunya untuk beristirahat.
"Sayang, kamu kenapa?"
Gaby memperlihatkan alat uji kehamilan dan Al meraihnya, lalu memperhatikan dengan jelas.
"Positif?"
Gaby mengangguk dengan air mata yang seketika luruh begitu saja.
"Baguslah. Aku tidak perlu membuang tenaga untuk membuatnya." Suara itu terdengar santai.
"Mas Al, apa maksud kamu?" Gaby yang tidak terima akan perkataan suaminya.
"Jangan menangis, anak kita nantinya sedih. Aku suamimu, untuk apalagi aku harus bertanggung jawab."
"Gimana aku nggak nangis. Mas Al yang bilang sendiri, aku tidak akan hamil."
Gaby dengan kesalnya dan Al tersenyum senang, ia meraih istrinya dalam dekapannya.
"Sayang, kamu akan jadi Mama."
"Tapi aku."
"Sudah, jangan dipikirkan."
"Mas Al."
"Sayang."
Gaby berkata "Aku tidak tahu gimana caranya mengurus bayi. Aku juga harus kuliah. Mas Al tega sama aku.'
Al membalas "Siapa yang mengajak aku menginap di Villa??!"
Gaby semakin menangis, dia tidak menyesalinya. Hanya saja, dia bingung akan ujian esok hari dan dia akan mengikuti ujian masuk untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
"Mas Al nakal." Gaby yang masih saja merengek dan menyalahkan suaminya.
Al berkata "Iya, aku nakal. Aku akan bertanggung jawab atas bayi kita. Aku yang akan merawatnya. Aku yang akan mengurusnya. Kamu tidak perlu cemas. Kamu jangan menangis lagi."
Sang suami mengelus rambut istrinya dengan gemas. Pantas saja, dirinya merasa kewalahan saat Gaby sering merengek tidak jelas dan mendadak ingin makan sesuatu yang menurutnya sedikit aneh.
Kemarin juga, pagi-pagi ingin sarapan pecel ayam kesukaannya. Sampai Mama Britney juga bingung, dan akhirnya Gaby memilih tidak makan apapun.
Flashback On.
Sekitar lima minggu yang lalu, di sebuah villa yang ada di kawasan pucak. Alvaro melepaskan keperjakaan dengan penuh cinta dan gelora asmara yang ada.
Pagi itu, kedunya duduk di sofa dengan pandangan tersipu malu. Bagaimana tidak, bila mereka berdua dipergoki oleh sang Kakak cantiknya.
Tatapan Abyaz yang manis, seolah telah menjelma seperti malaikat cinta yang tak bersayap.
"Rupanya kalian bermalam disini." Abyaz yang mendahului obrolan itu.
Tampak Gaby yang masih memakai kaosnya Alvaro, terkesan longgar pada tubuh mungilnya. Al yang tersenyum dan memegang tangan istrinya dengan penuh cinta.
Alvaro berkata "Iya."
Abyaz yang seolah menginterogasi, dalam hatinya tertawa gemas. Melihat wajah Gaby dan Al saat berhadapan dengannya.
"Kenapa wajah kalian begitu. Lagian kalian sudah menikah. Tidak masalah kalau kalian bermalam disini." Abyaz begitu santai.
"Bukannya Kak Abyaz ada acara di Meghan." Alvaro yang mengetahui agenda kegiatan Abyaz.
"Emh, iya. Tapi aku dari kemarin disini."
"Dari kemarin??" Batin Gaby yang sangat malu.
"Jadi, Kak Abyaz dari kemarin disini?" Tanya Alvaro yang memastikan kalau Abyaz tidak mendengarkan suara-suara aneh saat puncak asmara.
"Emh, kalian tenang saja. Aku tidak mendengar apapun!" Celetuknya santai.
Gaby semakin erat memegang tangan suaminya dan menatap Abyaz dengan rasa malu.
"Kalian tenang saja. Semalam Kakak tidur nyenyak, sampai pagi subuh tadi baru terbangun karena suara tangisan gadis." Tengilnya.
Alvaro bertanya "Siapa yang menangis?"
"Gaby, apa kamu menyesal??" Tanya Abyaz.
Gaby menggeleng dengan raut wajah semalu-malunya dan cemberut cantik.
"Gaby, meski adikku sudah dewasa. Dia tidak mengerti bahasa tubuh wanita. Tetaplah bimbing Alvaro."
Alvaro melotot ke wajah Abyaz, yang seolah tidak mau diturunkan harga dirinya sebagai pria sejati.
"Aku sudah menyiapkan sarapan pagi kalian. Aku mau jogging." Ucap Abyaz lantas beranjak dari sofa.
Terlihat celana sporty 3/4 dan memakai jaket sporty warna merah muda. Abyaz lebih suka memakai tanktop di balut jaket ketika sedang berlari pagi.
Kedua tangan yang masuk ke dalam kantong jaketnya, membalikan badannya, lalu kembali berkata "Kalian tidak perlu malu. Gaby, kembalilah pulang ke rumah. Mama ingin kamu segera kembali."
"Iya Kak Abyaz."
Abyaz kembali berjalan dengan senyuman tengilnya.
