ABYAZ

ABYAZ
Bab. 42. Keributan Di Butik Gloria



Pagi yang dinanti tiba dan Beby sudah kembali ke Butik Gloria. Semua teman telah menyambutnya dan Maharani juga tampak memberikan buket bunga yang indah padanya.


"Semoga, hari-harimu lebih baik dan tidak ada lagi kejadian yang aneh-aneh menimpamu."


"Siap Bos." Begitu manis.


"Beby, semangat."


"Terima kasih."


Baru saja pegawai Butik itu bersiap kerja. Sudah ada tamu yang datang bersama dua pengawalnya.


Si Nyonya tua yang membawa seekor kucing hitam kesayangan. Melihat si kucing hitam itu Beby menjauh darinya, Beby yang tampak diam dan berdiri di sisi kiri pintu. Dua pelayan tampak mendekat dan siap melayani Nyonya tua ini.


Si Nyonya tua yang duduk dan hanya menatap ke arah Beby berdiri.


"Dia cucuku? Dia anak yang disembunyikan Gisella?"


Tatapan itu dan wajah itu sangat penasaran. Beby merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan si Nyonya tua ini. Apalagi, Beby sangat takut dengan kucingnya.


Meoong


Dalam hati Beby, semoga si Nyonya tua itu tidak memanggilnya, agar tidak melayani seperti kedua temannya.


"Aku mau gaun A, warna hitam."


"Baik Nyonya."


Duduk dengan tatapan manis ke arah Beby. Tangan itu, masih mengelus-elus kucing hitam yang disayanginya. Dua pengawal sangat terlihat kekar dan tampak sangat berotot. Meski memakai setelan jas warna hitam. Tetap saja, postur badan dua pengawal itu benar-benar kekar.


Beby melihatnya, menganggap mereka tidak seperti pengawal di JS maupun di Mahatma.


"Nyonya, ini gaun hitam yang anda cari."


"Iya."


"Nyonya berminat dengan gaun ini?"


"Iya, bungkus dengan warna hitam."


"Baik Nyonya."


Si Nyonya kembali menatap ke arah Beby dengan tatapan serius. Dari atas sampai bawah sudah dilihatnya.


"Apa dia benar-benar cucuku?"


Nyonya Jati, istri seorang mafia. Dia memang sengaja mengirim Binar ke panti yayasan anak terlantar. Karena, dia tidak ingin anaknya dibunuh oleh musuh suaminya.


Tinggal di The Lion City, dan hanya mengamati pergerakan putra semata wayangnya. Hidup dalam kesendirian, setelah suaminya meninggal beberapa tahun silam.


Sebelum Gisella melahirkan, Si Nyonya tua ini sudah mendatanginya dan beliau ingin mengambil cucunya setelah bayi itu lahir.


Sayangnya, Gisella dengan sengaja menukar bayi itu. Si Nyonya tua yang melakukan test DNA bayi itu, tapi itu bukan anak Binar.


Sempat membuat dirinya frustasi, dan merasa tertutup sudah garis keturunannya. Setelah kepergian Gisella, gembok yang rapat yang dikunci Gisella telah terbuka dan si Nyonya tua telah kembali dengan rasa bahagia.


"Dia tidak mirip denganku? Tapi dia sangat mirip perempuan itu." Batinnya dan masih saja menatap ke arah Beby.


Si Nyonya tua memanggil pengawalnya dan ia berbisik "Gu, apa aku mirip dia?"


"Tidak Nyonya."


"Bersihkan matamu dulu." Ucapnya yang sentimen.


"Baik Nyonya."


Salah satu pengawal itu melepaskan kacamata hitam yang telah melekat wajah tampannya.


"Dia sangat mirip putra anda."


"Sepertinya begitu. Dia tidak mirip aku."


Belum sampai beranjak pergi, Madam Yuzra datang dengan dua pengawal. Tatapan sinis di wajah anggunnya membuat Beby yang membuka pintu tampak merinding.


"Itu, Mamanya Jovita." Batin Beby yang sangat mengingat jelas wajah keluarga Presdir Arman disebuah bingkai foto.


Meninggikan sebelah alisnya dan duduk di samping si Nyonya tua pembawa kucing.


Dua sofa yang telah diduduki Nyonya besar. Kedua orang ini, meski belum saling mengenal. Si Nyonya tua sudah tahu lebih dulu, siapa Madam Yuzra sebenarnya.


Penampilan kedua orang ini, sangat berlawanan. Madam Yuzra yang tampil anggun dengan dress warna putih dan blazer motif kotak menutupi bahunya.



Lalu, si Nyonya tua dengan penampilan biasa warna hitam yang sangat jauh dari kesan mewah.



Madam Yuzra juga melihat ke arah Beby. Dia menatapnya dengan pandangan yang tidak suka.


"Wajah Gisella. Aku sudah membuatnya jatuh. Kenapa wajahnya masih mulus begitu?"


Madam Yuzra sangat tidak suka dengan wajah Beby yang sangat mirip dengan Gisella. Sewaktu Beby mendatangi rumah Presdir Arman. Madam Yuzra sangat mengamati dan menghafal wajah Beby.


"Setiap lukaku, selama bertahun-tahun, gadis ini yang harus membayarnya. Aku tidak akan membiarkan hidupnya bahagia." Batin Madam Yuzra.


Si Nyonya tua melihat kalau Madam Yuzra dari tadi sudah menatap Beby.


Si Nyonya tua dengan sengaja melepas kucing kesayangannya.


Meong


Meong


Madam Yuzra yang melihat "Hust, jangan mendekat."


Si Nyonya tua kembali mengambil kucingnya, lalu berkata "Ada racun yang kau sebar. Sampai kucingku ini bisa mencium tangan kotormu itu."


