
Malam dengan suasana romantika yang saling memberi cinta. Dua insan telah menerima dan memberikan cinta. Ini bukan sekedar bukti. Tapi ini sebuah tanggung jawab yang mereka harus jalani.
Bersadurkan malam dengan kegelapan, hawa dingin merasuk dan menyelimuti tubuhnya.
"Emmh..."
"Sabar, sayang." Suara ini terdengar begitu nakal.
Sentuhan demi sentuhan dan mengecup dengan kelembutan.
Menyatukan cinta dan memulai dengan rasa. Perlahan dia menjadikan istrinya menggelincang dengan suara desahan manja.
Damar yang sudah memperdaya istrinya dalam dekapan manja, tidak henti dia memainkannya.
Jari-jari bermain dengan lembutnya, bibir manis tak hentinya mengecupnya.
Gairah apa yang menjelma, seakan tidak ada hal yang membuat dia lupa daratan.
Sorot mata itu, memancarkan kenakalan pria. Yang menjadikan sang wanita telah mencapai puncak gelora. Rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Senyuman tipis tapi begitu liciknya dan Abyaz sudah tidak berdaya.
Raungan manja dan semakin merintih, tapi Damar tidak melepaskannya begitu saja.
"Sempurna." Ucapnya dengan nakalnya dan Abyaz tampak malu dibuatnya.
Abyaz semakin menarik selimutnya ke atas, sampai menutupi sebagian wajah cantiknya.
Damar memang sudah nakal, tidak hanya sekali. Entah sudah berapa kali dia membuat istrinya tidak berdaya.
"Kucingku sudah berubah nakal." Gumamnya dan memeluk bantalnya dengan gemas.
Abyaz merasakan hal yang tidak nyaman, masih enggan untuk meninggalkan tempat tidurnya.
Damar yang sudah di kamar mandi, dengan senyuman manis.
Memutar keran air, dalam hatinya dia bersyukur atas nikmat malam pertama.
Setelah itu, memutar keran shower dengan derasnya. Pria yang penuh pesona itu, tampak mengibaskan rambutnya dengan senangnya.
"Sayang,... Aku bahagia." Desisnya saat dibawah derasnya air yang telah menghantam kepalanya.
Rambutnya sudah panjang, sudah lama belum potong rambut. Damar ternyata diam-diam menghanyutkan.
Tampang manis bak anak usia remaja, tapi tidak disangka kelakuannya terhadap sang istri, ternyata garang dan sangat oleng dibuatnya.
Cukup lama Damar di kamar mandi, sampai dia mengeringkan rambutnya. Sudah jam 12 malam, dan haripun sudah berganti.
Minggu dini hari yang membawa pesona asmara, dengan rasa keuwuan yang ada pada keduanya.
Setelah 20 menit di kamar mandi, Abyaz masih diam dan menatap Damar yang berjalan mendekatinya.
"Sayang, mandilah."
Abyaz yang masih menyamping, wajah dia seketika berubah polos, begitu imut.
"Emh, sakit."
"Sakit?"
Abyaz memasang wajah cute, hampir menangis dan matanya sudah tampak berkaca-kaca. Bahkan selimutnya juga masih menyutupi dia sampai atas.
Damar mengelus rambutnya dan berkata "Ya udah, aku akan mandiin kamu."
Abyaz menggeleng dan berkata "Nanti bukannya mandiin aku. Kamu nakalin aku lagi."
Wajah Abyaz sangat manis dan Damar memasang senyumannya. Mereka berdua memang sangat manis.
"Terus, kamu bobok aja?"
Abyaz menggeleng dan tangan kanannya keluar dari selimut. Menariknya dengan dekat.
"Sakit, ini aku perih. Kamu nggak ngerti."
Bisikan itu membuat Damar semakin gemas dan Damar memang sudah keterlaluan.
Bisa-bisanya dia tersenyum, setelah mendapatkan keinginannya, tapi dia tidak mengerti perasaan istrinya.
"Mau lagi?"
Abyaz dengan kesalnya dan mencubit pipinya.
"Jangan menggodaku. Ini beneran sakit."
Damar mengerti dan dia kembali ke kamar mandi. Lalu mengisi air dalam bath up dengan air hangat. Dia juga menyiapkan pakaian istrinya.
Tadi dari rumah, sudah menyiapkan pakaian dan perlengkapan lainnya. Termasuk, salep untuk luka diarea sensitif. Ternyata Damar sudah menyiapkan itu.
Damar mengambil handuk putih dan Abyaz masih berselimut.
"Pakai handuknya. Ayo mandi."
Abyaz masih menggeleng dan wajahnya semakin menggemaskan.
Dengan cepat Damar memakaikan handuk itu dan mengangkat Abyaz dari tempat tidur.
Abyaz yang berpegang pada bahu Damar dan menyandarkan kepalanya, tampak sangat polos.
"Airnya hangat, kamu harus rileks. Biar nggak sakit lagi."
"Emh,.."
Damar mengelus rambutnya dan Abyaz masih cemberut saja, tidak berani masuk ke dalam air.
"Sayang, mau aku mandiin?"
"Sana, keluar."
