
Abyaz tersenyum tipis dan melepaskan tangannya dari genggaman Damar. Dia yang memanggil masih berdiri dan tidak berkata apapun.
"Meta."
Meta lalu berjalan dan memeluk Abyaz.
Meta melepas pelukannya dan masih menatap Abyaz, Meta memegang kedua tangan Abyaz dan berkata "Terima kasih sudah datang."
"He'em, lagian aku juga harus bertemu Viral."
"Aku juga bilang sama orang tua Viral, kalau aku bertemu kamu di pesta Madam Melinda."
"Iya, aku sudah lama tidak bertemu mereka."
"Aku mengerti perasaan kamu. Samalam aku juga tidak memaksa kamu, agar bisa kesini."
"Tidak masalah. Lagian dulu, Viral juga baik sama aku. Bahkan kita juga sudah seperti saudara."
"Kamu benar."
Meta yang kala itu sudah putus dari Viral, tapi Meta sudah menganggap Viral seperti sahabatnya. Bahkan Meta juga sudah kenal Abyaz dan Viral dari SMA.
"Aku harus pergi, soalnya nanti sore aku juga harus pulang." Abyaz dengan senyuman manis.
"Kamu tinggal dimana?"
"Jauh dari sini."
"Sekali lagi, terima kasih."
Abyaz mengangguk dan pergi.
Damar yang sudah ada di mobil. Hanya melihat mereka dari spion. Damar juga tidak mengerti, kenapa rasanya sang teman hidupnya pernah mengalami keadaan yang menyakitkan.
"Dam, kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Dia siapa?"
"Dia Meta teman aku sama Viral. Kita kenal dari SMA, dia juga pernah pacaran sama Viral waktu kuliah. Dia yang tadi malam kasih tahu aku, waktu kamu sama Mama kamu."
Damar tidak ingin mendengar kata Mama kamu, lalu dia melajukan mobilnya.
Meta yang di tempat parkir masih saja melihat ke arah Abyaz. Dia sepertinya masih menyimpan perasaan terhadap Viral. Dulunya berpenampilan bak barbie, tapi sekarang sudah berubah dan lebih dewasa.
"Dam, kamu kenapa?"
Abyaz melihat wajah Damar yang tampak berubah dingin. Abyaz mengerti tentang perasaanya, bukan karena Viral tapi tentang Mamanya.
Abyaz sebenarnya semalam juga ingin menanyakan tentang Mama Melinda, tapi Abyaz tidak berani bertanya sama Damar soal itu.
"Aku tidak apa-apa."
Abyaz yang merasa sepi dan tidak nyaman, dia mulai menyalakan musik.
Beberapa jam setelah Abyaz dan Damar di rumah Alishba. Mereka sudah tiba di sebuah Hotel yang sudah dijanjikan oleh kakek Lee Sung Hoon.
Kakek juga sudah janji akan menyambut dan menyiapkan makan siang yang special untuk Abyaz dan Damar.
Ini juga kesempatan Abyaz untuk saling mengenal para saudara dan kerabat Lee Eun Ho. Karena seluruh keluarga besar, hanya mengenal Lee Eun Ho.
"Kamu tidak perlu cemas." Ucap Damar dan Abyaz yang berjalan memegang lengan kanan Damar.
Mereka tadi sudah di sambut para pengawal. Kakeknya dan Stella juga sudah di tempat itu. Yang tidak ada, hanyalah sang Mama.
Keluarga besar pasti akan memenuhi restoran hotel mewah itu.
Hotel yang tidak jauh dari kediaman Lee Sung Hoon dan tepatnya masih berada di kota Jakarta.
"Kenapa harus ada penyambutan?"
"Memang begitu ritualnya, biasanya mereka akan memberikan ucapan, nasehat dan juga hadiah buat kamu."
"Saudara kamu berapa?"
"Anak kakek cuma ada 3, kamu sudah lihat kemarin waktu makan siang. Tapi kalau ini, ada kerabat jauh, jadi seperti anak cucu dari keturuan Kakek buyut."
"Ems, iya aku ngerti. Dulu waktu aku di Pondok Indah juga ada arisan keluarga dari Kakek buyut, kalau di Semarang juga ada acara halal bihalal keluarga simbah buyut."
"Iya, semacam itu. Jadi, biasanya kalau ada pengantin baru. Para orang tua itu akan memberi nasehat, terus kamu juga akan diberi hadiah sama mereka. Tapi, ini cuma makan siang. Aku pikir, tidak akan ada acara apapun." Ucap Damar.
"Iya, aku mengerti."
Kedua orang yang sang manis, Abyaz dan Damar saling memahami. Mereka tidak tidak hanya teman hidup, mereka tidak hanya sepasang suami istri. Tapi mereka juga bisa seperti sahabat, bahkan terkadang seperti adik dan kakak.
Perlahan perasaan manis itu muncul dengan sendirinya.
Abyaz tidak menutup hatinya, hanya saja dia tetap akan menganggap Damar Setya Ardana adalah sisi lain dari kehidupannya, dia teman hidup dan tempat bersandar.
Begitu juga Damar, dia mulai merasakan ada perempuan yang memperhatikan dirinya, menyayangi dan mencemaskan keadaannya. Padahal, dia dulu sangat berharap kepada sang Mama, tapi sang Mama tidak pernah mencemaskan keadaannya. Bagaimana mencemaskan dirinya, bertemu dirinya saja tidak mau.
