
"Beby. Arjuna akan pergi."
"Pergi?" Beby yang masih mematung, seakan lepas sudah perasaannya.
"Arjuna mau ke Jerman. Maminya akan membawanya pergi."
"Jerman?"
"Iya. Aku barusan dari rumahnya."
"Bukannya kalian syuting?"
Teman-teman melihat ke layar ponsel dan mencari berita soal Arjuna.
"Beby, lihat ini." Ujar sang teman dan masih menatap layar ponsel miliknya.
Ada unggahan video, saat Arjuna berlutut dihadapan sang Bunda.
Beby mendekat untuk melihatnya dan perlahan menoleh ke arah Jimmy.
"Bunda, menjemput Arjuna?"
"Iya. Maminya sama Bundanya datang ke lokasi syuting. Semua kru juga telah melihat mereka. Arjuna tidak akan melanjutkan karirnya lagi." Isak tangis Jimmy dan badannya seakan tak lagi bertopang. Sangat lemas dan dari tadi dirinya juga mengikuti para pengawal Mahatma. Bahkan, mobilnya ia tinggal begitu saja. Setelah mendengar dari mulut Arjuna, yang akan pergi jauh ke seberang benua. Jimmy, langsung pergi ke Butik untuk memberitahu Beby.
"Aku tidak akan mengejarnya."
"Beby, kamu istrinya. Kamu pasti bisa mengejarnya."
"Aku tidak akan menghalanginya. Aku tahu, ini sangat sulit untuk Arjuna. Kalau aku muncul dihadapannya, dia akan lebih kesulitan lagi. Apapun keputusan Arjuna, aku akan selalu mendukungnya."
"Kamu rela berpisah dengannya?"
Beby membuat Jimmy berdiri dan ia telah memegang lengan tangan Jimmy. Lalu dia berkata "Aku istrinya. Aku tetap akan menunggunya kembali."
"Beby." Jimmy yang menangis dan Beby berusaha untuk tegar.
Meskipun harus berpisah lama, Beby telah membiarkan Arjuna yang pergi begitu saja. Mungkin, ini keputusan terbaik untuk mereka berdua.
"Aku mencintai Arjuna. Dia juga sangat mencintai aku. Aku yakin, Arjuna akan segera kembali." Beby yang tampak tersenyum.
Meskipun ada jarak dan waktu yang akan memisahkan mereka berdua. Perasaan Beby saat ini, sangat tulus mendukung keputusan sang Arjuna.
Seperti itulah, perpisahan itu terjadi dan kali ini Beby telah sibuk bekerja. Starla dan Jimmy masih berada di ruang kerjanya. Menatap Beby yang sedang mengobrol dengan seseorang dari ponselnya.
"Apa dia punya kekasih baru?" Jimmy yang mendekat ke arah Starla.
"Aku tidak tahu. Beberapa hari ini, aku melihat rona wajah yang berbeda." Bisik Starla.
"Aku curiga. Dia ada pria menggoda."
"Heh, dia sahabatku. Beby tidak mungkin bermain api."
"Starla, dia masih muda dan cantik jelita tiada tara. Pasti ada sang pemuja yang lebih dari Arjuna."
"Semoga itu tidak terjadi."
"Kalau iya, bagaimana?" Jimmy dengan ekspresi wajah penasaran dan Starla juga merasa ada hal yang berbeda.
Beby menutup panggilannya dan ia lekas berdiri, menatap kedua orang itu. Lalu bertanya pada mereka "Kalian masih ingin disini?"
"Tidak." Jawab Jimmy lebih dulu dan Beby sudah memegang tas cantiknya.
Starla berkata "Aku, mau ke ruang kerjaku."
"Hati-hati sayang. Aku antar kesana." Beby yang langsung memegang lengan tangannya.
"Kamu mau pergi?"
"Iya. Aku ada pertemuan penting."
