ABYAZ

ABYAZ
Di Resepsi Pernikahan



Satu bulan kemudian, suasana telah berganti baru. Kali ini, acara resepsi pernikahan dengan adat Jawa di gelar meriah.


Dekorasi pelaminan dengan gebyok putih dan dihiasi bunga-bunga segar. Tampak nuansa mewah dan terkesan gaya kekinian.


Ayu dan suamianya, telah sepakat untuk acara resepsi mengusung ritual adat Jawa.


Sepasang pengantin yang sudah temu manten, duduk di atas pelaminan dan di dampingi oleh para orang tua.


Besan Lingga Mahatma, yang ini dari keluarga pengusaha kain batik.


Sang menantunya ini, anak nomor 5 dari 7 bersaudara. Keluarga ini sangat ramah dan bersahaja.


Gaby yang sudah tampak memakai kebaya kutu baru, dengan motif kain jumputan warna hijau botol.


Dandanannya, tampak rambut di sanggul dengan melati seger yang mengemas sanggulnya.


"Cantiknya istriku." Al yang gemas, saat melihat sang istri sudah tampil berbeda.


Meskipun, waktu itu mengadakan resepsi sederhana, kali ini penampilan Gaby jelas berbeda.


"Kamu bisa saja mas. Pinter banget kalau memuji aku." Gaby yang masih di depan cermin.


Semua perempuan, dari pihak keluarga pengantin perempuan, telah diharuskan memakai kebaya batik jumputan warna hijau.


Terutama para pagar ayu dengan batik jumputan hijau botol, kemudian para pendamping pengantin mengenakan batik jumputan hijau lime dan para kerabat lain memakai kebaya hijau.


Dari pihak pengantin laki-laki, para saudaranya juga sudah tampak menggandeng pasangannya.


Jadinya, keluarga besar pengantin perempuan, juga tidak mau kalah kekompakannya, saat menjadi pagar ayu dan pagar bagus.


Ketika tadi, hendak mengantarkan Ayu ke pelaminan, para pagar ayu dan pagar bagus, sedang bersiap.


Mari kita simak, apa yang mereka ributkan.


"Mas gimana penampilan aku? Perut aku gendut nggak?" Abyaz yang tidak bisa menjauh dari suaminya dan ia tetap merengek. Entah kenapa, kehamilan kali ini sikapnya jadi berlebihan soal penampilannya.


"Mas, jawab dong?"


Suaminya hanya menatap saja.


Damar menjawab dengan manis, "Sayang, kamu cantik banget. Aku suka penampilan kamu yang pakai kebaya begini."


"Terus, kalau aku pakai baju biasa, apa terlihat jelek?"


Salah lagi, Damar berkata "Sayang, saat ini kamu sudah tampil perfect. Setiap hari juga begitu sayang. Sudah ya, ayo kita kumpul di ruang keluarga, mereka udah nungguin kita."


"Mas, tapi aku nggak PD. Ini perut aku buncit."


"Sayang, ini perut kamu masih datar begini. Sayang, itu cuma perasaan kamu aja."


Damar dengan gemas, dan ingin sekali mencubit kedua pipinya, sayangnya make-up istri cantiknya sudah tampak sempurna. Nantinya, kalau di toel-toel jadi ambyar lagi foundinya.


Di kamar Gaby dan Alvaro, juga sama begitu. Gaby yang sudah merasa puas dengan penampilannya, tapi ia kesulitan untuk melangkahkan kakinya.


"Mas ini kain rok aku, kenapa jadi sempit begini, jadi susah jalannya."


Alvaro berkata sambil menatap bagian kaki istrinya "Itu nggak apa-apa sayang. Memang begitu, kalau pakai kain jarik."


"Mas, nanti kalau jalan jangan cepet-cepet. Tungguin aku."


"Iya sayangku. Kamu ini ada-ada saja, mana ada ritual pengantin jalannya cepat."


"Ayo kita kesana. Mereka sudah nunggu kita."


Gaby merangkulkan tangannya, ke lengan kiri sang suami. "Oke, Mas bojoku."


Begitu gemas, pasangan ini keluar dari kamarnya.


Bersamaan dengan pasangan Abyaz dan Damar, yang baru keluar dari kamar mereka. Mereka berdua saling senyum saat bertemu.