Pengawal ternyata bukan mengajak mereka berdua ke restoran, melainkan ke aula yang ada di hotel mewah itu. Hotel berbintang, suasana aula yang tampak megah dengan nuansa emas.
Semua tamu dari kerabat sudah hadir dan mereka bertepuk tangan, saat Damar dan Abyaz memasuki aula itu.
Kakek Lee Sung Hoon yang berdiri dan memegang sebuah microphone, memberikan sambutan dan ucapan selamat untuk Damar dan Abyaz.
Kakek yang tahu dari Stella, dan sudah mulai memanggilnya dengan nama Damar Setya Ardana. Bukan lagi Lee Eun Ho.
Damar dan Abyaz duduk dalam satu meja bersama Stella dan juga sang Kakek.
"Kamu sekarang juga cucuku."
"Iya Kakek." Ucap Abyaz dan Damar hanya menggeleng.
Cecilia yang di meja sebelahnya tampak menatap mereka, dengan perasaan tidak senang.
"Abyaz kamu harus ikut aku." Ajak Stella yang ingin mengenalkan kepada semua kerabatnya. Kalau dalam artian jawa seperti para sesepuh, atau orang yang dituakan.
Stella tersenyum saat Abyaz ditarik seorang ibu tua dan meminta Abyaz untuk memanggilnya Nenek, dia adalah Adik Lee Sung Hoon.
"Iya, Nenek." Ucapnya dan Abyaz juga tersenyum manis.
Di tempat lain, setelah Damar yang dapat omelan dari sang Kakek. Damar berjalan dan menyapa beberapa orang yang dikenalnya secara dekat.
"Untuk apa aku datang, kalau hanya dimarahi Kakek." Ucapnya dan kembali ke meja dia. Saat melihat sang Kakek mengobrol dengan saudaranya.
"Oppa." Panggil Cecilia.
Damar sebenarnya enggan untuk bicara dengan Cecilia. Tapi dia juga harus berbicara dengan Cecilia. Mengingat tentang perjodohannya dulu.
"Ada apa?"
"Bisa kita bicara berdua?"
"Untuk apa?"
"Ada yang mau aku bicarakan sama Oppa."
"Ya udah, ngomong aja."
"Jangan disini. Kita keluar dulu."
"Kenapa harus di luar?"
"Oppa. Ini untuk yang terakhir kalinya."
"Disini juga bisa." Ucap Damar dan dia minum air mineral dalam gelas.
Damar menatap gelasnya, dan merasa ada yang aneh. Damar lalu berjalan ke arah Abyaz dengan wajah tersenyum.
"Ada apa?"
"Aku mau ke toilet."
"Ya udah, jangan lama-lama."
"Oke," Damar yang mengedipkan mata nakalnya dan membuat para Tantenya tertawa, mereka semua semakin suka dengan pasangan ini. Bahkan ada yang bertanya tentang malam pertama dan memberikan nasehat tentang hal yang begitu intim.
Stella tadi meninggalkan Abyaz dengan para Tante, dari anak-anak sang Nenek tadi. Mereka menghadang Abyaz dan masih ingin mengorek hubungan ranjang pengantin baru ini.
Abyaz merasa risih, tapi Abyaz begitu nakal. Dia cerita dengan hebohnya dan membuat para Tante tertawa senang.
"Abyaz, Eun Ho manis sekali."
"Tapi, ya gitu Tante. Aku tidak suka main gelap-gelapan. Dia memang pria nakal."
"Lalu apa yang terjadi??"
"Ems, Abyaz kan masih polos. Tapi, dia sudah dewasa. Ya gitulah Tante." Ucapnya dengan manis, bahkan tengil.
"Siapa yang menang di ronde pertama?"
"Ems aku, Tante. Aku kan posisinya diatas. Jadi, dia tidak bisa berkutik."
"Kamu bukan polos, kamu lebih hebat dari Eun Ho."
"Aku jadi pengen honeymoon lagi."
4 orang dewasa yang senang saat Abyaz menceritakan itu. Padahal itu malam penyiksaan untuk Damar.
Masih banyak lagi obrolan dan mereka masih asyik menggoda Abyaz. Bahkan Abyaz sudah mendapat banyak hadiah.
"Tante, aku mau ke toilet dulu."
"Nanti balik kesini lagi."
"Iya Tante."
Abyaz berada di toilet dan setelah dari dari toilet dia berjalan ke arah aula.
"Damar dimana?"
Sudah cukup lama tidak melihat Damar, tadi juga bilangnya hanya ke toilet dan Abyaz menjadi risau.
"Apa Damar balik ke aula?"
Abyaz masih ingin di luar, dan berjalan ke arah kamar hotel. Melihat suasana hotel yang begitu romantis dan cozy.
Abyaz mulai melihat ke arah koridor sepertinya Damar. Tapi, sangat aneh.
Abyaz dengan segera berlari ke arah koridor itu.
"Damar..." Pikiran Abyaz sudah kacau.
Tadi banyak pengawal saat acara belum dimulai, tapi setelah acara makan siang para pengawal juga tidak terlihat.
"Damar!"
"Damar!!!"