
Setelah kepulangan Bintang dan Arjuna kembali bersama istrinya. Tadi, Bintang yang berada di rumah Jimmy cukup lama, bahkan dia sudah menyusun rencana untuk acara lamarannya nanti.
"Kak Bintang sudah pulang?"
"Iya sudah."
Arjuna yang mendekati istrinya, yang tampak duduk bersandar tempat tidur sambil membaca sebuah naskah film.
"Kamu baca naskahku?"
"Iya, aku suka jalan ceritanya."
"Bentar lagi akan tayang filmnya."
"Kamu pasti akan sibuk lagi."
"Beby."
Beby menutup buku itu, lalu ia berkata "Aku sudah mengantuk. Kalian sangat lama sekali mengobrolnya."
"Ya kan tadi maghrib dulu. Terus makan malam. Habis makan baru ada waktu ngobrolnya. Masa iya, aku usir Kakak kita."
"Terus, apa rencananya?"
"Aku nggak tahu."
"Kok nggak tahu?"
"Aku memang nggak tahu, aku cuma cerita aja soal kita kemarin. Kalau dia punya ide sendiri ya jauh lebih bagus. Aku aja mendadak."
Beby tersenyum, "Iya, tapi kamu udah hafal dialognya. Orang kata-kata kamu sama seperti disini."
Arjuna berkata "Sayang, kamu tahu sendiri. Orang tua kita datang dadakan. Aku nggak ada persiapan apapun."
"Ya sudahlah, lagian kita sudah suami istri."
"Itu yang benar. Kita sudah menikah."
"Tapi seharusnya kamu bikin kata-kata sendiri. Bukan dari dialog film kamu."
"Kamu mau, aku lamar ulang?"
"Nggak mau."
Arjuna meraih tangan Beby dan menciumi tangan itu. "Kalau sama kamu. Aku nggak bisa sepuitis itu."
"Iya, aku tahu."
"Beby."
"Iya."
"Aku sangat menyayangimu."
"Aku juga sangat menyayangimu."
Arjuna mengecup bibir manis nan tipis itu, Beby yang semakin lintah, Arjuna menghentikannya.
"Kamu mau bikin aku tegang lagi?"
"Aku?"
"Iya, kamu. Siapa lagi yang bisa menggoda aku dengan ciumanmu."
"Kamu yang nyium aku duluan."
"Aku heran, kamu bisa begitu."
"Aku biasa aja."
Arjuna lalu pergi ke kamar mandi, dan Beby menggerutu sendiri "Dia kenapa? Tumben sensi begitu sama aku?"
"Huh, aku hampir kalah lagi." Arjuna yang meredam perasaannya.
Arjuna juga ingin menyenangkan hati istrinya. Sayangnya, pikirannya sedang susah untuk berfikir. Dua hari ini, semua pekerjaannya sudah kacau dan acara dating show juga tertunda karena masalah pribadinya.
"Beby, kamu sudah tidur." Setelah dirinya kembali ke tempat tidur, ternyata Beby sudah tertidur lelap. Mungkin karena pengaruh obat yang Beby minum setelah makan malam tadi.
Arjuna mengecup kening itu dengan lama dan setelah itu ia beranjak pergi.
Beby yang tertidur ia sudah mulai bermimpi manis, entah apa yang ia mimpikan. Yang jelas, tidurnya sangat nyaman sekali.
Arjuna yang mendapat sebuah pesan singkat dan ia pergi meninggalkan istrinya yang terlelap sendirian.
Arjuna juga tidak berpamitan dengan Jimmy dan ia tampak pergi seorang diri.
Mobilnya melaju santai untuk ke tempat yang ia tuju. Perasaan Arjuna sudah berubah tidak nyaman setelah mendapat pesan singkat itu.
[Ini tentang istrimu. Temui aku di hotel XX.]
"Aku datang memenuhi pesan darimu."
"Silakan."