Di hotel mewah, para keluarga besar telah berkumpul di ruangan yang telah di siapkan.


Baik dari keluarga pihak pengantin perempuan, dan keluarga pihak pengantin laki-laki.


Temu manten yang di laksanakan sekitar jam 10 pagi. Saat ini jam 9, mereka dengan kerempongannya sendiri-sendiri.


Saat mereka bersiap, ada yang begini dan begitu.


Kita simak yang lainnya.


Beralih ke Alishba, istri yang satu ini terlihat sangat perhatian. Menyuapi suaminya, sebelum tampil menjadi pagar bagus.


Dr. Emran yang baru tiba, langsung berganti pakaian adat jawa. Beskap hitam, lengkap dengan jarik, selop dan blangkon. Pak dokter satu ini, terlihat begitu gagah.


"Sayang, sudah cukup."


"Iya Mas." Alishba juga langsung mengambilkan air mineral untuk sang suami.


Damar dan Alvaro hanya bisa gigit jari, saat melihat perhatian Alishba kepada pasangannya.


"Sayang, Owen mana?"


"Dia lagi sama Bulan Bintang. Anak kita ganteng banget. Owen sama kerabat Panca, yang akan bawa kembar mayang."


Panca Hartanto, adalah suami Ayu. Dia juga sangat manis dan murah senyum seperti Papa Pras.


Kedua orang itu, di amati Damar dan Alvaro.


"Mas Damar. Sepertinya kita butuh resep untuk kita berdua."


Damar menepuk bahu Alvaro, ia berkata "Sepertinya memang harus begitu."


"Gimana, kalau besok kita ke rumah sakit?"


"Oke."


Sayangnya, Gaby dan Abyaz sedang mengamati Binar, terlihat duduk sendirian. Mereka berdua tampak kasian.


Abyaz bertanya "Gaby, kamu punya ide?"


"Gaby mana ngerti Kak."


Abyaz menoleh ke arah Stella yang juga duduk sendirian, dan tampak dikipasin oleh asisten pribadinya.


"Gaby, kamu dekati Binar. Terus, ajak dia duduk di sebelah Kak Stella."


"Kak Abyaz yakin?"


"Sepertinya, begitu lebih baik."


"Emh, bener juga sih. Kak Stella juga pakai kebaya seperti kita."


Kemudian Gaby mendekat, berkata "Kak Binar. Ayo ikut aku."


Binar yang tidak mengerti, ia hanya menuruti Gaby. Binar bak anak kecil, yang sedang di gandeng ibunya. Binar lalu di suruh duduk, di sebelah Stella.


Gaby berkata "Kak Stella, aku titip Kak Binar ya. Kasian, dia nggak ada teman."


Stella, menyuruh asisten pribadinya untuk pergi. Lalu, ia menatap ke arah Binar.


"Kenapa kamu tidak mengundang mantan kamu?"


"Aku tidak tahu dia tinggal dimana?"


"Terus anak kamu?"


"Ya, aku hanya menghubungi pengawal."


"Berarti tahu."


Binar memalingkan wajahnya dan ia tampak menghembuskan nafasnya.


"Aku akan menjadi pendampingmu, ya atas permintaan Ayu."


"Ayu?"


"Iya, Ayu sendiri yang datang ke JS. Sampai aku harus memakai kebaya ini."


"Owh, begitu."


Ayu mengundang Stella, untuk menjadi pasangan Binar. Agar, sang Kakak tampannya ada pasangan, saat menjadi pagar bagusnya.


Stella baru kali ini memakai kebaya, ia merasa kegerahan. Dari tadi, sang asisten telah mengkipas-kipas ke arahnya, agar tidak kegerahan.


Padahal, ruangan ini berAC, sepertinya Stella nervous. Binar juga merasa tidak nyaman, saat memakai beskap.


"Tante Stella."


"Apa? Kamu panggil aku, Tante?"


"Lalu, aku harus panggil apa?"


Menurut cerita lama, Stella memang anak Yuda Mahatma. Berarti, kalau dari sang Daddy, Binar benar sekali memanggilnya dengan sebutan Tante. Namun, Stella tidak suka, bila Binar memanggilnya Tante.


"Aku bukan Tante kamu. Jangan berharap, aku mau menjadi Tante kamu."


"Terus, aku harus panggil Kakak? Seperti Damar, begitu?" Suara itu terdengar malas.


