ABYAZ

ABYAZ
Bab. 30. Melihat Akting Arjuna



"Bunda kamu masih muda banget. Tapi aku takut sama dia."


"Kenapa takut?"


"Ya takut, Bunda kamu sewot gitu sama aku."


"Bunda memang seperti itu."


"Untung saja tadi Ayah kamu cepat datang."


"Kenapa? Kamu takut kena pinalti."


"Arjuna, kita udah tanda tangan kontrak. Acara dating juga sudah mulai tayang di televisi. Terus, gimana kalau tidak lanjut shutingnya."


"Selama Beby tetap mendukung aku. Aku akan terus jadi aktor."


"Ayah kamu, sabar banget orangnya. Nggak seperti kamu."


"Ayah memang begitu. Mungkin karena keturunan dari Opa."


"Iya, aku melihat Opa sama Oma kamu waktu itu. Aku jadi ikutan nangis."


"Hemm,"


"Terus, kamu kenapa orangnya nggak sabaran?"


"Entah, aku juga tidak tahu."


"Mungkin, dari Bunda kamu. Aku tadi bener-bener takut sama Bunda kamu."


"Ternyata, Mama Jimmy punya rival."


"Rival kamu bilang. Ya jelas aku kalah sama Bunda kamu. Meski badannya lebih kecil dan sangat muda. Tapi, tatapan Bunda kamu sangat tajam."


"Emh, memang begitu."


"Kamu kalau dimarahin diem aja."


"Aku mana bisa melawan Bunda."


"Aku tahu, kamu pasti sangat menyayangi Bunda kamu."


"Kamu benar. Aku menyayangi orang tuaku dan juga keluargaku."


"Eh, adik kembar kamu. Mirip sekali dengan Ayahmu. Tapi, kamu nggak mirip sama Ayahmu."


"Wajahku campuran dari keduanya."


"Benar juga."


Arjuna tetap mengelak, dalam hatinya sudah menggurutu "Aku dari dulu sudah dikurung Bundaku. Kedua adikku bebas, dan aku dari bayi hidup dalam pengawalan. Setelah ada Cinta, aku merasa bebas.


Dari semasa bayi, Arjuna sudah dalam pengawasan pengawal, tinggal kesana kemari dan banyak yang mengasuhnya. Setelah remaja, dia ingin kebebasan dan dari situ dirinya membuka diri untuk menjadi seorang aktor, atas dukungan Cinta Damayaz.


Yang berada di rumah, sang Ayah telah menenangkan perasaan sang Bunda.


"Sayang, Arjuna juga mau kebebasan. Dia bukan anak-anak lagi."


"Mas, kalau kayak beginian. Kamu masih membelanya?"


Sang istri yang masih terlihat sangat muda itu telah menunjukan foto-foto Arjuna yang telah berciuman dengan artis lainnya.



"Gimana? Masih mau bela anak kamu?"


Sang Ayah menggeleng melihat foto itu dan perlahan tersenyum saat melihat ekspresi wajah sang istri.


"Berarti, dia tidak seperti aku. Anak laki-laki memang harus begitu."


"Mas, kamu tetap dukung Arjuna."


Memegang tangan istrinya, lalu ia berkata "Jaman sekarang, beda dengan jaman kita dulu. Aku dulu tidak seperti putra kita. Aku tidak sebebas putra kita. Aku punya sifat yang lebih mengurung diri dan tidak bisa berekspresi. Aku jadi tahu, setelah kita menikah. Kamu yang selalu menarik aku untuk melihat dunia luar. Berkat kamu, aku jadi semakin bisa melihat dunia luar yang penuh cerita."


"Mas Al, kamu ini gimana, aku bahas Arjuna. Kamu malah bahas tentang kita."


"Kamu jangan mengurung kebebasan Arjuna. Semakin kamu memintanya untuk begini begitu, dia akan semakin nekat. Kita lebih baik, percaya sama Arjuna."


"Tapi, gara-gara anak kita. Kak Abyaz sakit. Pasti dia kepikiran putrinya yang tinggal bersama Arjuna."


"Kak Abyaz sakit?"


"Iya."


"Baik, nanti aku pikirkan soal lamaran Arjuna."


"Mas, lebih cepat lebih baik. Aku takut kalau Arjuna sampai menghamilinya."


"Kamu jangan su'udzon sama putra kamu sendiri."


"Mas, gimana aku nggak kepikiran. Ini, foto-fotonya begini semua. Apalagi, Arjuna sedang kasmaran. Apa yang akan terjadi nantinya?"