Jimmy masih menguping dan ia tidak ingin Beby seperti yang ia pikirkan. Apalagi, ini tentang masalah perasaan Arjuna. Jimmy selalu mengawasi Beby untuk Arjuna.
Jimmy berkata "Aku pergi dulu."
"OKE. Bye bye." Beby yang melambaikan tangannya dan mereka berpisah di depan pintu ruang kerja Beby.
"Starla, kalau kamu merasa tidak nyaman. Nanti cepat panggil yang lainnya."
"Kamu tenang saja. HPLnya masih lama."
"Tetap saja, aku kepikiran."
"Sudah, sana pergi."
"Iya. Aku tidak boleh terlambat."
Beby lantas pergi dengan rona bahagia. Starla memang penasaran, tetapi tidak ingin mencurigai sahabatnya.
1 jam kemudian
Beby sudah mendumel dan tampak memakai celemek ala koki.
Wajah cantiknya sudah cemong dengan tepung. Tangan dengan jari lentiknya menguleni adonan tepung, lalu membuat bentuk bulat.
"Percuma punya Nenek konglomerat. Kalau aku harus bekerja dengan keras."
"Kita cuma bikin bakpao. Tidak kerja keras."
"Sama saja. Ini, aku sampai begini." Memperlihatkan kuku cantiknya yang sudah terbalut adonan tepung.
"Aku heran. Kenapa, anak jaman sekarang sangat pemalas."
"Nenek, aku tidak pemalas. Aku cuma nggak suka bekerja di dapur."
"Ini bukan bekerja. Tapi kamu sudah merecoki Nenekmu." Neneknya juga suka sekali membalas omongan Beby.
"Benar. Aku merecoki Nenek." Balasnya dan malah bergulat dengan adonan tepung. Tangan itu menekan-nekan gemas adonan.
Nenek Jati melihatnya, lalu berkata "Kamu meninju adonanku sampai begitu."
"Ini namanya teknik super bakpao."
Sang Nenek berkata "Harusnya, aku biarkan saja Arjuna dilahap para wanita gila itu."
"Nenek nggak ikhlas, bantuin suamiku?"
"Aku tidak tahu." Balasnya dan melepas celemeknya. Membantingnya di depan Beby.
"Ngambek lagi." Desisnya Beby.
Kedua perempuan ini, ketika bertemu memang selalu saja begitu. Beby yang masih melanjutkan pertarungannya di dapur, tampak memipihkan adonan dan siap mengisi lembaran bulat itu.
"Nenekku memang sultan." Beby dengan senang dan mencium pipi sang nenek.
"Semua ini juga buat kamu. Untuk apa aku menyimpan harta kalau tidak ada yang berguna."
"Salah Nenek sendiri. Kenapa, Nenek nggak hidup berfoya-foya."
Sang Nenek terdiam, Beby dengan manis membuka celemek dapurnya. Mencuci tangan dengan manis dan senyumannya itu penuh rona bahagia.
"Sama siapa kamu pergi?"
"Sendiri."
"Suamimu tahu?"
"Tidak."
"Orang tuamu?"
"Tidak."
"Kamu ini. Mau pergi sendirian ke pulau terpencil?"
"Memangnya kenapa kalau sendirian. Aku malah leluasa menikmati liburanku."
"Kalau kamu sampai diterkam harimau. Tidak ada yang bisa menolongmu."
"Biarkan saja. Lagian, suamiku juga tidak kembali."
"Percuma aku dulu membantunya. Dia malah pergi dan tidak ada kabar untuk kembali."
"Nenek, jangan bilang begitu."
"Kenapa?"
"Aku, mencintai suamiku."
Beby yang sudah memeluk Nenek dari belakang dan menopangkan kepalanya pada bahu sang Nenek. Tangan sang Nenek juga mengelus tangan Beby yang mendekapnya itu.
"Beby, meskipun aku baru mengenal kamu. Aku sangat menyayangimu."
"Iya Nenekku sayang. Cucumu ini merasakannya."
