ABYAZ

ABYAZ
Bersama Ipar



Wajah berseri di pagi hari. Pertemuan pertama dan saling menyapa.


Gaby tersenyum dan berkata "Kak Abyaz."


Abyaz dengan penuh pesona, dan ia datang untuk mengenal adik iparnya. Kemarin, setelah Papanya bercerita dalam telephone, dia ingin segera datang bersama keluarganya. Tapi, suaminya harus ke luar kota, kedua anaknya juga ada kegiatan out bound. Sedangkan Kakaknya, Alishba sedang liburan ke luar negeri bersama keluarga kecilnya.


Meski tampak datang seorang diri, di dalam mobilnya ada aspri dan dua pengawalnya.


Vivi yang mendekat berkata "Madam, kita pamit dulu."


"Iya, nanti aku akan menghubungi kamu."


Gaby yang masih kucel dengan piyama bergambar kartun. Terlihat polos dan Abyaz tidak henti memandanginya.


"Kak Abyaz, mari silakan masuk."


Abyaz dengan senyumannya dan ia lanjut berjalan sambil melihat-lihat suasana rumah Gaby.


"Rumah yang indah." Batin Abyaz saat melihat halaman minimalis yang bersih dan tampak terawat.


Abyaz yang melihat sosok Gaby dan ia tersenyum saat Gaby mempersilakan dia untuk segera duduk di ruang tamu.


"Aku kesini cuma ingin kenalan."


Gaby tersenyum dengan sedikit menyengir. Rasanya masih canggung dan ada rasa sungkan saat melihat sosok Abyaz. Jauh berbeda dari foto yang pernah Gaby lihat di rumah Alvaro.


"Mas Al. Masih tidur."


"Biarkan saja, dia kalau hari minggu jadi kebo."


Gaby mulai tertawa mendengar ucapan Abyaz barusan.


"Aku dengar dari Papa. Kalau kalian berdua sudah melangsungkan akad nikah di Masjid." Abyaz dengan sikap dewasanya.


Gaby tersenyum, meski ada rasa gelisah tapi dia tetap menampilkan senyuman manisnya.


"Aku juga sudah mendengar tentang kamu." Ucap Abyaz dalam perasaannya dia juga mengingat akan masa lalu, yang memang sulit untuk dilupakan. Meski semua sudah berlalu dan dia sudah bahagia bersama keluarga kecilnya, tapi cinta pertama itu tetap saja dalam sisinya yang berbeda.


"Iya Kak Abyaz. Gaby memang bagian dari keluarga Mahatma." Ucapnya dengan suara lembut. Dirinya, juga tidak tahu akan menikah dengan Alvaro dan akan mengingatkan Abyaz pada masa lalu itu.


"Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan akan hal itu. Kamu datang dari keluarga mana, aku tidak masalah. Hanya saja." Abyaz terdiam sejenak dan Gaby juga tampak terdiam.


Suasana ruang tamu yang adem, kedua perempuan ini tampak diam tanpa kata.


Hening


Sorot mata Gaby benar-benar indah, membuat Abyaz merasa lebih tenang.


"Hanya saja, adikku belum pernah pacaran. Dia tidak mengerti cara mendekati wanita. Malahan, sering kali menjauh bila ada wanita yang mendekatinya. Aku harap, kamu juga bisa memahami dia. Aku berterima kasih sama kamu, yang sudah mau menerima adikku."


"Kakak."


Abyaz tersenyum, lalu berkata "Cepatlah mandi, aku ingin kita jalan berdua."


"Mas Al, gimana?"


"Biarkan saja dia tidur."


"Baiklah. Kak Abyaz tunggu sebentar ya."


"Iya."


Abyaz melihat tingkah laku yang tampak polos. Gadis diusia belia, masih masa transisi. Masa mencari jati diri, dan masa bersenang-senang.


"Alvaro." Abyaz yang menggeleng dan ia hanya duduk di ruang tamu itu. Hendak menghubungi seseorang, mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.


Abyaz yang mengenakan pakaian casual, memakai kaos pendek warna putih dipadukan celana jeans selutut warna biru muda. Memakai sepatu sporty warna putih dan tas selempang kecil warna putih.


Sekitar setengah jam menunggu dan Gaby telah siap dengan penampilan yang tidak jauh beda dari Abyaz.


Tampak rambut yang terurai dengan bando warna pinky, senada kaos yang ia pakai.


"Kak Abyaz, Gaby sudah siap."


"Oke."


Abyaz memegang tangan Gaby, tapi Gaby menoleh ke lantai dua, berkata "Mas Al, sorry. Aku pergi dulu."


Mendengar hal itu, Abyaz tersenyum dan menggandengnya berjalan keluar.


Abyaz merasa senang, setelah dapat kabar baik dari sang Papa. Bagi Abyaz, ini kejutan istimewa. Sulit dipercaya dan akhirnya sang adik melepaskan diri dari rasa risih terhadap lawan jenisnya.


Abyaz mengajak Gaby dengan taxi online, namun para pengawal itu tetap mengawasi dari belakang. Abyaz hanya ingin lebih dekat dengan adik iparnya ini.


"Kak Abyaz, kita mau kemana?" Tanya Gaby.


"Kemana saja. Jalan-jalan, shopping, atau ke salon."


Gaby tersenyum, setelah sekian lama. Ada yang mengajaknya berjalan-jalan, dan berbelanja bersama. Meski bukan sahabat, tapi terdengar menyenangkan.


Abyaz, memegang telapak tangan Gaby dan melihat jari-jemari dengan kuku bening nan lentik.


"Aku dengar, kamu sendirian di rumah. Apa ada pembantu?"


Gaby mengangguk, lalu berkata "Iya Kak, ada asisten harian. Tapi, Gaby juga bisa kalau cuma cuci piring dan membersihkan lantai rumah."


