ABYAZ

ABYAZ
Tinggal Bersama Teman Hidup



Suara adzan subuh membangunkan Abyaz.


"Sudah subuh." Ucapnya dan matanya melek-melek cantik. Masih berbaring dan berselimut tebal.


Setelah hari pernikahannya, Abyaz semalam sudah tinggal di rumah Damar.


Kamar dengan nuansa abu-abu, terlihat sangat cocok untuk kamar kaum adam. Tidak terlalu gelap, hanya saja Abyaz memang belum terbiasa.



Abyaz melihat ke kanan dan kiri, masih terasa asing. Abyaz perlahan bangkit dari tidurnya, tangannya menyikap selimut. Berjalan ke sisi dinding dekat pintu, mematikan AC kamar itu.


"Damar dimana?"


Dia tidak melihat sang suami, semalam setelah sampai di rumah itu, Abyaz ke kamar dan langsung tidur. Suaminya bilang mau keluar sebentar. Tapi dirinya sudah tidur lebih dulu dan tidak tahu suaminya ada dimana.


Membuka pintu hanya menampakan kepalanya. Menengok ke kanan dan ke kiri lalu kembali menutup pintu kamar itu.


Abyaz menuju kamar mandi yang ada di kamarnya itu. Kamar mandi yang tidak terlalu luas tapi cukup nyaman, dengan nuansa putih hitam.



Abyaz yang memasang wajah yang cemberut. Entah apa yang dia rasakan. Menatap wajahnya pada cermin yang ada di atas wastafel.


"Sholat subuh dulu. Nanti baru cari dia." Gumam Abyaz. Dengan segera mengambil air wudhu.


Abyaz yang terbiasa tinggal dengan kedua orang tuanya, tiba-tiba harus menyesuaikan dirinya di tempat baru dan tinggal bersama sang suami, bahkan suami yang baru saja dia kenal.


"Ya Allah, terima kasih." Ucapnya setelah menunaikan kewajibannya dan tidak lupa dia memanjatkan do'a dan tidak lupa dia juga mendo'akan sang kekasih hati yang telah tiada.


Abyaz yang berkaca-kaca, dengan do'a dan secerca harapan untuk masa depan. Walaupun dalam hatinya masih ada cintanya yang lama, dia juga ingin berusaha untuk mengenal dekat sang suami.


Abyaz yang melepas mukena, melihat lagi ke atas tempat tidur. Suaminya semalam tidur dimana dia juga tidak tahu.


Abyaz yang keluar kamar dan segera mencari sang suami. Berjalan menuruni tangga rumah itu, dan tersenyum saat melihat suaminya tertidur di sofa dan tampak laptop yang masih menyala.



Rumah minimalis modern, tadinya interior rumah tidak begini. Beberapa bulan lalu, Damar merubah semua interior yang ada di ruangan lantai bawah.


Rumah yang berada dalam perumahan residence dan sebelah kiri rumah itu adalah rumah sang Tante.


"Damar...." Ucap Abyaz yang duduk di depan Damar dan memandangi wajah teman hidupnya.


Flashback On


Beberapa jam lalu, saat tiba di rumah itu. Abyaz masih saja diam dan tanpa kata, selama dalam perjalanan dari rumah orang tuannya, sampai tiba di rumah Damar. Abyaz tetap anteng dan tidak ada kata yang terucap darinya.


Setibanya Abyaz di rumah Damar.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa."


"Belum siap ikut aku?"


Abyaz menoleh ke arah wajah suaminya dengan wajah tersenyum manis.


Abyaz memberikan tangan kanannya, dan telapak tangan itu berada tepat di hadapan sang suami. Damar hanya tersenyum, lalu dia menempelkan telapak tangannya.


Kedua tangan itu akhirnya saling menggenggam.


"Teman?" Abyaz dengan suara yang menggemaskan.


"Teman." Damar dengan gemas dan mulai masuk ke rumah dengan perasaan manis.


Satu sama lain saling melempar senyum dan Damar mengerti kalau sang istri masih butuh penyesuaian.


