
Perasaan kedua orang ini memang sangat unik.
Damar yang menurunkan istrinya di ruang ganti, lalu keluar dari ruangan itu.
Abyas yang masih berdebar hanya berkata "Nyebelin."
Damar yang berjalan ke arah tempat tidur, dengan cepat menjatuhkan dirinya.
"Sangat menyenangkan." Ucapnya dan dengan gemas memeluk bantal yang ada di tempat tidur itu.
Cukup lama Abyaz berada di ruang ganti, dia masih berfikir tentang tadi. Mengeringkan rambutnya yang masih basah.
Pastinya, sang suami telah melihat paras indahnya itu.
"Damar menyebalkan!!!"
Suara itu sangat nyaring dan Damar yang berbaring di tempat tidur hanya tersenyum manis.
Tidak lama kemudian, Abyaz yang sudah memakai dress malamnya, mendekati sang suami.
"Udah bebas??" Dengan segala ego yang ada dalam dirinya.
Damar yang masih enggan untuk duduk, dan hanya menyamping menatap teman hidupnya dengan senyuman.
"Aku pulang karena rindu."
Abyaz dengan kesal berkata "Kamu ngeselin."
"Tapi kamu juga kangen kan??!"
Damar yang menggoda dan Abyaz tidak bisa menutupi rasa senangnya.
Abyaz juga mulai tersenyum manis, dia merasa lega dengan keadaan ini. Suaminya sudah ada di rumah, berarti suaminya memang tidak bersalah.
Damar mulai beranjak dari tempat tidur, dan Abyaz masih diam tanpa kata.
Damar dengan jarinya menyentuh rambut Abyaz yang sudah tidak basah lagi. Lalu berkata "Aku sangat rindu, tapi kamu sepertinya tidak suka melihat aku sudah di rumah."
"Iya, aku tidak suka." Balasnya dengan cemberut.
Damar yang gemas dan memeluknya, lalu mengecup kening Abyaz dengan segala rindu yang sudah menggebu.
"Aku mau mandi dulu. Kamu yang datang? Atau aku yang akan kesini lagi?!"
"Pergilah, aku mau sholat isya'."
"Emh, aku akan datang lagi."
"Terserah kamu."
Satu jam kemudian.
Damar yang mendatangi kamar Abyaz dan Abyaz tampak mengurung dirinya dalam selimut tebalnya.
"Sayang, kamu kenapa?"
Abyaz berkata "Jangan lihat aku."
Damar dengan gemas, sangat penasaran dengan tingkah istrinya. Lalu bertanya "Apa kamu ingin menggodaku??"
"Damar!!" Teriaknya dengan kesal.
"Terus, ngapain kamu ngumpet?"
"Aku nggak mau kamu lihat aku."
"Kamu bikin aku penasaran." Ucapnya dan hendak membuka selimutnya.
Abyaz berteriak "Jangan lihat!!"
"Kenapa? Apa masalahnya?" Damar semakin penasaran.
Dengan gemas Damar menarik selimutnya dan melihat wajah Abyaz yang sudah berubah memerah dan bengkak.
"Kamu kenapa??" Damar mendekat dan Abyaz cemberut.
"Gatal."
"Emh, sepertinya kamu alergi."
Abyaz hanya mengangguk.
"Kamu juga demam, tadi kamu makan apa?"
"Makan seafood."
"Hemms, berarti memang alergi." Ucap Damar dan segera memanggil dokter.
Abyaz yang kembali menutupi dirinya dengan selimut.
Damar yang ada disampingnya dan berkata "Sudahlah, jangan ngumpet."
"Aku nggak suka kamu lihatin aku yang begini."
"Emh, berarti aku boleh lihatin kamu yang menggosok kulitmu."
"DAMAR!!!"
Abyaz membuka selimutnya, tampak wajahnya yang kesal.
"Iya, iya, aku hanya bercanda."
"Tadi lihat??"
"Emh, iya... Ya lihat, tapi nggak lama."
"Uuuh!! Sama aja kamu udah lihat."
"Tapi kamu lebih dulu melihatku, di pagi itu, kamu teriak."
"Kamu nyebelin. Emh, kamu nakal."
Damar semakin gemas dan berkata. "Kamu istriku. Aku sudah pulang, harusnya kamu senang."
"Kamu udah ingkar."
Damar dengan tersenyum berkata "Iya, aku sudah ingkar. Mulai besok, aku akan sering di rumah. Aku bisa menamani kamu."
"Nggak perlu, lagian aku bisa bebas. Kamu pernah bilang, tugas aku buat nemenin kamu kemana saja. Sekarang udah ada Guru Mao, jadi aku bebas."
"Iya,... Tapi selama di rumah, kamu harus temani aku."
"Males."
"Males??"
"Habisnya kamu nyebelin."
Damar mengelus rambut Abyaz, dan berkata "Iya aku salah. Ya udah, aku mau keluar. Dokter Meldi akan datang."
Tidak lama seorang dokter perempuan yang berusia 43 tahun itu datang. Damar sudah menjadikan dokter Meldi sebagai dokter pribadi khusus Abyaz. Rumah dokter cantik itu, juga tidak jauh dari rumah itu, sudah dua kali Abyaz di periksa dokter itu dan tampak cocok.
"Dokter, gimana keadaan istri saya?" Tanya Damar.
"Tidak ada yang serius. Pernapasannya tidak terganggu. Hanya alergi pada kulitnya. Lain kali harus berhati-hati ketika mengkonsumsi seafood. Walaupun dulu Abyaz tidak pernah alergi, tapi daya imun terkadang membuatnya lemah."
"Baik dokter Meldi. Terima kasih."
