
Merebahkan kepala di pangkuan sang suami, tangan dengan jari lentiknya memilin kaos yang dikenakan suaminya. Mencubit-cubit kaos itu, dan dia dari tari sudah cemberut.
"Mas Al nakal."
"Aku nakal gimana? Aku lagi baca komik bukan natap wajah kamu."
"Mas Al, aku siapa kamu?"
"Kamu itu istri aku."
"Terus kalau aku istri Mas Al, kenapa aku sampai nggak tahu kalau Mas Al mau resign??"
Mendengar hal itu, Al menutup komik yang ia baca. Lantas berkata "Aku nggak resign, buktinya aku masih mengajar."
"Jangan bohong."
Gaby yang berubah sendu setelah sang suami menatapnya. Al mengingat dan langsung mengalihkan pandangan matanya.
"Aku nggak bohong, memangnya siapa yang bilang kalau aku mau resign?"
Bibir imutnya berkata "Cantika."
Gaby yang memiringkan posisi tidurnya dan tampak menghadap ke kanan, lantas wajah itu menatap perut sang suami. Isak tangis sudah terdengar dan Al hanya bisa bersabar.
"Sayang, kamu pasti salah dengar."
"Mas Al gitu sama aku." Rengeknya dan masih menangis.
"Memangnya kenapa kalau aku resign? Aku masih bisa bekerja di tempat lain."
"Pasti gara-gara aku?"
"Bukan begitu sayang. Aku resign juga karena Mas Damar. Dia ingin aku membantunya di JS."
"Jangan bohong."
"Beneran, coba saja kamu tanya Kak Abyaz."
"Mas Al nggak cerita."
Suaminya lantas mengangkat istrinya dan mendekapnya dengan sayang. Meski dirinya juga sempat mengalah saat Papanya Cantika ingin mengeluarkan Gaby dari sekolah. Namun, memang benar adanya. Damar sudah dua kali meminta Alvaro untuk membantu pekerjaannya. Apalagi, ada anak perusahaan yang membutuhkan pengawasan. Lebih baik diawasi keluarganya sendiri, dari pada mempekerjakan orang luar. Itulah permintaan Damar kepadanya.
"Sayang, aku tahu masalah bulan lalu. Awalnya, Papanya Cantika memang ingin mengeluarkan kamu. Tapi, sore itu Kak Viral datang. Membuat perdamaian. Jadi, bukan itu alasan aku untuk resign."
"Aku tahu."
"Makanya, udah jangan nangis lagi. Aku jadi pusing kalau dengar suara kamu yang menangis."
Bukannya berhenti nangisnya, malah semakin nyaring. "Mas Al nggak suka sama aku?"
"Bukan begitu sayang." Sudah beberapa hari ini istrinya baperan dan sering kali menangis tanpa sebab.
"Sayang, aku cuma bercanda."
"Emh, Mas Al bilang pusing."
"Iya, iya, aku nggak pusing. Cuma aku masih bingung. Kamu tahu sendiri aku belum pernah pacaran. Aku nggak bisa nenangin kamu sayang."
Gaby yang tidak ingin melihat tatapan Al kepadanya, ia lantas duduk di pangkuan suaminya. Kedua tangan sudah mengalung ke leher suaminya dan kepala ia rebahkan di bahu sang suami. Tampak kekanakan dan sangat manja.
"Sudah ya, jangan nangis terus. Kamu harus ceria. Kasihan bayi kita."
"Iya. Aku juga nggak mau beper terus. Tapi, nggak tahu kenapa aku jadi makin begini."
Al mengelus punggung istrinya, lalu berkata "Ya sudah, nantinya aku juga akan terbiasa."
"Mas Al, jangan bohong lagi."
"Sayang, aku nggak bohong. Tadinya, aku mau kasih kejutan sama kamu. Kalau aku udah kerja di tempat yang baru. Tapi, kamu udah tahu begini."
"Memangnya dimana tempat kerjanya?"
"Lumayan jauh dari sini." Jawabnya.
