ABYAZ

ABYAZ
Bab. 56. Demi Cucu Sang Bunda



"Bisa kita bicara di luar?" Cinta yang telah mendatangi kantornya.


Cinta yang tampak tersenyum dan Beby menangguk dengan perasaan tidak biasa.


"Tumben Cinta mendatangi aku. Ada apa dengan dia??" Batin Beby.


Mereka berdua, lalu menuju ke sebuah cafe yang tidak jauh dari kantor Beby.


Setelah beberapa saat terdiam dan Beby sudah memegang cangkir minumannya. Tampak menatap santai wajah Cinta.


"Aku ingin berpisah dari Mirza."


"Kenapa?"


"Sudah cukup, untuk 2 tahun ini. Kita sepertinya, memang tidak berjodoh."


"Apa dia yang bilang begitu? Maksud aku, apa Mas Mirza mengatakan hal itu?" Beby dengan tatapan yang sangat gelisah dan Cinta telah mengungkapkan perasaannya.


"Dia tidak mengatakan apapun. Kita masih tetap biasa saja. Aku juga tidak ingin membenani hidupnya, dia bisa memilih jalan hidupnya sendiri."


"Apa kamu tidak mencintai Mas Mirza?"


"Beby, aku sudah mencobanya. Aku juga tidak bisa terus menerus hidup seperti ini. Mungkin, inilah saatnya untuk aku dan dia membuka lembaran baru."


"Kamu ada pilihan lain?" Beby yang bertanya akan perasaan Cinta Damayaz.


"Tidak ada. Aku hanya merasa memang ingin mengakhiri semua ini."


"Aku mengerti. Kamu dulu yang telah menyelamatkan wajah keluargaku. Aku yang salah, menempatkan kamu pada posisi itu."


"Tidak. Aku tidak menyalahkan kamu. Aku datang kemari, hanya ingin bicara soal itu."


Beby dan Cinta tampak tersenyum, lalu Beby berkata "Sekali saja, kalian tinggal satu kamar."


"Kamu ini, mau menggurui aku?"


"Aku tahu, kalian tinggal di apartemen hanya untuk menyenangkan perasaan orang tua. Agar mereka tidak menyesal telah menjodohkan kalian berdua."


"Apa aku harus melakukannya?"


"Sepertinya begitu. Aku yakin, Mas Mirza juga tidak ingin bercerai."


"Beby, aku tidak bisa."


"Ayolah. Kalian sama-sama dewasa. Lagian, kalau kalian berpisah. Tetap saja kalian akan sering bertemu. Apalagi, ikatan kita sebagai keluarga. Sangat susah untuk menghindarinya."


"Hei, kamu menceritakan tentang kamu dan Arjuna."


"Iya, anggap saja aku lagi curhat."


"Benar. Sampai kapan kalian akan hidup terpisah?"


"Kamu sendiri, hidup serumah tapi tidur terpisah."


"Sudahlah.".


"Cinta, taklukan Mas Mirza. Aku yakin, kamu pasti bisa meraihnya."


"Kamu tahu, siapa cinta pertama Mirza?"


"Aku tahu. Kakaknya Jovita."


Cinta memalingkan wajahnya, lalu ia berkata "Minggu lalu Jovita mencariku. Ayah Arman sakit setelah Madam Yuzra di penjara."


"Dia sudah kena karmanya."


"Hei, jangan bilang begitu sama Ayahku. Tetap saja, dia dulu yang menghidupi aku. Hanya saja, setelah kepergian Ibu, Madam Yuzra selalu memberinya obat, pantas saja Ayah jadi linglung. Aku jadi tidak tega."


"Emh, aku jadi ingat waktu aku bicara berdua dengannya. Sorot matanya juga aneh dan seolah ada hal yang dia pikirkan."


"Ayahku, sangat mencintai Ibu. Sampai akhirnya, dia jatuh sakit begini."


"Kamu sudah menjenguknya?"


"Sudah. Ayah sangat merindukan aku dan juga Ibu."


"Aku mengerti. Sama halnya aku dengan Papa. Aku tetap merasa, hal istimewa dalam hidupku adalah Mama Papa."


"Lalu, gimana Arjuna?"


