ABYAZ

ABYAZ
Setelah Kehujanan



Suasana siang yang tiba-tiba mendung, rintik hujan menyapa Gaby.


"Gerimis."


Gadis belia yang berjalan melewati gerbang utama komplek. Kedua tangan mengadah ke atas, lalu menatap ke langit.


Gaby mengangkat tas ranselnya, untuk menutupi kepalanya dan ternyata rintik hujan itu semakin deras, Gaby tidak membawa payung. Padahal, dia kemarin sudah melihat ramalan cuaca dari layar pintarnya.


Seett!!


"Ayo naik." Suara sang suami tampan yang terdengar nyaring.


Gaby langsung membonceng motor itu, dan perpegang erat pada lingkar perut suaminya, yang berotot kekar itu.


"Mas Al, kita pulang ke rumahku saja."


Al merasa istrinya sudah memegang erat dirinya, lantas tancap gas. Meski jaraknya seperti dekat bila naik motor, tapi kalau jalan kaki juga akan terasa jauh.


Hujannya semakin lebat. Gaby dan Al sudah basah kuyup. Gaby yang memakai rok mekar selutut dan motor gagah itu, terkesan begitu tinggi. Di kala ujan deras begini, roknya itu sampai melekat ke paha.


Perasaan nyaman dari keduanya, meski tidak ada ucapan cinta. Al yang semakin perhatian kepada Gaby, begitu pula Gaby yang mengerti situasi ini. Tanpa banyak kata atau membantah, Gaby juga semakin menurut kepada Al.


"Mas Al. Ini handuknya, itu kamar mandi sebelah sana." Gaby yang memberikan handuk kepada Al.


Mereka yang telah tiba di rumah Gaby.


Al menarik Gaby, dan mengeringkan rambut Gaby yang basah kuyup.


"Aku bisa sendiri." Ucap Gaby yang merasa tidak enak hati.


"Patuh." Al yang menatapnya, dan Gaby yang membulatkan bibirnya hanya terdiam tanpa kata.


Setelah mengeringkan rambut Gaby dengan handuk. Al mencium kening istrinya dengan lembut.


Saling menatap dengan perasaan berdebar-debar, Gaby bisa merasakan kasih sayang suaminya. Al yang tampak tersenyum, dia juga telah menyadari kalau dirinya memang menyayangi Gaby.


"Lain kali bawa payung."


"Aku lupa."


"Untung saja aku juga pulang cepat."


"Aku sudah biasa kehujanan."


Al begitu gemas melihat wajah itu, "Ya sudah, sana cepat mandi dan ganti baju."


"Mas Al juga." Gaby tersenyum manis.


Al dengan segera mengambil tas ranselnya. Meski tasnya juga basah. Namun, isiannya masih terjaga. Kaos putih dan celana training panjang warna hitam, meski celana itu sudah terpakai saat tadi jam olah raga. Namun masih bersih dan bisa dipakai lagi.


Hujannya semakin lebat dan kilatan petir terus saja menyambar-nyambar.


Gaby yang berada di dalam kamarnya, dan Al masih berganti di kamar mandi tamu yang ada di ruang tengah.


Kamar utama yang berada di lantai satu, Gaby mengambil setelan piyama kaos bergambar kartun di lemari baju dan segera mandi.


Beberapa saat kemudian, Al yang duduk di ruang tengah, mengamati ruangan itu, tidak ada satupun foto yang terpajang di partisi atau dinding. Ada partisi yang membatasi ruang tamu dan ruang tengah. Terlihat dapur dengan kitchen set dilengkapi mini bar. Tidak ada meja makan maupun perabotan hias.


Desain interior yang tampak modern, serba silver dan putih. Al berfikir kalau Gaby menyukai warna putih abu-abu.


Lantai marmer yang bersih dan sofa yang dia duduki juga masih terlihat baru.


Sofa L minimalis, dengan warna abu muda, terletak di ruang tengah dan menghadap ke layar televisi.


Di ruang tamu terdapat satu set sofa retro minimalis warna abu-abu tua. Gorden single di setiap kaca jendela, berwarna putih keabu-abuan.


Perpaduan gaya modern dan retro, begitu menarik perhatian Alvaro. Bahkan, dibagian dapur juga nuansa abu-abu, hanya minibar saja yang hitam mengkilap dilengkapi dengan kursi barstool hidrolik warna hitam. Gaya interior rumah ini, sepertinya cocok dengan ide pria menawan ini.


Al tersenyum "Ternyata kita punya kemiripan."


Membuka pintu kamar dengan perlahan, Gaby yang mengintip suaminya. "Mas Al, duduk disitu. Terus aku harus apa?"


Gaby bingung sendiri, meski dirinya masih anak sekolahan dan masih belia. Dia saat ini sudah menjadi seorang istri. Bayangan Gaby, kalau menjadi istri itu harus patuh dengan suaminya, harus bisa melayani suaminya, bahkan harus menyiapkan keperluan dan kebutuhan suaminya. Termasuk minuman dan makanan untuk suaminya, itulah yang ada dalam benak gadis 18 tahun ini.