Damar mengecup keningnya, dan pergi meninggalkan Abyaz.
Sebelum menutup pintunya berkata "Sayang, jangan lupa pakai salepnya."
Damar dengan gayanya yang begitu manis, lalu pergi meninggalkan Abyaz dikamar mandi.
"DamDam bisa-bisanya tersenyum manis."
Bath-up yang membuatnya berbaring sejenak, dan merasakan air hangatnya. Damar juga sudah membawakan sabun dan aromaterapy untuknya.
"Emh, kamu sangat nakal." Gumamnya dan mulai menggosok lehernya. Memijit pelan dan membuat dirinya rileks.
Setelah merasa rileks, menempatkan dirinya di bawah shower.
Abyaz mulai tersenyum, mengingat hal manis ini dan perlahan dia lupa akan rasa sakit yang tadi menyerangnya.
Setelah 30 menit, Abyaz yang tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Damar lalu masuk ke kamar mandi dan melihat istrinya yang masih mengenakan kimono.
Abyaz tampak mengeringkan rambut panjangnya. Damar yang masuk ke kamar mandi dan membalikan badan Abyaz.
Kedua mata itu saling menatap. Abyaz yang masih memegang hair dryer lalu Damar mengambilnya.
"Tugas kamu hanya melihat ke wajahku."
Abyaz tersenyum dan tangan kanannya mulai menyentuh ke bagian roti sobek teman hidupnya.
Damar yang mengurai rambut Abyaz dan mengerikannya dengan hair dryer.
Begitu manis, Abyaz merasa senang, atas perlakuan Damar untuknya.
"Sayang, besok temani aku ke barber shop."
"Iya, rambut kamu udah panjang."
Abyaz yang bersandar marmer wastafel tampak memandangi wajah Damar dan menyentuh rambutnya bagian belakang.
"Sayang, malam ini baru permulaan."
Abyaz yang tadinya fokus pada wajah manisnya, jadi menunduk dan rasanya masih sangat tegang.
Damar yang telah selesai mengeringkan rambut Abyaz. Memegang dagu Abyaz dengan nakalnya.
"Kamu milikku, aku akan selalu memintanya kepadamu."
Dengan lembut mengecup bibir teman hidupnya. Abyaz tampak tersentak dan Damar mengangkatnya ke atas meja wastafel.
Sentuhan bibir itu sangat nakal, dengan rasa yang mencapai nikmatnya. Ciuman yang membawa pada gairah pria. Tapi Damar sadar, kalau akan membuat Abyaz tidak akan berdaya.
"Aku nggak mau buat kamu lelah." Ucapnya dan mengentuh kepala istrinya.
Abyaz yang masih terduduk di atas marmer itu, tampak malu dan tersenyum tipis.
Damar mengangkatnya ke tempat tidur. Membaringkan sang istri di sisi kiri tempat tidur.
"Tidurlah, besok kita harus jalan-jalan."
Abyaz menarik tangannya, saat Damar hendak pergi. "Jangan pergi."
Damar menunjuk ka arah lampu dan berkata "Mau matiin lampu."
Abyaz tersenyum dengan sangat manis.
"Aku lupa. Tadi sudah buat teh hangat." Ucap Damar dan membuat Abyaz untuk meninum dari tangannya.
Setelah itu Damar kembali meletakan cangkirnya dan mematikan lampu.
Abyaz mulai berbaring dan tampak memeluk bantal.
Damar yang sudah berbaring di sampingnya, mengusap rambutnya dengan gemas. Dia juga sangat menggemaskan.
"Sayang, kamu bobok ya."
"Emh, kamu juga."
Sudah jam 1 dini hari, Abyaz dan Damar mulai tidur dengan rasa nyaman.
Begitulah yang terjadi pada malam yang penuh asmara. Kedua insan yang sudah memulai hubungan suami istri, dengan rasa manis yang ada pada keduanya.
Ini baru awalnya saja dan masih akan ada hari esok dan seterusnya. Sampai maut memisahkan mereka. Itulah janji seorang teman hidup, yang menemani dalam suka dan duka. Perlahan dengan perasaan membawa sebuah cinta.
Cinta yang tidak dimengerti. Mereka hanya ingin saling mencintai dan dicintai. Rasanya memang aneh, tapi memang ini adanya.
...Cinta Datang Menghapus Luka...
...Dia datang tanpa terduga...
...Dia datang dengan rasa yang ada...
...Dia datang saat hati belum menerima...
...Dia datang mengobati batin yang tersiksa...
...Saat tidak tahu akan nikmatnya rasa...
...Dengan perlahan mengisi hati yang ada...
...Tiada yang salah dengan cinta yang ada...
...Karena cinta itu bukan memiliki dan siapa yang memberi, tapi saling membagi rasa yang ada...
...Cinta bukan sekedar kata-kata...
...Cinta itu juga menyatukan rasa...
...Bukan hanya dia...
...Bukan hanya aku...
...Tapi kita berdua...
...Selamat datang lembaran baru...
...Makna cinta dengan berjuta rasanya...
...Tidak dapat diungkapan dengan kata...
...Tapi bisa menggoda dengan manisnya...
...ABYAZ...