
Suasana kediaman Lee Sung Hoon jam 10 pagi, baru setengah jam Abyaz dan Damar tidur. Mereka saling memeluk manis. Abyaz tampak nyaman dalam pelukan Damar, mungkin dia sangat nyeyak dan posisi tidurnya juga tidak berubah.
"Maaf Presdir. Tuan Muda sedang istirahat bersama istrinya." Ucap satu orang pengawal yang berjaga di depan pintu.
Ada dua pengawal yang berjaga di depan kamar Damar. Lee Sung Hoon yang datang ingin menemui Damar sepertinya tidak bisa.
"Ini rumahku. Cepat! Buka pintunya." Perintah Predir Lee Sung Hoon, dengan tatapan geram terhadap pengawal yang menghadangnya.
Cecilia tampak di belakang sang Kakek, dan dia juga melotot ke arah kedua pengawal itu.
Pengawal juga mencegah Cecilia yang sangat memaksa, ingin membuka pintu kamar itu.
"Maaf Presdir Lee, saya tidak bisa." Ucap pengawal itu. Karena Stella yang sudah memerintahkan kedua pengawal itu untuk menjaga Damar dengan baik.
"Saya pemilik rumah ini. Dia cucu saya. Kalian hanya pegawai saya."
"Tapi, ini perintah Nona Stella."
"Kalian masih berani? Kalian mau saya pecat??!"
"Lebih baik saya dipecat." Ucap pengawal itu yang sudah tahu akan tugasnya. Tugasnya adalah menjaga keamanan Damar dari siapa saja yang mengganggu dia. Termasuk orang yang mengganggu tidurnya.
Lee Sung Hoon, masih menatap tajam, dan melihat name tag yang tertempel pada jas yang dia pakai pengawal itu.
"Lihat nanti, apa yang akan saya perbuat untuk kalian berdua." Ucapnya dan pergi dari tempat itu.
Kedua pengawal itu menggeleng dan tampak gelisah. Tapi, pengawal itu juga sudah berjanji dengan Stella, dan Stella yang akan menanggung posisi mereka berdua. Kalau ada yang memecatnya, Stella sendiri yang bertanggung jawab atas kedua pengawal itu.
"Kalian tetaplah bejaga saja. Kalian tidak perlu cemas. Kakek tidak akan memecat kalian berdua."
Stella yang mendapat pengaduan dari kedua pengawal itu, lalu dia meletakan mini airpodsnya di samping kursi kemudinya, dan menyetir mobil dengan santai.
Lee Sung Hoon yang berjalan ke ruang kerja dan Cecilia masih mengikutinya.
"Kakek, Oppa sudah menikah. Lalu aku harus bagaimana?"
Lee Sung Hoon hanya diam dan mulai melepas dasi yang dia pakai.
"Apa aku harus pergi?" Tanya Cecilia.
"Kamu tidak perlu pergi. Dia hanya tamu di rumah ini." Jawab Lee Sung Hoon.
Cecilia merasa ada yang membantunya dan dia tersenyum, lalu pergi dari ruang kerja Lee Sung Hoon.
"Bocah berandalan, kamu akhirnya pulang." Ucap Lee Sung Hoon dan menatap ke sebuah foto.
Tampak foto Damar yang sedang menunggang kuda. Itu foto waktu umur 15 tahun, sebelum pergi dari rumah sang Kakek.
Dua jam berlalu, Stella sudah kembali dari tempat membeli kebutuhan Damar dan Abyaz. Bahkan Stella juga sudah membelikan makanan dan minuman berlabel halal.
"Sepertinya ini cukup untuk mereka berdua." Ucap Stella dan para pelayan mengangkat semua belanjaan Stella.
Stella yang selalu pergi sendirian, dan suka mengendarai mobil sport, dia sangat menyukai kehidupannya sendiri. Dia sangat membenci tindakan ibunya, jadi dia memilih untuk hidup sendiri, dan mungkin dia tidak akan menikah.
"Nona Stella." Ucap kedua pengawal yang menunduk.
"Kerja yang bagus." Balasnya.
Stella melihat ke arah jam tangan sudah jam 11 lebih, dan dia mengetuk pintu kamar Damar itu.
Damar masih tidur nyenyak, tapi Abyaz sudah bangun lebih dulu. Abyaz yang mengenakan kimono dan melilitkan handuk dikepalanya.
"Kak Stella."
Stella lalu masuk dan meminta pelayan untuk meletakan belanjaannya di kamar itu.
"Ini apa Kak?"
"Makanan ringan, air mineral, dan semua kebutuhan kalian berdua."
Abyaz masih belum mengerti, tapi dia memilih untuk diam.
"Bangunkan suami kamu. Nanti kita harus makan siang bersama keluarga."
Abyaz hanya mengganguk.
"Kamu juga harus berkenalan dengan Kakek dan lainnya."
"Baik Kak Stella." Abyaz yang tampak santai.
"Ingat! Pasang wajah kamu. Jangan, sesekali kamu menampilan air mata ataupun wajah penuh derita. Karena di rumah ini, tidak ada yang menyukai perempuan berwajah sedih."
"Oke.. Aku mengerti." Ucap Abyaz dengan wajah segar.
"Dia suami kamu. Kamu harus menang dari siapapun. Termasuk Cecilia."
Abyaz hanya tersenyum, dan Stella pergi begitu saja.
Abyaz juga langsung menutup pintu kamar itu, dan mengunci kembali pintunya.
"Eemms, aku harus bersiap-siap."
Abyaz yang melihat kopernya, dan dia mengambil dressnya.
"Apa aku harus memakai ini?"