"Terus, Mas Al mau ninggalin aku?"
"Siapa yang mau ninggalin kamu. Aku baru ingin tanya-tanya sama Mama. Gimanapun juga, aku harus mengajak Mama sama Papa juga. Kalau kamu, nggak perlu aku tanya. Aku akan bawa kamu kemana saja aku pergi."
"Memangnya kalau kerja di kantor, aku juga mau diajak?"
"Ya, itu terserah kamu."
Gaby perlahan tersenyum.
Meski tingkah laku dan cara bicara Al terkesan kaku dan dingin. Setidaknya, ia sudah bisa merayu dan menenangkan istrinya tercinta.
Butuh waktu untuk dirinya mengerti akan perasaan perempuan. Ia juga banyak bertanya kepada sang Kakak, kenapa perempuan selalu susah berkata jelas. Istrinya suka memakai bahasa tubuh dan perasaannya, bukannya langsung bilang begini begitu.
"Sudah aman." Batin Al yang merasa sang istri sudah tidak lagi menangis.
"Mas Al, aku ingin kelapa muda."
"Owh iya, tadi aku udah beli. Masih di kulkas."
"Aku maunya yang kelapa utuh, terus diminum dari buahnya. Bukan es kelapa serut."
"Iya sayang. Aku akan secepatnya ke tukang kelapa muda."
"Aku ikut."
"Hems?"
"Aku mau ikut."
"Terus aku harus gimana? Pakai kacamata lagi?"
"Terserah. Pokoknya, aku mau ikut. Sekalian jalan-jalan. Yang penting, Mas Al jangan melototin aku."
"Sayang, siapa yang melototin kamu." Al semakin gemas, seolah sudah tak berdaya. "Aku kudu piye meneh?"
Lantas Gaby beranjak dari duduknya. "Uuh, jangan ngomongin aku."
"Cuma apa? Cuma ngeluh?"
Tanpa di sadari kedua wajah itu bertemu. Mata Al yang selalu menatap seolah tajam, dan Gaby yang melihatnya seperti sedang dipelototin. Seketika, mata Gaby yang tidak kuat melihatnya dan perasaannya berubah sendu.
"Mas Al nakal." Gaby yang kembali terduduk di kasur dan menutup kedua wajahnya.
Perasaan sang suami tidak berbuat apa-apa mengenai dirinya. Al yang berdiri lalu berkata "Sayang, jadi beli kelapa muda?"
"Mas Al keluar dulu. Nanti aku nyusul."
"Iya."
Al yang meraih jaketnya tidak lagi menatap ke arah istrinya tercinta.
Gaby mencoba mengendalikan rasa yang ada saat ini, dirinya juga telah merasa kurang enak badan.
Dari beberapa hari lalu, nafsu makannya telah berkurang dan badannya semakin tidak bertenaga.
"Bayiku sayang, yuk semangat. Bunda akan berusaha kuat untuk kamu."
Ternyata di balik pintu kamar, Al masih mendengarkan. Tidak terdengar lagi suara tangis Gaby dan ia merasa lega. Ternyata istrinya bisa mengerti dan menerima kehamilan di usia belianya.
"Gaby, aku akan menjaga kamu dan anak kita. Aku juga akan berusaha untuk sabar dan belajar memahami kamu."
Al lantas berjalan pergi dan menuruni anak tangga. Kedua orang tua tampak duduk di sofa ruang tengah. Suasana sore dan hanya menikmati tayangan televisi.
"Tumben, Mama sama Papa nonton gosip."
"Gosipnya, tentang saudara kita."
Al menoleh ke layar kaca, ada sosok tampan yang dikenalnya. Binar Jati Lingga, tertangkap basah dengan seorang artis muda yang sedang naik daun.
"Beneran, itu Binar?!" Al yang tidak menyangka kalau Binar bermalam dengan artis terkenal.
"Iya, seperti yang kamu lihat. Keponakan Mama sedang digosipkan, bermalam dengan seorang artis muda."
