ABYAZ

ABYAZ
Gaby Sudah Lulus



Tidak terasa, waktu begitu cepat berjalan. Sudah tiba waktunya. Gaby akan meninggalkan SMA Pesona.


Acara wisuda kelulusan SMA Pesona. Di selenggarakan di sebuah hotel mewah yang ada di luar kota. Malahan, hotel ini bersebelahan dengan kantor Mahatma Corporation.


Sudah satu bulan berlalu, guru olah raga tampan, sudah tidak lagi terlihat oleh para murid SMA Pesona.


Cantika berkata "Nggak asyik. Kita wisuda nggak sama Pak Alvaroku."


"Iya ya. Ini semua gara-gara Gaby." Sahut Elsa dan melirik ke kursi barisan sebelah kanan.


Seharusnya, barisan tempat duduk Cantika ini bersama Gaby dan Tata. Akan tetapi, dirinya tidak mau. Akhirnya, bergabung dengan Vika dan Elsa.


"Cantik. Apa kamu tahu, Pak Al kerja dimana?"


"Mana aku tahu."


"Emh, tapi aku sudah tahu." Elsa yang tersenyum manis dan ia tampak membungkam mulutnya.


"Elsa, kamu tahu sesuatu. Tapi nggak mau bilang sama aku." Cantika yang tampak melotot.


Sayangnya, barisannya sudah tampak berdiri. Vika menarik tangan kiri Cantika agar lekas berdiri. Cantika masih saja menatap ke arah Elsa.


"Duh, ini mulut. Kenapa ember begini."


Elsa yang menonyor bibirnya sendiri dan Cantika kembali menoleh ke arah wajah Elsa.


Cantika berkata "Kamu harus cerita sama aku."


"Iya, nanti."


"Sekarang!"


"Cantika, udah waktunya kita di wisuda."


Gaby yang tidak mempedulikan genk kupu-kupu. Ia hanya menatap ke layar besar. Rona bahagia itu ada pada wajah cantiknya. Gaby telah merasakan hal yang berbeda. Dimana dirinya akan di wisuda bersama teman-temannya.


Sudah hampir 4 bulan kandungannya, dan kehamilan Gaby ini, juga belum terlihat oleh para murid SMA Pesona.


"Akhirnya, aku di wisuda."


Barisan Gaby lantas berdiri. Tampak Tata di bagian depan dan Gaby ada dibelakangnya. Lalu disusul temannya yang lain.


Prosesi wisuda berjalan lancar. Sudah 2 jam acara wisuda dilaksanakan dengan khidmat. Dengan sekarangkaian acara dan akan di tutup dengan acara santai. Sebuah tarian dan nyanyian akan turut memeriahkan acara wisuda tahun ini.


"Ghani, selamat ya." Ucap Gaby dan Tata juga melakukan hal yang sama.


Ghani menempati urutan pertama. Dia juara umum dengan nilai sempurna dan dia telah mendapat beasiswa ke luar negeri.


"Aku senang. Kalian nanti bisa kuliah bareng."


Tata menyela, "Aku nggak di luar negeri kayak dia."


Ghani berkata "Aku juga belum pasti. Aku masih memikirkannya."


"Kenapa nggak? Ini kesempatan kamu Ghani." Gaby merasa heran.


Ghani menjawab "Iya, tapi biaya hidup di luar negeri juga lebih tinggi."


"Benar juga."


Tata merangkul pinggang Gaby, ia berkata "Mari kita selfie."


"Oke."


"Eith, jangan bertiga." Ujar Ghani yang merasa aneh.


"Lebih baik, kita ajak Pak Ferdi. Dia kesepian nggak ada Pak Al."


"Bener juga." Ucap Tata.


Gaby senyam-senyum melihat sang guru matematikanya itu, yang tampak melamun saja. Tidak seperti biasanya, yang penuh canda tawa.


"Pak Ferdi."