Sebenarnya Abyaz tidur di Villa sebelahnya. Mengetahui kalau Alvaro meminta kunci Villa pribadinya kepada asistennya. Bukan Abyaz kalau tidak nakal, dan ini kesempatan dia menyatukan dua insan yang dilanda asmara.
"Gaby, terima kasih. Sudah membuat adikku memiliki hidup yang sempurna." Abyaz yang berjalan keluar Villa dan merasakan kesegaran udara pagi yang sangat dingin.
"Segar sekali." Hembusan udara pagi, ia rasakan dengan merentangkan kedua tangannya.
Kedua insan ini saling menatap, Al berkata "Sayang... Aku."
"Emh, kamu nakal."
Bibir imutnya berkata lembut "Aku sudah melepas keperawananku."
Lantas menempelkan wajah imutnya ke dalam dekapan sang suami.
"Sayang."
"Aku malu sama Kak Abyaz."
"Aku tahu, dia tidak mengingap disini."
"Tapi aku masih malu."
"Malu kenapa? Kita sudah menikah."
"Soalnya aku yang bilang kita berpisah sementara. Tapi, aku malah minta kita menginap di Villa." Rengekan manisnya dan Al semakin gemas.
"Aku yang tidak bisa menahan diri."
"Aaaa... Aku malu." Semakin merengek.
"Sudah, jangan menangis."
Gaby yang mengangkat wajahnya dan menatap suaminya, lantas berkata "Aku tidak menangis."
Al tersenyum "Istriku yang manis. Ayo kita mandi."
"Mandi??"
"Iya, mandi."
Gaby beranjak dari sofa dan tangan Al lagi-lagi lebih cepat dari langkah kakinya.
"Aku subuh tadi sudah mandi."
"Aku juga. Tapi mandi pagi belum."
"Aku nggak mau."
"Ayo, kita mandi."
Secepatnya tangan kekar sang suami mengangkat tubuh langsing istrinya.
Gaby yang terdiam dan tersipu malu. Tangan nakal suaminya, membuat dia dalam kenyamanan. Dekapan suami tampannya membuat dirinya semakin tidak ingin berpisah.
"Aku mau pulang ke rumah Mama."
"Kamu serius?"
"Aku mau jadi istri yang sempurna."
Gaby kembali menyandarkan wajahnya pada dada batako itu dan sang istri sudah patuh padanya.
Semalam Gaby yang menggiring sang suami dan sampai akhirnya memecah gelora asmara yang ada di antara mereka berdua.
Berganti pagi ini, sang suami yang menuntunnya dalam belaian manja.
"Olah raga pagi yang menyenangkan." Gumam Abyaz di kala itu, dan ia bahagia melihat jalinan cinta saudaranya.
Flashback Off
Pagi yang indah dalam dekapan manja. Al sebagai suami, ia juga mengerti akan keadaan ini. Anugerah terindah dalam hidupnya, akan segera hadir menemani dan menambah semangat hidupnya.
"Kamu ngidam apa?"
Gaby yang sudah berhenti menangis, "Aku tidak tahu."
Bagaimanapun, Gaby masih belia. Usia yang belum matang dan masih bingung akan keadaan yang telah terjadi saat ini.
"Aku akan jadi Bunda?" Dirinya mulai membayangkan akan dipanggil Bunda.
"Sayang. Kamu ingin makan apa?"
Gaby masih melamun dengan semburat senyuman manis dan Al berkata "Aku jadi mengerti. Dari kemarin kamu tidak nafsu makan."
Al kembali bertanya "Kamu mau makan apa? Nanti aku siapin khusus buat kamu."
"Entah, aku nggak nafsu makan. Memang, kemarin pagi ingin makan pecel ayam. Tapi sekarang udah nggak kepingin lagi. Rasanya mual." Perlahan Gaby meraba perutnya yang masih datar.
"Apakah nanti, perutku akan membesar?" Pikiran Gaby sudah jauh menerka.
Mereka berdua tampak duduk bersandar di atas ranjang. Gaby yang manis dengan piyama hijau toska. Al tampak memakai kaos biru laut, dipadukan sarung kotak-kotak warna biru tua. Selepas subuh tadi, Al kembali memeluk guling dan ingin bersantai sejenak, sebelum esok menjadi pengawas ujian.
"Mas Al, kuliahku gimana??" Gaby yang bingung, ia tidak nyaman bila kuliah dalam keadaan mengandung.
"Tunda setahun."
"Ditunda??"
"Iya, demi kamu dan bayi kita."
Gaby terdiam sejenak, dan hanya bisa membayangkan saja.
Al berkata "Selama kamu hamil, lebih baik kamu di rumah saja. Setelah satu tahun. Kamu bisa kuliah."
"Apa yang dikatakan Mas Al memang benar. Aku tidak perlu cemas." Gaby kembali meraba perutnya dan perasaannya perlahan berubah manis.
"Ayah akan menjagamu." Batin Gaby yang senang dan Al semakin mendekap erat istrinya.
"Papa akan menjagamu."
"Papa??"
"Emh, kenapa? Aku Papanya."
"Ayah." Pintanya gemas.