Abyaz lalu mengunci ruang gantinya dan langsung memakai dress warna merah muda.
"Emms, apa aku terlihat gemuk??" Abyaz yang bercermin melihat pipinya yang cubby.
"Ah.. Sudahlah, lagian untuk apa aku berdiet." Gumamnya dan keluar dari ruang ganti itu.
"Kenapa?"
Damar yang sudah berdiri dan tampak menghadang Abyaz.
"Aku gemuk. Nanti malam, aku harus pakai gaun itu." Abyaz menunjuk ke arah lemari dan tadi Stella juga membawa gaun untuk Abyaz dan jas lengkap untuk Damar.
"Kalau tidak suka. Kamu tidak perlu memakainya."
Abyaz berjalan masih memegang tangan Damar, dengan perasaan tidak senang.
"Dam, kata Kak Stella. Nanti, kita akan makan siang sama keluarga. Aku harus gimana?"
Damar mengerti dan memeluknya "Ems, kamu harus cuek."
"Cuek??"
"Apapun perkataan orang yang ada di ruang makan nanti. Kamu tidak perlu pikirkan."
"Kalau mereka bilang yang nggak-nggak gimana?"
"Aku jamin, mereka tidak akan berani. Ya mungkin, hanya akan menatap kamu. Tapi mereka tidak akan berani bilang kamu begini begitu."
"Tadi Kak Stella bilang, jangan berwajah sedih. Apa maksudnya??"
"Tampilkan wajah garangmu. Kamu harus tunjukan sama mereka semua, kalau kamu tidak mudah ditindas. Emms, contohnya seperti wajahnya Kak Stella."
"Iya aku ngerti. Makanya kamu pilih aku yang garang."
"Nah, itu kamu tahu."
"Tapi aku deg-degan. Aku tidak pandai melawan perkataan orang tua. Kalau gadis itu tadi, aku tidak masalah. Tapi kalau Kakek dan Mama kamu, aku bisa apa nantinya."
Kedua tangan Damar memegang wajah Abyaz dan mengecup bibirnya Abyaz "Kamu terlalu bawel."
Abyaz memalingkan wajahnya "Baiklah, kita harus siap menghadapi apapun yang ada di depan kita."
"Emms, iya. Harus."
"Semangat!!!"
"Fighting!"
Kedua orang itu, lalu tersenyum dan Damar memeluknya erat.
Jam 12 siang. Mereka tiba di ruang makan, bahkan dua pengawal tadi juga mengikuti mereka berdua.
Lee Sung Hoon yang sudah duduk di kursinya, tampak menatap Abyaz dari ujung kaki sampai ke atas. Beberapa suadara Damar juga menatap mereka berdua.
"Duduklah..." Ucap Damar saat menarik kursinya dan Abyaz mulai duduk.
Senyuman Abyaz sangat manis, bahkan sang Tante yang duduk di depannya tidak henti memandangi wajah Abyaz.
"Tante Gwen, apa kabar?"
"Baik, kamu sangat tampan."
"Terima kasih, Tante." Damar dengan senyuman manis, dan sang Kakek hanya menatapnya dari kejauhan.
Cecilia yang duduk di sebelah sang Tante dan Abyaz duduk di sebelah Stella.
Lalu ada adik tampan yang berumur 15 tahun, dan keluarga Omnya yang memiliki putra juga yang seusia Abyaz.
"Ayo kita makan." Ucap Lee Sung Hoon.
Abyaz dan Damar masih tampak diam.
Para pelayan sudah menyiapkan menu khusus yang dibeli Stella.
"Abyaz, makanlah. Itu halal." Ucap Stella.
Semua orang yang ada di ruangan itu menatap Stella, saat mengatakan itu halal.
"Apa kamu muslim?" Tanya Tante itu kepada Abyaz.
"Iya Tante." Jawab Abyaz dengan singkat padat dan jelas.
"Eun Ho. Kamu menikahi gadis muslim?"
"Aku juga muslim."
Lee Sung Hoon yang mendengar itu, tampak terdiam. Lalu meletakan kembali sendok dan garpunya. Dia menatap sang cucu kesayangannya.
Stella hanya bercerita tentang keadaan Damar, tidak banyak cerita tentang pribadi Damar.
"Bukannya Eka, dulu."
"Ayah mualaf. Sampai disana, aku juga banyak belajar dari Ayah. Tapi, setelah umur 17 tahun. Aku juga mualaf."
"Sudahlah, kalian makan. Semua manusia sama. Kita perlu hidup. Kita juga harus makan." Ucap Omnya dengan santai dan seolah tidak ada masalah.
Putra Omnya yang di depan Damar juga masih menatap Abyaz.
"Sayang, ayo makan." Ucap Damar dengan manis dan membuat Cecilia hareudang.
Damar yang masih menatap istrinya dan mengelus rambutnya. Abyaz tersenyum manis dan menikmati makan siangnya.
Lee Sung Hoon hanya menatap sosok Abyaz yang sedang makan.
"Kenapa Kakek malah lihat ke arah dia terus??" Cecilia yang merasa bingung.
Damar juga sangat gemas melihat Abyaz yang makan dengan lahab, malahan dengan sengaja Damar menyuruhnya untuk makan begitu.
"Sayang, bibir kamu kena sambal." Ucap Damar dan menyeka mulutnya Abyaz.
Abyaz tersenyum tengil dan berkata "Sayang, kamu juga harus makan."
Abyaz yang memberikan suapan untuk Damar dan membuat orang yang ada di situ menjadi terpana.
Stella tersenyum manis, dia sangat percaya kalau moment siang ini pasti sesuai ekspektasinya.
"Awas nanti, aku akan balas."