ABYAZ

ABYAZ
Pergi Ke Supermarket



Duduk di sofa menonton film kartun. Memakan cemilan dan hanya sibuk mengemil sendiri.


Tampak dua orang yang diam tanpa kata. Aura dingin sang pria terhadap gadis belia, merasa kalau dirinya tidak berbuat salah.


"Papa, sepertinya mereka lagi berantem." Bisik Mama Britney.


"Biarkan saja. Nanti juga baikan sendiri."


"Papa, kita harus cari cara buat mereka baikan. Sudah 2 jam begitu. Nggak ada suara tawa dari Gaby. Al juga dari tadi nggak mau makan. Padahal kata Gaby, Al sepertinya tidak makan selama di sekolah." Mama Britney yang cemas.


"Mama. Gimana, kalau kita pergi ke supermarket. Biar mereka berduaan di rumah."


"Iya Pa. Sepertinya kita harus kasih waktu untuk mereka berdua."


Sang Papa satu ini, semakin hari juga bisa melihat kepolosan Gaby. Akhirnya sang Papa tidak jadi menggali tentang sosok Gaby, yang pernah di hotel bersama Lingga.


Karena, perilaku dan sikap Gaby, tidak seperti gadis penggoda yang pernah dilihat Pras semasa mudanya dulu. Malahan, ada rasa iba dan simpati, mungkin karena Gaby ini yatim piatu.


Setelah malam resepsi pernikahan Andre dan Tania waktu itu, Al sering mengajaknya untuk ke rumah. Karena, Al tidak mau main ke rumahnya. Kalau di rumah Gaby, hanya suka menemani saat bermain ayunan di taman.


Al merasa tidak nyaman bila hanya berduaan di dalam rumahnya Gaby. Pikiran dewasa bisa saja terjadi, karena setan juga pandai mengelabuhi manusia yang sedang manis manja.


Meski mereka berdua menganggap biasa saja, tapi yang namanya perasaan itu. Bisa muncul kapan saja, seperti kejadian di depan lift kala itu. Al merasa kalau dirinya kecolongan.


Britney juga lebih suka kalau Gaby di rumahnya. Malahan, sering masak bareng dan Gaby merasa kalau dia mendapat kasih sayang dari seorang Ibu.


"Gaby, Tante mau belanja dulu. Kamu mau apa? Nanti biar sekalian Tante belanjain buat kamu."


Papa Pras datang, "Al, Papa mau nemenin Mama ke supermarket."


Gaby berdiri dan meletakan toples cemilannya di atas meja.


"Gaby boleh nggak ikut Bapak sama Ibuk?" Tanya Gaby.


Pikir Gaby kalau di rumah berduaan sama Al. Gaby juga tidak mau kalau nantinya di terkam Alvaro hidup-hidup. Melihat Al yang kembali beku dengan tatapan sinis, Gaby sudah merasa takut padanya.


Pras berkata "Gaby, kamu di rumah saja sama Al. Kamu baru pulang sekolah. Nanti malah capek."


Al berkata "Biar Al saja yang belanja."


Al mengerti kode itu, lagian biasanya yang berbelanja ke supermarket juga dirinya. Sang Mama hanya memberikan cacatan belanjaan dan Al yang pergi ke supermarket.


Mama Britney bertanya "Papa, gimana?"


"Ya sudah, kita semua pergi ke supermarket." Jawabnya dan Gaby mendengar hal itu langsung bersiap untuk ikut ke supermarket.


Beberapa menit kemudian, Al yang mengemudikan mobil sedan putih favoritenya, tampak diam tanpa kata. Gaby yang duduk di sebelahnya, juga terlihat anteng.


"Papa," Bisik Mama.


"Al, kamu dari tadi diem saja. Apa ada masalah?" Tanya sang Papa. Karena, kalau soal obrolan ringan, biasanya Al lebih dekat dengan sang Papa.


"Al cuma lagi nggak mood." Jawabnya dan tetap fokus pada jalan.


"Papa kirain, kamu ada masalah di sekolah." Ucap Papa.


Gaby mengerti akan situasi ini, dan dia memanggil "Mas Al."


Gaby menatap wajah itu, dari samping lekuk wajah Al semakin terlihat. Jakun itu, leher itu, bibir itu dan hidung. Gaby masih memandanginya, dan sekilas Al menoleh ke arahnya.


"Apa?"


Gaby masih bingung, bahkan ada kedua orang tuanya Pak Al. Bagaimana, kalau tahu soal tadi di sekolah. Bahwa, dirinya yang bersalah dan sempat memeluk cowok lain. Apalagi, bukan muhrim, pastinya akan di nasehati. Gaby juga belum siap, kalau sampai di Mamanya Pak Al itu marah dan berpihak sama Pak Al.


Jari jemari nan lentik, begitu tegang dan merasa kalau dirinya sudah berbuat salah. Tidak berniat untuk berbohong soal perannya atau berniat untuk tebar pesona dihadapan para guru dan murid lainnya.


Setiba di rumahnya, Gaby belum bisa menjelaskan. Tapi, Pak Al sudah diam dan seolah tidak mau diganggu.


"Mas Al marah sama Gaby?"


Britney memegang tangan suaminya, dan spotan "Jadi, kalian berdua lagi berantem."