"Dia hal yang berbeda. Jangan bahas dia, aku tidak ingin mengingatnya."


Cinta yang mengambil cangkir kopinya, lalu berkata "Baiklah, aku akan coba untuk mendekati Mirza."


"Kamu pasti bisa. Setidaknya, Bos cinta interior, mempunyai suami CEO."


"Kamu gila."


"Kamu juga sama."


Kedua perempuan ini, sudah semakin akrab dan tidak ada lagi yang mereka tutupi satu sama lainnya.


"Beby, terima kasih."


"Aku juga, sangat berhutang sama kamu."


"Benar. Kamu harus membayar setiap hutangmu padaku."


"Hitung saja, nanti pelan-pelan aku menyicilnya." Dengan senyuman itu dan Cinta sudah mengerti, apa yang harus dia lakukan.


Beby berkata "Ini kesempatan kamu, meraih hatinya dari Natasya."


"Balasan macam apa ini?"


"Anggap saja, masa lalu itu adalah kegelapanmu."


"Sekarang, aku punya saudara yang bisa mengerti aku."


Beby memegang tangan Cinta, ia berkata "Kita memang saudara. Aku akan mendukungmu. Aku yakin, Mas Mirza sudah melupakan Natasya."


"Kalau Mirza hanya memikirkan tentang kamu, bagaimana?"


Degh!


Beby berkata "Percaya sama aku. Mas Mirza membuat aku hanya pelariannya saja. Bukannya aku mematahkan hati kamu. Tapi, aku sangat yakin. Soal Mas Mirza dengan Natasya dulu seperti apa."


"Iya. Semoga saja begitu. Aku yang akan memasuki hati itu."


Cinta dengan persaannya yang aneh dan Beby menatapnya dengan tulus.


Cinta yang kembali ke apartemennya dan menata semua barang pribadinya. Ruangan kamar yang tampak kesan modern dan Cinta sudah meletakan pakaian serta aksesorisnya dalam kamar suaminya.


"Beby, aku akan mengikuti saranmu. Mirza memang suamiku. Aku lebih berhak untuk mengisi perasaannya."


Beby yang kembali ke kantor dan Starla bersiap untuk pulang. Sudah sore, tapi sahabatnya ini dari tadi tampak berdiam.


"Beby."


"Iya."


"Sudah sore. Kamu tidak pulang?"


"Iya benar. Aku memang berniat untuk segera pulang."


Starla menganggap kalau Beby sedang PMS. Dirinya sangat tahu, kalau sang sabahat ini, moodnya juga suka naik turun. Apalagi kalau sedang PMS.


"Iya. Hati-hati sayangku."


"Oke."


Beby mencari-cari kunci mobil dalam tasnya, ia yang lupa kalau tadi dirinya pergi tanpa menaiki mobil sendiri.


"Huft, mobilku lagi di service, tahu gitu aku bareng Starla." Gumamnya dan ia enggan beranjak dari kursinya.


Staff menghampirinya dan bertanya "Bos tidak pulang?"


"Nanti. Aku masih ingin disini."


"Tim desain, akan lembur Bos."


"Terserah kalian saja."


"Bos ingin ikut lembur juga?"


"Tidak. Sebentar lagi aku akan pulang."


"Baik."


Staff yang ini memang usil. Dia juga sosok tampan di kantor ini. Dia pergi dan meninggalkan Beby sendirian.


"Aku jadi malas ngapa-ngapain." Gumamnya dan perlahan mencoba melihat ke arah perutnya.


Di dalam sana, yang tak terlihat oleh mata, ada sebuah kehidupan dan mengharapkan cinta dari sang Mama.


"Kamu merindukan Papamu?" Beby yang memegang perutnya dan ia harus menjaga kehamilannya.


"Sepertinya, aku memang harus ambil cuti. Demi memanjakan janinku ini."


"Daniel." Panggilnya dan staff tampan itu secepat kilat datang dihadapannya.


"Iya Bos."


"Aku mau ambil jatah liburku."


"Satu minggu Bos?"


"Hitung saja liburku yang terambil alih untuk Starla."


"14 hari Bos."


"Cuma itu?"


Sang Staff memperlihatkan jadwal hari liburnya dan Beby menatapnya dengan serius.