"Apa maksudmu?"


"Aku hanya berkata saja." Suara itu begitu meledek.


Pelayan memberikan tas warna hitam dan Si Nyonya tua hendak meraih tas itu. Sayangnya, Madam Yuzra telah menjatuhkan tas itu.


Kedua orang itu saling menatap dan si Nyonya tua ini kalah badan. Badannya yang kecil dan Madam Yuzra begitu tinggi, bahkan lebih muda darinya.


"Kamu masih muda, tidak mengerti sopan santun."


"Nyonya maafkan saya." Ucap pelayan dan Beby hanya melihatnya saja. Ia tidak ingin mendekati kedua Nyonya itu.


"Wanita ini? Aku, maksudmu?" Suara itu sudah meninggi dan Beby bisa melihat aura panas dari Madam Yuzra.


"Aku jauh lebih tua dari kamu." Si Nyonya tua yang tidak mengalah sedikitpun. Malah main menunjuk dengan jarinya.


Tatapan itu dan gertakan Si Nyonya tua membuatnya panas. Biasanya dirinya tidak bisa terpancing oleh siapapun, termasuk madunya. Selama hidup bertahun-tahun dengan Gisella, dirinya selalu bisa bersikap manis. Tapi, kali ini emosinya sudah tidak terkendali lagi.


"Wanita tua." Balasnya dan mendorongnya begitu saja.


"Kamu berani melawanku?!" Ia melepas kucingnya dan hendak melawan Madam Yuzra dengan kekuatan kedua tangan.


Pengawal mereka, meski tampak kekar dan berotot. Tenaga kedua super Nyonya ini sangat kuat sekali. Apalagi, kalau wanita ini sudah mengamuk, mereka tidak bisa melerainya.


"Nyonya."


"Nyonya."


Para pelayan itu, juga sibuk dengan gaunnya dan kedua Nyonya ini sudah mengamuk. Gaun-gaun yang ada di dekatnya sudah menjadi korban.


"Kamu kurang ajar sama orang tua." Menarik rambut panjangnya dengan sekuatnya dan Madam Yuzra tidak menyerah begitu saja, dia berani menggigit lengan tangan si Nyonya tua.


"Aku akan mengingatmu." Wajah Madam Yuzra dan rambutnya sudah acak-acakan.


"Kamu berani menggigitku. Aku akan melaporkan kamu."


"Silakan. Aku tidak takut."


Si Nyonya tua berkata "Percuma aku melaporkan kamu. Kamu sudah tidak waras." Sambil memegang lengan tangannya yang sakit.


"Ingat. Tunggu saja pembasalanku nenek lampir."


"Aku akan melawanmu." Si Nyonya tua ini masih saja meledeknya.


"Hhuft. Lepaskan aku." Ucap Madam Yuzra kepada pengawalnya.


"Nyonya, baik-baik saja?"


"Aku tidak apa-apa." Jawab si Nyonya tua kepada Beby.


Dua pelayan lain, merapikan gaun-gaun yang sudah berserakan di lantai.


Madam Yuzra pergi bersama pengawal, masih menoleh ke arah si Nyonya tua.


"Aku tidak akan memaafkannya."


"Berani menyakiti cucuku. Aku akan menghantuimu." Tatapan itu sepertinya masih berperang.


"Nyonya, silakan duduk."


"Aku tidak apa-apa."


"Tangan Nyonya terluka. Saya akan ambilkan obat."


"Tidak usah. Aku terbiasa di gigit kucing."


"Tapi ini luka Nyonya harus diobati."


Nyonya tua ini menatap lekat wajah Beby dengan senyuman dan Beby juga menatapnya saja.


"Aku akan mengganti rugi gaun-gaun itu." Ucapnya kepada pelayan.


"Baik Nyonya."


"Bungkus semua gaun itu dan hitung semuanya. Aku tidak mau terlewat satu helai saja."


"Baik Nyonya."


Beby dalam hatinya bingung dan ia kembali berdiri di sisi pintu masuk.


Beberapa saat kemudian, suasana butik kembali ke sedia kala yang sangat tenang.


"Aku takut."


"Aku juga."


"Beby, kamu baik-baik saja?"


"Iya."


Beby pada akhirnya juga ikut melerai kedua Nyonya tadi. Bahkan, bekas jahitan di kepalanya terasa nyeri karena Madam Yuzra berkesempatan menarik rambut Beby.


"Dua Nyonya tadi, belum pernah kesini."


"Benar."


"Mereka kenapa bisa begitu?"


"Aku juga tidak tahu."


Beby berkata "Kita harus mengatakan sama Bos."


"Beby. Lihatlah, sekarang sudah ada CCTV. Nanti Bos juga akan melihatnya."


"Benar juga."


Setelah kejadian pagi tadi, siang hari ini Maharani memasang security di depan pintu masuk Butik Gloria.


Beby menganggap hal itu akan percuma, pelayan lain juga bisa melihat kekuatan Nyonya pagi tadi yang tidak bisa dilerai.


"Setidaknya, ada satpam yang berjaga pintu." Ucap pelayan dan menatap ke arah Beby.


"Iya, pekerjaanku sudah diambil dia. Aku harus bekerja, sama kalian berdua."


Dua pelayan itu tersenyum, melihat ekspresi Beby saat ini.


"Hai, kalian jangan menertawakan aku."


"Kita tidak menertawakan kamu Beby."


"Lalu? Kenapa kalian tersenyum."


"Kita hanya membayangkan, kalau dua Nyonya tadi pagi akan datang lagi. Kamu yang harus melayani mereka."


"Aku tidak mau." Tegasnya menolak.


"Bos memilih kamu, kita bisa apa."