ABYAZ

ABYAZ
Bab. 29. Arjuna Sudah Dikurung



Pagi dengan perasaan lebih tenang dan Beby sudah berada di butik Gloria. Ada seorang teman yang membicarakan Beby dengan teman lainnya.


"Kamu serius?"


"Lihat foto ini."


Seorang teman, telah membututi Beby sampai ke rumah Pondok Indah. Sore itu, Beby yang berjalan ke tempat parkir mobilnya. Tanpa sengaja seorang teman yang sedang mengendarai motor matic warna hitam. Melihat Beby yang tampak menaiki mobil baru warna putih di sebuah parkiran swalayan. Lalu, ia curiga dengan Beby yang tampak santai menaiki mobil itu. Dia lantas mengikuti Beby dan ia terkaget saat melihat Beby yang memasuki rumah mewah di kawasan elit.


"Wah, gila. Jadi dia anak orang kaya. Pantas saja, Bos memperlakukan dia kaya anak emas." Dia lantas memotret Beby yang keluar dari mobil sedan putih itu. Bahkan, sampai Beby memasuki rumah itu. Setelah pintu pagar tertutup, sang teman itu langsung pergi.


"Eh, kenapa dia kerja disini?"


"Apa jangan-jangan, Bos sengaja menyuruh temannya agar memantau kita semua?"


"Bisa jadi begitu."


"Oke, mulai sekarang kita harus hati-hati sama dia."


"Pantas saja, dia bisa mengganti gaun mahal itu."


"Bener juga."


"Apa kita harus cari bukti dari dalam tasnya?"


"Jangan, nanti kita dituduh mencuri."


"Benar juga."


Sang teman yang biasa membela Beby, ia tampak mendekat. Dia yang sudah bersuami, jarang sekali suka membahas hal aneh-aneh dengan para temannya.


"Hai, kalian ngobrolin apa? Ayo kita kerja."


"Iya, ini kita lagi kerja."


"Bos, sudah datang."


Lalu mereka semua menyapa "Selamat pagi Bos."


"Pagi."


Maharani, lalu berkata "Beby, nanti siang ada tamu penting. Kamu harus bisa menangani tamu penting itu."


"Baik Bos."


Mereka semua menatap Beby, dan yang lainnya lalu bersiap menyambut tamu yang datang.


Suasana pagi ini, tampak sepi. Belum ada satupun pengunjung yang datang.


"Bos memilih dia."


"Iya, pasti dugaan kita benar."


"Aku makin tidak suka, dia bekerja disini."


"Tapi, kita bisa apa."


Tiba waktunya siang hari, tamu special sudah tampak berada dihadapannya.


"Dia, tamu pentingnya."


"Gadis bodoh. Apa begitu sikap melayani tamu penting?"


Tamu penting itu, yang tidak lain adalah Sang Arjuna.


"Mbak, kenapa hanya diam? Cepat carikan gaun malam untuk Bos saya, gaun malam yang spektakuler." Gertak Jimmy dan menatapnya tegas.


"Baik Tuan."


Arjuna yang duduk santai di sofa. Jimmy berdiri di sampingnya dan tampak bersedekap.


Pelayan yang lain menatap Arjuna dengan perasaan senang. Aktor tampan itu telah berada di hadapan mereka.


"Mimpi apa aku semalam?"


"Dia benar-benar tampan."


"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."


"Tuan, ini gaun malam yang sangat spektakuler." Menjejeng gaun belahan dada dengan warna merah merona.


Arjuna yang menggeleng, ia berkata "Kekasihku tidak suka warna merah."


"Mohon maaf, Tuan. Saya tidak tahu warna kesukaan kekasih Tuan."


"Kakasihku sebenarnya suka warna putih, tapi akhir-akhir ini dia sangat menyukai warna hitam."


"Baik Tuan. Saya akan mencarikan gaun warna hitam."


Jimmy berkacak pinggang "Ya sudah sana pergi, cepat cari gaun malam yang mewah. Kita tidak banyak waktu."


Dalam hati Beby "Jimmy, tunggu saja pembalasan dariku." Memicingkan mata cantiknya.


"Berani kamu menatap aku?"


Beby menunduk "Maaf Tuan. Saya tidak bermaksud begitu."


Setelah itu, Beby sudah membawa gaun malam yang indah.


"Tuan, bagaimana dengan yang ini?"


Arjuna tersenyum, lalu ia melepaskan kacamata warnanya "Paras kekasihku mirip dengan kamu. Aku ingin melihat kamu memakai gaun itu."