"Itu, waktu aku kerja di luar kota. Kamu anggap aku liburan?"


"Emh, bisa dibilang begitu Bos."


"Baiklah, 14 hari aku terima. Nanti Starla yang akan memimpin kantor selama aku mengambil waktu liburku."


"Siap Bos."


"Tolong ambil ini. Konsep untuk bulan depan. Starla yang membuatnya."


"Siap Bos."


"Sepertinya, konsep bulan depan harus berbunga-bunga." Menganggap konsep baru Starla yang ingin membuat dress dan syal dengan motif bunga. Apalagi, cuaca mulai cerah. Pakaian santai bak di pantai sangat cocok untuk musim ini. Pastnya akan menjadi trend di bulan depan.


"Kalau Bos sendiri, bagaimana?"


"Anggap saja, seperti kancing kecil."


"Owh, aku paham Bos."


"Oke, begitu saja. Mulai besok, aku libur. Aku mau pulang. Jaga kantor baik-baik."


"Siap laksanakan."


Perasaan apa itu, dan ia merasa senang ketika Bu Bos cantiknya mengajukan cuti.


"Yes, Bu Bos tidak ada di kantor." Tangan itu sudah berjoget, Beby kembali ke ruangannya membuat staff ini jadi salah tingkah.


"Aku melupakan sesuatu." Beby meraih amplop putih yang ada di atas meja. Isinya itu adalah gambar usg.


"Daniel, ingat! Jangan sesantai itu, selama aku tidak ada di kantor." Tatapan Beby sangat menyesatkan dirinya.


Dia menunduk sesaat lalu berkata, "Oke Bu Bos."


Beby keluar dari ruang kerjanya dan Daniel kembali bergoyang. Merasa senang dan akan ada hari-hari yang indah. Apalagi, kekasihnya bekerja di kantor ini. Suasana manis seolah telah tercipta begitu saja.


2 jam kemudian.


Di tempat lain, sosok tampan nan rupawan dengan tingkah tengilnya. Mendapatkan kabar baiknya dan merasa senang sekali.


"Yes Beby. Akhirnya, ada jalan untuk aku kembali pulang."


Beby yang sudah mengadu kepada Ibu mertua. Tampak duduk dengan wajahnya yang berubah imut.


"Sayang, Bunda sudah menyuruh Arjuna untuk pulang."


"Bunda kenapa menyuruhnya pulang?"


"Kamu hamil, dia harus bertanggung jawab."


"Putra Bunda sudah bertanggung jawab. Arjuna sudah menikahi aku."


"Beby, Ibu hamil itu hormonnya akan berubah-ubah. Tugas suami harus mengerti dan memahami istrinya."


Bunda Gaby setelah menghubungi sang putra tampannya dan duduk di sofa bersama menantunya.


"Tapi, aku biasa saja. Aku jadi suka menonton filmnya."


"Kamu menonton filmnya Arjuna?" Bunda Gaby yang merasa heran, bahwa menantunya ini tidak pernah mau melihat Arjuna yang tayang di layar lebar dan layar kaca. Iklan saja, bila ada Arjuna langsung diganti channelnya.


"Iya Bunda. Akhir-akhir ini. Aku jadi suka menonton filmnya. Aku sendiri bingung."


"Sepertinya, Arjuna harus kembali syuting film."


"Bukannya Bunda sudah melarang Arjuna?"


"Kamu nggak suka Arjuna di layar kaca. Makanya Bunda berbuat itu, biar Arjuna jera."


"Bunda, biarkan Arjuna sesuka hatinya saja." Pintanya.


"Jangan. Keasyikan Arjuna kalau Bunda kasih kebebasan lagi. Bunda akan carikan peran yang bagus. Series di televisi lebih baik. Tidak ada adegan ciuman mesra. Bunda akan bilang sama Om kamu."


"Om Sadewa?"


"Iya siapa lagi."


"Novel Kak Edward sepertinya lebih bagus. Tentang percintaan di kantor. Tidak ada scene dewasa."


"Baik. Bunda akan membuatkan film khusus untuk kamu."


"Film khusus?"


"Beby sayang. Ini demi cucunya Bunda."