"Asisten harian?"


"Iya, biasanya kalau datang sore. Setelah Gaby pulang sekolah dan sudah siap dengan masakannya sekalian laundry."


"Bagus kalau begitu. Tapi, kamu juga harus hati-hati selama tinggal sendirian di rumah."


"Meski sekarang kamu ditemani Alvaro. Tapi, dia juga tidak bisa apa-apa."


"Gaby lihat, Mas Al juga bisa mencuci piring."


Abyaz tersenyum, lalu membatin "Sudah ada kemajuan rupanya."


"Bagus kalau begitu." Ucap Abyaz dengan terkikih.


"Gaby jadi nggak enak hati sama Mas Al. Apalagi kalau di rumah sana. Semua serba disiapin sama Mama dan Papa." Ungkapnya dengan bibir imutnya tampak membulat.


"Alvaro dari kecil memang dimanjakan. Tapi aku yakin, adikku itu suami yang bertanggung jawab."


"Iya Kak."


Abyaz mengelurkan kartu namanya, dan memberikan kepada Gaby "Sering-seringlah menghubungi aku."


"Bukannya Kak Abyaz sibuk." Setelah menerima kartu namanya itu.


"Emh, aku hanya mengikuti jadwal dari aspriku. Aku dulunya juga gadis biasa. Sekarang, semuanya serba di atur. Demi suamiku, jadinya aku ya begini."


Gaby tersenyum, lalu bertanya "Apa jadi istri itu tugasnya berat Kak?"


Abyaz tertawa melihat ekspresi Gaby, ia menjawab "Tidak akan terasa berat kalau kita lalukan dengan cinta dan kasih sayang. Awalnya bikin pusing, perlahan jadi terbiasa. Apalagi semenjak jadi Mama."


Gaby mengingat akan Bulan dan Bintang "Gaby sudah bertemu si kembar. Jadi ikut gemas kalau lihat mereka berebut Papa."


"Kakeknya jadi rebutan. Aku malah tidak."


"Iya, Bulan selalu ingin naik motor sama Papa, tapi Bintang ingin ditemani mancing di danau."


"Pantas saja, mereka berdua betah kalau disini."


Mengajak sarapan berdua di pinggir jalan. Menikmati ketupat sayur dan saling mengobrol dengan tawa.


Abyaz menceritakan masa kecil Alvaro. Di antara 3 anak Papa Pras. Abyaz malah yang paling usil, dia sering bikin Alishba dan Alvaro kesal. Dulunya, Alvaro anak yang aktif, semenjak suka bermain game, jadi rada pendiam. Tapi, hobby yang paling dia gemari, tetap olah raga. Apalagi kalau basket, tidak pernah absen semasa SMAnya dulu. Dia sempat berfikir, kalau telah salah ambil jurusan. Meskipun, begelar sarjana tehnik. Pada akhirnya bekerja sebagai guru olah raga, hanya karena sebuah piagam dan test wawancara.


Setelah 15 menit kemudian, Gaby dan Abyaz telah tiba di sebuah salon.


"Kak Abyaz, sini." Gaby yang menarik tangan Abyaz.


"Ada apa?"


"Duduk sebelah sana aja Kak." Ajaknya dan Gaby masih menoleh ke arah Cantika.


Di saat baru tiba di salon terkenal nan mewah. Cantika tampak duduk sendiri, sambil membuka majalah model rambut.


"Cantik." Sapa Vika.


"Sorry kita terlambat."


Cantika menutup majalah itu, dan menatap ke mereka berdua.


"Gimana? Kalian sudah dapat info soal cewek itu?"


"Kita sudah mencarinya, tapi nggak ada datanya. Memang sepertinya, cewek kemarin itu, beneran istrinya Pak Al."


Abyaz menoleh ke arah Gaby "Mereka teman kamu?"


Gaby yang menutup wajahnya dengan majalah, hanya mengangguk manis.


Abyaz menatap ketiga gadis belia itu. Meski, ruangan itu begitu besar, suara mereka bertiga sudah rempong dan bisa terdengar orang lain.


"Kemarin, aku cuma dengar. Kalau Pak Al, manggil dia Darra." Ucap Elsa yang bertugas mata-mata.


"Darra??" Cantika kemarin langsung kabur karena tidak kuat, melihat Al yang telah berduaan dengan perempuan lain.


"Iya, kedengarannya sih begitu." Jawab Elsa.


"Ini, aku masih ada bukti. Waktu istrinya meluk Pak Al."


"Huft!! jangan bilang istri. Aku nggak suka kalau Pak Alvaroku sama cewek lain."


"Cantik, setidaknya bukan si Gaby."


Cantika berkata "Iya."


Gaby yang mendengarkan hal itu hanya menyengir. Abyaz menatap ke arah Gaby dan ingin sekali menarik Gaby kehadapan para gadis itu, lalu mengatakan inilah istri Alvaro. Tapi, Abyaz juga hanya tertawa gemas.


Cantika merasa seolah ada yang menertawakan dirinya, Cantika menatap ke arah ujung.


"Beraninya menertawakan aku." Tatapan sadis dan Abyaz masih tertawa gemas.


"Gaby, sana hadapi mereka." Bisik Abyaz.


Gaby menggeleng, dan masih menutup wajahnya dengan majalah yang terbalik.


"Aku tidak suka disini. Ayo kita pergi."


Abyaz mengeluarkan ponselnya, "Alvaro sayang."


💕💕


Sekedar Info.


Buat yang pernah baca cerita "COUPLE UNIK"


Silakan kembali membaca dan ada sesi lanjutannya, yang menceritakan tentang kisah romansa Shaun Brata Perwira. Sudah mulai update ya.


Terima kasih 💞