"Sudah, jangan berfikiran buruk. Ayah, akan bicarakan dulu sama Mas Damar dan Binar."


"Kak Binar??"


"Iya, dia ayah kandungnya Cinta. Eh, maksud aku Beby."


"Ayah kandungnya? Aah.. Mas jangan ngaco."


"Sayang, aku juga baru tahu tadi pagi."


"Mas serius?"


"Iya, aku serius sayang."


"Kok bisa? Aku kenapa sampai nggak tahu kabar sepenting ini?"


"Iya, aku juga kaget waktu mendengarnya."


"Mas, berarti kita akan besanan sama Kakakku?"


"Iya, begitulah."


"Waah, ini nggak baik Mas."


"Kenapa nggak baik?"


"Tetap saja, besanku orang yang aku kenal dekat."


"Sayang, kamu sendiri yang meminta untuk segera melamar putrinya mereka."


"Ya, aku pikir akan jauh lebih baik kalau Beby masih berada di keluarga besar kita."


"Ya, mau gimana lagi."


"Tapi nggak apa-apa sih. Kak Binar kakakku, jadi aku tahu dia seperti apa. Meski susah merayunya, karena dia nggak suka saat Arjuna mulai shuting jadi aktor. Apalagi, kalau kita melamar anaknya. Bisa-bisa dia akan menolak putra kita."


"Makanya, aku mau bicara dulu dengan mereka berdua."


"Iya Mas. Aku serahkan padamu. Aku jadi makin pusing."


Bunda Gaby beranjak pergi dan suami hanya bisa menggeleng saja. Melihat istrinya yang tidak pernah berubah sedikitpun.


"Bunda, Bunda, kamu memang tidak sabaran."


Sore hari, di Butik Gloria, Beby yang bersiap untuk pulang dan kedua teman mendekat padanya.


"Beby, kamu pasti senang bisa melayani Arjuna."


"Emh, aku tidak senang."


"Kenapa? Kita aja ingin sekali mendekat dan ingin meminta foto. Tapi, kita takut mengganggu tamu penting Bos kita."


"Emh, kalian suka Arjuna?"


"Ini, aku waktu audisi foto sama dia."


"Owh, aku tidak tahu banyak soal aktor. Apalagi Arjuna."


Sang teman satunya mendekata "Beby nggak ngefans sama Arjuna."


"Kok bisa?"


"Entah, aku tidak suka saja. Aku tidak pernah menonton filmya."


"Owh, iya. Kita bertiga siap-siap nonton disini."


"Kalian tidak pulang?"


"Kita mau nonton kelanjutan dating show. Setelah selesai kita baru akan pulang."


"Tapi Bos sudah pulang."


"Tidak apa-apa. Bos sudah kasih ijin. Kita juga pegang kunci pintu samping."


Lalu seorang teman mendekat dan memegang tangannya "Ayo nonton bareng. Aku sudah siapin cemilan."


"Tapi aku.." Belum selesai berkata dia sudah di suruh duduk temannya yang berniat baik padanya. Sebotol minuman kaleng juga sudah di letakan dihadapan.


"Sudah mau mulai. Kita harus nonton Arjuna."


"Iya." Wajah kikuk dan menggaruk leher.


Ruang istirahat sudah jadi tempat nonton. Acara yang telah disiarkan langsung di sore hari ini.


"Benar."


"Eh, itu kayaknya nggak jauh dari butik kita."


"Benar, itu cafe pelangi."


"Cafe Pelangi?" Batin Beby dan ia jadi fokus kepada tayangan itu.


"Eh, gimana kalau kita kesana."


"Terus, Butik gimana?"


"Kuncinya sama aku."


"Aku nggak ada motor."


"Aku sama kamu."


"Aku sama Beby."


Beby berkata "Aku nggak ikut."


"Ayolah, kamu sama aku." Sang teman itu menariknya begitu saja.


"Baik."


Beby yang hanya bisa menurut dan kali ini dirinya akan menonton sang Arjuna yang beradu peran dengan perempuan lain. Beby berharap dirinya tidak melihat Arjuna yang bergandeng mesra dengan perempuan lain. Apalagi, sampai ada adegan ciuman.


Hanya butuh waktu 5 menit, setelah mereka yang bermotor melewati gang sempit agar segera sampai tujuan mereka.


"Hah, ramai banget!" Ucap salah satu dari mereka. Beby hanya terdiam dan perasaannya jadi tidak nyaman.