Suara renyah dari ketiga muridnya ini.


"Kalian bertiga. Mau meninggalkan saya."


"Nggak Pak Ferdi. Kita nggak akan ninggalin Bapak." Gaby yang lebih dulu.


Tata berkata "Pak Ferdi, saya ingin kita foto bersama."


"Bersama saya?"


"Iya. Kita bertiga, dan Bapak." Jawab Tata.


"Baik. Nanti jangan lupa kirim ke email saya."


"Aah, kok email lagi. Ke nomor HP Bapak saja."


"Heem, istri saya melarang saya. Bergaul dengan para murid. Apalagi, seperti kalian ini."


"Huft, nantinya kita bukan muridnya Bapak lagi."


"Tetap saja begitu. Pasti Gaby juga begitu sama Pak Al."


Gaby yang tadi hanya diam, lalu menjawab cepat "Nggak. Gaby nggak posesif."


"Iya kita ngerti Pak. Ya sudah, kita foto dulu."


Cekrek


Cekrek


Cekrek


Ghani, Tata dan Gaby dengan segala pose mereka. Begitu juga sang guru ini. Tampak keceriaan di raut wajah Gaby. Lantas, senyuman Ghani dengan lesung pipinya begitu manis. Tata dengan gaya menawan. Senyuman manis Pak Ferdi, juga melengkapi kebahagiaan mereka.


Ada pertemuan, ada pula perpisahan. Bagi mereka bertiga. Hari ini, adalah momen kelulusannya. Tapi, di mata gurunya ini, sebuah perpisahan akan terjadi.


Bulan lalu, Pak Ferdi sudah berpisah dengan rekan kerjanya dan sangat merasa kehilangan teman.


"Pak Ferdi. Terima kasih. Berkat Bapak, nilai Gaby sangat memuaskan."


"Iya, sama-sama. Kamu juga harus semangat menggapai cita-cita kamu ke jenjang yang lebih tinggi."


Gaby tersenyum, lantas Tata berkata "Kalau Gaby, fokus sama Pak Al. Gaby minggu depan mau merried."


"Tata." Gaby yang memukul bahu Tahu dengan gemas.


"Jadi, kamu mau menikah sama Pak Al?"


Gaby berkata "Iya Pak Ferdi. Kalau Bapak berkenan. Nanti, saya kirim undangannya ke email Bapak."


"Iya, pasti saya akan datang."


Gaby tersenyum, dan Ghani berkata "Pak Ferdi, besok pagi saya ingin konsultasi dengan Bapak."


"Baik Pak Ferdi."


Ghani juga sering meminta pendapat, pada Pak guru ini. Setelah mendapat beasiswa, Ghani malah tampak galau.


Waktunya, sesi foto bersama keluarga. Terutama wali mereka. Terlihat kedua orang tua Ghani yang begitu sederhana. Lalu, kedua orang tua Tata yang sangat terlihat muda. Tata anak pertama, ya wajar kalau orang tuanya kelihatan muda. Hampir sama seperti kedua orang tua Cantika, Vika dan Elsa.


Gaby tidak kalah menarik, ada Papa dan Mama mertua. Pakde Lingga dan Budhe Vava. Ada pula Budhe Limar dan juga Viral. Gaby sudah tidak merasa sendiri lagi. Meskipun, sang suami tidak hadir.


Setelah berfoto, keluarga Mahatma lantas pergi lebih dulu, karena acara wisuda juga sudah selesai.


Papa dan Mama mertua, masih menemani Gaby. Gaby lanjut berfoto dengan para guru dan teman-teman satu kelasnya.


"Gaby sepertinya sedih."


"Yang Papa lihat. Gaby sangat senang."


"Tetap saja Papa. Meski kini ada kita. Namanya orang tua, ya selalu dihati."


"Mama memang benar."


Gaby sang menantu cantiknya, dan menjadi anak kesayangan di keluarga Papa Pras.