Ibu yang satu ini sekarang grusa grusu (cepat-cepat), tidak bisa menahan diri. Maunya wus secepatnya. Apapun itu masalahnya harus segera clear dan beres. Pemikiran Britney memang sudah berubah, tidak seperti waktu muda dulu.


"Mama." Sang Papa mengelus tangan istrinya agar bisa sabar.


"Maafin Gaby." Ucap Gaby dan ia pun langsung menunduk, jarinya masih bermain tali tas selempang yang dia bawa, dirinya merasa gelisah akan masalah tadi di sekolah.


"Tapi Pak Al juga salah. Ngapaian foto berduan sama Cantika." Cerocosnya dan kedua orang tua Al mendengar hal itu.


"Cuma cemburu." Batin Britney merasa lega.


Sang Papa langsung merogoh ponsel dari sakunya dan berpura-pura tidak mendengar.


Al hanya diam, kalau dia berkata akan lain ceritanya. Apalagi ada kedua orang tuanya.


"Mas Al." Tangan Gaby menarik-narik ujung kaosnya.


"Hemm?"


"Mas Al dengar nggak sih?!"


"Iya."


"Entah.."


Gaby yang sewot, dan dia juga kesal kalau mengingat Alvaro yang berfoto dengan Cantika. Bahkan, di depan mata kepalanya sendiri.


"Mas Al juga harus minta maaf sama Gaby." Ketusnya dan memandang ke arah kaca jendela mobil. Melihat ke arah pinggir jalan.


"Iya, aku minta maaf." Ucap Al dan mobil itu sudah masuk ke area parkiran supermarket.


Britney tersenyum dan mengelus tangan suaminya. Mama ini memang lebih suka kalau Al dan Gaby ceria seperti biasanya.


Al yang mengajak Gaby bersepeda di sore hari dan saling memberi perhatian ketika di meja makan. Ya begitulah, namanya orang tua. Melihat anaknya rukun dengan pasangan, rasanya lebih tenang.


"Wis adem ayem." Batin sang Papa ketika melihat istrinya bisa tersenyum dan anaknya juga baik-baik saja.


Setibanya di dalam supermarket. Gaby dan Britney yang memilih belanjaannya. Al sibuk mendorong troli, kalau sang Papa mengamati harga yang sering naik turun.


"Sekarang apa-apa mahal." Gumam sang Papa, lalu berjalan mengikuti istrinya.


1 jam kemudian


Al sedang mendorong troli, ada sosok yang menyapa "Pak Al."


Al tampak berdiri jauh dari Gaby dan kedua orang tuanya. Menoleh ke arah yang memanggilnya.


Cantika mendekat dan bertanya "Pak Al lagi belanja?"


"Iya." Balasnya dan masih memegang troli belanjaan.


Gaby menoleh ke arah Al. Berkata "Dia lagi."


Mama Britney yang masih sibuk memilih buah naga dan Gaby juga memegang buah itu. Lalu Gaby meletakan kembali buahnya dan berjalan mengintip Al dan Cantika.


Papa Pras menepuk bahu Gaby, bertanya "Kamu ngapain?"


Gaby yang cemberut, berkata "Mas Al, dikejar kupu-kupu."


"Di kejar kupu-kupu?" Papa Pras ini memang usil, padahal dia juga melihat hal itu. Namun, sepertinya Papa yang satu ini. Ingin melihat, sejauh mana Gaby cemburu.


"Sana samperin. Kenapa cuma ngintip?"


Gaby membalikan badan dan tampak menggeleng "Bapak, Gaby cuma nggak suka aja dia dekat-dekat sama Mas Al. Soalnya dia itu suka cari masalah sama Gaby."


"Jadi dia, yang namanya Cantika itu?"


"Bapak tahu dari mana?"


"Tadi di mobil, kamu yang bilang."


Gaby merasa malu dan tersenyum nyengir. Perlahan berjalan mendekati Mama Britney.


Dugh!


Gaby menyenggol Mama Britney. "Ibuk Maaf."


"Kamu kenapa?"


"Emh, Gaby mau cari cokelat." Jawabnya tanpa berfikir dan ia pergi menjauh dari kedua orang tua ini.


Papa Pras menggeleng melihat tingkah Gaby dan mendekati istrinya, berkata "Dia cemburu."


"Gaby cemburu?" Tanya Mama Britney.


"Lihat di belakangmu. Itu, Al bersama Cantika."


"Cantika?"


"Yang tadi dibahas Gaby."


Mama Britney mengingat dan langsung berjalan mendekati Al yang bersama Cantika.


Al yang hanya berkata saat Cantika, bertanya ini dan itu.


"Al,.. Ini buah naganya." Ucap sang Mama dan meletakan di keranjang troli.


Al berkata "Sudah semua Ma?"


"Belum sayang, Gaby masih cari cokelat." Jawabnya.


Cantika mendengar hal itu, runtuh sudah harapannya. Bisa-bisanya Gaby lebih dulu mengenal keluarga cowok incerannya.


"Mama, ini muridnya Al di sekolah."


Cantika tersenyum dan berkata "Hallo Tante, saya Cantika."


Mama Britney tersenyum dan Cantika mencium tangan Mama Britney.