Mata Abyaz memandangi sekitar ruangan itu. Tadi di luar hanya ada taman dan sebelahnya garasi mobil. Taman juga hanya ada satu pohon. Tidak terlihat tanaman hias apapun, pohon cemara udang itu tampak tidak terawat.


"Ini kamarku?" Tanya Abyaz setelah masuk ke dalam kamar dengan nuansa abu-abu.


"Bukan."


"Emh, ini kamar kamu?"


"Abyaz, ini kamar kita."


Abyaz baru tersandar, mereka suami istri. Memang sewajarnya kalau tidur pasti satu kamar, satu tempat tidur. Bahkan satu selimut.


"Emmh,..." Abyaz mulai duduk dan mata dia masih memandangi sekitar ruangan itu, dari langit-langit serta hiasan yang ada di situ, tidak luput dari pandangan Abyaz.


Damar duduk di sebelah kiri Abyaz dan berkata "Kamar ini belum aku renov lagi. Baru ruangan bawah yang aku renovasi."


"Kamu ingin kamar yang seperti apa?"


"Iya, kalau abu-abu terlalu gelap. Aku dari kecil tidak suka gelap. Aku lebih suka warna putih."


"Baik, nanti aku rubah semua interiornya."


"Tidak masalah, aku juga harus menyesuaikan diri."


"Abyaz...."


"Apa?"


"Aku teman hidup kamu. Apapun tentang kita. Kita juga harus saling memahami."


"Iya aku tahu."


Damar memegang wajah Abyaz dengan kedua tangannya.


Abyaz merasa tidak nyaman, atas tindakan Damar Setya Ardana ini.


Damar memejamkan matanya dan perlahan mencium kening Abyaz.


Sebuah do'a dia panjatkan untuk sang istri dan berharap akan menjadikan mereka satu keluarga yang bahagia.


"Terima kasih." Ucap Damar dan perlahan membuka matanya.


Abyaz hanya mengangguk dengan senyuman. Damar sedikit tersenyum gemas dan mulai berdiri.


"Kamu tidur saja. Aku masih ada kerjaan."


"Kamu kerja?"


"Iya, aku mau keluar sebentar. Kamu tidur saja."


"Tapi aku_" Abyaz tidak jadi berkata lagi dan Damar bejongkok di depannya.


Damar memegang tangan Abyaz dan berkata "Tidak perlu takut, disini aman. Aku hanya sebentar. Mengambil file yang penting."


"Tapi besok hari minggu. Untuk apa kerja?"


"Pekerjaanku tidak tentu, tadi ada hal penting. Tapi aku memilih hal yang lebih penting untuk temanku ini, kamu tidak perlu cemas."


"Ya udah, tapi jangan lama-lama. Aku takut."


"Apa kamu mau ikut?"


Abyaz menggeleng dan tersenyum malu. Damar mencium tangan Abyaz dan pergi meninggalkan Abyaz.


Abyaz merasa nyaman, tapi dia juga masih canggung.


Abyaz mulai menyusuri kamar itu dan melihat kamar mandi. Lalu dia ke lantai bawah dan hanya ada satu kamar di lantai bawah. Ruang dapur dengan kitchen set dan mini bar. Ada ruang cucian dan sebelahnya ada kamar mandi. Meja makan minimalis dan ruang tamu.


Tidak begitu luas dan dia merasa senang.


"Aku tidak akan capek bersih-bersih." Ucapnya dengan gaya yang tengil.


Rumah yang hanya ada dua kamar tidur dan ruangan atas hanya kamar mereka.


"Em, aku sudah berfikir kalau rumah Damar luas. Pasti aku sibuk sendirian. Tapi ternyata sepertinya akan mudah buatku."


Mengingat hal apa saja yang dikatakan sang Mama sebelum dia pergi. Bahkan sang Papa juga sempat memberikan sedikit nasehat. Tapi, tidak sama seperti dulu. Pras sebagai Papa, dia sudah menyerahkan tanggung jawab atas diri Abyaz kepada Damar. Jadi sekarang ini, yang berhak untuk memberikan nasehat untuk Abyaz adalah sang suami.


Pras sendiri yang mengatakan hal itu kepada Damar dan Abyaz. Hanya sedikit wejangan yang Pras berikan kepada mereka berdua, dan itu hanya sebuah nasehat kecil untuk mereka berdua yang memulai kehidupan baru, sebagai suami istri.