Pelan-pelan membuka pintu, tampak sedang berjalan jinjit. Gaby hendak mendekati Al, yang duduk dan memeluk bantal sofa.


Deegh!


Gaby yang siap memegang pundak Al dari belakang, malahan Al membalikan badannya dan kedua wajah itu saling bertemu.


"Emh, Mas Al."


"Mau ngagetin aku?"


"Bukan gitu maksudku."


"Sini duduk."


"Duduk??" Pikiran Gaby kembali aneh, duduk berduan dan di dalam rumah ini.


Gaby dengan perlahan menghampiri suaminya. Senyuman manis dan rasanya begitu aneh.


Menggigit bibir bawahnya dan rasanya bingung harus bersikap bagaimana.


Gaby yang duduk dan sedikit menjauh. Al tersenyum dan mendekat.


"Mas Al, mau minum apa? Biar Gaby buatin buat Mas Al." Cara bicara yang manis dan tidak seperti murid yang suka membantah perintah guru olah raganya.


"Emh, ya sudah kalau begitu."


Dag


Dig


Dugh


Al yang semakin mendekat, perasaan Gaby yang was-was dan pikirannya sudah entah kemana.


"Mas Al, Gaby lapar." Gaby bangkit dari sofa dengan cepat sebelum Al lebih mendekat.


Gaby berjalan ke dapur dan Al jadi senyam-senyum sendiri.


"Dasar, gadis bandel."


Al mengambil ponsel dari kantong tas ransel. Ia hendak menghubungi sang Mama dan mengatakan kalau dirinya berada di rumah Gaby.


Gaby menyalakan kompor listrik, dan sudah ada panci kaca di atas kompor itu. Mengambil mie instan dari laci kitchet set. Perasaan yang aneh dan menganggap dirinya telah salah melangkah.


"Aku sudah jadi istri, tapi masak saja nggak bisa." Batinnya.


Ia mengingat kalau Al selama di rumah begitu dimanjakan kedua orang tuanya, bagaimana kalau nanti tinggal berdua.


Al mendekatinya dan bertanya "Kamu mau makan mie?"


Gaby mengangguk dengan wajah gemas.


"Biar aku saja yang masak."


Gaby tersenyum "Mas Al, memangnya bisa masak?"


"Bisa, tapi tidak sepandai Papa." Jawabnya.


"Hemm, Papa?"


"Ya kalau dibanding Mama, ya tetap jago Papa. Papa punya restoran dan ide resep semua dari Papa."


"Jadi, Papa punya restoran?"


"Iya.Tapi sekarang dikelola sama Kak Alishba."


"Owh gitu."


Gaby melihat tangan Al yang terampil ketika mengupas bawang merah dan mengiris cabai. Bahkan, saat mencuci sawi dan bawang daun begitu bersih. Sangat cekatan, saat memasak mie dan bumbu terpisah di mangkok. Tidak perlu menunggu lama, dua mangkok mie ala Alvaro sudah disajikan dan siap disantap.


"Eemhh, aroma kuahnya jadi beda." Gaby yang terlihat kekanakan.


Al tersenyum dan tidak lupa membuat minuman ala Alvaro.


Gaby yang sudah duduk di kursi minibar dan Al seperti barista cafe. Pria tampan yang memakai celemek warna abu-abu.


"Cobain ini."


Minuman yang istimewa, aroma kopinya nikmat. "Mantabs! Kenapa kalau aku yang bikin tidak seenak ini."


Setelah meletakan celemek di meja dapur, Al duduk di sebelah Gaby "Ayo kita makan."


Ketika makan berdua, dan saling cerita satu sama lain tentang aneka kuliner.


"Nah itu dia Mas Al. Aku tuh kalau bikin mie instan nggak bisa seenak ini." Cerocosnya dan Al gemas melihat kepolosan Gaby.


Al tersenyum, mengelap bibir imut yang tampak minyak itu. "Lain kali, kalau mau makan mie instan bilang sama aku."


Gaby merasa malu, menggigit bibir bawahnya dan mencium pipi kanan nan menawan itu, "Terima kasih."


Al merasa tersentuh, dia merasakan kasih yang berbeda. Entah, ciuman apa ini. Namun, rasanya begitu special.


Al bangkit dari kursinya dan membawa mangkoknya. Gaby mengejarnya, berkata "Biar aku saja yang cuci piring."


Ting Tong!


Kedua orang itu saling menatap, masih hujan deras. Namun, ada tamu yang datang.


Ting Tong!


"Siapa yang datang?" Gaby bingung.


"Mas Al, sebaiknya ke atas."


Al hanya menggeleng.


"Aku mohon Mas."


"Tidak!"


"Ayolah, sekali ini saja."


"Kenapa?"


"Nanti aku jelasin."


Al menatapnya, "Terus motorku??"