"Cepatlah kembali."
"Terima kasih Nenekku sayang." Memberikan kecupan pipi.
Sudah mendapatkan kunci rumah terpencil, yang berada di sebuah pulau pribadi.
Starla di ruang kerjanya, mendapat info dari pihak stafnya, kalau sang Bos cantiknya sedang mengambil cuti liburan.
"Liburan?"
"Apa, Bu Starla tidak tahu?"
"Owh, iya. Aku lupa. Dia memang ingin liburan."
"Bos akan pergi ke Pulau Sebinar."
"Pulau Sebinar??"
Staff tampan ini, memang tampak mengerjai Starla. Dia yang tahu jadwal padat Bos cantiknya.
"Benar. Bu Bos akan berlibur ke Pulau Sebinar. Sepertinya, Bu Bos sedang perjalanan kesana."
"Hah? Barusan tadi, dia nggak cerita apapun sama aku."
Starla yang merasa kecolongan dan staff tampan itu tersenyum, "Bu Starla juga ingin refreshing? Liburan akan membantu Bu Starla menenangkan pikiran. Apalagi, menjelang kelahiran."
"Kamu mengusirku dari kantor?" Tatapan Starla.
"Bukan begitu maksud saya. Bu Bos sudah berpesan, kalau saya harus mengawasi Bu Starla selama di kantor."
Starla yang meraih telephone kabel yang ada di meja kerjanya dan menghubungi nomor sahabatnya.
"Ini seriusan? Dia malah mengalihkan panggilanku."
Starla yang kesal, membuat perutnya jadi kram. Memengang sisi meja dan tampak kesakitan. Staff tampan itu jadi panik dibuatnya dan segera memanggil ambulan untuk Starla.
Di tempat lain, Beby yang telah memasuki sebuah hotel mewah.
"Beby pergi ke hotel." Jimmy memasuki area parkiran hotel.
Jimmy langsung mengikutinya dengan mengendap-endap. Perlahan, memotret Beby yang berjalan masuk ke dalam lift.
Jimmy mengejarnya dan melihat lantai mana yang dituju Beby saat ini. Jimmy tetap mengikutinya, setibanya di lantai paling atas. Jimmy, tidak lagi melihat Beby di sepanjang koridor kamar hotel.
"Kemana perginya?"
Jimmy yang bingung sendiri dan dia sudah tampak menyerah setelah kehilangan jejak Beby.
"Arjuna. Aku tidak bisa mengejar istri kamu."
Jimmy tetiba menahan sejenak, tadinya hendak mengirim pesan singkat kepada Arjuna. Tetapi, dirinya belum bisa memastikan, apa yang Beby lalukan di hotel ini.
"Ini hotel Pamannya. Pasti dia hanya ingin menemui Pamannya." Gumam Jimmy dan ia lekas pergi meninggalkan hotel.
Beby sudah berada di helikopter yang akan membawanya terbang ke Bandara.
Beby yang menatap indahnya ibukota. Untuk sementara, dia meninggalkan kantor kerjanya.
Beby yang menghabiskan hari-harinya dengan kegiatan yang itu-itu saja. Mungkin, jadi membosankan juga. Apalagi, tidak ada yang membelai lembut di setiap malamnya dan tidak ada dekapan mesra dari suami tercinta.
"Arjuna, aku merindukanmu." Batinnya dan masih memandangi keindahan kota tempat tinggalnya.
Yang di rumah sakit, staff itu semakin panik saat Starla mengalami pecah ketuban. Secepat mungkin, dirinya menghubungi suami Starla.
Bintang yang tadinya di JS dengan segera memberikan kabar tentang Starla. Tampak terbaca, oleh anggota keluarga besarnya.
"Dimana istriku?"
"Di kamar itu." Jawabnya dan menunjuk pintu.
Setelah memasuki kamar. "Sayang, Beby."
"Bayi kita kenapa?"
"Beby pergi."