"Maaf Tuan. Saya tidak bisa melakukannya."


"Ternyata pelayanan di butik ini sangat tidak menyenangkan."


"Tuan, saya bukan model seperti Tuan."


"Kamu lancang sekali, berani melawan ucapan Bosku." Jimmy yang mendekat berkata "Jangan menatap aku begitu."


"Jimmy," Beby yang keceplosan.


Beby yang memalingkan wajah dan menepuk mulutnya. Lalu menatap Jimmy dan berkata "Tuan mohon maaf, saya memang bersalah."


"Kamu tahu namaku? Hah, kamu memanggilku dengan tidak sopan."


Beby yang mundur dan Jimmy semakin menyerang.


"Jimmy."


"Maaf Bos. Saya hanya tidak suka dengan pelayan ini."


"Dia sepertinya pelayan baru. Kita harus memakluminya."


"Tuan, saya minta maaf."


"Baik, saya akan memaafkan kamu. Kalau kamu mau memakai gaun itu."


"Arjuna, benar-benar keterlaluan."


"Seberapa sabar kamu menghadapi aku?"


Seorang pelayan mendekat dan tampak membawakan minuman untuknya.


"Tuan-tuan, ini minuman khusus yang disiapkan Bu Maharani untuk Tuan-tuan, silakan diminum."


"Terima kasih." Balas Jimmy, lalu ia duduk di sebelah Arjuna.


Jimmy berisik "Arjuna, ide kamu sangat menyenangkan."


"Jangan galak-galak sama kekasihku."


"Hei, kita hanya satu jam disini."


"Aku tahu."



Tanpa sadar, pelayan itu masih berada di dekat mereka dan mendengar ucapan Arjuna.


Dia yang masih mendengarkan obrolan mereka, lalu menatap ke arah ruang ganti yang tidak jauh dari tempat ia berdiri.


"Jadi, dia kekasih Arjuna? Mana mungkin?"


Lalu ia mengingat akan foto yang ditunjukan oleh teman kepadanya.


Mendekati ke ruang ganti dan ia bertanya "Beby, kamu kenapa lama?"


"Owh, sebentar. Aku kesusahan mengaitkan kancing gaun ini."


"Iya, aku susah memakai gaun ini."


Sang teman akhirnya masuk ke ruang ganti itu. Lalu dia membantu mengaitkan kancing kecil yang berada di bagian punggung. Entah sengaja atau tidak, ia memegang belahan bagian paha.


"Beby, aku tidak sengaja."


"Belahannya jadi panjang banget."


"Duh, gimana dong?"


"Pahaku jadi kelihatan." Beby menatap dirinya dari cermin, dan melihat belahan itu semakin memperlihatkan bagian paha yang putih mulus.


"Aku benar-benar minta maaf. Aku yang salah."


Beby melihat raut wajah sang teman, ia mengingat kalau gaun ini sangat mahal. Bagaimana kalau dia harus mengganti gaun malam ini. Apalagi, Beby sendiri yang meminta bantuannya.


Arjuna melihat jam di tangannya dan merasa Beby sudah terlalu lama, untuk berganti gaun malam itu.


Beby menatap sang teman, lalu berkata "Ya sudah tidak apa-apa. Semoga saja tamu kita membeli gaun ini. Kita tidak perlu bertanggung jawab. Lagian, tamu itu yang meminta aku untuk memakainya. Aku yang akan menjelaskan padanya."


"Terima kasih."


"Keluarlah, aku sebentar lagi keluar."


Arjuna dan Jimmy telah menunggu. Lalu seorang teman itu menuju kepada teman yang lain. Dirinya jadi merasa gelisah.


"Duh, aku harus gimana? Kalau dia benar-benar kekasih Arjuna. Pastinya aku yang akan kena."


"Eh, mana Beby kenapa lama?"


"Dia masih mengancingkan gaunnya."


"Owh, gaun itu memang sulit dipakai."


Jimmy berkata keras "Kenapa dia lama sekali??"


Tidak lama Beby yang sudah keluar dari ruang ganti, bak model yang sedang memperagakan busana di atas catwalk.


"Wuih, Kekasih Arjuna memang tidak ada tandingan." Batin Jimmy yang melihat kekuk tubuh Baby. Karena, biasanya Jimmy hanya melihat penampilan Beby yang mengenakan pakaian casual.


"Apa ini? Dia mau menggoda aku?"