Tampak memegang beberapa buket bunga dan sebuah boneka. Terlihat asyik saat berfoto dengan teman sekelasnya.


"XII BI.7!" Suara Ghani dengan lantang.


"Menggapai Pesona!"


"XII BI.7!!"


"Penuh Suka Cita!!"


"XII BI.7!!"


"Hebat!! Hebat!! Juara!!"


"XII BI.7!!"


"Saranghaeyo." Tampak gambar hati.


Cekreek!!


"Yee!!!"


Serentak melompat tinggi, dan Mama mertua syok melihat Gaby. Gaby tidak lupa akan dirinya yang sedang hamil muda.


"Papa."


"Mama, tenang."


Mama mertua sudah mau berdiri dan menghampiri menantu kesayangan. Namun, Papa mertua mencoba menahannya.


"Mama khawatir."


"Mama yang tenang. Gaby anaknya kuat."


"Papa, namanya juga lagi..." Hampir saja sang Mama mertua keceplosan. Apalagi, ini acara wisuda. Banyak wali murid dan guru-guru SMA Pesona.


Sebenarnya, murid-murid yang di wisuda sudah dari kemarin menginap di hotel ini dan wali menyusul di jam pagi.


Hanya Mama Britney dan Papa Pras yang ikut menginap di hotel ini. Bahkan, dari gladi bersih saja. Sang mertua ini tidak bisa ketinggalan. Mama Britney selalu menemani menantunya. Begitu khawatir dan cemas, melihat sang menantu kesayangan yang tidak bisa diem.


Bukannya lemes, loyo, pusing. Beberapa hari ini, malahan semakin aktif dan gesit. Nafsu makannya juga sudah mulai berselera, dan satu lagi yang bikin suaminya heran. Tiba-tiba jadi hobby jalan-jalan, hampir setiap hari ngajak bodyguard cantiknya pergi.


...SELANJUTNYA...


Berjalan dengan menawan dan penuh senyuman. Tampak memakai seragam putih abu-abu. Gaby sedang mendorong stroller. Meski, sudah punya butut. Gaby tetap manis dan tidak terlihat kalau dia seorang Bunda.


"Selamat pagi."


"Selamat pagi. Adek ini mau kemana?"


"Saya mau masuk ke dalam."


"Dek, anak SMA tidak boleh masuk ke kantor ini."


Dengan manis dan tampak centil gemes, lalu berkata "Pak, apa Pak Alvaro ada di dalam?"


"Adek, mencari Pak Bos?"


"Iya. Saya mau menemui Pak Alvaro."


"Pak Bos sedang ada rapat."


"Pak. Saya datang kemari, karena mau mengantar bayinya Pak Alvaro."


"Bayi?"


"Pak. Ini bayinya Pak Alvaro."


Bayi embulnya sedang bobok, begitu menggemaskan. Terlihat empeng yang dikenyot bibir imutnya.


"Owh, jadi ini bayinya Pak Bos."


"Saya boleh masuk?"


"Mari silakan, saya antar ke dalam."


Setelah tahun berganti, Gaby bukan lagi murid SMA. Melainkan, seorang Bunda. Hari ini adalah hari terpenting untuk Gaby.


"Ayah.." Suara Gaby terdengar manja.


"Sayang." Kaget.


"Sayang. Tolong, jagain bayi kita. Aku mau ospek."


"Sayang, tapi aku lagi rapat."


"Sayang. Aku sudah bilang sama Kak Abyaz."


"Nanti kalau dia nangis gimana?"


"Seperti biasanya. Gendong."


Muka pasrah dan di hadapan para staffnya.


"Kita bikinnya berdua, jadi kita ngurusnya berdua. Oke, sayang."


Mmuach! Kecupan pipi gemes. Setelahnya, pergi.


"Ternyata, bos kita SSTB." Bisikan kelima staffnya.