ABYAZ

ABYAZ
Genk Kupu-kupu



Suasana kantin sekolah, 5 menit yang lalu masih terasa sangat sepi, tapi saat ini sudah mulai ramai. Bukan hanya Gaby saja yang duduk di bangku itu, melainkan ada genk kupu-kupu.


Kantin sekolah yang bersih, bernuansa kebiruan. Dinding dengan warna biru muda. Meja-meja dan kursi tertata rapi. Ada beberapa stand makanan di kantin ini. Sudah seperti foodcourt di mall. Begitu luas kantin sekolah ini dan Gaby sibuk menikmati es lemon tea.


"Emh, aku tahu. Pasti kamu tadi menggoda Pak Alvaroku?"


"Hah?!" Gaby mencebiknya dengan centil.


"Elsa, kasih tahu sama dia. Siapa aku?" Raut wajah yang tegas dan menunjukan kalau dia itu seorang boss.


"Apa pentingnya?" Batin Gaby. Dia tidak ingin tahu siapa mereka semua. Gaby dengan manis nan centil, menggigit sedotannya, terlihat wajah gemesnya. Tatapan jernih nan cantik dia pancarkan, membuat ketua genk kupu-kupu semakin tidak senang.


"Hai kamu, anak baru. Kamu wajib tahu. Dia Cantika Rosiana Hermawan. Cantika putri kepala yayasan sekolahan kita ini, Bapak Tio Hermawan. Terus, dia ketua genk kupu-kupu dan mantan ketua cheerleader."


"Mantan ketua cheers aja bangga,," Sahutan Gaby mengejek.


"Apanya yang lucu?" Elsa yang geram dan Cantika tersenyum saja. Meski perasaannya begitu kesal.


Vika sang sabahat kiri. "Kamu, pasti tahu apa akibatnya kalau berani sama Cantika. Apalagi menggoda Mr. Kulkas."


"Apa??! Aku menggoda Mr. Kulkas?" Gaby seolah yang tidak salah mendengar.


"Iya, Pak Alvaro. Guru olah raga."


Gaby mulai bangkit dari kursinya dan kedua telapak tangannya menopang ke meja. Memandangi Cantika lebih dekat, dengan gaya centilnya, Gaby berkata "Kalau soal Pak Al. Aku nggak tertarik. Tapi_.."


Gaby menjauhkan dirinya, dan Cantika menggertak "Tapi apa??"


"Tapi, aku tidak tahu gimana Pak Al. Emh, buktinya hari ini. Emh... Lapangan hijau yang indah." Gaby berusaha merusak suasana hati Cantika.


Padahal, Gaby sendiri sangat kesal dengan Pak Al. Apalagi, ini hari pertamanya masuk sekolah baru. Malahan seperti di ospek dan merasa suasana lingkungan sekolah ini lebih mengerikan di banding sekolahnya yang dulu. Dia baru saja merasakan kebebasan, namun hal lain yang tidak dibayangkan akan terus mengintai hari-harinya.


"Pyyok!!" suara air menghempas ke wajah.


Banyak mata yang menatap ke arah Gaby, seolah Gaby yang menyakiti Cantika. Padahal, Cantika yang berusaha menyiram minuman Gaby itu ke wajah Gaby. Namun, Gaby lebih sigap dan gerak cepat saat gelas itu hendak di raih Cantika.


"Upps,, sorry." Ucapnya.


"Aaaa.." Cantika hendak menamparnya, namun Vika dan Elsa melerai Cantika.


"Bukan aku yang memulai." Gaby mengangkat kedua tangannya. Menyerah tanpa bersalah dan susah menjelaskan ketika ketua kelasnya sudah mendatanginya.


"Gaby," Tegur Ghani.


"Sumpah Ghan, aku nggak sengaja."


Ghani hanya menggeleng, namun dia juga mengerti siapa yang berbuat ulah duluan. Tapi, semua mata sudah tertuju pada Gaby, sang murid baru. Entah, nantinya dianggap salah atau benar. Semua yang ada dikantin, melihat kalau Gaby yang menyiramkan minuman itu ke wajah Cantika.


"Gaby, ikut aku." Ajak Ghani.


"Iya." Gaby pergi mengikuti Ghani.


Elsa dan Vika berusaha mengeringkan wajah Cantika dengan tisue yang ada di meja itu. Namun, minuman itu membuat wajah Cantika menjadi lengket dan dia begitu kesal.


"Ghani, tadi bukan maksudku begitu sama dia."


"Tidak perlu membela diri."


"Sumpah Ghan, aku nggak niat begitu."


Langkah kaki mereka berdua terhenti, Ghani menatap ke wajah Gaby, lalu berkata "Makanya nurut sama Pak Al. Kamu sendiri yang bolos begitu saja. Pak Al nggak bakalan bisa membela kamu."


"Bukan begitu Gaby."


"Apa karena Cantika putrinya kepala yayasan?"


Ghani mengangguk, lalu berkata "Sudah ada yang pernah di keluarin dari sekolah ini. Kamu juga, tadi tidak mau menurut sama Pak Al. Seandainya saja kamu tadi menurut."


Ghani telah kembali berjalan dan Gaby merasa bersalah.


"Ini hari pertamaku, apakah ini akan jadi hari terakhirku di sekolah ini?"


Gaby, mengikuti langkah kaki Ghani. Mereka berjalan cepat menuju ruangan Pak Al. Karena, tadi Pak Al menyuruh Ghani untuk memanggilkan Gaby, agar menghadap ke ruangannya.


"Gaby, ini ruangan Pak Al."


"Hems, kenapa aku harus kesini?"


"Aku nggak tahu. Kamu temui saja Pak Al. Aku cuma diperintah buat nyariin kamu."


"Terus, aku harus gimana?"


"Entahlah. Kamu masuk saja sana. Aku mau ke ruang ganti."


Gaby merapikan rambutnya yang teruai. Ia kembali mengikatnya seperti ekor kuda. Saat tadi berolah raga, ia juga mengikat rambut pajangnya. Rambut lurus kecoklatan, panjang sedada dan berponi tipis menutupi dahi.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk."


Entah aura apa ini, rasa kikuk pada diri Gaby. Pak Al hanya menatapnya saja.


Hening!


"Pak Al memanggil saya?"


Alvaro yang duduk di kursi dan masih memakai kaos olah raga warna putih. Senyuman tipis nan judes dia berikan, Gaby yang melihatnya begitu gelisah.


"Apa yang kamu lakukan di kantin?"


"Saya beli minuman."


"Selama 20 menit dan tidak kembali ke lapangan."


"Tadi, saya."


Gaby sepertinya susah untuk menjelaskan panjang lebar. Meski dijelaskan juga tidak ada harapan kalau dia akan terbebas dari Cantika.


"Tadi kenapa?" Tatapan tegas.


Gaby merasa bersalah. "Tadi ngobrol sama temen Pak."


"Teman? Kamu baru 3 jam di sekolah ini, sudah punya teman?"


Pak Al sangat tahu, hanya beberapa murid yang berteman dan yang lainnya individual. Para murid lebih mengutamakan belajarnya. Dibandingkan untuk berteman dekat. Apalagi, setiap pembelajaran yang ada hanya kompetisi untuk meraih prestasi.


"Permisi Pak Al, anda diminta untuk ke ruangan Pak Lukman." Ucap petugas kebersihan di sekolahan itu. Agar guru olah raga itu segera menghadap kepala sekolah.


"Duh, gawat." Gaby mulai gelisah.


Nantikan kelanjutannya ya. 🤗