"Arjuna, tatap aku sepuasmu!"


Batin mereka berdua yang seolah berperang dengan perasaan cinta.


Arjuna mendekat, lalu berkata "Aku suka, tapi..."


"Tuan, apa yang salah dengan gaun ini?"


"Bukan apa-apa. Aku tidak bisa melihat kekasihku yang terlalu sexy."



"Terlalu sexy?" Beby yang menatapnya seolah menyerang kekasihnya "Tatap aku Arjuna. Selagi kamu dihadapanku."


"Kekasihku tidak pernah memakai gaun seperti ini." Arjuna yang menyerang, ia membatin "Beby, tunggu saja nanti kalau aku sudah pulang. Aku akan menerkam kamu."


Kilatan kedua mata mereka, saling menyerang dengan penuh perasaan.


"Tuan, mohon maaf. Saya sudah salah."


"Tapi, saya mau membeli gaun ini. Cepat bungkus gaun ini. Karena saya tidak banyak waktu disini."


"Baik Tuan."


"Cepatlah ganti pakaianmu." Bisiknya, lalu Beby mengangguk.


"Tuan. Saya permisi dulu."


Arjuna kembali duduk dan Jimmy berbisik "Kamu tidak suka, kenapa membelinya?"


"Aku hanya menggertaknya saja."


"Owh, aku pikir kamu tidak suka dia yang sexy."


"Sstth, hanya aku yang boleh menatapnya."


"Aku tahu. Tapi aku memotretnya."


"Mana ponselku?"


"Arjuna, dia bohai."


"Sialan. Bilang kekasihku bohay."


Saat Arjuna datang kemari, Maharani masih makan siang. Ia memang sengaja membuat tulisan closed.


Jimmy sebelumnya sudah menghubungi Maharani, untuk menutup butik, agar tidak terjadi kegaduhan.


Setelah beberapa saat kemudian, Beby sudah menyerahkan gaun itu. Jimmy sudah melakukan pembayaran. Arjuna tidak henti menatap kekasihnya.


"Aku sangat merindukanmu. Kamu ada dihadapanku, tapi aku tidak bisa memeluk kamu."


"Arjuna, harusnya kamu bilang kalau mau kemari. Ini sangat tidak adil. Kamu bisa memperlakukan aku semaumu. Aku sangat tidak suka ini, aku tidak bisa bermanja denganmu."


"Terima kasih atas kunjungan tuan-tuan."


"Iya, sama-sama. Lain kali kamu harus memperlakukan Bosku dengan baik."


"Baik Tuan."


Mereka berdua berjalan pergi, Beby lalu menatap kedua pria yang sudah pergi dari hadapannya.


"Wah, Beby. Kamu sangat beruntung." Ucap sang teman yang mendekat.


"Iya."


"Kamu juga fans Arjuna?"


"Tidak. Aku tidak pernah menonton filmnya."


"Apa? Kamu serius?"


"Iya, aku serius." Beby lalu berjalan pergi ke ruang istirahat.


Kedua temannya melihat Beby dan mereka merasa iri kepada Beby.


Setelah dua jam kemudian, Arjuna yang sudah berada di rumah orang tuanya.


"Bunda, ini nggak seperti yang Bunda bayangin."


"Arjuna, Bunda tetap ingin menikahkan kamu secepatnya. Bunda nggak mau, kalau kamu sampai menghamili anak Budhe kamu."


"Bunda, Arjuna nggak ngapa-ngapain sama Beby. Arjuna jagain dia dengan baik."


"Begini, baik?"


"Owh, itu memang akting."


"Kamu ciuman dengan banyak gadis kamu bilang akting?"


"Bunda itu pekerjaanku."


"Bunda nggak suka dengan pekerjaan kamu itu."


Sang Bunda keluar dari kamar dan telah mengunci kamar itu. Arjuna sudah dikurung.



Terduduk di tempat tidur, menatap foto adik kembarnya.


"Kenapa aku tidak mirip mereka berdua?? Apa aku juga tertukar seperti Cinta?"


"Bunda memang pilih kasih, mereka berdua dikuliahin ke luar negeri. Aku kuliah dengan biaya sendiri. Ini sangat tidak adil."


Arjuna mengambil ponsel dari sakunya, lalu menghubungi sang Ayah.


"Ayah, cepat keluarkan aku dari sini. Aku harus kembali shuting."


"Kamu dimana?"


"Di kamar kalian."


"Kamar kalian?"


"Ayah, aku dikurung istrimu tercinta."