"Besok pagi aku harus menyiapkan sarapan untuknya."


Flashback Off.


"Damar, bangun. Sudah jam 5." Ucap Abyaz dan mengelus lengan kiri Damar.


"Damar bangun..." Ucapnya.


Damar yang kebiasaan tidur di sofa ruang tamu, rasanya begitu pulas.


Dirinya belum terbiasa kalau sudah ada Abyaz di rumahnya. Damar yang masih berat untuk membuka mata, tapi dia mulai sadar kalau sudah memiliki istri.


Damar yang meraih tangan Abyaz dan bertanya "Kamu siapa?"


"Damaaaarrrr"


"Kenapa ada gadis di rumahku?"


"Damar kamu?!!" Abyaz yang bingung tapi dia sudah merasa kesal.


Damar mulai duduk dan tangan kirinya masih memegang tangan kanan Abyaz.


"Kenapa kamu di rumahku?"


"Damar, apa kamu menginggau??" Abyaz menatapnya dan menyentuh dahi Damar.


"Dia tidak demam, apa dia masih tidur?? Dia melek, kenapa dia tidak kenal aku?!"


"Kamu sangat cantik, kenapa kamu ada di rumahku?"


"Damar aku Abyaz, aku istri kamu." Ucapnya dengan jelas dan rasanya geregetan.


"Abyaz? Istri??"


Damar semakin memegang erat dan menarik Abyaz ke atas pangkuannya.


"Aku tidak menginggau. Aku sudah punya teman hidup."


Abyaz merasa tidak nyaman saat duduk di atas pangkuan Damar dan dia hendak beranjak pergi, tapi Damar memeluknya erat.


"Kamu pura-pura?"


"Damar?"


Damar yang beranjak pergi hanya mengangkat tangan kirinya.


"Damar!!"


Bahkan dia tidak menghiraukan Abyaz, dan Damar berjalan menaiki tangga dengan bibirnya yang tersenyum manis.


"Kamu menggoda aku???"


"Hiish, Damar ngeselin."


Abyaz lalu duduk di sofa itu dan melihat pada layar laptop yang masih menyala. Tampak sebuah desain rumah yang sangat menarik.


"Ternyata dia bisa buat desain rumah."


Abyaz tersenyum saat memandangi gambar desain rumah itu.


"Alarm jam setengah enam, kesiangan kali."


"Tapi semalam dia tidur jam berapa? Laptopnya aja masih nyala."


Abyaz yang mematikan ponsel Damar, dia melihat sesuatu yang cute, ternyata ada foto pengantin mereka di layar ponsel itu.


"Kenapa dia pilih gaya aku yang begini. Padahal banyak foto lainnya."


Foto Damar yang menggelembungkan pipinya dan jari Abyaz seolah pistol yang menembak ke pipi itu. Tapi ekspresi Abyaz terlihat begitu garang.


"Garang?"


"Dia suka aku yang garang?"


"Ada-ada saja.


Abyaz lalu mengotak-atik Hp Damar dan sesuai keinginan dirinya.


Damar yang sudah selesai sholat subuh lalu kembali ke lantai bawah.


Abyaz yang masih di ruang tamu tidak menghiraukan kedatangannya.


"Kenapa fotonya diganti?" Damar yang meraih ponselnya dari tangan Abyaz.


"Aku tidak suka yang itu. Aku suka aku yang manis senyumku."


"Ini ponsel siapa?"


"Ponsel kamu."


"Terus??"


Abyaz yang tadinya duduk bersila di atas sofa lalu berdiri di atas sofa dan dia merasa lebih tinggi dari Damar. Secara postur Damar begitu tinggi, bahkan Abyaz dibawah bahunya.


"Salah sendiri Hpnya nggak dikunci." Abyaz dengan sebal dan tampak berkacak pinggang.


"Untuk apa aku kunci. Nggak ada siapapun yang mainin ponselku."


"Tapi sekarang ada aku."


Damar tersenyum gemas dan meraih pinggang Abyaz, kedua wajah itu sangat dekat.


