ABYAZ

ABYAZ
Om Bujang Dan Tante Rempong



"Ghani, Arjuna ternyata pup." Keluh Tata.


Tata tampak menjepit hidung dengan jari dan terlihat gaya cewek banget. Ghani yang menggeleng saja melihat gaya kemayu Tata. Perubahan gaya Tata ini membuatnya jadi merasa aneh.


"Iyuh, bau banget. Ghani, kamu aja yang cembokin Arjuna."


"Di lap aja Tata. Pakai tisue basah. Bukan dicebokin."


"Iya, itu maksud aku. Buruan, kamu yang gantiin popoknya."


Tata yang merasa geli saat tadi membuka diapers bayi tampan ini.


Ghani lantas mendekati bayi yang terjaga ini. Untung saja anteng dan menatap ke wajah Ghani.


"Arjuna unyu unyu, Om Ghani mau ganti popoknya dulu. Kamu jangan pipis ya."


Tata yang menjauh dan Ghani tampak duduk di hadapan bayi tampan ini.


"Arjuna, sayang."


Arjuna menatap Ghani dan perlahan bibir imutnya menukik ke bawah.


Oweeek!!


"Tata, dia nangis kalau sama aku. Kamu aja yang gantiin."


Ghani menjauh dan Arjuna udah kembali diam.


"Ghani, aku geli. Pokoknya kamu aja. Aku yang nyanyi-nyanyi biar dia nggak takut sama kamu."


Ghani kembali mendekat dan Tata sudah bernyanyi.


"Arjuna sayang, oh.. Arjuna sayang. Ini Tante Tata. Ini Tante Tata."


Ghani secepatnya mengganti diapers itu dan ia sebenarnya juga merasa geli. Meskipun, Ghani dan Tata memiliki adek. Mereka tidak pernah menjaganya. Ada sister yang mengasuh adiknya.


"Arjuna ganteng. Oh.. Arjuna ganteng. Kalau Bunda pulang, Arjuna senang."


"Tata, kamu nyanyi yang lain dong."


Oweeek!


"Tuh kan bener, barusan aja aku bilang. Jangan bilang Bunda, Bunda."


"Itu, kamu juga bilang Bunda."


Oweeeek!


"Chup, chup sayang. Sama Tante Tata dulu ya. Om Ghani mau buang popok dulu."


Tata berkata "Jangan lama-lama perginya."


"Iya, iya. Kamu jagain Arjuna dulu."


Tata langsung menggendong bayi embul nan tampan ini.


"Uuu, Arjuna ganteng deh. Arjuna jangan nangis ya."


Tata merasa kesulitan saat gendong Arjuna yang rewel. Ghani secepatnya datang dan langsung menggendong Arjuna.


"Arjuna, Om Ghani disini. Arjuna bobok ya."


"Bentar. Aku buatin susunya dulu."


"Oke."


Tata segera ke dapur dan membuatkan susu untuk bayi tampan ini. Dapur baru yang tampak berantakan. Tidak seperti biasanya, ketika ada sang Mama mertua. Selalu bersih dan rapi.


"Gaby, Gaby, orang mampu. Tapi kenapa hidupnya berasa susah begini sih?"


Tata yang mendumel sendiri, karena melihat dapur yang berantakan, dan tampak sampah penuh belum di buang.


Rumah baru dengan halaman luas, dan tampak dua lantai. Ada ruang mushola, ruang baca, ruang olah raga dan juga ada ruang tempat bermain anaknya.


"Arjuna, ini susunya udah jadi. Kamu mimik susu dulu ya." Tata yang seperti emak rempong.


Ghani masih menimang-nimang agar bayi tampan ini tidak menangis.


"Habis pup, pasti haus. Pantesan rewel. Tata, kamu udah pinter ngurus bayi."


"Aku sering lihatin Gaby, jadi sedikit tahu aja soal Arjuna."


Ghani yang berdiri sambil menggendong dan Tata masih memegang dot bayi tampan ini.


"Tuh, dia udah ngantuk juga."


"Bobo ya sayang. Tante Tata masih disini."


"Sstt, ngomongnya pelan-pelan. Nanti dia nangis lagi."


"Iya."


Yang satunya bujang muda dan satunya gadis yang beranjak dewasa. Keduanya sama-sama masih belia dan temannya sudah punya bayi di usia yang belia ini.


"Tata, di dapur ada makanan nggak?"


"Kamu laper?"


"Iya, dari tadi siang aku belum makan."


"Sumpah demi apa, dari siang belum makan. Kenapa tadi nggak bilang?"


"Ya baru kerasa lapernya sekarang. Ini aku dari tadi gendong Arjuna. Kamu cuma mondar mandir aja."


"Oke, aku pesan makanan dulu."


"Emangnya di kulkas nggak ada makanan?"


"Ghani, dapurnya mengerikan."


Tata langsung mengambil ponselnya dan memesan makanan untuk sang sahabat.


Ghani bertanya "Emangnya dapurnya kenapa?"


"Berantakan banget. Aku heran sama Gaby. Bisa-bisanya rumah segede ini dia nggak ada pembantu."


"Ya mungkin, belum dapat aja. Nyari pembantu itu juga susah. Nggak segampang pilih orang."


"Ya kan bisa nyari dari agen. Mama aku juga gitu."


"Nah, bener. Makanya itu, pasti butuh sister dan asisten rumah tangga." Lanjutnya, "Makanan kamu OTW. Aku mau ke depan."