"Mama." Papa Pras yang berusaha menenangkan istrinya. Lalu berkata "Papa kenal Binar. Binar nggak akan berbuat hal itu."
"Papa yakin?" Al yang menatap serius pada sang Papa.
"Al, bukan yakin atau tidak. Yang Papa tahu, Binar bukan pria seperti itu."
Al yang tampak berdiri, lantas membatin "Mungkin apa yang dikatakan Papa memang benar. Tapi, kenapa perasaan aku ke Binar tidak enak. Semoga aja cuma pikiran buruk."
Saat masalah Darra, kedua pihak keluarga bertemu. Keluarga Lingga akhirnya meminta maaf, itupun karena Mommy Vava tidak mau kalau putrinya terkasih, sampai masuk ke dalam penjara.
Mommy Vava yang berlutut dihadapan Alvaro dan Gaby, membuat perasaan Mama Britney gelisah. Air mata itu juga telah menjawabnya.
Bagaimanapun, seorang ibu tetaplah seorang ibu. Meski anaknya sudah bersalah, seorang ibu yang berlutut itu, tidak ingin masalah anaknya berbuntut panjang, sampai disidang di pengadilan.
Apalagi mereka juga kerabat dari keluarga sang Mama. Para ibu itu, juga tidak ingin keluarga besarnya terpecah belah, dan akhirnya sebuah kata maaf itu telah terucap dari bibir manis Darra. Gaby lantas memaafkannya, meski ia juga ingin membalas perbuatan Darra dengan caranya sendiri.
1 jam kemudian.
Menikmati kelapa muda berdua, dan tampak dikelilingi kolam ikan. Saung yang cantik dan duduk lesehan.
"Mas Al, aku suka tempat ini."
"Aku juga baru pertama kali kesini."
"Mas tahu tempat ini dari mana?"
"Pak Ferdi."
Al yang jarang pergi ke tempat-tempat makan yang ada di kota ini. Ia banyak informasi seputar kuliner dan lain sebagainya, dari rekan kerjanya.
"Aku tahu masalah Kak Binar."
"Kamu tahu?"
"Aku tadi melihat beritanya, terus aku tanya sama dia."
"Kamu telephone Binar?"
"He'em."
"Apa katanya?"
Al yang duduk di sebelah kiri dan Gaby merangkul lengan tangannya, sembari melihat ke kolam ikan.
Mata terasa segar, setelah melihat ikan-ikan yang berwarna orange, kuning, hitam, berenang kesana kemari. Gaby terlihat gemas dan sangat menyukainya.
"Dia memang menginap di hotel itu."
Al yang sama halnya, menatap ke ikan-ikan, ia berkata "Sepertinya, Binar sudah berubah."
"Kak Binar tidak berubah. Aku tahu kenapa dia begitu."
"Kamu tahu?"
"Setidaknya, Pakde Lingga sudah membuktikan kalau Kak Binar, penerusnya yang hebat."
"Apa maksud kamu?"
"Kak Viral, bulan lalu sudah mendapat kekuasaan atas Mahatma. Lalu Kak Binar, hanya sebagai ekornya. Seperti ikan itu, ekornya bergerak lincah."
Al tersenyum mendengar perkataan Gaby saat ini. Ternyata di sisi lain, istrinya sudah bisa berfikir lebih dewasa.
"Kenapa kamu nggak mau pelihara ikan?" Al yang mengingat, sampai sekarang kolam ikannya masih kosong.
"Aku tidak bisa memelihara ikan. Aku tidak seperti Pakde Lingga, yang pandai memelihara Arwana."
"Jangan bahas lagi soal mereka."
"Iya, aku juga tidak ingin membahas mereka. Tapi, kalau bukan karena mereka, mana bisa aku bertemu Pak guru kejamku."
"Iya, murid bandelku."
Selagi masih sore, dan menikmati kelapa mudanya. Kedua insan ini, tampak saling bersenda gurau. Tidak lagi terdengar suara tangisan manja.