
Setelah malam itu, kedua insan yang dilanda gairah manja, sudah lama tak bertukar kabar berita. Baik Beby dan Arjuna telah menjaga jarak hubungan mereka berdua.
Arjuna yang saat ini berada di tempat yang romantis. Bersama gadis cantik, ternyata seorang artis. Banyak yang bilang kalau audisi itu berantakan, ada yang bilang kalau sudah main belakang, karena sudah mengenal para juri yang menilai, saat audisi dilaksanakan di bulan lalu.
"Arjuna, kamu harus tenang. Fokus. Oke." Jimmy yang sedang menemani sang aktor kebanggaannya.
Arjuna yang duduk di kursi santai, dan sangat malas menunggu si artis ini. Dari kemarin, dirinya seolah dipermainkan oleh produser acara ini. Yang tidak lain adalah sang Om kembarnya.
Arjuna yang menghembuskan nafas, lalu ia bertanya "Waah, gila. Sampai kapan aku harus menunggu?"
"Ya tunggu aja. Namanya juga perempuan kalau mood lagi down ya begitu. Makanya, ini buat kamu belajar nanti kalau punya istri beneran. Kamu udah mengerti. Oke."
"Iya, tapi aku udah kangen berat sama Bayiku."
"Ssthhh, ngomongnya jangan kenceng-kenceng. Nanti malah kedengaran yang lain."
"Bodo amat, aku nggak peduli." Teriaknya dan ia malah beranjak pergi dengan sesuka hati.
"Arjuna."
"Om Sadewa. Ini aku sudah nunggu 3 jam. Cuma buat ganti baju." Arjuna yang merasa kesal.
"Lebih lama mana, kalau kamu menunggu Bayi kamu lahir?"
"Apa maksudnya, Arjuna nggak ngerti."
"Kamu ini, benar-benar beda sama Ayah kamu."
"Ya jelas beda, Om Sadewa sama Om Nakula, meski kembar tapi beda selera."
"Ucapanmu, memang benar."
"Om, kenapa buat acara beginian?"
"Biar kamu lekas menikah."
"Nggak perlu begini, aku bakalan menikah."
"Ini baru awal. Kamu sudah terlalu bersemangat."
"Semangat Arjuna sudah loyo."
"Kalau orang jatuh cinta. Pasti akan bisa menunggu lama."
"Aku, jatuh cinta?"
"Apa kamu bisa menunggu lebih dari 3 tahun? Baru 3 jam saja. Kamu sudah menyerah."
"Apa maksud Om Sadewa?"
"Arjuna, kalau kamu mencintai kekasih kamu. Seburuk apapun dia, sebejat apapun dia, dan seegois apapun dia sama kamu. Pastinya, kamu akan selalu sabar dan menunggu."
"Iya."
"Di mata orang yang mengenal kamu. Kamu terlihat begitu nakal, bandel, susah diatur dan kelewat playboy. Tapi, dimata gadis yang mencintai kamu. Dia akan selalu menerima kamu apa adanya. Kamu yang begini ini. Nggak sabaran, pecicilan, tengil dan semau kamu. Pasti, dia akan sabar menghadapi kamu. Meski ada gosip apapun soal kamu, dia pasti bisa menerimanya dengan cinta. Karena, dia cinta, terlahir dari cinta dan dibesarkan dengan cinta. Kamu harus mengerti itu."
"Om Sadewa, tahu aku sama Cinta. Eh, maksud aku Beby? Om tahu hubungan aku sama dia?"
"Arjuna, kamu harus belajar sabar dari Opa kamu ya. Om masih banyak pekerjaan. Kamu harus sabar. Semangat."
"Aku harus sabar. Sabar. Sampai kapan aku harus sabar?" Kalau lagi kesal jadi pecicilan dan tidak ada yang bisa menenangkannya selain, Cinta Damayaz.
Perlahan ia mengingat kata-kata itu, dan ia sangat mengingat, Cinta Damayaz kala SMA.
Arjuna yang babak belur saat SMA dan Cinta Damayaz yang mengobati luka memar pada wajah tampannya.
"Kamu sih, dibilangin malah ngeyel."
"Aku ngeyel?"
"Aku udah bilang. Jangan ladeni Romi and the gank."
"Aku nggak bisa sabar. Kalau dia..."
Cinta Damayaz, saat itu telah menyentuh wajah itu, dibagian bibir yang terluka, menggunakan kapas alkohol.
"Aaah."
"Sakit?"
"Iya."
"Nah, sekarang kamu tahu rasanya sakit. Tadi sebelum berantem nggak kesakitan. Masih PD. Sekarang, udah mirip tikus got."
"Kamu nyamain aku sama tikus got?"
"Ini, rambut kamu berdiri begitu. Terus, seragam kamu basah semua. Tas sama sepatu ikut basah. Ini apa namanya?"
Arjuna tersenyum tipis, lalu berkata "Emh, selama ada cinta, cintaku, cintaku, aku akan baik-baik saja."
"Mulai, ngegobal lagi. Ntar di keroyok lagi."
"Emangnya, kamu punya pacar?"
Gadis belia itu tampak menggeleng. Ia telah menempelkan plester luka di pelipis dan pipi sebelah kiri. Wajah tampan itu sudah berubah gaya.