"Kamu panggil aku, Nona. Karena aku, bukan keluarga Mahatma. Aku cucu dari keluarga Jisung. Oke."


Stella memang begitu adanya, sampai saat ini dirinya belum menikah. Usianya hampir sama dengan Alishba. Namun, ia tidak tertarik untuk menikah. Yang dia pikirkan hanya kerja, bersenang-senang dan memanjakan dirinya sebagai Nona.


"Liu, gimana penampilan aku?"


"Keren Mas." Liu lantas membenarkan blankon suaminya.


Darra dari tadi malah fokus ke bayi tampan, "Arjuna, Mami mau jadi pagar ayu dulu. Kamu sama suster dulu ya."


"Arjuna, apa Papi sudah ganteng?"


"Darling, kamu pakai beskap makin ganteng."


"Kamu pake sanggul, aku jadi pangling. Cantik."


Yang punya bayi, malah sibuk sendiri dengan Kakak iparnya. Minta diajari jalan lemah-lembut. Terbiasa pakai rok pendek, eh di suruh pakai kebaya, jadinya ya ribet.


"Pelan-pelan aja jalannya."


"Kak Abyaz, waktu di resepsi aku, roknya nggak begini."


"Yang waktu itu bikinnya beda, ada resletingnya."


Acara temu manten akan segera di langsungkan.


Penampilan pagar ayu sudah terlihat sama, berkebaya dengan sanggul jawa disertai bunga melati segar.


Lalu, sang pagar bagus tampil dengan beskap lengkap, berwarna hitam. Mereka begitu gagah dan telihat ganteng-ganteng.


"Mas, aku deg-degan." Gaby malah gugup sendiri.


Al menggandeng tangan istrinya, "Santai saja. Ada aku disini."


Enaknya, kedua pasangan ini. Yang dari Gaby yang hajatan Pakdenya. Kalau dari suami yang hajatan Tantenya. Saat berkumpul begini. Mereka jadi tidak perlu menyesuaikan diri.


Pagar ayu dan pagar bagus sudah berkumpul, dengan menggandeng pasangan mereka masing-masing.


Mereka, saat ini sedang di breafing oleh WO, yang di percaya untuk mengatur jalannya acara resepsi di pagi ini.


Gaby bersama Alvaro berada di posisi depan. Terus, urutan ke dua ada Abyaz dan Damar. Lalu, yang urutan ke tiga ada Darra dan Darren. Setelahnya, di urutan ke empat ada Liu dan Viral. Disusul, urutan ke lima ada Stella dan Binar. Dan yang paling belakang, ada Alishba dan Emran.


Mereka tampak harmonis, sudah terlihat senyuman ramah mereka. Berjalan mengikuti arahan sang WO.


Mereka mengantarkan pengantin perempuan (Ayu) ke atas pelaminan. Nantinya sang pengantin perempuan akan bertemu dengan pengantin laki-laki.


Dari situlah, adat temu manten akan berlangsung.


Pertemuan pengantin dengan ritual yang ada, begitu sakral.


Sekarang ini, sepasang pengantin sudah suap-suapan di atas pelaminan.


Gaby tampak menikmati acara pagi ini, ia memperhatikan sepasang pengantin itu.


"Sangat manis. Emm, waktu itu aku nggak ada acara begituan."


"Sayang, kamu mau mengulangnya?"


"Nggaklah. Sekarang aku bisa nyuapin kamu. Aak."


Alvaro tersenyum, lalu berkata "Enak banget, kalau makannya dari tangan kamu."


"Etss, nanti kebaya aku kotor. Kamu lanjut makan sendiri ya sayang. Soalnya, nanti masih ada acara lain."


"Sayang, nanti kebaya kamu juga ganti."


"Sayang, tetep saja. Nggak enak kalau dilihat orang lain. Nanti, aku suapin kamu kalau di rumah."


"Bener ya. Awas kalau ingkar."


Gaby tersenyum dan kembali menatap ke arah pengantin. Ayu sangat cantik, dengan busana pengantin basahan.


Abyaz berkata "Mas Damar. Aku jadi kepingin menggelar acara 7 bulanan. Aku juga mau pakai kemben kayak Ayu."


"Iya sayang."


"Beneran, dibolehin?"


"Iya sayangku." Gemasnya.




Gambar ini, hanya pemanis.