Ghani akhirnya duduk di tempat tidur. Ranjang Arjuna yang bermotif karakter mobil. Tema ruangan yang di desain untuk anak laki-laki. Wallpaper dinding yang bergambar aneka kartun binatang dan ada aneka hiasan dinding untuk anak usia balita. Lemari putih dan rak yang tersusun rapi. Ada pula meja yang berisi perlengkapan bayi dan satu set mainan kerincing bayi.


"Arjuna udah anteng." Lirihnya pelan.


Tata tidak lama datang dan memberikan makanan kepada Ghani.


"Sana makan."


"Ini gimana?"


"Ya udah, aku suapin kamu."


Ghani tersenyum dalam hatinya, tidak menyangka sang sahabat yang dulu dikenalnya begitu tomboy dan arogan. Sekarang jadi lebih lembut dan perhatian.


Tata yang telah siap dengan sendok dan piring. "Aaak."


Ghani tersenyum dan Tata berkata "Ayo Aaak. Malah senyum."


Ghani lantas menerima suapan Tata.


Entah bau tangan, atau memang karena tidak ada sang Bunda di dekatnya. Arjuna, memang tidak bisa terlepas dari gendongan.


Kemarin, Budhe Abyaz dan Pakde Lingga. Tadi pagi Papi Darren dan lanjut Mami Darra sampai sore. Lantas, malam ini saat ditinggal Bunda ke pesta. Arjuna dijaga oleh Tante Tata dan Om Ghani.


"Arjuna sayang, Ayah pulang."


"Pak Al."


Ghani yang masih tampak disuapi oleh Tata dan ia jadi salah tingkah. Tata juga segera menjauh dari Ghani. Mereka itu masih berada di kamar Arjuna.


"Kalian rupanya. Gaby dimana?"


"Gaby lagi ada acara Pak. Sama senior." Jawab Tata yang terlewat jujur.


"Oke, kalian lanjutkan saja makannya. Saya mau ganti baju dulu."


"Iya, Pak Al."


Mereka berdua, sudah terbiasa memanggil Pak Al. Tidak bisa merubahnya menjadi Kakak.


Setelah beberapa menit kemudian, dua orang itu tampak duduk di sofa ruang tamu dan Ghani masih menggendong bayi tampan itu.


"Kalian kenapa pindah kesini? Disini gerah, ACnya belum dipasang."


"Nggak apa-apa Pak. Lagian kita juga mau pulang."


"Pulang? Buru-buru amat."


"Soalnya, kita juga nggak pamit sama Papa Mama." Ucap Tata dan salah tingkah.


"Bukannya kalian ngekost?"


"Iya, kita ngekost." Jawab Tata.


"Sini, Arjuna sama Ayah. Kita bobok di kamar yuk. Disini gerah, nggak ada AC."


"Pak Al, kita pulang dulu."


"Di sini saja. Kalau perlu nginap. Di atas ada kamar kosong."


"Tapi, kita masih harus. Em.."


Ghani berkata "Pak Al, saya mau mengantar Tata dulu. Nanti saya bantuin Bapak buat jagain Arjuna."


"Nggak apa-apa soal Arjuna. Saya bisa sendiri. Kalian kalau sungkan. Anggap saja saya nggak di rumah."


"Pak Al, sepertinya salah mengerti soal kita."


Ghani merangkul Tata, lalu berkata "Iya Pak Al, saya antar Tata dulu ke kostnya. Nanti saya kesini lagi. Soalnya, tadi Gaby bilang. Minta di jemput sama Bapak."


"Owh, HP saya tadi lowbat. Pantas saja, saya nggak tahu kalau Gaby ada acara di luar."


Tata berkata "Pak Al, saya pamit dulu."


"Terima kasih sudah jagain Arjuna."


"Sama-sama Pak."


"Daddaa Arjuna."


Ghani hanya tersenyum dan Tata merasa risih saat Ghani memegang tangannya.


"Mereka ini. Ada-ada saja." Ayah tampan, lalu membawa bayinya ke dalam kamar.


"Sayang, Ayah kangen banget. Kamu tadi siang sama siapa? Apa, kamu ikut Bunda ke kampus?"


Sang Ayah yang tidak tahu menahu, kalau bayi tampannya tadi siang bersama Adik sepupunya yang judes.


Saat malam ini, di tempat yang berbeda.


"Darling, Arjuna gemesin ya." Ucap Darra yang menatap layar ponselnya.


"Iya, ganteng. Mirip sama Mas Al."


"Tadi blazerku kena ompolnya Arjuna."


"Di laundry juga wangi lagi."


"Tidak. Aku akan menyimpannya. Nanti kalau Arjuna sudah besar. Aku akan memberikan bukti. Kalau dia sudah ngompolin blazer aku."


Darren tersenyum, yang tadinya masih fokus pada ponselnya. Ia langsung mendekap sang istri.


"Emh, sepertinya kamu sudah ingin bayi."


"Nanti dulu. Aku masih takut. Waktu di kuret sakit banget. Kamu nggak tahu gimana rasanya. Yang sakit itu aku bukan kamu."


"Iya, iya. Aku akan menunggu. Aku juga sudah nggak sabar menimang bayiku sendiri."


"Emhh, nanti aku pikirkan lagi. Enaknya program dimana?"


Mommy Vava saat ini berada di luar negeri untuk pengobatan Ayu. Agar nantinya, Ayu bisa mengandung. Ayu sudah dilamar relasi kerjanya. Ia juga akan segera menikah.


"Darling, aku mau Arjuna."


"Iya, besok."