"Obatnya, akan membuat dia mengantuk. Tapi, nanti akan segera pulih."
"Iya dokter."
"Apa masih gatal?" Tanya Damar dan tangannya mengelus rambut Abyaz.
"Iya,..."
Damar berbaring di sebelahnya dan menarik Abyaz dalam pelukannya. Bahkan kelopak mata Abyaz juga menjadi bengkak dan kemerahan. Sekujur kulit tubuhnya memerah.
"Tidurlah, aku sudah ada disini."
"Emh..."
"Kemarin ada yang bilang, kamu mengurung diri di kamar."
"Emh..."
"Kenapa?"
"Aku kesal sama kamu."
"Kesal sama aku?"
"He'em."
"Aku sudah pulang."
"Emh..."
"Maafin aku."
"Nggak mau."
"Terus??"
"Nggak mau."
Damar tersenyum dan semakin gemas. Abyaz yang masih merasakan panas dan gatal pada sekujur tubuhnya, hanya diam saja. Perlahan matanya sudah mulai redup. Suntikan obat alergi sudah mulai merasuk dalam tubuhnya. Lengan kanan bekas suntikan tampak dilihat Damar.
"Maafin aku." Damar dengan gemas memeluknya dan mengecup rambut wanginya.
Satu jam sudah berlalu, Damar belum tidur. Dia melihat kulit Abyaz yang sudah mulai membaik. Dia tersenyum melihat kondisi istrinya yang sudah tidak sakit lagi. Tadi Abyaz sangat merasakan kulitnya yang gatal dan panas. Tidak henti dia mengusap kulitnya karena rasa gatal yang menyerang.
"Aku tidak akan jauh-jauh lagi."
Padahal Damar sendiri yang meminta Abyaz untuk selalu menemani dia. Kemanapun dia pergi, Abyaz harus berada disisinya. Tetapi, satu minggu dia pergi sendiri, dan tanpa Abyaz.
Damar yang tertidur dan tangannya masih memeluk istrinya dengan rasa sayang.
Subuh telah tiba
Abyaz yang mulai terbangun dan tubuhnya tampak terasa hangat.
"Kamu tidur disini."
Jari telunjuk tangan kanan, menyentuh hidung Damar dan perlahan turun ke bibir manis itu.
"Ayo bangun, sudah subuh."
Abyaz tidak henti menyentuh wajah Damar, bahkan bulu mata Damar tidak luput dari sentuhannya.
"Kamu cowok, kenapa bisa semanis ini. Kalau kamu cewek. Pasti lebih cantik dari aku."
Damar perlahan membuka matanya "Apa kamu menggoda aku?"
"Tidak, aku hanya membangunkan kamu."
Damar tangan kanannya merasa pegal, semalaman lengan kanannya sudah menopang kepala Abyaz.
"Em, semalaman kamu meluk aku."
"Iya, aku cemas."
"Aku sudah baik-baik saja."
Abyaz mulai bangun dari tempat tidurnya dan mengambilkan minum untuk Damar.
Di meja tidak jauh dari tempat tidurnya ada dua gelas dan satu teko air mineral.
Abyaz yang menuang air putih dari teko kaca itu, masih menatap suaminya.
Damar yang sudah tampak duduk bersandar. Tapi matanya masih redup.
"Minum dulu." Ucap Abyaz saat dia memberikan gelasnya.
"Iya." Balasnya dengan tersenyum.
Damar perlahan berdiri, meletakan gelasnya dan mendekati Abyaz, lalu mengecup kening "Ayo kita sholat. Aku akan jadi imammu."
Abyaz menjadi tersenyum manis. Tidak biasanya sang suami begitu manis. Biasanya tidur juga masih terpisah, bahkan belum pernah sholat subuh berjama'ah.
"Emh, aku suka ini." Abyaz yang tersenyum dan Damar lebih dulu beranjak ke kamar mandi.
Abyaz ke ruang ganti mengambil mukena, ternyata diatas meja putihnya juga sudah ada sarung dan pecinya Damar.
"Apa dia pindah kamar?" Batin Abyaz, tapi menggemaskan.
Setelah beberapa menit, kedua orang itu sudah selesai menunaikan ibadahnya.
Abyaz mencium tangan suaminya dan Damar tampak mencium keningnya.
Suasana pagi yang begitu manis, dan ini juga salah satu harapan Abyaz.
Abyaz yang melepas mukena dan melipatnya. Masih menatap suaminya dan sorot mata Abyaz terlihat bahagia.
Damar yang berdiri dan tampak melipat sajadahnya. Abyaz mendekati dia, dan mencium pipi suaminya.
"Aku kangen."
Damar tersenyum manis, atas perlakuan sang istri.
"Teman hidupku, apa nanti kamu mau pergi lagi?"
Damar yang meletakan pecinya diatas meja dan mulai melepas sarungnya.
Dia dengan gemas menatap Abyaz, dan berkata "Aku harus kerja."
"Kerja?"
"Sayang, apa kamu tidak suka kalau kita akan tinggal disini?"
"Apa maksud kamu?" Tanya Abyaz yang merasa ada yang aneh.
Damar memegang kepala Abyaz dan berkata "Aku sudah resmi menjadi pimpinan JS Grup. Jadi kita harus tinggal disini."
Abyaz perlahan memalingkan wajahnya, dia tampak tidak suka dengan perkataan teman hidupnya.
"Tapi kamu bilang, kita akan pulang."
"Iya, tapi ternyata tidak seperti rencana kita berdua."
Abyaz perlahan menjauh dan rasanya sangat tidak menyukai ini.
Damar yang mengerti akan perasaan istrinya dan perlahan memeluknya dari belakang.
"Aku butuh dukungan dan semangat dari teman hidupku."