"Teman hidupku ternyata kepo. Aku harus waspada."


"Aku bukan kepo. Tapi aku nggak suka lihat fotoku yang tadi."


"Tapi ini ponselku, terserah aku mau pakai foto yang mana."


Abyaz memalingkan wajahnya dan Damar melepaskan tangannya.


Abyaz kembali duduk bersila dan memeluk bantal sofa dengan erat. Rasanya sangat kesal, tapi dia menahannya. Dia sadar kalau sudah bersalah.


Damar merangkulnya dan berkata "Ya sudah, aku ganti ini. Lagian garangku yang nyata udah ada disini."


Abyaz tidak mau menatap ke arah wajahnya.


"Hems, ngambek??"


"Terserah kamu." Ucap Abyaz dan pergi ke arah dapur.


"Abyaz... Abyaz..."


Abyaz yang berada di mini bar tampak meminum air mineral.



"Damar menyebalkan."


Damar yang duduk di sofa mematikan layar laptopnya, dan beranjak ke mini bar duduk di sebelah Abyaz.


"Kamu lapar?"


"Tidak."


Abyaz memutarkan arah duduk dan menatap Damar "Teman, apa kamu punya pacar?"


Damar "Ems, tidak pernah."


"Serius??"


Damar merapikan rambut Abyaz dan memandangi Abyaz. "Aku cuma punya teman gadis. Tapi, aku belum pernah pacaran."


"Teman gadis?? Pasti sangat special."


"Tidak juga."


"Kenapa?"


"Dia garang."


"Hemms?!!"


"Dia duduk dan melototi aku."


Abyaz sudah serius, tapi Damar malah bercanda. Damar memang begitu dan Abyaz memasang wajah teramat kesal.


Damar yang mengelus rambut lalu berkata "Disini, kamu teman hidupku. Kamu hanya akan menemani aku."


"Emms..."


Damar memegang tangan halusnya dan mencium tangan itu, lalu berkata "Aku akan pastikan tangan halusmu tidak akan terluka. Kamu tidak perlu masak, tidak perlu bersih-bersih. Karena kamu, hanya akan sibuk menemani aku."


"Terus siapa yang akan masak? Nyuci baju? Ngepel?" Tanya Abyaz yang tidak melihat ada pembantu di rumah ini.


"Ada dua Mbak. Setiap pagi ada yang bersih-bersih rumah, masak dan melakukan pekerjaan rumah."


"Pembantu?"


"Iya, tinggalnya di sebelah. Di rumah Tante."


"Lalu aku??"


"Kamu ikut aku ke kantor. Kamu teman hidupku, jadi kemanapun aku pergi, kamu harus menemani aku."


"Hems, pasti pekerjaan kamu itu membosankan. Sampai kamu butuh teman."


Damar menyentuh hidung mancung Abyaz dan beranjak pergi ke luar rumah.


"Hems, teman?


"Aku memang teman hidup kamu."


"Tapi aku harus ke kantor."


Abyaz yang menggerutu sendiri dan tidak lama ada dua mbak-mbak yang datang untuk bersih-bersih rumah.


Abyaz merasa tidak enak, lalu dia pergi ke luar rumah menyusul sang suami.


"Damar sepedaan nggak ajak-ajak."


Abyaz yang di luar menatap jauh sang suami. Dia tampak asyik mengayuh sepeda.


"Haii cantik."


"Huft, kenapa nggak ajak aku?"


"Kamu bisa?"


"Iya..."


"Ya udah, nanti beli sepeda."


Abyaz yang tersenyum dan Damar yang sempat berhenti, kembali bersepeda.


"Sudah lama tidak naik sepeda."


Damar yang lewat mengayak rambut Abyaz dengan gemas.


"Damaar....." Abyaz dengan cemberut.



Hallo semuanya,


Gimana, gimana, kalian suka tidak?


Hemms, othor juga bingung mau cerita gimana soal Abyaz.


Kalian masih ingin tahu kisah lanjutan mereka?


Ems, Damar Setya Wardana yang unyu dan Abyaz yang garang katanya.


Entahlah, sampai kapan mereka akan seperti itu.


Terima kasih atas like, komentar dan vote dari kalian. 🙏🙏