Menerobos beberapa orang dan tangan Beby sudah di pegang oleh temannya. Mau tidak mau, hanya bisa menurut.


"Beby, kamu tidak apa-apa?"


"Iya, aku tidak apa-apa." Beby yang sudah tampak berkeringat.


Saat ini, dengan kedua matanya melihat langsung kekasihnya. Yang sedang duduk di sebuah kursi dan dihadapannya ada artis cantik.


Tampak menyeka bibir itu dengan tisue dan artis cantik itu tersenyum manis.


"Aaa.. Arjuna manis banget." Teman Beby yang *******-***** tangan Beby.


Penonton lain juga dengan sensasi mereka. Ada yang berdebar, ada yang merasa kagum dengan Arjuna, ada pula yang menganggap Arjuna sosok pria idaman masa kini.


Beby yang sudah tampak bersekap dan menyaksikan setiap adegan pasangan ini.


Dari suap-suapan es krim, sampai sang Arjuna menyeka bibir pasangan artis, dan tampak memegang tangannya.


"Teruslah begitu. Aku akan menunggu kelanjutannya."


Baik Arjuna dan Jimmy tidak melihat Beby yang menatapnya tajam.


"Beby, gimana menurut kamu?" Tanya sang teman ini, yang mendengar ucapan Arjuna soal kekasihnya.


"Aktingnya bagus."


"Kamu tidak menyukainya?"


"Aku tidak pernah menontonnya, jadi aku tidak tahu harus menyukainya atau tidak."


"Aku fans berat dia. Nanti aku akan minta foto bareng lagi."


"Memangnya boleh?"


"Itu, ada yang daftar. Tapi kayaknya dibatasi."


"Owh begitu."


"Kamu tidak ingin berfoto sama Arjuna?"


"Tidak. Aku tidak tertarik."


"Kamu tidak tertarik sama Arjuna."


"Iya, aku tidak tertarik dengan Aktor. Aku lebih suka dia yang biasa."


"Maksudnya?"


"Maksud aku, aku tidak tertarik dengan aktor."


"Owh begitu. Aku pikir kamu menyukai Arjuna."


Setelah acara selesai dan banyak sekali yang meminta foto bersama. Beby masih berdiri di tempat itu. Tetap saja Arjuna tidak melihatnya.


"Baguslah, kalau dia tidak melihat aku."


Jimmy menarik tangan Beby, "Ikut aku."


"Jimmy lepasin."


"Diam Beby."


Jimmy membawanya ke mobil dan berkata "Kamu sudah gila?"


"Kamu yang gila, main tarik tangan aku."


"Arjuna lagi shuting."


"Terus?"


"Perasaannya jadi nggak nyaman kalau kamu menatapnya begitu."


"Memangnya, dia lihat aku?"


"Ya pastilah. Orang di layar sebelah itu tayangan para penonton langsung. Kamu ini sudah merusak perasaan dia."


"Kamu nyalahin aku? Dia juga nggak apa-apa. Aktingnya juga bagus."


"Kamu tidak cemburu?"


"Tidak." Perasaannya tetap mengelak.


"Kamu tunggu disini."


"Disini panas."


"Aku nyalain mesinnya.".


"Tapi teman-temanku."


"Kamu bisa nggak, nurut sebentar saja."


"Iya."


Teman-temannya asyik berfoto dan setelah kembali mereka kehilangan Beby.


"Beby mana?"


"Tadi dia, masih disini."


"Sudah sepi, sebentar lagi maghrib."


"Masa iya, kita tinggal."


"Mungkin dia udah pulang duluan."


"Bentar aku telephone dia."


Seorang teman melihat Arjuna yang berjalan dengan managernya. "Eh, ayo kita ikuti mobil Arjuna."


"Beby gimana?"


"Palingan dia pulang."


"Ya udah. Aku juga masih ingin memotretnya."


Di dalam mobil, Arjuna sudah tampak tersenyum.


"Kamu sudah selesai shuting."


"Beby, kamu bilang nggak mau lihat aku."


"Aku juga terpaksa."


"Terpaksa?"


"Teman kerjaku menyukaimu. Aku jadi ketarik kesini."


Arjuna memegang tangannya "Bayiku sayangku, sayangku, sayangku. Aku harus bekerja."


"Iya, aku ngerti."


"Jangan cemberut dong."


"Siapa juga yang cemberut."


"Senyumnya mana?"


Beby menampilkan senyuman manisnya. Dengan gemas Arjuna menciumi tangannya.