ABYAZ

ABYAZ
Ada Yang Lebih Kejam Dari Abyaz



Damar dengan segala perasaan yang ada. Beberapa hari bersama, mereka menjalani karantina dan akhirnya cinta semakin bersemi diantara keduanya.


"Sayang, kamu dimana?"


Damar tidak lagi bisa berfikir jernih. Tadi dia juga membaca buku catatan sang Kakek. Dia jadi tahu, kenapa sang Kakek selalu mengatur dirinya.


"Aku cucu kesayangan. Tapi, Kakek yang membuat istriku terluka."


Damar yang tahu akan rencana hari ini, menjadikan dirinya muak dan sangat tidak senang.


Viral yang berhenti di sebuah tempat dan melacak keberadaan Abyaz. Tapi tidak bisa menemukannya.


"Damar, aku tidak bisa melacaknya."


Giel dan Guru Mao juga masih mendengarkan mereka berdua.


"Guru Mao, saya harus pergi."


"Giel, sebaiknya kita disini saja."


"Abyaz, adik saya. Saya tidak bisa tinggal diam."


Giel menyambar jasnya dan pergi meninggalkan hotel.


Hotel yang tidak jauh dari tempat pesta itu dan Giel yang berjalan dengan cepat.


Masuk ke dalam lift dan hendak ke arah parkiran mobil.


Pintu lift terbuka dan tatapan Giel sangat tajam.


"Abyaz!!"


Giel melihat Abyaz yang di gendong oleh seorang pria dan berjalan cepat.


"Abyaz...."


"Damar, Abyaz ada di Hotel Clarisse."


Giel dengan cepat berlari mengejarnya, dan pria itu sudah masuk ke sebuah kamar.


Membaringkan Abyaz di tempat tidur. Dia lalu menghubungi seseorang.


"Tugas saya selesai."


"Bagus!" Ucap seorang wanita.


Pria yang membawa Abyaz, keluar dari kamar itu. Giel yang mencari kamarnya, akhirnya melihatnya dan ada seorang wanita.


"Madam Melinda."


Damar yang mendengar suara Giel, dia semakin geram. Damar yang memutar mobilnya dan dengan cepat melaju ke arah hotel.


"Mama? Apa yang akan Mama lakukan?"


Giel masih ada disitu, tidak bisa mendengar apa percakapan mereka.


Pria itu pergi dan Melinda masuk ke kamar itu.


Melinda yang masuk ke dalam kamar dan memandangi Abyaz.


"Jadi kamu istrinya Eun Ho."


"Dulu kekasihmu dari keluarga Mahatma."


"Yuda, aku pernah menyukainya. Tapi aku sudah muak dengan keluarga Mahatma. Terutama Limar."


Melinda mendekati Abyaz dan menyentuh wajah Abyaz.


"Kenapa kamu bisa menikah dengan putraku?"


"Apa kamu ingin menjadi Nyonya?"


Melinda dengan senyuman manis tapi itu sangat beracun. Mulai menjauh dari Abyaz.


"Putraku calon penguasa Ji-sung. Apa kamu berusaha menjadi Nyonya pemilik?"


Senyuman itu masih tersirat diwajahnya, dan berkata "Cecilia juga tidak akan berkesempatan untuk menjadi Nyonya."


"Tapi aku sangat tidak menyukai kamu."


"Kamu sangat manis, aku tidak suka wanita yang manis. Walaupun kamu terlihat garang. Tapi kamu sangat penurut."


Melinda seperti orang gila, yang berbicara sendiri.


Abyaz pingsan, bagaimana bisa mendengar perkataannya.


"Aku sangat mencintai putraku. Tapi aku juga tidak suka sifat manisnya yang seperti Eka. Aku sangat muak."


Melinda mendekati Abyaz dan berkata "Bangunlah, jangan menjadi wanita yang lemah."


Tidak lama ponselnya berbunyi dan Melinda sangat tahu. Kalau sang putra, sudah mengetahui keberadaan mereka.


"Mama,.... Jangan sentuh istriku."


"Emh, Mama cuma ingin tahu. Seberapa jauh cinta kalian berdua."


"Mama, kalau sampai Abyaz terluka. Aku tidak akan memaafkan Mama."


"Emh, kamu seperti Eka."


"Mama, aku serius!"


"Dia tidak apa-apa, hanya tidur pulas."


"Mama, aku tidak akan memaafkan Mama."


Di tempat lain, Cicilia yang berusaha untuk pergi bersama Glen, tapi Viral lebih dulu menghadang mereka berdua.


"Tabrak saja dia."


Viral yang menatapnya dan motornya sudah siap menabrak ke arah mobil mereka.


"Glen, tabrak dia."


Glen masih tidak tahu apa yang akan dia perbuat. Dia mengingat akan tiga tahun yang lalu, Glen yang sudah menabrak Viral dan akhirnya Damar yang meninggal dunia.


Glen adalah adik Nicholas, dia seusia Alishba. Dia yang ingin membalas kematian Mamahnya dulu, ketika dengan Limar Mahatma. Dia yang kembali ke Jakarta dan ingin melenyapkan Viral.