Arjuna yang sudah berhadapan dengan istrinya Mirza, dan keduanya saling menatap tajam.
Duduk di sebuah kursi dan saling berhadapan. Perasaan mereka berdua, bukan lagi seperti orang lain, melainkan saudara.
Arjuna yang lebih dulu berkata. "Kenapa disini? Apa tidak ada tempat yang lain?"
"Disini jauh lebih nyaman."
Mereka berdua ada di kamar hotel H39, The king Hotel.
"Aku tidak mengerti."
Cinta mengulurkan sebuah foto di atas meja "Ini foto Ibu Gisella, sebelum beliau meninggal dunia."
"Ada apa dengan foto ini?"
"Ibu meninggal bukan karena kecelakaan. Tapi..."
"..?" Arjuna mulai penuh tanda tanya. Perasaannya semakin tidak nyaman.
"Ibu sudah di racun setelah selesai mengunggah foto itu. Saat kecelakaan itu terjadi, Ibu sudah tiada lebih dulu."
Dada Arjuna sangat berdebar kencang, meraih foto yang ada di atas meja dan ia menatap foto itu dengan tangan gemetar.
Cinta yang menatapnya, tangan satunya tampak meremas dress yang ia kenakan saat ini. Tetapi, dihadapan sang Arjuna, tatapan mata dia, sama sekali tidak runtuh sedikitpun.
"Apa kamu mencuragai keluarga Arman?"
"Aku tidak mencurigainya."
"Lalu? Apa masalah?"
Arjuna menyernyitkan dahi dan ia menatap ke sebuah foto istrinya, lalu berkata "Aku mengerti."
"Meski aku sudah merubah nama menjadi Cinta. Tetap saja, ia tahu putri aslinya Ibuku. Aku harap, kamu bisa melindunginya."
"Aku tahu."
"Arjuna. Aku hanya mempercayai kamu."
"Papa?"
"Mereka tidak akan mengerti. Apalagi, soal masa lalu Ibuku, tidak ada yang bisa memahami aku dan Ibuku. Ibuku, tetap orang yang aku cintai. Meskipun, dia bukan Ibu kandungku."
"Beby, dalam bahaya."
"Arjuna, jangan terlalu terlihat oleh dia. Dia pasti akan mencurigai kamu. Kalau kamu terlalu mengurung istrimu."
Arjuna mengangguk, dan ia berkata "Aku mengerti."
"Aku yakin, penjambretan kemarin sudah terencana."
Arjuna juga mendengar, bahwa mereka yang menjambret itu, sudah kecelakaan saat seorang pengawal mengejarnya.
"Ini surat wasiat. Ibuku, yang menukar aku dan istrimu."
Arjuna yang amat terkaget. Apalagi ini. Kasus sudah tertutup dan kembali akan dibuka, hanya demi untuk melindungi istrinya.
"Ibu?"
"Iya, Ibu Gisella. Setelah melahirkan putrinya, Ibuku tidak bisa tidur. Dia mengalami ketakutan. Pada akhirnya, Ibuku telah menukar bayinya, tanpa sepengetahuan siapapun."
Ia kembali mengingat, akan kepergian Ibunya. Ibunya sudah tidak lagi bernafas.
"Ibu, Ibu, Zolla kembali. Ibu juga harus kembali." Zolla yang kala itu tidak henti menangis, di depan jenazah Ibunya.
Zolla yang saat itu, study di luar negeri. Mendapat kabar, kalau sang Ibu telah meninggal dunia dalam kecelakaan.
Harusnya, masih 6 bulan lagi Zolla kembali, tetapi Ibunya sudah memanggilnya untuk kembali lebih awal.
Setelah 7 hari kepergian Ibunya, Zolla kembali ke luar negeri dan secepatnya ia menyelesaikan kuliahnya. Zolla belum membaca surat itu, dia masih sibuk dengan segudang pikirannya untuk meraih cita-citanya.