"Pipi kamu masih bengkak."
"Di cun nanti sembuh."
"Ogah, cun aja sama Belinda."
"Aku maunya kamu yang cun-cun aku."
Gadis belia itu menggeleng gemas, lalu berkata "Kamu mau semakin babak belur?"
"Uuh, ampun Kakakku yang cantik."
"Aku antar kamu pulang. Motornya ditinggal aja."
"Jangan, motorku masih bisa. Lagian mereka cuma ngeroyok aku. Bukan motorku."
"Arjuna, kapan kamu berubah?"
"Arjuna, aku tahu sifat kamu memang begitu. Tapi, kali ini aja. Kamu mau ujian, kamu bisa nggak sih, jaga diri kamu sendiri."
Arjuna yang terdiam, dirinya merasa telah dimarahi sang Kakak cantik ini.
"Apapun kamu. Ini yang begini ini. Aku masih peduli sama kamu. Untung aja aku lewat sini. Coba kalau nggak. Kamu pasti sudah mati."
Arjuna yang menunduk dan cemberut gemas, ia berkata "Jangan ngomong gitu. Kakak harusnya yang ikhlas bantuin aku. Kelak, nanti kakak ada masalah aku bakalan bantuin Kakak. Janji. Kita selalu begini. Ya, Kak Cinta. Jangan marahin aku lagi."
"Ya udah, ayo pulang. Aku antar kamu pulang."
"Jangan pulang ke rumah Bunda, nanti aku gimana? Please jangan anterin aku kesana."
Gadis itu melihat ke arah motor. "Ya udah, kita pulang ke rumah Oma. Itu motor kamu, titipin dulu sama teman kamu."
"Terus, kalau di rumah Oma, aku tidur dimana? Ntar ketahuan yang lain."
"Udah, ntar tidur di kamarku."
"Ayo pulang, keburu hujan. Kamu juga mau ujian. Nanti malah sakit."
"Yes, Kakak Cinta, emang top."
"Awas, jangan berisik. Ntar kamu yang tanggung sendiri kalau sampai ketahuan."
"Oke, siap bos."
Selama di dalam perjalanan, setelah Arjuna menitipkan motornya pada teman dekatnya. Tampak duduk manis dan diam tanpa kata. Hanya menatap ke sosok cantik yang sedang melajukan mobilnya.
"Apa lihat-lihat?"
"Nggak apa-apa."
Cinta Damayaz, menoleh ke kiri. Lalu saat ini berhenti karena lampu merah.
Ia menatap sang adik tampan ini, dan pipinya masih tampak bengkak.
Ia memegang itu, "Bintang iklan, tapi pipinya bengkak. Nanti kalau jadi infeksi gimana. Duh, kamu nggak bakal jadi aktor tampan."
Tapi, sang Arjuna saat itu telah menutup mata.
"Arjuna, pipi kamu masih sakit?"
Sang Arjuna tetap diam.
"Arjuna."
"Arjuna, kamu tidur??"
Tampak mata terpejam dan gadis itu sudah kembali mengendarai mobil.
"Arjuna, nggak usah akting di depan aku."
"Aku hitung sampai 5. Kalau kamu nggak bangun. Aku lempar kamu keluar."
"Hah, tega banget Kakak lempar aku keluar?"
Gadis itu tersenyum, lalu Arjuna berkata "Namanya, ini latihan peran. Siapa tahu aku dapat peran yang sama. Di keroyok orang."
"Di keroyok aja seneng, apalagi itu pipi di ciumi seribu pacar kamu."
"Owh, nggaklah. Mana berani mereka begitu sama aku."
"Ya iyalah, orang sehari si A. Baru jadian lagi, ke C, besoknya lagi si D. Trs ada lagi si B." Gadis itu jadi tertawa.
"Seneng banget nertawain aku."
"Iya, stupid."
"Aku bodoh?"
"Iya, bodoh."
"Kakak cantik, jangan bilang begitu. Aku ini paling pintar di sekolah."
"Iya, pintar ngerayu, pintar ngegombal."
"Aku juga pintar masak, pintar ngepel, pintar cuci piring, semuanya."
"Masak? Yang bener aja. Coba nanti masakin aku."
"Ya nggak bisa. Kan kita ngumpet-ngumpet."
"Oke, kali ini kamu bebas. Nanti makan, minum obat, bobok ganteng. Aku siapin di kamar. Tapi, ingat. Jangan berisik. Aku juga takut sama Opa."
"Ya sama."
"Uuh, adikku. Cepet sembuh ya sayangku. Bentar lagi ujian. Harus lulus."
"Iya, aku pasti lulus."
"Kamu lulus, aku merdeka."
"Senang, nggak ada aku??"
"Iya, dong. Aku bisa punya cowok."
"Yaah, dendam."
Keduanya, lalu bernyanyi seru dan mobil itu telah menjadi tempat ternyaman saat itu.
"Lagu ini enak banget."
"Bener."
Kegilaan apa yang dilakukan mereka di dalam mobil itu, musik kencang dan bernyanyi ala mereka berdua.
"Kak Cinta, terima kasih."
"Sama-sama."