Glen juga mengenal Cecilia dan sangat mencintai Cecilia, apapun dia akan lalukan untuk Cecilia.


Viral yang bersiap dengan motornya dan menatap dengan keji.


Dalam hitungan detik mobil itu melaju kencang dan Viral seperti beradu banteng.


Duuuash!!


Motor Viral yang seakan terbang menabrak mobil itu.


Brrraggh!


Setelah menabrakan dirinya, motor Viral terplanting dan Viral terjatuh ke samping sampai terguling-guling.


Cecilia yang penuh darah dan Glen yang terluka di bagian kepalanya, berusaha bangkit dan Cecilia tampak tidak sadar.


Waktu malam itu, Glen juga bersama Cecilia dan mereka sengaja. Cecilia menyuruh orang untuk membuat motor Viral di celakai dan saat Glen melaju kencang, Damar hendak menghindari, tapi sayangnya malah tertabrak mobil lainnya. Kejadian itu masih teringat jelas di pikiran Glen dan Cecilia.


Glen yang sudah berlumur darah, dia keluar dari mobil dan hendak menghabisi Viral.


Viral ternyata masih sadar dan berdiri. Melepas helmnya dan menatap Glen dengan tajam.


"Bunuh aku!!"


"AYO! BUNUH SAJA AKU!!"


Memegang pistol dan ditodongkan ke arah Viral. Menarik pelatuknya melesat sudah, akhirnya.


Suara tembakan bersamaan teriakan "Viral."


Suasana begitu hening, sangat mengejutkan.


"Binar.." Viral yang mematung, saat Binar memeluknya.


"Binar...." Viral yang masih mematung dan memeluk Binar, saat memegang pinggang Binar, Viral merasakan seperti ada yang mengalir hangat.


Telapak tangan Viral yang sudah terkena darah Binar. Viral menatap wajah Binar. Binar masih menatapnya dan dia tampak tersenyum.


"Binar, kamu."


"Kita saudara." Lirihnya dan perlahan Binar tidak kuat lagi menopang tubuhnya.


"BINAR!!!"


Glen yang masih menatapnya dan dia masih menodongkan pistol ke arah Viral, dengan kejam Viral berlari ke arahnya.


Duuarrh!


Tembakan pistol itu begitu kencang, suaranya sangat kencang.


Peluru logam melesat ke atas. Saat Glen hendak menembak Viral, tapi Viral lebih dulu menendang tangan Glen, bahkan sangat kejam Viral menghajar Glen.


Bugh!! Sebuah tendangan membuat Glen tersungkur.


Viral menariknya dengan kejam.


"Ini untuk Eyang."


Dassh!!!


Kedua tangan Viral mencengkeram kerah jaketnya dan menatapnya tajam, Glen sudah tampak linglung.


Viral dengan kejam menendang dadanya, dan sampai terlempar jauh.


Yang tadinya kawasan itu sepi, setelah mendengar suara tembakan. Perlahan ramai dan polisi juga akan segera datang, tadi sudah ada yang melaporkannya.


Viral yang merasakan sakitnya, masih menghajar Glen dengan kejam.


Viral menendang kepala Glen, sampai Glen tidak berdaya.


"Aku tidak akan henti menyiksamu."


Pengawal Mahatma telah tiba, dan Viral akhirnya dilerai oleh para pengawal itu.


"Bos... Ayo kita pergi."


"Tidak!"


"Aku masih ingin melihat dia sampai detik kematiannya." Viral masih menginjak dada Glen.


"Dia sudah lemah Bos. Polisi juga akan segera datang."


"Aku tidak peduli." Viral sudah seperti orang gila.


Binar sudah dibawa para pengawal Mahatma.


Viral masih tidak puas, dia mengangkat Glen yang sudah tidak berdaya. Dengan kejam Viral menendang kepalanya.


"Bos, cukup."


Polisi telah tiba dan Viral tidak merasa takut. Bahkan dia mengatakan kalau dia memang sengaja telah menyiksanya.


Polisi menyelamatkan Cecilia yang ada dalam mobil. Wajahnya terkena percikan kaca depan yang hancur.


Pelipisnya juga tampak darah yang masih mengalir.


"Bos."


"Bilang sama Bunda dan Ayah, aku baik-baik saja." Ucap Viral dan pergi bersama polisi.


Damar yang telah tiba di hotel, tapi tidak mendapati istrinya, dan Giel yang tetap disitu juga tidak melihat Abyaz yang keluar dari kamar.


"Sayang..." Damar dengan geram, dia hanya menemukan aksesoris yang dipakai istrinya. Bahkan kamar itu sudah sepi.


"Damar, sebaiknya kita lapor polisi saja." Ucap Giel yang merasa gelisah.


Mereka berdua juga belum tahu apa yang terjadi dengan Viral.


Stella yang duduk di kursi Kakeknya dan menatap keji sang Kakek.


"Kamu yang berbuat ini?"


"Iya, aku yang melakukannya." Jawabnya dengan rasa puas.


"Stella, kamu!!"


Stella mengangkat nama Ji-sung dan dengan manis menjatuhkannya.


"Kakek, selamat." Stella pergi dengan senang.