Setelah ujian dan ia mulai membaca wasiat itu. Dia bukan menuntut untuk dirinya, tapi hal ini untuk memenuhi keinginan Ibunya. Ibu yang selama ini merawat dan membesarkannya.
"Cinta Damayaz?"
Zolla yang saat itu, masih tidak mengerti akan apa yang diinginkan Ibunya. Untuk meminta nama itu, dan semalam ia baru menyadari, bahwa inilah tujuan Ibunya, agar tetap bisa menyelamatkan putri kandungnya.
Arjuna yang saat ini telah membaca surat itu dan perempuan yang ada di hadapannya sudah menangis.
"Ibuku memang bersalah. Aku juga mengerti, apa yang Ibuku rasakan saat itu."
"Apa dia menderita?"
"Ibuku tidak menderita. Meski keluarga Arman tidak bisa menerima Ibuku dengan ketulusan, tapi Madam Yuzra tidak begitu. Dia tidak akan berbuat hal itu, aku sangat tahu, beliau yang takut akan hukum."
"Dia?"
"Dia bukan orang biasa."
"Apa masalahnya dengan Ibumu?"
"Aku sendiri juga tidak tahu pastinya."
Keduanya jadi terdiam, sudah hampir tengah malam dan mereka masih berada di kamar hotel itu.
"Pergilah lebih dulu. Aku yakin, ada yang mengikutimu."
"Aku mengerti."
Arjuna yang berdiri dan dia kembali berkata. "Hati-hati."
Arjuna yang mengangguk dan mulai berjalan pergi. Arjuna tampak biasa. Menyeka bibirnya sendiri dan seolah sudah puas menikmati jamuan malam bersama seorang wanita.
"Beby. Aku akan menjagamu."
Arjuna berjalan melewati koridor dan ada seseorang yang berjalan lewat. Ia tampak menjatuhkan sesuatu.
Arjuna yang melihatnya dan ia mengambil itu.
"Ini milik Beby." Setelah mengambilnya dan menoleh ke arah pria berjalan tadi, ia sudah tidak lagi melihat siapapun.
Arjuna melihat ke sisi kanan dan kirinya, tak ada seorangpun yang berjalan. Ia memegang gantungan kunci di telapak tangannya.
"Dia sudah mengintai aku?" Arjuna sudah salah menerka, bisa jadi mobil di malam itu bukan orang pengawal Papa Damar. Melainkan suruhan orang itu.
"Tidak. Tapi, kenapa Papa tidak mengatakan sesuatu padaku." Arjuna yang berfikir keras.
Ia kembali mendekati kamar tadi, dan mengetuk pintu, ternyata pintunya terbuka.
"Cinta."
Arjuna tertegun melihat Cinta yang tergeletak di sisi pintu, ia meraihnya.
"Cinta."
"Arjuna, pergilah." Lirihnya dan tangan itu ingin menggapainya.
Tatapan Arjuna yang sudah berkaca-kaca.
"Cepatlah pergi."
Arjuna meraih tangan Cinta dan orang itu keluar merobek-robek foto itu.
Sosok bertubuh kekar. Arjuna menatapnya gelisah. Ini bukan lagi drama yang ia bintangi dengan adegan tinju. Meski dirinya juga bisa taekwondo, tapi perbedaan postur badannya sangat jauh.
"Tidak ada gunanya kalian membuat rencana."
"Kamu?" Arjuna yang menatapnya saja dan duduk meraih Cinta.
"30 menit. Dia akan merasakan sakitnya."
"Apa yang kamu lakukan?"
"Hanya setetes saja, aku ingin menguji kesehatannya."
Arjuna mengerti perkataannya dan ia mengangkat Cinta dalam dekapannya.
"Cinta bertahanlah."
Cinta perlahan terpejam dan ia sudah tidak sadarkan diri.
"Mereka berdua pengacau."